48. Pelajaran Tambahan yang Penuh Kehangatan
Sepanjang hari, Li Cha mengikuti pelajaran di sekolah.
Begitu bel pulang berbunyi, Li Cha berdiri dan berjalan keluar kelas.
Tiba-tiba, sosok mungil menghalangi jalannya. Itu Miao Rui.
“Li Cha, itu… itu…” Miao Rui tampak canggung.
“Ada apa?” tanya Li Cha dengan heran.
“Itu… setelah kau membimbingku kemarin, aku merasa banyak kemajuan. Ujian sebentar lagi, aku juga sudah mengumpulkan beberapa soal sulit lagi. Bolehkan kau membantuku belajar lagi?” pipi Miao Rui memerah.
Ujian bulanan tinggal tiga hari lagi; ini saatnya belajar serius di rumah. Meminta bantuan orang lain saat seperti ini membuat Miao Rui merasa sungkan.
“Oh, cuma itu? Tidak masalah,” jawab Li Cha, melihat mata besar Miao Rui penuh harap dan ia pun tak sampai hati menolak. “Tapi, malam ini aku ada urusan. Bagaimana kalau besok atau lusa kau mencariku lagi?”
Akhir-akhir ini, setiap malam Li Cha harus ke kawasan hiburan malam untuk melihat perkembangan renovasi tokonya. Mendapatkan lima ratus ribu dalam setahun lewat jalur legal, waktu yang tersisa untuk Li Cha tak banyak, ia harus memanfaatkan setiap detik.
“Ah? Begitu ya…” nada Miao Rui terdengar kecewa. Ia sudah mengumpulkan banyak pertanyaan sulit. Jika harus menunggu besok atau lusa, ia khawatir tak bisa mencerna semua materi sekaligus. Dalam ujian kali ini, ia menargetkan diri mengalahkan Zhang Kai yang sok tahu itu.
“Apakah malam nanti kau akan sibuk sampai larut?” tanya Miao Rui, masih berat hati.
“Tidak juga, kira-kira sampai jam tujuh atau delapan saja,” jawab Li Cha santai.
“Kalau begitu, aku tunggu di rumahmu saja!” seru Miao Rui dengan antusias. Jam tujuh atau delapan belum terlalu malam, ia bisa mencicil pertanyaan sulit malam ini supaya punya waktu lebih banyak untuk memahaminya.
Ucapan Miao Rui itu cukup keras hingga mengundang tawa dan gurauan dari teman-teman di sekitar.
“Miao, idola sekolah, aku juga bisa membantumu belajar. Bagaimana kalau malam ini kau ke rumahku? Haha!”
“Kak Li Cha, aku juga mau belajar denganmu. Boleh aku ke rumahmu juga malam ini, ya? Hihi!”
“Wah, kalian berdua akrab sekali, jangan-jangan sudah jadian?”
Suasana kelas pun riuh dengan candaan.
“Aduh, kalian bicara apa sih! Menyebalkan!” Muka Miao Rui memerah seperti apel ranum, ia langsung berlari keluar kelas sambil menghentakkan kaki.
Li Cha hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu bergegas mengejar ke luar.
Tawa dan gurauan teman-teman kembali memenuhi kelas.
Sementara di sudut kelas, Zhang Kai menatap kejadian itu dengan wajah kelam. Dengan kesal ia melempar pulpen ke atas meja.
Tunggu saja, bocah! Biar saja kau sombong dua hari lagi. Kali ini aku akan jadi juara satu di ujian bulanan, dan aku akan suruh Mediterania mengusirmu dari SMA Satu Jiangzhou, agar kau selamanya lenyap dari hidupku!
Li Cha menuntun Miao Rui sampai ke rumahnya, lalu membuka pintu dan masuk.
“Hehe, aku tidak tahu kau akan datang hari ini, jadi rumah agak berantakan. Maaf ya,” ujar Li Cha sambil tersenyum.
“Tak apa-apa, justru aku yang merasa tak enak, mendadak datang ke rumahmu, malah merepotkanmu,” ucap Miao Rui sambil memandangi sekeliling ruangan.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah foto di meja ruang tamu—Li Cha bersama seorang wanita paruh baya, kemungkinan besar ibunya.
“Ngomong-ngomong, ibumu… tante, apakah malam ini pulang?” tanya Miao Rui.
Li Cha yang sedang menyapu sejenak terdiam, lalu berkata pelan, “Ibuku sedang ke Hainan untuk urusan bisnis. Tidak bisa pulang dalam waktu dekat.”
“Oh… begitu ya…” Miao Rui jadi serba salah. Ia menyesal sudah bertanya terlalu banyak. Semua siswa tahu bahwa Li Cha berasal dari keluarga tunggal, dan jika ibunya pergi ke Hainan, berarti Li Cha sering sendirian di rumah.
Melihat Li Cha sibuk beres-beres, naluri keibuan Miao Rui pun tergerak. Ia ingin sekali merawat teman sebayanya yang harus hidup mandiri sejak kecil.
“Biar aku yang bereskan, kau urus urusanmu saja. Pulanglah cepat!” seru Miao Rui dengan muka memerah sambil merebut sapu dari tangan Li Cha dan mulai membersihkan rumah.
“Sudahlah, ada tamu istimewa di rumah, malam ini aku tidak pergi ke luar. Urusan toko bisa kuurus lewat telepon.” Li Cha pun menelepon tukang renovasi, menyampaikan kebutuhannya, lalu menutup telepon dan membantu Miao Rui beres-beres.
Kerja berdua jadi terasa ringan. Sambil berbincang dan tertawa, mereka membuat rumah tampak bersih dan rapi.
Biasanya Li Cha selalu sendiri di rumah, tapi kehadiran Miao Rui hari ini menghadirkan suasana hangat yang sudah lama ia rindukan. Sungguh menyenangkan!
Setelah selesai, Li Cha merasa lapar. Melihat jam sudah pukul setengah tujuh, ia berpikir jika keluar makan akan memakan waktu lama dan bisa mengganggu sesi belajar Miao Rui. Maka ia berkata, “Sudah agak malam, lebih baik kita tidak keluar makan. Biar kubuatkan mi tumis spesial untukmu.”
“Boleh, boleh! Aku ingin mencicipi masakanmu!” sahut Miao Rui semangat.
“Baiklah, tunggu sebentar, segera selesai,” ujar Li Cha lalu masuk dapur dan mulai memasak.
Tak lama kemudian, dua mangkuk mi tumis yang harum terhidang di atas meja. Li Cha mendorong semangkuk ke arah Miao Rui, “Ayo, makan selagi hangat. Aku jamin kau belum pernah makan mi tumis seenak ini!”
Keahlian membuat mi tumis ini Li Cha peroleh dari membaca pikiran seorang koki hebat, lalu ia kembangkan sendiri. Meski hanya semangkuk mi sederhana, di seluruh Jiangzhou, bahkan di seluruh provinsi, tak ada yang bisa menandingi rasanya.
“Halah, kau seperti pepatah, memuji diri sendiri. Biar aku yang menilai, sebagai juru masak handal!” ucap Miao Rui sembari mengambil sumpit dan mulai makan.
Lezat! Benar-benar lezat!
Tekstur mi pas, tidak lembek, tidak keras, kuahnya berisi udang segar, gurih dan nikmat, rasa asin dan manisnya pas, benar-benar sempurna!
Miao Rui semakin lahap, tanpa sadar ia menghabiskan semangkuk besar mi itu. Baru setelah melihat mangkuknya kosong, ia merasa kekenyangan. Namun rasa bahagia juga memenuhi hatinya, ia menatap Li Cha dengan mata berbinar.
“Mau kutambah lagi?” tanya Li Cha sambil tersenyum.
“Eh…” Miao Rui menggeleng sambil menahan sendawa, “Aku sudah kenyang, tapi sungguh, ini mi tumis terenak yang pernah kumakan!”
“Tentu saja. Kau orang pertama yang mencicipi masakan mi tumis buatanku,” ujar Li Cha jujur.
Hati Miao Rui berbunga. Ada perasaan yang sulit diungkapkan mengalir dari lubuk hatinya—mungkin inilah yang disebut cinta dalam buku-buku.
“Kalau begitu, aku harus balas budimu. Setelah ujian bulanan nanti, aku undang kau makan di rumahku. Aku akan masak beberapa hidangan andalanku. Kau harus menilai juga, bagaimana?” ujar Miao Rui.
“Baik, kita sepakat,” jawab Li Cha.
Setelah membereskan peralatan makan, mereka kembali ke meja ruang tamu. Miao Rui mengeluarkan buku latihan, memperlihatkan soal-soal yang sudah ia tandai pada Li Cha.
Beberapa hari lalu, Li Cha sudah menyerap semua pengetahuan dari benak para guru di sekolah. Sekarang ia benar-benar telah menjadi siswa berprestasi. Membantu Miao Rui belajar bukan perkara sulit baginya.
Dengan penjelasan sabar dari Li Cha, kebingungan Miao Rui perlahan berubah menjadi pemahaman, dari paham menjadi menguasai, ia sangat terbantu.
Pada suatu saat, tanpa sadar Miao Rui menatap Li Cha yang duduk begitu dekat. Ia terpesona, bukan karena wajah tampan Li Cha, tapi oleh kesungguhan dan aura serius yang terpancar darinya.
Seolah waktu berhenti. Di dunia Miao Rui, hanya ada Li Cha.
Hingga Li Cha menepuknya pelan, barulah ia tersadar dari lamunannya. Ia merasa malu bukan main, tak tahu harus berbuat apa.
Li Cha bukan orang bodoh, ia tentu menyadari keanehan Miao Rui. “Apa kau lelah? Bagaimana kalau istirahat sebentar? Kalau terlalu lelah, hasilnya malah tidak maksimal.”
“Iya…” jawab Miao Rui lirih, masih menunduk menatap ujung sepatunya.
“Ehem, kubuatkan segelas air untukmu,” ujar Li Cha, berusaha mencairkan suasana yang canggung. Ia pun beranjak, ingin mengalihkan perhatian Miao Rui. Situasi seperti ini baru pertama kali ia alami, hingga ia sendiri bingung harus bagaimana.
“Itu… Li Cha, sebenarnya aku… sebenarnya kau…” Miao Rui terbata-bata, ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tak tahu harus mulai dari mana.
Tiba-tiba, terdengar suara keras mengetuk pintu.
“Dasar bocah, keluar sekarang! Aku tahu kau ada di dalam!” teriak suara kasar dari luar.