Um renascimento, desta vez Su Can só quer viver para si mesma. Troca de casamento? Não passa de viver como viúva de marido vivo, Su Can diz que não tem problema. Homens só atrapalham o ritmo dela de g
"Ibu, kumohon padamu, aku tidak ingin menikah ke Kota Jing, aku tidak rela berpisah dengan Ibu dan Ayah. Aku hanya ingin menikah yang dekat-dekat saja, jadi kapan pun aku merindukan kalian, atau kalian merindukanku, kita bisa bertemu kapan saja. Kalau aku benar-benar menikah ke sana, entah berapa lama baru bisa bertemu kalian sekali. Lagi pula, kalau aku nanti disakiti, bagaimana aku harus berbuat? Tak ada seorang pun di dekatku yang bisa membelaku..."
Su Can menarik napas dalam-dalam, seperti orang sekarat yang akhirnya terselamatkan, satu tangannya erat mencengkeram baju di dadanya, raut wajahnya penuh derita. Sakitnya pisau buah menembus jantung, hingga saat ini masih bisa ia rasakan dengan jelas.
Setelah mengatur napas beberapa kali, ia menengadah menatap orang-orang di dalam ruangan. Secara refleks, Su Can mundur dua langkah, tanpa sengaja menjatuhkan bangku kayu di sampingnya, terdengar suara keras, lalu langsung disusul seruan marah.
"Mau mati, ya? Cepat angkat bangkunya! Dasar bikin masalah, lihat kamu saja aku sudah malas sama orang lain!"
Bentakan itu menyadarkan Su Can. Ia menekan emosi rumit di matanya, lalu menatap dingin pada tiga orang di ruangan: ayah, ibu, dan adik perempuannya yang tersayang.
Ia jelas mendengar ucapan adiknya ketika ia mulai sadar tadi—tidak mau menikah ke Kota Jing? Ini berbeda dengan kehidupan sebelumnya.
Dulu, Suning merebut tunangan masa kecil yang seharusnya jadi miliknya, lalu menikah dengan megah ke Kota Jing. Tapi situasi kali ini...
Seketika, Su Can mendapat pencerah