Bab 11: Menurutku Ye Fei Cukup Baik

Istriku adalah Burung Phoenix Akulah kisah itu. 1817kata 2026-03-05 01:27:59

“Ada yang aneh, hari ini kamu benar-benar berbeda. Wajahmu memerah, jelas-jelas habis disiram air segar!” seru Lili sambil tertawa genit, mengedip-ngedipkan matanya ke arah Yuni dan berkata, “Ayo ngaku, sama siapa? Hebat nggak? Kalau hebat, kenalin ke aku dong. Lebih seru dinikmati bareng daripada sendiri!”

Yuni buru-buru membantah, “Baru saja bangun tidur, kamu pikir aku ngapain sih!”

“Hehe, disiram air dan baru bangun itu beda, sebagai yang sudah pengalaman aku tahu bedanya. Ternyata kamu ini nggak jujur juga!” goda Lili.

“Ayo ngaku, kamu sembunyikan orangnya di mana? Di bawah ranjang, ya?” lanjut Lili, pura-pura serius hendak berjongkok memeriksa kolong ranjang.

Seketika itu juga, Feri yang bersembunyi di bawah ranjang nyaris tak bernafas saking paniknya.

Yuni pun benar-benar panik, langsung menarik tangan Lili dan dengan cepat beralasan, “Aduh, kak Lili, kamu iseng banget sih. Siapa tahu di bawah ranjang itu ada tikus.”

“Tikus?!” Lili langsung mengurungkan niatnya, maklum dia paling takut dengan hewan begitu.

Yuni pun lega, cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, “Lagipula aku barusan sudah bilang, laki-laki di Desa Nirwana ini paling-paling pemalas, tukang main atau kalau nggak begitu, pekerja keras yang polos, mana ada yang menarik di mata aku?”

“Siapa bilang?” Lili memutar bola matanya, lalu mengedip genit, “Menurutku Feri itu nggak buruk, lulusan universitas, dokter pula, wajahnya juga bersih, tinggi, ganteng. Kalau dia suka sama kamu, aku yakin kamu pasti nggak tahan langsung nyosor ke ranjangnya.”

Mendengar Feri disebut, hati Yuni langsung bergetar. Namun setelah mendengar Lili memuji-muji Feri seperti itu, entah kenapa tumbuh rasa bangga dalam hatinya.

Pria sehebat itu, sekarang milik aku!

Segera, ia melirik ke arah Lili dengan senyum aneh, “Kak Lili, kamu muji Feri setinggi langit, ngaku deh, jangan-jangan kamu sendiri yang naksir? Mau juga mencicipi anak muda ya?”

“Kenapa? Salah ya kalau perempuan juga suka anak muda? Masa laki-laki boleh punya uang, umur udah tua masih cari cewek belasan, sementara kita perempuan dilarang main sama cowok muda?” Lili tertawa genit, “Cuma kita berdua di sini, nggak perlu sok jaim, jujur aja, kamu ngiler nggak sih sama badan Feri?”

Dalam hati Yuni berkata, ngiler apanya, aku malah sudah kenyang sekarang!

Apalagi Feri masih di bawah ranjang mendengar semua ini, dua perempuan ngobrol begini, bisa-bisa si Feri ketawa terbahak-bahak nanti.

“Ngiler, aku akui aku ngiler!” Yuni memotong ketakutan Lili akan semakin menjadi, jadi ia mengaku saja sekalian biar cepat selesai.

Bola matanya terus berputar, mencari cara supaya Lili segera pergi, agar Feri punya kesempatan kabur.

Tapi Lili sama sekali tidak tahu apa yang ada di kepala Yuni. Ia semakin bersemangat, “Wah, bagaimana kalau begitu, kita berdua sama-sama ngiler, kapan-kapan kita undang dia keluar, kita bikin dia mabuk, lalu kita berdua ambil dia!”

Yuni nyaris tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Kalau perempuan sudah benar-benar naksir, laki-laki nggak ada apa-apanya.

Di bawah ranjang, Feri juga melongo. Ia tak menyangka dirinya ternyata begitu diminati.

Lili, yang sampai bisa diperebutkan oleh Doni, lelaki kaya dan punya pengaruh, memang punya wajah dan tubuh yang terbaik di Desa Nirwana. Biasanya, sebagai istri kepala desa, ia selalu tampil anggun dan bermartabat di mana-mana.

Tak disangka, diam-diam ternyata sangat liar!

Namun, membayangkan kecantikan dan tubuh montok Lili, hati Feri pun ikut bergetar. Bisa mencicipinya, tentu jadi pengalaman luar biasa!

Saat Feri sedang melamun di bawah ranjang, Yuni sudah semakin cemas. Ia merasa tak bisa membiarkan Lili terus menggila.

Kalau begini terus, citranya di mata Feri bisa hancur total.

“Aduh, sudahlah jangan bahas Feri lagi, kak Lili. Ini panas banget, aku mandi dulu ya, badan lengket semua. Kamu pulang dulu deh, nanti setelah mandi aku ke rumahmu, kita ngobrol semalaman!”

Yuni cepat-cepat mencari alasan, pura-pura kepanasan sambil menarik kerah bajunya.

“Tapi aku pulang buat apa? Kita mandi bareng aja!” jawab Lili, matanya berbinar-binar. “Anggap aja aku ini Feri, kita main air kayak di drama itu!”

Karena sudah akrab, dulu mereka sering mandi bareng. Sama-sama perempuan, sudah menikah pula, bercanda cabul pun biasa saja.

Tapi hari ini beda, Feri masih di bawah ranjang!

Yuni semakin panik, “Eh, kayaknya nggak enak deh!”

“Kenapa nggak enak? Bukannya dulu juga sering bareng?” Lili tak memberi Yuni kesempatan menolak, langsung mulai melepas bajunya. Dari tadi ia memang sudah pakai pakaian tipis, Yuni bahkan belum sempat mencegah, Lili sudah telanjang bulat.

“Yuni, ngapain bengong aja? Mau aku bantu lepasin bajumu?” goda Lili sambil tertawa-tawa, langsung menarik baju Yuni!