Bab Dua Puluh Tujuh: Gaji Tahunan Satu Rupiah
Setelah urusan dengan nahkoda perusahaan masa depan terselesaikan, Qin Lu pun bisa tenang menjadi pemilik perusahaan yang hanya tinggal duduk manis.
“Bos, saya ingin tanya, apa nama perusahaan kita dan berapa jumlah karyawan kita saat ini?” Setelah kesepakatan dicapai, waktunya makan bersama. Mereka memanggil pelayan untuk menghidangkan makanan, dan ketika semua hidangan sudah tersaji, Dong Lijun bertanya sambil tersenyum.
“Teknologi Bima Sakti, itulah nama perusahaannya. Untuk jumlah karyawan...” Qin Lu mengambil sepotong sayur dengan sumpit, lalu menunjuk dirinya sendiri dan Dong Lijun dengan sumpitnya.
“Jadi, perusahaan ini hanya kita berdua?” Dong Lijun sampai meragukan apakah dirinya telah naik ke kapal bajak laut.
“Benar,” Qin Lu mengangguk serius.
Beberapa hari ini ia hanya berkutat dengan riset teknis, belum menyentuh buku manajemen atau ekonomi sedikit pun. Ia benar-benar buta soal cara mendirikan perusahaan dan merekrut karyawan.
“Bos, Anda benar-benar melemparkan masalah besar ke pundak saya!” Dong Lijun tersenyum pahit sambil meneguk anggur merah.
“Hahaha, itulah kenapa aku mencarimu. Surat izin usaha perusahaan baru saja kudapat kemarin!” Qin Lu tertawa lepas.
“Hehe...” Dong Lijun menarik sudut bibirnya, diam-diam meneguk anggur lagi untuk menenangkan diri.
“Sekarang, aku punya satu pabrik atas namaku sendiri, peralatan produksi baterai dan bahan bakunya sudah kupesan lewat orang, sekarang tinggal kau sebagai presiden perusahaan yang merekrut orang dan memulai produksi!” Qin Lu melanjutkan makan.
Sejak berlatih teknik rahasia, nafsu makannya kian membesar. Kalau bukan demi menjaga wibawa, makanan sebanyak ini pun tak cukup buat camilan. Di kantin, ia bahkan harus makan dari lantai satu sampai tiga kantin baru, lalu lanjut ke kantin lama dari lantai satu sampai dua.
“Kau memang pemilik perusahaan paling tidak bertanggung jawab yang pernah kutemui!” Dong Lijun menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum getir, dalam hati mulai menyusun rencana untuk membereskan kekacauan ini.
Usai makan, Qin Lu dan Dong Lijun menuju sebuah kafe.
“Bos, terus terang, kalau bukan karena datamu dan produkmu, aku pasti sudah menganggapmu penipu!” Dong Lijun memandang Qin Lu dan tersenyum.
“Sekarang kamu sudah membuat pilihanmu sendiri, bukan?” Qin Lu tersenyum.
“Benar juga, aku sendiri tak menyangka, hari pertama berhenti kerja, aku malah terjebak lagi!” Dong Lijun mengingat pikirannya tadi, lalu tertawa dan menggeleng.
“Oh iya, meski aku sudah setuju secara lisan, tapi bagaimana dengan gajinya? Kau belum memberitahuku.” tanya Dong Lijun.
“Soal itu...” Qin Lu mengangkat satu jari.
“Gaji tahunan sepuluh juta, menurutmu terlalu sedikit?” Dong Lijun menebak sambil tersenyum. Ia merasa, dengan kapasitasnya, sepuluh juta itu harga yang rendah.
“Bukan, maksudku, gaji tahunanmu satu yuan!” Qin Lu menyilangkan tangan di lutut kirinya.
“Satu yuan?” Dong Lijun terkejut. Satu yuan saja, lima puluh tahun lalu pun belum tentu bisa merekrut tenaga manajemen.
Namun ia tahu, Qin Lu pasti punya maksud lain. Setelah keterkejutan berlalu, ia pun menunggu penjelasan selanjutnya.
Benar saja, saat Dong Lijun menatapnya, Qin Lu melanjutkan, “Tentu saja, satu yuan itu hanya gaji simbolis. Selain saham tiga persen, setiap kali laba bersih sebuah produk mencapai seratus juta yuan Tiongkok, ada satu juta yuan untukmu!”
Qin Lu menatap Dong Lijun, memaparkan skema pembagiannya.
“Jadi, aku mendapat sekitar empat persen keuntungan?” tanya Dong Lijun.
“Perhitungannya tidak sesederhana itu. Dividen tiga persen itu kena pajak, sedangkan satu juta yuan itu bebas pajak, murni pemberian dariku!” Qin Lu tersenyum.
“Bos, Anda benar-benar dermawan!” Dong Lijun terkesan dengan keberanian pemuda di hadapannya.
“Malam ini aku harus kembali ke Qinzhou, kapan kamu bisa mulai bekerja?” tanya Qin Lu.
“Kapan saja!” Dong Lijun sudah tak sabar menyaksikan revolusi yang akan dibawa baterai Qin Lu ke dunia energi.
“Baik, besok siang jam dua belas, aku ingin melihatmu di Qinzhou!” Qin Lu mengangguk, berdiri dan menjabat tangan Dong Lijun, lalu membereskan barang-barangnya dan langsung pergi tanpa menoleh.
Keluar dari kafe, Qin Lu langsung ke hotel untuk check out, lalu naik taksi menuju bandara.
Sedangkan Dong Lijun, setelah melepas kepergian Qin Lu, naik mobil Phaeton yang dikemudikan Zhang Li untuk pulang ke rumah.
“Ayah!” Saat mobil memasuki villa, Dong Yuwei yang sedang membaca sambil bermain ayunan di halaman, melihat Dong Lijun pulang dan berlari menghampirinya dengan riang.
“A Li, belikan tiket pesawat ke Xijing besok pagi, lalu suruh orang antar mobil ke Qinzhou, kita berangkat besok pagi!” Saat melihat Dong Yuwei datang, Zhang Li menghentikan mobil. Dong Lijun tersenyum, mengatur semuanya, lalu turun dari mobil.
“Wah, putri ayah, ini kan bukan akhir pekan, kenapa pulang ke rumah?” Dong Lijun mengisyaratkan pada Zhang Li agar mobilnya dibawa pergi, lalu mengelus kepala Dong Yuwei sambil tertawa.
“Hmph, ayah tiba-tiba berhenti kerja, bagaimana aku bisa tenang sekolah? Lagi pula, nilai aku pasti bikin ayah tenang. Tidur sampai ujian masuk universitas sekalipun, aku masih bisa pilih antara Universitas Shuimu atau Ibu Kota!” Dong Yuwei mendongak penuh bangga, seperti angsa kecil yang sombong.
“Baiklah, aku tahu putriku hebat. Mumpung pulang, minggu ini istirahat saja di rumah!” Dong Lijun menepuk bahu Dong Yuwei dan berjalan ke kamar, sementara Yuwei kembali ke ayunan melanjutkan membaca.
“Istriku, aku pulang!” Dong Lijun masuk ke kamar dan melihat Zhang Jingyun sedang menonton TV di sofa.
“Kenapa pulang terlambat?” Dong Yuwei menelepon jam satu siang, sekarang sudah lewat jam lima.
“Ada urusan yang harus dibicarakan,” jawab Dong Lijun dengan senyum lebar.
Ia benar-benar dalam suasana hati yang baik.
“Ada apa? Kelihatan senang sekali!” Zhang Jingyun mendekat.
“Aku sudah mendapat pekerjaan baru!” Dong Lijun memeluk istrinya dan tersenyum.
“Kau menerima tawaran siapa? Pak Ma dari Qiqi? Jack Ma dari Ali? Atau Pak Ren dari Huawei?” tanya Zhang Jingyun.
Tiga perusahaan teknologi besar itu memang sedang naik daun di negeri ini, dan ketiganya pernah menawarkan posisi pada Dong Lijun.
“Bukan, ini perusahaan kecil. Tapi gajinya bagus, dan aku suka suasananya!” Dong Lijun menjelaskan secara detail.
“Kalau memang begitu, mungkin kamu sedang bertemu orang yang tepat!” Setelah bertahun-tahun bersama Dong Lijun, Zhang Jingyun tahu persis arti produk Qin Lu.
“Besok pagi aku harus terbang ke Xijing lalu lanjut ke Qinzhou, anak kita aku titip padamu!” ujar Dong Lijun dengan lembut.
“Kamu bicara seolah kalau di rumah, anak kita pasti kamu yang urus. Pergilah, liburan Yuwei juga sebentar lagi, nanti aku ajak dia menyusulmu!” Zhang Jingyun melirik Dong Lijun sambil tersenyum geli.
“Bagus kalau begitu.”
...
Sementara itu, Qin Lu setelah tiba di bandara, pukul 19.50 sudah naik pesawat ke Xijing.
Jam sembilan malam, pesawat mendarat.
Sudah memberi tahu Qin Xue sebelumnya, Qin Lu bertemu dengan kakaknya di luar bandara.
Setelah naik mobil, Qin Lu mengantar Qin Xue kembali ke Universitas Transportasi Xijing.
“Kak, perusahaanku sudah resmi terdaftar, hari ini ke Hangcheng juga sudah dapatkan manajer, kira-kira seminggu lagi, kamu bisa lihat peluncuran produk baru Teknologi Bima Sakti!” Qin Lu tersenyum pada kakaknya.
“Bagus, aku tunggu kabar baik darimu. Kalau kamu sudah kaya nanti, jangan lupa belikan aku mobil!” Qin Xue sudah punya SIM sejak tahun pertama kuliah, hanya saja baru bisa pakai mobil Qin Zhijun saat liburan.
“Nanti aku belikan, pilih sendiri mobil apa pun di dunia, selama aku bisa beli!” Qin Lu tertawa.
“Janji ya!” Qin Xue tertawa girang.
“Janji...” Qin Lu memperpanjang nada suaranya.
“Oh ya, soal ini jangan dulu bilang ke ayah ibu, nanti pas tahun baru aku jelaskan pelan-pelan!” pesannya.
“Tahu, aku lebih paham dari kamu!” Qin Xue mengangguk.
“Baiklah, aku pulang dulu, beres-beres, besok karyawanku sudah mulai masuk!” Qin Lu mengelus kepala Qin Xue, gayanya sama sekali tidak seperti adik.
“Pergi sana, aku kan kakak!” Qin Xue manyun dan menepis tangan Qin Lu.
“Aku pergi!” Qin Lu masuk mobil dan melaju ke Qinzhou.
Sampai di kampus, sudah hampir jam sepuluh malam.
“Bro Lu, kamu beberapa hari ini ke mana saja? Hari ini Pak Zhang lagi-lagi membantu izinmu!” tanya Tian Yuguang heran.
“Kemarin aku ke Hangcheng, baru saja balik!” jawab Qin Lu.
“Kamu sempat ke Xijing naik pesawat?” tanya Tian Yuguang.
“Iya,” Qin Lu mengangguk, merasa bandara Qinzhou sangat tidak nyaman.
“Bandara Qinzhou memang masih terlalu sedikit penerbangan. Aku sendiri mau pulang ke Hasi, juga harus ke Xijing dulu,” ujar Tian Yuguang, menangkap ketidaknyamanan Qin Lu.
“Nanti kalau aku kaya, aku pasti bangun bandara internasional di Qinzhou!” Qin Lu menggertakkan gigi.
“Hahaha, Bro Lu memang hebat, nanti kita bisa langsung terbang ke luar negeri dari Qinzhou!” Zhao Xiu tertawa.
“Hahaha...” Qin Lu juga ikut tertawa...
Namun, soal bandara internasional itu masih jauh. Mungkin, sebelum bandara jadi, ia sudah meneliti baju zirah baja, waktu itu nanti bisa terbang sendiri, bukan?
Tapi menurut ingatannya, Desember tahun depan kereta cepat sudah sampai Qinzhou, jadi pergi ke mana-mana juga makin mudah!
“Tidur, besok hari baru lagi!” Qin Lu menggeleng, tak mau banyak pikir. Beberapa hari ini sudah bolak-balik naik pesawat, tubuh pejuang tingkat satu pun tetap saja kelelahan.
Begitu rebahan di bantal, Qin Lu langsung terlelap.