Dunia ini dilanda peperangan dan kekacauan. Tak terhitung banyaknya orang yang berjuang di antara hidup dan mati. Ada yang demi kekuasaan, ada yang demi bertahan hidup, ada pula yang demi seluruh nege
Langit memang penuh dengan perubahan yang tak terduga, nasib manusia pun bisa berubah dalam sekejap, antara untung dan malang. Kejadian tak diharapkan selalu datang tanpa peringatan.
Luo Yan tak pernah terpikir bahwa suatu hari ia akan mengalami peristiwa menyeberang ke dunia lain. Saat ini, hatinya masih diselimuti kebingungan, kegamangan, ketidakpahaman, sekaligus kegelisahan. Semuanya terasa amat rumit, tak mudah dilukiskan dengan kata-kata.
Ia masih ingat, baru saja tadi ia sedang duduk di toilet, menggulir video di ponselnya, kadang-kadang mengangkat sedikit pinggang agar cipratan air tak mengenai pantat. Tiba-tiba saja, kakinya terpeleset, ia melihat lantai di hadapan matanya, lalu kesadaran pun hilang.
Setelah itu, pandangannya mengabur, dan saat tersadar, ia sudah berada di tempat ini.
Pemandangan yang menyambutnya adalah hutan lebat, pohon-pohon tua dengan ranting dan dedaunan rimbun, jelas sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Yang paling mencolok, hutan ini terbentang luas, bukan hanya satu dua pohon. Andaikan di zaman modern, hutan seperti ini sudah lama ditebang manusia.
Udara yang segar membuat hati terasa lapang dan semangat membuncah. Tapi, semua itu bukanlah yang terpenting.
Yang membuat Luo Yan lebih waspada adalah sekelilingnya, berdiri belasan sosok berpakaian hitam ketat, wajah tertutup topeng, kepala mengenakan caping. Ada yang bersandar di pohon, ada yang jongkok di tanah, masing-masing dengan posisi berbeda, namun satu hal yang sama—setiap orang menggenggam sebilah pedang, tak pernah lepas dari tangan, seo