Jilid Satu Bab 7 Anggap Saja Itu Sebuah Kegembiraan

Depois de entrar no livro, os protagonistas masculinos se ajoelham e me chamam de pai. Entrando de mãos dadas em um quadro. 1300kata 2026-08-03 01:45:15

Saat Qin Xiaoran sedang melamun, Xie Mian berdiri dan menghampirinya.

Dengan tinggi badan satu meter sembilan puluh, Xie Mian berdiri di hadapan Qin Xiaoran layaknya sebuah bukit kecil, benar-benar menutupi seluruh sosok gadis itu.

"Sudah selesai bersiap-siap?"

Suaranya terdengar dari atas, sangat merdu.

Qin Xiaoran yang sedang bimbang apakah harus mengganti pakaiannya, merasa wajahnya memerah karena malu.

"Su-sudah," jawabnya terbata-bata.

Tanpa ekspresi, Xie Mian mengulurkan tangannya, "Jika sudah, kita harus pergi keluar untuk memulai upacara."

Qin Xiaoran menatap tangan yang terulur itu, lalu dengan ragu menyambutnya. Tangan Xie Mian terasa lebar dan kuat, meski sedikit dingin. Qin Xiaoran pun terbawa melangkah maju.

Tidak lama setelah pertunangan ditetapkan, sang putra, Xie Yuan, telah menjelaskan seluruh rangkaian prosesi pernikahan kepada Xie Ran, sehingga tata krama Xie Mian tidak memiliki cela sedikit pun.

Setelah pembawa acara berseru dua kali dari luar, Xie Mian melepaskan tangan Qin Xiaoran, membuka pintu, dan melangkah keluar.

Tepat saat pria itu pergi, hati Qin Xiaoran terasa hampa sejenak. Memandang punggung tegap yang perlahan menjauh itu, Qin Xiaoran menggigit bibirnya.

Tidak, perasaannya salah. Dia memiliki seseorang yang dicintai. Meskipun takdir tidak menyatukan mereka, sosok itu selalu tersimpan di lubuk hatinya. Saat mengetahui dirinya harus menikah dengan Xie Mian, ia menangis selama dua hari dua malam.

Di atas panggung yang didirikan di dalam hotel, para tamu memperhatikan sosok yang berdiri di atas sana dengan tenang dan penuh keanggunan. Saat itu, semua orang memiliki pikiran yang sama: Xie Mian telah berubah.

Baik aura maupun kewibawaan yang terpancar darinya jauh lebih sulit ditebak daripada sebelumnya. Bahkan, ada yang merasa Xie Mian tampak jauh lebih muda, seperti pria berusia tiga puluh tahunan.

Sang pembawa acara pun sempat dibuat terkejut olehnya. Di hadapannya, Xie Mian tampak seperti seorang raja yang datang perlahan, membawa hawa penekanan yang kuat hingga membuat kakinya gemetar dan ingin segera berlutut sambil berseru, "Hormat saya kepada Baginda."

Namun, profesionalisme yang baik membuatnya tetap bertahan, meski ia tak lagi berani menatap langsung ke mata Xie Mian.

"Baik, pengantin pria kita sudah berada di atas panggung. Selanjutnya, mari kita sambut kehadiran pengantin wanita!"

Diiringi tepuk tangan para tamu, musik perlahan mengalun. Pintu besar di seberang panggung perlahan terbuka, menampakkan sang pengantin wanita dalam balutan gaun putih bersih.

Ia mengangkat ujung gaunnya, melangkah ke depan panggung, lalu mengaitkan lengannya ke lengan sang ayah. Keduanya berjalan perlahan menuju arah Xie Mian. Sembari mereka berjalan, pembawa acara tersenyum untuk menguasai suasana.

"Pengantin pria, sosok yang berjalan ke arah Anda adalah istri Anda, orang yang akan menghabiskan sisa hidup bersama Anda. Apa yang Anda rasakan saat ini?"

Perasaan?

Xie Mian meliriknya sekilas, tatapan yang membuat senyum di wajah pembawa acara membeku seketika.

Ia memutar jam tangannya dan balik bertanya, "Menurutmu, apa yang seharusnya aku rasakan?"

Ekspresinya terlihat alami, gerak-geriknya sangat pas, namun tatapan dingin di matanya membuat nyali sang pembawa acara menciut. Tidak salah lagi, dia adalah seorang raksasa bisnis; satu kalimat dan satu gerakan saja sudah cukup untuk membuat siapa pun merasa gentar.

Sang pembawa acara adalah seorang veteran di bidangnya, namun pernikahan hari ini membuatnya untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun ingin beralih profesi.

"Tentu saja... merasa bahagia."

Pembawa acara menjawab dengan senyum kaku, lalu melihat Xie Mian mengangguk, "Kalau begitu, anggap saja aku sedang bahagia."

Sikapnya begitu santai, sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menikah, melainkan seperti tamu yang datang hanya untuk memberikan sumbangan dan berniat pergi setelah minum segelas anggur.

Dalam hati, pembawa acara berteriak minta tolong! Ini benar-benar pernikahan paling canggung yang pernah ia pandu.