Bab 07: Kakek Pulang, Rumah Jadi Kacau

Petikan Kecantikan dalam Peti Mati, Menikahi Istri dari Dunia Arwah, Penjaga Keseimbangan Yin dan Yang Penguasa Bintang Malam 2653kata 2026-03-04 23:44:19

Begitu Janda Song melangkah keluar dari rumahku, aku langsung menutup dan mengunci pintu rapat-rapat, memastikan ia tak bisa menerobos masuk, barulah aku benar-benar merasa lega. Perlu kau tahu, perempuan itu sudah lama menjanda. Kalau tiba-tiba nalurinya bangkit, dan ia memaksaku dengan cara kasar, bagaimana jadinya? Aku benar-benar khawatir ia akan kembali lagi.

“Dasar kepala kayu,” gerutunya dari luar ketika aku baru saja mengunci pintu, terdengar jelas langkah kakinya menghentak tanah karena kesal. “Perempuan sudah datang sendiri, malah tak mau. Seumur hidupku belum pernah lihat lelaki sebodoh Chen Fan ini.” Ia gagal menjebakku, malah balik menyalahkan aku yang dianggap bodoh. Ucapannya benar-benar membuatku kesal.

Untuk menghadapi makhluk buas macam dia, ke depannya aku harus menghindar sejauh mungkin, jangan sampai ia menemukan celah untuk menimpaku kesialan.

Malam ini keluarga Ma Si Kaki pincang mengadakan upacara kematian, tapi aku pun tak sempat membantu. Diriku sendiri saja sulit bertahan. Jampi-jampi yang digambar kakek, entah benar-benar bisa melindungiku atau tidak, aku pun tak punya waktu memikirkan urusan orang lain.

Terhadap hantu jahat dari makam kuno itu, aku tak berani lengah sedikit pun. Semua pintu rumah, termasuk pintu kamar dan jendela di kamar tidur, sudah kutempel dengan jampi penolak bala. Di tubuhku juga kusimpan tiga lembar jampi yang sama. Bahkan, tidur pun aku memeluk pedang kayu persik.

Pedang kayu persik itu biasa digunakan kakek untuk ritual mengusir roh jahat. Memeluknya di dada, baru aku bisa merasa aman. Namun, dalam sehari lebih ini, aku makan apa saja pasti muntah, tubuhku semakin lemas, kepala terasa ringan, dan seluruh badan lesu. Kalau begini terus, mungkin aku akan mati kelaparan.

Namun, aku harus bertahan. Hanya dengan menunggu kakek pulang dan menuntaskan urusan hantu jahat dari makam kuno itu, barulah aku bisa benar-benar selamat.

Berulang kali aku membolak-balik badan di ranjang, belum juga bisa tidur. Saat baru mulai mengantuk, tiba-tiba suara ayam-ayam di rumah membangunkanku. Semua ayam yang kupelihara di belakang rumah, tiga betina dan satu pejantan, tiba-tiba berkokok berbarengan. Suara keras mereka di tengah malam begitu mengganggu.

Segera aku menyalakan lampu rumah, bangkit dari ranjang, mengambil seember air dingin dari dapur, lalu bergegas ke belakang dengan penuh amarah.

“Malam-malam begini, apa yang kalian ributkan, hah?”

Belum habis ucapanku, air di ember langsung kusiramkan ke arah kandang ayam. Serentak suara mereka terhenti.

“Pergilah sial, menjauhlah dariku!” Aku meludahi kandang tiga kali. Di sini, ada kepercayaan bahwa jika ayam berkokok malam-malam, itu pertanda buruk, bisa jadi akan ada kejadian tidak mengenakkan. Tapi jika disiram air, kesialan itu bisa diusir.

Soal mujarab atau tidak, aku sendiri tak tahu. Namun, aku dan Liu San Xian sudah diincar oleh hantu jahat dari makam tua itu. Malam ini jelas jadi pertanda celaka bagi kami. Tak boleh lengah sedikit pun, bisa-bisa celaka.

Baru saja aku kembali dari belakang rumah, tiba-tiba kudengar anjing-anjing di desa menggonggong berturut-turut. Dari suaranya, mereka menyalak di sekitar rumahku.

Tak lama kemudian, terdengar suara marah dari luar rumah, “Sampai aku, Kakek Chen Liu, pulang pun masih saja kalian gonggong. Dasar anjing-anjing bodoh, mata kalian buta ya?”

Suara bentakan itu nyaring dan jelas kudengar dari dalam rumah. Itu suara kakekku!

“Kakek pulang tengah malam begini?” aku terkejut.

“Anak, cepat bukakan pintu!”

Pintu rumah segera digedor keras-keras, lalu terdengar suara kakek yang berat dan tua. Aku yang semula cemas, langsung bergegas membukakan pintu.

Begitu pintu terbuka, angin dingin menusuk menerpa wajahku. Padahal bulan Agustus, malam pun biasanya gerah walau bertelanjang dada, namun saat itu hawa dingin menembus tulang.

Aku jadi curiga dan penuh tanya.

Di luar, dalam gelap, kulihat kakek berdiri sambil tersenyum lebar, menatapku dengan matanya yang sipit. Anjing-anjing desa masih berkerumun tak jauh dari sana, mata mereka berkilat hijau, menyalak galak ke arah kakekku.

Aku menatap kakek lekat-lekat; senyumnya ada yang aneh, agak mengerikan. Ia melangkah mendekat. Aku pun menghampirinya.

Tanpa ragu, aku cepat-cepat mengulurkan tangan, menempelkan jampi penolak bala ke dahinya. Bersamaan dengan itu, pedang kayu persik langsung kuayunkan ke arahnya.

Semua gerakanku kulakukan dalam satu tarikan napas, tak memberinya waktu bereaksi.

Krek!

Ternyata ayunanku terlalu keras, pedang kayu persik itu patah jadi dua, yang tersisa hanya gagangnya di tanganku. Bilahnya jatuh ke tanah.

“Aduh…” Kakek menjerit kesakitan, “Chen Fan, dasar anak bodoh! Kenapa kau seperti anjing-anjing itu, tak bisa membedakan orang? Berani-beraninya kau menyerang kakekmu sendiri, ingin dihajar ya kau?”

Selesai bicara, ia mencabut jampi dari dahinya. Tak ada perubahan apa pun pada diri kakek.

“Jadi benar-benar kakek yang pulang?” aku jadi canggung, menggaruk kepala dan berkata, “Desa kita sedang dapat musibah, hantu dari makam tua itu lolos, keluarga Ma Si Kaki Pincang sudah jadi korban.”

“Kau kira aku ini hantu jadi-jadian dari makam itu?”

Aku mengangguk malu-malu. Soalnya, anjing-anjing desa sedari tadi menyalak galak ke arah kakekku, membuatku curiga. Sampai sekarang pun masih menggonggong ke arahnya. Siapa yang tak curiga?

Tapi pedang kayu persik di tanganku sudah patah, jampi pun sudah kutempelkan di dahinya, dan kakek tetap tak berubah. Itu artinya, memang benar kakek yang pulang dari kota.

“Kau lumayan juga punya nyali,” kakek tersenyum, giginya kuning, matanya penuh keyakinan. “Tapi, kalau manusia dan hantu saja tak bisa kau bedakan, bukankah itu cari mati namanya?”

Ia pun melangkah masuk ke rumah lebih dulu.

“Guk!” “Guk guk!” Anjing-anjing desa makin liar menyalak, menatap punggung kakek dengan marah.

“Dasar anjing-anjing bodoh, benar-benar tak berguna,” gerutuku sambil menutup pintu, lalu bertanya pada kakek, “Kakek, kenapa pulang malam-malam begini?”

“Kakek hitung-hitungan, dan hasilnya, malam ini kau akan kena sial. Karena itu, aku harus buru-buru pulang.”

Mendengar itu, aku benar-benar terpana. Keahlian kakek dalam meramal memang luar biasa, menghitung nasib hanya dengan jari, hasilnya selalu tepat.

Kakek melanjutkan, “Baru saja sampai, aku bertemu dengan kepala desa tua, ia sudah menceritakan semuanya. Jangan khawatir, malam ini juga kakek akan turun tangan, menuntaskan urusan hantu jahat itu demi keselamatan warga desa.”

“Kakek yakin bisa mengatasinya?” tanyaku cemas.

“Tentu saja.” Kakek tersenyum, memperlihatkan gigi kuningnya, matanya penuh percaya diri.

“Baguslah, bagus,” aku tertawa lega. “Kalung giok yang kudapat di makam kuno itu, kakek sudah jual di kota? Dapat berapa?”

“Jangan sebut-sebut soal itu, malah bikin aku rugi waktu saja.”

“Kenapa memangnya?”

“Entah kalung giok itu tertinggal di rumah, atau hilang di jalan menuju kota, pokoknya sudah tak ada di tanganku.”

Di akhir kalimatnya, kening kakek sudah berkerut penuh kesal.