Bab 003: Saat Genting

Leluhur Obat Tanpa Penyesalan 2900kata 2026-02-08 07:52:46

Pada saat itu, pria berbaju ungu dengan senyum dingin di sudut bibirnya akhirnya bersuara. Ia menunduk memandang perempuan anggun di tepi jurang, seolah menaruh sedikit penyesalan saat berkata, “Du Wanqing, aku, Tuan Muda Qin, sudah berbaik hati menyukaimu, itu sudah keberuntunganmu. Di Kota Batu Putih ini, berapa banyak gadis yang memohon masuk ke Keluarga Qin dan menjadi nyonya muda, tapi tidak pernah berhasil. Tak kusangka kau justru bersikeras menolak. Karena barang yang tak bisa kudapatkan, lebih baik aku menghancurkannya. Hari ini, jangan salahkan aku yang bertangan keras dan berhati dingin.”

“Haha, di Puncak Batu Putih ini jarang ada orang melintas. Meski aku membunuhmu, takkan ada yang tahu. Terimalah takdirmu!”

Begitu selesai bicara, pria berbaju ungu itu menggenggam erat pedangnya, dan dalam sekejap, suara tajam membelah udara terdengar saat ia menebaskan pedangnya ke arah sulur yang digenggam oleh wanita di bawah kakinya.

Jelas, sulur sebesar ibu jari itu tak mungkin selamat di bawah pedang baja murni hasil seratus kali tempa. Demikian pula, perempuan yang bergantung pada sulur itu, Du Wanqing, takkan bisa lolos dari maut.

Di saat pedang berkilau tajam itu menebas turun, Du Feiyun yang darahnya bergejolak oleh amarah pun mengeluarkan teriakan dahsyat.

“Qin Shouyi, mampuslah kau!!”

Batu sebesar kepalan tangan yang entah sejak kapan digenggam Du Feiyun dilemparkannya dengan sekuat tenaga. Batu itu melesat kencang menembus udara, membawa seluruh kekuatan hidup Du Feiyun, dan dalam sekejap saat Qin Shouyi menoleh terkejut, batu itu menghantam tepat pergelangan tangannya.

“Krakk!”

Suara patah tulang yang nyaring terdengar. Pergelangan tangan Qin Shouyi langsung terpuntir dan berubah bentuk, pedang yang tadi dipegangnya pun terlepas dan jatuh ke jurang. Wajah Qin Shouyi seketika memucat, ia menahan pergelangan tangannya sambil memandang Du Feiyun dengan tatapan membunuh.

“Jadi kau, bocah bajingan!” Begitu mengenali siapa yang datang, wajah Qin Shouyi berubah penuh kebencian, dan ia mengumpat dengan penuh dendam.

Du Feiyun yang nyaris meledak oleh kemarahan tak mau berpanjang kata, di saat batu dilempar, tubuhnya secepat monyet melesat ke arah Qin Shouyi. Kedua tinjunya mengepal kuat, mengayun deras ke wajah Qin Shouyi.

Meski pedang Qin Shouyi telah jatuh ke jurang dan pergelangan tangan kanannya patah, tetapi sebagai salah satu pemuda terkuat di Keluarga Qin dengan kekuatan lapisan keenam dalam latihan tubuh, ia jelas bukan lawan mudah bagi Du Feiyun yang baru mencapai lapisan keempat.

Karena itu, meski hatinya murka, ia tak merasa takut. Melihat Du Feiyun menerjang dengan kedua tinju, secara naluriah ia melancarkan tendangan terbang ke dada Du Feiyun. Jurus tendangan warisan keluarga Qin memang luar biasa, tebasan kaki itu bahkan menimbulkan suara siulan tajam, menandakan kekuatan yang besar.

Namun, ketika Du Feiyun mendekati Qin Shouyi dan hampir terkena tendangan, ia memutar pinggangnya, lalu tubuhnya mendadak merunduk, kedua tangannya menyentuh tanah, dan kaki kanannya menyapu pergelangan kaki Qin Shouyi.

Berdiri dengan satu kaki, Qin Shouyi kaget bukan main menghadapi perubahan itu. Ingin menghindar pun sudah terlambat, sapuan itu tepat mengenai pergelangan kakinya. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke samping kanan.

Di sisi kanan jalan setapak itu, terbentang jurang dalam yang diselimuti kabut tebal.

Tubuh Qin Shouyi langsung terjun ke jurang, sosoknya segera menghilang dalam kabut. Hanya tersisa jeritan panjang yang perlahan menghilang, lalu semuanya kembali sunyi. Jurang di tempat itu tingginya ratusan meter. Bahkan batu besar yang jatuh pun akan hancur berkeping-keping, apalagi tubuh manusia. Nasib Qin Shouyi sudah bisa ditebak.

Jurus perubahan cerdik itu berhasil membuat Qin Shouyi jatuh ke jurang, namun hampir seluruh kekuatan Du Feiyun pun terkuras. Ia tak berani berhenti, segera merangkak ke tepi jurang dan menarik tangan Du Wanqing yang berlumuran darah, berusaha mengangkatnya sedikit demi sedikit.

Semula, Du Wanqing sudah pasrah bahwa hari itu akan menjadi akhir hidupnya. Tak disangka, di saat genting, Du Feiyun muncul dan menjatuhkan Qin Shouyi ke jurang. Harapan hidup yang sempat padam kini berkobar lagi, keinginannya bertahan hidup semakin kuat. Ia bekerja sama dengan Du Feiyun, merangkak naik berpegangan pada sulur, meski telapak tangannya robek dan berdarah terkena duri, ia hampir tak merasakannya.

Akhirnya, setelah hampir lima belas menit bersusah payah hingga nyaris kehabisan tenaga, Du Feiyun berhasil menarik Du Wanqing naik dari jurang, dan nyawa Du Wanqing pun selamat dari ujung kematian.

Keduanya, kakak beradik itu, tergeletak di jalan kecil di sisi jurang, dengan napas terengah-engah, memejamkan mata, berusaha memulihkan tenaga mereka. Rasa syukur karena selamat dari maut perlahan mengembang di sudut bibir mereka.

Setelah cukup lama, ketika tenaga mereka pulih, kakak beradik itu pun turun gunung bersama dan kembali ke rumah. Ibu mereka yang lemah dan sering sakit, selalu menunggu dengan cemas sambil bertopang pada tongkat. Melihat anak-anaknya pulang dengan selamat, barulah ia merasa lega. Namun, saat melihat tangan mereka kosong—keranjang obat dan bekal makanan pun tak ada—sang ibu segera bertanya dengan penuh perhatian. Du Feiyun terpaksa berbohong untuk menenangkan ibunya.

Peristiwa itu membuat hati kakak beradik itu diliputi kegelisahan. Keluarga Qin adalah salah satu dari tiga keluarga besar di Kota Batu Putih, sangat berkuasa dan terpandang. Kini mereka tanpa sengaja menjatuhkan putra kedua Keluarga Qin ke jurang. Jika keluarga Qin mengetahui kebenaran, mereka pasti takkan membiarkan keluarga Du, bahkan ibunda mereka pun mungkin akan menjadi korban.

Sore itu, Du Feiyun pun tak berani lagi pergi mencari obat di Puncak Batu Putih. Hatinya yang kacau membuatnya berbaring di rumah, pikirannya melayang ke mana-mana. Kadang ia teringat mimpi aneh yang dialaminya hari itu, kadang membayangkan jika perbuatannya ketahuan dan keluarga mereka harus menanggung hukuman dari keluarga Qin. Segalanya bercampur aduk di dalam kepalanya.

Sudah sepuluh tahun ia berada di dunia ini, dan ia telah belajar menyesuaikan diri. Meskipun hidupnya sulit dan penuh penderitaan, ia perlahan belajar menerima kenyataan. Selain ketika pertama kali membuka mata dan mendapati dirinya menjadi seorang anak kecil, ia jarang mengalami kepanikan seperti hari itu.

Sebuah peristiwa tak terduga telah membawanya ke dunia asing ini, mengubahnya menjadi seorang anak berusia empat tahun dan memberinya identitas baru. Namun, tetap saja, nasib hidupnya tak berubah—tetap miskin dan penuh kesulitan. Apakah ini memang takdir? Di mana pun dan di zaman mana pun, tak ada yang bisa diubah?

Berbagai pikiran kacau memenuhi benaknya, hingga tanpa sadar Du Feiyun pun tertidur di atas ranjang. Dalam tidur yang setengah sadar, suara seorang tua terdengar samar-samar mengelilingi telinganya.

“Pemakan rumput pandai berlari namun bodoh, pemakan daging berani dan tangguh, pemakan biji-bijian cerdas dan terampil, pemakan udara memiliki jiwa agung dan panjang umur, yang tidak makan tidak mati dan menjadi dewa…”

“Pil adalah sari langit dan bumi, obat adalah esensi seratus tumbuhan. Pil obat, menyerap energi langit dan bumi, menghimpun sari tumbuhan, memakannya bisa membuat terang dan tidak menua, jika dikonsumsi lama bisa hidup abadi…”

Dalam tidur yang samar, Du Feiyun seolah “melihat” sebuah sosok duduk bersila di tengah kabut putih, tidak menyentuh langit maupun bumi, mengambang di udara. Kedua tangannya membentuk gerakan aneh, bermeditasi dengan khusyuk. Di dada sosok itu, segumpal kabut putih seperti giok perlahan berputar dan mengepul, sementara di depannya sejauh dua kaki, melayang sebuah kuali hitam berkaki tiga.

Du Feiyun berusaha menatap lekat-lekat, akhirnya ia bisa melihat dengan jelas sosok yang tersembunyi di balik kabut. Wajah yang kurus dan tegas itu, ternyata adalah dirinya sendiri. Mimpi aneh itu kembali menghampirinya. Ia tahu semuanya tak nyata, namun begitu jelas terpampang di hadapannya.

“Ah!” Dada Du Feiyun terasa panas, seperti air mendidih yang membuatnya sesak dan nyaris tak bisa bernapas. Ia menjerit keras, lalu terbangun dari mimpi yang membuat jantungnya berdebar.

“Feiyun! Feiyun, ada apa denganmu?” Suara penuh perhatian terdengar. Ibunya yang anggun, berwajah lembut, meski tubuhnya kurus, masuk ke kamar bertopang tongkat. Wajahnya yang pucat penuh kecemasan dan kasih sayang.

Du Feiyun yang baru sadar dari mimpi itu duduk tegak di ranjang, menarik napas panjang dan menghapus keringat di wajahnya. Ia perlahan menenangkan diri, lalu memaksakan senyum kepada ibunya, berkata bahwa ia baik-baik saja.

Ibunya mengerutkan alis, menatap Du Feiyun lama dengan cemas. Melihat anaknya tak ingin bicara banyak, ia hanya berpesan agar beristirahat, lalu meninggalkan kamar.

Setelah ibunya pergi, Du Feiyun yang sejak tadi berusaha tampak tenang, kini wajahnya pucat. Ia menunduk, membuka baju dan memandang dadanya sendiri. Rasa panas di dada itu masih tersisa, dan matanya tertahan pada sesuatu yang tiba-tiba muncul di sana—sebuah gambar hitam sebesar telapak tangan.

Lukisan aneh yang muncul tiba-tiba itu memancarkan cahaya hitam redup. Jika diperhatikan, jelas tergambar sebuah kuali kecil berkaki tiga, dengan ukiran beberapa naga hitam yang tampak hidup di permukaan kuali itu!

…………………………

(Tambahan catatan dari penulis dihilangkan sesuai permintaan instruksi.)