Bab 10: Ini Pun Bisa Ditumpangi?
Keesokan harinya.
Semburat warna putih menyerupai perut ikan muncul di ufuk timur, dan tak lama kemudian, tirai malam yang bertaburkan bintang gemerlap tersibak oleh cahaya mentari.
Cahaya keemasan menyusup masuk melalui celah jendela, membangunkan pasangan suami istri yang tengah terlelap dalam mimpi indah. Sinar itu sekaligus menyingkap kekacauan di dalam kamar—pakaian berserakan tanpa aturan di tepi ranjang, di atas karpet, hingga di atas meja.
"Ah, kita kesiangan!"
Diiringi seruan manja, sesosok bayangan putih laksana bidadari melesat secepat angin, menembus tirai ranjang, dan mendarat di lantai.
Yang Ling, yang masih berbaring di tempat tidur, membuka mata dan tepat melihat Yun Hua yang baru saja berhenti bergerak. Sang bidadari yang kini telah menjadi seorang istri itu tampak sedang menggenggam jubah putih dengan jemari lentiknya. Kain sutra tipis yang dikenakannya hanya menutupi lekuk tubuhnya secara samar, membuatnya tampak suci dan anggun bagaikan bunga teratai yang baru muncul dari air, namun tetap memancarkan pesona yang memikat.
"Lihat apa?!"
Yun Hua melirik Yang Ling dengan wajah merona karena malu. "Ini semua salahmu, gara-gara kau aku jadi bangun kesiangan. Kalau tanaman obat itu sampai diambil orang lain, gawat jadinya."
"Mana bisa itu salahku?" Yang Ling merasa tidak terima. "Tadi malam kau yang memulainya duluan..."
"Tutup mulut!"
Wajah Yun Hua bersemu merah, ia segera memotong perkataan Yang Ling. Dengan satu gerakan tangan, sehelai gaun polos muncul begitu saja dan membalut tubuhnya, menutupi pemandangan indah di baliknya.
Putih bagai salju, dengan rambut hitam legam yang tergerai. Setelah berpakaian rapi, ia kembali ke wujudnya yang anggun, bak dewi yang turun dari kahyangan.
Yang Ling menghela napas, mengenang sekilas pemandangan tadi, hatinya tak kuasa menahan gejolak rasa yang muncul.
"Masih mau pergi atau tidak?"
Yun Hua meliriknya dengan sorot mata yang tajam namun menawan. Sekejap saja, tatapan itu terasa seperti riak di danau yang tenang, atau bagaikan bejana perak yang pecah hingga airnya memercik ke mana-mana; hati Yang Ling bergetar hebat.
"Pergi! Tentu saja harus pergi!"
Yang Ling bergegas turun dari ranjang, mengenakan pakaiannya, dan mengikuti sang istri keluar dari kamar. Saat sarapan, ia sempat memanggil pelayan rumah untuk berbohong bahwa ia dan istrinya akan melakukan tapa untuk meracik obat selama beberapa hari ke depan. Ia memberikan instruksi singkat mengenai urusan rumah tangga dan berpesan agar mereka menjaga kedua putra mereka dengan baik.
Setelah itu, pasangan tersebut kembali ke kediaman utama.
Yun Hua mengunci pintu, mengamati sekeliling untuk memastikan tak ada orang, lalu menarik tangan Yang Ling. Seketika, mereka berubah menjadi seberkas cahaya pelangi dan melesat ke angkasa!
Dalam sekejap mata, keduanya sudah berada tinggi di atas awan. Meski bukan pertama kalinya terbang, Yang Ling tetap menunjukkan ekspresi terkejut, yang membuat Yun Hua terkekeh dalam diam.
Yang Ling menunduk, memandang kota Guan yang luas di bawah kakinya. Rumah-rumah di sana tampak tak lebih besar daripada balok mainan yang ia buat untuk anak-anaknya. Meski berada di ketinggian, berkat perlindungan cahaya pelangi tersebut, Yang Ling tidak merasakan sensasi kehilangan gravitasi.
Setelah ia terbiasa dengan sensasi terbang, Yun Hua menggerakkan pikirannya. Cahaya pelangi yang menyelimuti mereka melesat di langit bak meteor, lenyap dalam sekejap. Cahaya itu tidak terbang lurus ke atas, melainkan melaju kencang ke arah barat daya.
Hanya dalam waktu setengah batang dupa, mereka telah sampai di Gunung Mei yang berjarak ribuan mil jauhnya.
Yang Ling membuka mata dan menatap ke depan. Sebuah gunung yang megah, menjulang tinggi menyentuh langit dan berpijak di bumi, terhampar di depan mata. Dari jauh tampak kebiruan, dari dekat terlihat hijau subur, dengan awan yang menyelimuti lembah dan kabut yang menutupi tebing terjal. Itulah Gunung Mei, tujuan perjalanan mereka.
"Tanaman obat yang kucari bernama Rumput Yaoxiang. Ada sembilan helai daun, dan setiap helai warnanya berbeda. Nanti setelah sampai di puncak, kau bantu aku mencarinya juga ya..." ujar Yun Hua sambil membawa Yang Ling terbang menuju puncak Gunung Mei.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul gumpalan hawa hitam pekat dari hutan lebat di bawah sana. Hawa itu terkumpul dan tidak buyar, menjulang ke langit bagaikan api peringatan.
"Ada siluman yang sedang menandai wilayahnya. Kemungkinan besar di bawah sedang terjadi pertarungan," ujar Yun Hua sembari menghentikan laju cahaya pelanginya. Ia menjelaskan situasi kepada Yang Ling dengan tenang, lalu berniat memutar arah untuk menghindar.
Tepat pada saat itu, terdengar suara wanita yang cemas dari hutan di bawah.
"Kak Li, cepat lari! Biar aku yang menahan siluman ini!"
Meski jarak mereka cukup jauh, pendengaran Yang Ling dan Yun Hua jauh lebih tajam daripada manusia biasa. Secara naluriah, mereka menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat sepasang pria dan wanita muda sedang memacu cahaya pedang dengan kecepatan tinggi di antara pepohonan lebat. Mereka mengenakan zirah standar Dinasti Shang, dengan gerakan yang lincah dan gesit bagaikan naga yang berenang. Di belakang mereka, tak terhitung jumlah pohon raksasa tumbang, dikejar oleh seekor ular sanca hijau raksasa yang panjangnya mencapai ratusan kaki.
Setiap tempat yang dilalui ular itu hancur; bahkan pohon-pohon besar yang harus dipeluk empat orang pun tumbang seketika seperti rumput kering yang patah.
Pasangan muda itu bukanlah orang biasa. Sesekali mereka mengayunkan pedang, mengirimkan cahaya pedang yang tajam ke arah ular raksasa di belakang mereka. Namun, perbedaan kekuatan mereka terlalu besar. Cahaya pedang itu tidak memberikan luka berarti, justru semakin memicu keganasan ular tersebut.
Ular itu membuka mulutnya yang lebar bagaikan jurang maut, menyemburkan hawa hitam pekat. Hawa itu tampak beracun; pepohonan dan bunga yang dilewatinya langsung layu, berubah menjadi abu yang berjatuhan.
Meski pasangan muda itu sempat menghindar, hawa hitam tersebut terus mengejar mereka. Sang pria berhasil mendorong wanita di sampingnya agar selamat dari racun, namun ia sendiri tersandung. Cahaya pedang di bawah kakinya padam, ia jatuh tersungkur ke tanah dengan wajah yang mulai menghitam, mulutnya berbusa, dan matanya mulai memutih.
"Kak Li!"
Di saat hidup dan mati, sang wanita tidak meninggalkan temannya. Ia justru mendarat di tanah, menggenggam erat pedangnya, dan berdiri di depan layaknya induk ayam yang melindungi anaknya.
Ular raksasa itu menyambar dengan lidah yang menjulur, hendak menelan keduanya sekaligus. Menghadapi monster raksasa itu, sang wanita tampak pasrah, pedang di tangannya bersinar semakin terang. Jelas, ia sudah bersiap untuk mati. Namun, meski harus mati, ia tidak akan membiarkan ular itu menang dengan mudah!
Tepat pada saat itu, seberkas cahaya pelangi turun dari langit, seketika membentuk sebuah "dinding pelangi" penuh warna di tengah hutan.
"Bum!"
Terdengar suara dentuman keras. Ular raksasa itu menabrak dinding pelangi tersebut. Tubuh raksasanya yang sedang melaju kencang seketika terhenti total. Tak lama kemudian, tubuh ular itu jatuh ambruk, pingsan karena benturan keras itu sendiri, lalu menggelinding jatuh menuruni lereng bukit. Sepanjang jalan, entah berapa banyak bunga dan pohon yang tertindih dan hancur.
Pemandangan itu membuat sang wanita mematung karena terkejut. Saat ia mendongak, ia melihat Yun Hua dan Yang Ling turun perlahan dari langit. Cahaya keberuntungan menyelimuti mereka, membuat keduanya tampak seperti pasangan dewa-dewi yang turun ke dunia fana.
Begitu tersentuh oleh cahaya itu, hawa hitam di wajah pria yang terkapar di tanah perlahan menghilang dengan mata telanjang.
Pada saat yang sama, sebuah panel informasi transparan muncul di depan Yang Ling:
[Misi Melakukan Kebaikan Sehari-hari Selesai]
[Penilaian Misi: Sempurna]
[Silakan ambil hadiah Anda]
[1. Pemulihan instan ke kondisi prima]
[2. Kotak buta acak +2]
[3. Poin atribut bebas +5]
"Hah?"
Yang Ling tertegun sejenak.
Yang menyelamatkan mereka adalah istrinya! Ternyata melakukan kebaikan bisa "nebeng" juga?