Bab 7: Meminta Pertolongan
Memikirkan hal itu, hati Ye Fei langsung tergerak. Haruskah ia jujur dengan Shi Fang soal hal yang didiskusikan bersama Qingshan? Namun, di detik berikutnya, Ye Fei buru-buru memadamkan niat itu. Bukan hanya reaksi Shi Fang yang sulit diprediksi, yang utama, kalau ia bicara, bukankah rahasia kelemahan Qingshan akan terbongkar?
Masalah ini menyangkut harga diri Li Qingshan. Terlebih lagi, melihat sikap Qingshan yang rela mencari-cari alasan demi menjaga sisa harga dirinya, jelas hal ini sangat penting baginya.
“Wah, masih malu juga rupanya!”
Tiba-tiba, Shi Fang dengan wajah menggoda mendekat, satu tangan diletakkan di bahu Ye Fei. Bibir merah mudanya mendekati telinga Ye Fei, berbisik pelan, “Jadi, kamu mau merasakan yang asli tidak?”
Sensasi menggoda langsung menjalar dari telinga ke seluruh tubuh Ye Fei, membuatnya seperti tersengat listrik, tubuhnya kaku dan bulu kuduknya berdiri.
Reaksi Ye Fei tentu tidak luput dari mata Shi Fang. Ia pun tertawa manja, tangannya perlahan-lahan membuat lingkaran di dada Ye Fei, sudut bibirnya tersungging senyum penuh kemenangan.
“Haha, anak kecil, tubuhmu sudah lebih jujur dari hatimu, ya?”
Saat Ye Fei sudah hampir kehilangan kendali, mulutnya kering, gairah membara dan akal sehatnya hampir runtuh—hampir saja ia nekat menunjukkan pada Shi Fang arti bermain api—tiba-tiba suara Li Qingshan yang keras terdengar dari depan pintu:
“Xiao Fei, aku sudah beli arak! Malam ini kita bisa mulai rencana!”
Sekejap saja, kedua orang di dalam kamar langsung menjauh seperti tersengat listrik.
Jantung Ye Fei berdetak kencang, takut kalau-kalau Li Qingshan tanpa sengaja membocorkan rencana mereka.
Kalau Shi Fang sampai tahu, pasti bakal meledak. Siapa yang sanggup menerima kenyataan suaminya berniat membius istrinya dan menyerahkannya pada orang lain?
Untung saja Li Qingshan hanya berkata begitu tanpa melanjutkan, Ye Fei pun bisa bernapas lega.
Sementara itu, wajah Shi Fang seketika berubah dari menggoda dan penuh pesona menjadi tenang dan berwibawa. Ia membuka pintu kamar dengan santai dan keluar.
Melihat itu, Ye Fei buru-buru mengenakan pakaian dengan canggung.
Begitu Li Qingshan masuk rumah, ia langsung melihat istrinya keluar dari kamar Ye Fei. Ia pun tertegun, secara refleks menyembunyikan arak di belakang punggung, agak gugup berkata, “Istriku, bukannya kamu keluar tadi?”
“Qingshan!”
Saat itu, Ye Fei juga buru-buru keluar kamar, berusaha tetap tenang dan menyapa dengan senyum dipaksakan.
“Oh, Xiao Fei kan mau tunangan dengan Hui Xian? Aku belikan dua potong baju untuknya!”
Shi Fang berkata dengan nada datar, lalu seketika mengubah topik, menatap Li Qingshan dengan alis berkerut, “Untuk apa beli arak segala?”
Ye Fei yang melihat dari belakang benar-benar kagum setengah mati pada Shi Fang. Baru saja ia genit menggoda dirinya, kini sudah bisa berwajah datar menginterogasi Li Qingshan.
Kepiawaiannya benar-benar tiada tanding.
“Ah, ini kan Xiao Fei mau tunangan dengan Hui Xian. Sebagai kakak, aku senang, makanya beli sedikit arak buat merayakan.”
Li Qingshan berusaha terlihat tenang sambil tersenyum.
“Oh, ini memang peristiwa bahagia, memang patut dirayakan!” sahut Shi Fang.
“Benar! Nanti aku beli makanan enak. Kamu sebagai kakak juga harus minum beberapa gelas malam ini!” Li Qingshan langsung menanggapi sambil melirik Ye Fei dengan isyarat mata.
Ye Fei awalnya pulang dengan niat memberitahu mereka bahwa hubungannya dengan Dong Hui Xian sudah berakhir. Tapi melihat situasi ini, ia pun terpaksa menahan diri.
Suasana rumah ini memang aneh. Suaminya diam-diam berniat menyerahkan istrinya.
Sang istri, di sisi lain, malah asyik bermain belakang saat suaminya lengah.
Aneh lagi, keduanya sama-sama harus merahasiakan perbuatan masing-masing.
Ye Fei takut dirinya tak tahan dan langsung membongkar semuanya, jadi ia mencari alasan ada urusan di klinik dan segera keluar dari rumah.
Namun, karena tadi sempat digoda Shi Fang, ia masih diliputi hasrat yang membara, membuatnya gelisah.
“Temui Yin Jiaxin saja!”
Di tengah kegundahan itu, bayangan sosok wanita dewasa nan menggoda melintas di benaknya, membuatnya menelan ludah dan tanpa ragu segera menuju rumah Yin Jiaxin.
Setelah kejadian dengan Dong Hui Xian, ia benar-benar sadar, yang disebut cinta itu omong kosong belaka. Lebih baik menikmati hidup selagi bisa.
Beban di hati sudah hilang, dan kesempatan yang datang, ia tak mau lewatkan lagi.
“Tolong! Dasar bajingan, Dong Hao, kau sudah gila! Lepaskan aku…”
Ye Fei yang penuh semangat tiba di rumah Yin Jiaxin, baru saja sampai di luar halaman, tiba-tiba terdengar jeritan pilu dari dalam.
Ye Fei langsung mengenali suara itu—Yin Jiaxin.
Yin Jiaxin dan Dong Hao?
Kenapa mereka berdua bisa bersama?
Ye Fei sempat tertegun, namun wajahnya langsung berubah. Ia pun mempercepat langkah, berlari menuju rumah Yin Jiaxin.