Bab Dua Puluh Tiga: Sang Maestro Teknik
“Nampaknya aku sudah salah menilaimu, Kamiyama.” Yamasaki Ai menutupi wajahnya dengan tangan seputih salju, namun Mirukawa masih bisa melihat semburat kemerahan dari celah-celah jemarinya. “Tolong lupakan sikapku yang kurang pantas barusan.”
Ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya yang biasanya tenang bisa begitu tersulut oleh seorang gadis asing, hingga saling beradu argumen.
Sebenarnya, di mata Mirukawa, ini sama sekali bukan kemarahan. Hanya naluri alami seorang gadis saat berhadapan dengan ‘saingan cinta’.
Istilahnya, cemburu.
Sayangnya, sejak kecil hingga kini, tak pernah ada laki-laki yang benar-benar hadir dalam hidupnya, sehingga Yamasaki tidak pernah memiliki alasan untuk merasa cemburu. Baru kali ini ia merasakan getir itu.
Sosok kakak kelas yang biasanya anggun dan dewasa itu kini tampak canggung, bahkan malu atas perbuatannya sendiri seperti gadis remaja pada umumnya.
Dalam sudut pandang tertentu, ia memang cukup menyedihkan; tidak bisa bergaul dengan laki-laki, tidak bisa menikmati kudapan manis, mungkin masih banyak pantangan lain dalam hidupnya...
Hal itu membuat Mirukawa semakin merasa, ia harus menjadi penyelamat kakak kelasnya!
Ia seperti seekor kucing ragdoll yang terjebak lumpur, atau bunga bakung yang digerogoti hama, dan Mirukawa adalah manusia yang berdiri di sisi, siap mengulurkan tangan.
Jika ia juga menyerah, maka Yamasaki tidak akan punya satu pun sandaran di dunia ini.
Dengan tekad seperti itu, bukan lagi karena permainan cinta berbahaya yang bisa merenggut nyawanya sewaktu-waktu, Mirukawa mengabaikan sistem dan memutuskan untuk bertindak nekad.
Ia percaya pada dirinya, dan yakin kakak kelasnya membutuhkan dia. Maka, tidak ada orang yang tidak bisa ia dapatkan simpati dan kepercayaannya!
“Kakak, pasti sejak kecil hidupmu sangat berat, ya?”
Mirukawa menyilangkan tangan di atas meja, ingin mengenal kakak kelasnya lebih dalam.
Keterampilan berbicara sangat penting, dan itu ia pelajari dari Ryosuke. Ryosuke yang mahir psikologi tidak hanya pandai membuat ledakan, tapi sejak kecil sudah terbiasa menemani ayahnya negosiasi, sehingga sangat piawai dalam percakapan. Ia hanya merasa meledakkan diri adalah cara tercepat dan paling kasar untuk mendapatkan informasi.
Karenanya, ia tidak punya banyak teman.
Namun Mirukawa berbeda. Ia mempelajari teknik itu dari Ryosuke, dan berkat kecerdasan emosionalnya, ia bisa dengan mudah mengambil kendali, lalu perlahan-lahan membimbing Yamasaki Ai.
Angka di panel masih terus menurun, tersisa 90 detik, satu setengah menit lagi.
Yamasaki Ai tercengang. “Kenapa kamu berkata begitu, Kamiyama?”
“Ryosuke Hanyu bergabung dengan klub anggar. Kemarin sore aku menemui dia, dan bercakap-cakap dengan para senior di sana.”
Jawaban yang tampak tidak berkaitan, tapi Yamasaki Ai memahami maksudnya.
Mirukawa ingin memberitahu, ia sudah bertemu dengan Yamasaki Yuma, dan dari mulut Yuma ia mengetahui sebagian kisah masa lalu kakak kelasnya; latar keluarga, status, bahkan cerita-cerita kecil di masa kanak-kanak—
Misalnya, Yamasaki Ai yang sejak kecil sudah menunjukkan kemandirian luar biasa; bahkan saat tertusuk serpihan kayu di tangan, ia diam-diam mencari obat sendiri, meski akhirnya para kakak sepupunya ikut kena hukuman karenanya.
Saat itu, Yamasaki Ai baru berusia enam tahun.
“Begitu ya...” Yamasaki Ai berbisik pelan.
Ia menundukkan pandangan, dan di matanya tampak riak bulan malam, seolah mengingat masa lalu yang kurang menyenangkan.
Kemampuan melihat cacat karakter laki-laki yang dimilikinya membawa beban mental yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain.
Semakin besar keluarga, semakin banyak intrik. Masa kecil Ai dihabiskan di lingkungan seperti itu, dikelilingi pria-pria yang penuh tipu daya. Mana mungkin ia bisa menjadi gadis normal yang ‘bisa menangis agar mendapat permen’?
Ia menolak kehadiran mereka, sehingga harus mengandalkan diri sendiri. Sejak kecil hingga remaja, hampir tak ada yang pernah melihat gadis kecil itu menangis.
Anak yang mandiri selalu punya kisah yang sulit diungkapkan. Ada pepatah mengatakan, kemandirian yang membuat hati pilu—benar adanya.
Setelah sadar bahwa kemampuan itu adalah anugerah yang tidak bisa ia matikan, Yamasaki Ai memilih menutup mata dan hati.
“Tolong angkat kepala dan pandang aku, Kak.”
Sebuah seruan membebaskan Yamasaki Ai dari kenangan kelam.
Mirukawa menatapnya tajam.
“Aku memang tidak bisa menjadi bagian dari masa lalumu, tapi sejak kakak memilih melangkah ke tokoku dan menganggapku berbeda dari yang lain, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu.” Mirukawa menunjuk kue Black Forest setengah makan di atas meja. “Tiramisu, Black Forest, mousse mangga, pancake, snow mochi... Apa pun itu, aku akan membuatkan untukmu, sampai utang manismu di masa lalu terbayar lunas.”
“Begitu juga dengan persahabatan atau hal lain yang belum pernah kakak rasakan. Selama kakak butuh, aku akan menemani, sampai semua yang terlewat itu terganti.”
Sudut mata Yamasaki Ai mulai basah. Dalam tujuh belas tahun hidupnya, inilah kali pertama seorang pria melihat kelembutan di balik lapisan kekuatannya.
“Jadi, Kak,” Mirukawa tersenyum, “sebagai sahabat laki-laki pertamamu, aku mohon bimbingannya. Mulai sekarang, kamu tidak sendiri lagi.”
Layaknya seorang Echidna yang menembus dinding batin Subaru Natsuki yang tertekan oleh kematian, Kamiyama Mirukawa hari ini berkata pada Yamasaki Ai, “kamu tidak sendiri lagi,” dan sepenuhnya meruntuhkan ketakutan dalam hati Yamasaki Ai untuk melangkah lebih dekat.
Air mata mengalir tanpa suara di sudut mata Yamasaki Ai, tanpa sadar telah meluluhkan pertahanannya.
Menyadari keadaannya, Yamasaki Ai mengusap cepat air mata di wajahnya sambil menarik napas.
“Jangan... jangan lihat aku...”
“Selamat, Kakak, kamu telah menuntaskan pencapaian: untuk pertama kalinya menangis di depan sahabat laki-laki. Semoga ke depannya makin berani. Aku yakin, air mata kakak pun pasti rasanya manis.”
“Mana mungkin, siapa pula yang air matanya manis?”
“Tak percaya? Coba saja rasakan sendiri.”
“Benarkah...? Uh, pui pui pui! Kamiyama, kamu menipuku!”
Gurauan ringan itu segera mencairkan suasana, membuat Yamasaki Ai tertawa di sela tangisnya, tanpa menyadari wajah Mirukawa mulai pucat.
Sudah sepuluh detik terakhir, ia tidak bisa merasakan adanya oksigen.
Ia hampir mati.
[Yamasaki Ai membuka hatinya padamu, poin kedekatan naik 7, sekarang 30 poin!]
[Selamat, kamu telah membuka tingkat kedua: Sahabat Dekat. Kini, kamu dan Yamasaki Ai telah menjadi sahabat.]
[Permainan Cinta Berbahaya berakhir, poin terpakai: 3760, dikembalikan dua kali lipat, kini sisa: 7760 poin.]
[Berhasil menyelesaikan dua permainan sekaligus, kamu mendapatkan gelar “Ahli Teknik”. Efek: saat mengenakan gelar ini, kamu bisa memilih target, dan dalam 24 jam, ia akan sepenuhnya mengabaikan keberadaanmu, efek aktif hingga kamu berinteraksi dengannya. Waktu muat ulang 24 jam.]
“Huff... Khu... khu...!”
Akhirnya menghirup oksigen, Mirukawa terbatuk-batuk hebat.
“Kamiyama, kamu kenapa?” Yamasaki Ai panik melihat gerakannya, seolah seseorang mencekik lehernya dari belakang.
“Tidak, aku tidak apa-apa... Kakak, kalau sudah selesai makan, hubungi orang rumah untuk menjemput. Sudah malam. Aku masih harus bekerja, permisi dulu.”
Mirukawa menutup lehernya dan buru-buru berdiri, berusaha agar terlihat hanya tersedak dan bukan karena panik.
“Lain kali tidak boleh seperti ini lagi. Meski permainan selesai di detik-detik terakhir, tetap saja sangat berbahaya!”
Jika poin habis, ia akan mati; tepat di saat nol, tubuhnya sudah tidak sanggup lagi. Sebelum itu, meski hanya tersisa satu poin, ia tak yakin bisa selamat dari bahaya syok kekurangan oksigen dan sebagainya.
Dalam hati, Mirukawa bertekad untuk mulai berhemat dan mencari cara menambah poin sebanyak mungkin.
Dari dua permainan mendadak hari ini saja sudah terlihat, ke depan tantangan akan makin sulit, dan hadiah pun makin besar.
Karena itu, menabung poin menjadi sangat penting.
Bahkan jika harus mengeluarkan poin, jangan sekali-kali memboroskan, misalnya poin keahlian sebaiknya didapat dari misi dan pencapaian saja, bukan ditukar dengan poin. Barang di toko pun usahakan beli saat diskon. Kalau tidak, ketika poin menipis dan tiba-tiba permainan muncul, Mirukawa tidak yakin bisa selalu selamat seperti hari ini.