Bab 30: Menurutmu, Bagaimana?
Sejujurnya, hal ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang terlalu aneh, apalagi di desa Taman Persik yang miskin dan terbelakang seperti ini.
Bahkan masih ada yang lebih parah dari ini.
Di desa sebelah, ada sepasang kakak beradik yang karena miskin tak bisa menikah, akhirnya mereka patungan uang untuk membeli seorang istri. Keduanya lalu berbagi satu istri. Di sekitar sini, dalam radius puluhan kilometer, kabarnya kejadian seperti itu sudah bukan hal langka.
Karena itulah Ye Qingshan sampai terpikir hal seperti ini.
Setelah berunding, kedua bersaudara itu pun pulang bersama. Begitu masuk ke halaman, mereka melihat Shifang sedang jongkok di tanah memegang sepotong umbi temu, menelitinya dengan penuh keingintahuan.
Melihat mereka pulang, ia lebih dulu melotot tajam ke arah Ye Qingshan, lalu menatap Ye Fei dengan heran dan berkata, “Benda ini mirip sekali dengan kentang, tapi katanya bisa laku dua ribu yuan per kilo, sungguh ajaib. Kau nemu ini di Gunung Phoenix?”
Ye Fei tersenyum, “Benar. Waktu berangkat tadi pagi, aku sudah bilang padamu, Gunung Phoenix itu adalah harta karun yang belum tergarap. Kalau bisa memanfaatkannya dengan baik, jadi kaya bukan hal sulit.”
Shifang berkata, “Kalau begitu, lain kali ajak juga Kak Qingshan-mu ikut cari obat. Biar dia membantumu. Dasar brengsek, kerjanya cuma makan, minum, main perempuan, berjudi, memang sudah saatnya dia melakukan sesuatu yang berguna.”
Wajah Ye Qingshan langsung dipenuhi rasa malu, tapi ia tetap berusaha tersenyum.
Ye Fei berpikir sejenak, lalu berkata, “Nanti saja, sekarang kekuatanku masih kurang. Kalau di gunung ketemu harimau atau serigala, aku sendiri sih tidak apa-apa, tapi Kak Qingshan bisa berbahaya.”
Tahap penempaan tenaga dasar memang masih tahap awal, belum membawa perubahan besar. Selain itu, tahap ini terdiri dari sembilan tingkatan. Ye Fei sendiri baru di tingkat pertama, baru saja mulai belajar.
Menghadapi orang biasa, tentu bukan masalah. Tapi kalau harus melawan harimau atau binatang buas lain, ia sendiri belum yakin bisa menang.
Ia berpikir, kalau bisa menembus ke tingkat kedua, mungkin ia sudah bisa bergerak bebas di Gunung Phoenix.
Ye Fei merasa, kalau bisa menyerap energi dari dua wanita, itu sudah cukup. Target ini, sejujurnya, tidak terlalu sulit. Setidaknya untuk Yuan Liqin, asal ia mau, seharusnya tidak ada masalah. Ditambah lagi dengan Shifang, kalau bisa mendapatkan keduanya, ia yakin bisa menembus batas itu.
“Baiklah, kau pasti lelah setelah seharian bekerja. Istirahatlah dulu. Hari ini benar-benar berkat bantuanmu. Aku akan potong ayam, kita makan enak sebagai penghargaan!”
Shifang memang gesit, langsung bangkit dan menuju dapur untuk mengambil pisau dan menyembelih ayam.
Ye Qingshan keluar membeli arak. Mereka bertiga makan siang bersama, suasana pun terasa hangat dan penuh kebersamaan.
Setelah agak mabuk, Ye Qingshan memberi isyarat pada Ye Fei, “A Fei, kau duluan ke kamar. Aku dan istrimu mau bicara sebentar.”
Ye Fei tentu tahu apa yang ingin dibicarakan Ye Qingshan. Jantungnya langsung berdebar kencang. Ia melirik Shifang yang pipinya memerah dan tampak memesona, membuat tenggorokannya terasa kering. Ia pun mengangguk dan pelan-pelan masuk ke kamarnya.
Berbaring di ranjang, ia gelisah, tak tahu bagaimana pembicaraan kedua orang di luar sana.
Sementara itu, di meja makan, Ye Qingshan yang mulai teler berkata pada Shifang,
“Istriku, kau lihat sendiri keadaanku sekarang. Aku ini sudah benar-benar jadi manusia tak berguna. Jadi...”
Shifang menyela dengan senyum setengah mengejek, “Jadi kau ingin cari seseorang buat ‘menjagaku’, begitu?”
Pada kata ‘menjaga’, ia sengaja menekankan suaranya. Ye Qingshan melongo, “Ah? Kau tahu?”
“Kau pikir pikiranmu itu bisa kau sembunyikan dariku?”
Shifang memandangnya dengan tatapan sinis.
Ye Qingshan langsung malu, terbata-bata menjawab, “Aku... aku juga nggak ada cara lain. Aku nggak bisa membiarkanmu terus-terusan hidup dengan orang cacat. Itu tidak adil bagimu.”
“Wah, ternyata kau masih bisa memikirkan aku juga!”
Shifang mendengus, “Kau sudah bicara dengan A Fei, ya?”
“Benar, aku rasa di desa ini, cuma A Fei yang pantas untukmu. Nanti aku tidur di kamar A Fei, dan A Fei tidur di kamarku. Kita bertiga hidup di bawah satu atap, tak akan ada yang curiga.”
Ye Qingshan menatap Shifang penuh kecemasan, “Menurutmu, bagaimana?”