Bab Dua Puluh Empat: Kadang-kadang, Bisa Juga Sebuah Pisau Buah
Malam itu, Akira sedang belajar di kamarnya, meja belajarnya dipenuhi berbagai macam buku. Tak hanya buku pelajaran kelas satu SMA Rinde Gijuku, bermacam-macam majalah ilmiah pun tersedia, bahkan banyak di antaranya adalah terbitan luar negeri. Empat novel klasik Tiongkok, kisah-kisah mitos, dan Kamus Bahasa Mandarin juga sering ia baca; sebagai seseorang yang bereinkarnasi, menguasai bahasa Mandarin adalah keunggulan yang tak boleh hilang darinya. Paling tidak, setelah lulus ia bisa menjadi penerjemah, dan pasti akan jauh lebih mahir daripada penerjemah profesional biasa—siapa lagi yang lebih cocok menjadi penerjemah selain orang yang memiliki dua kehidupan?
Meskipun, jika dipikir-pikir, itu terasa sedikit sempit.
“Bibi, tolong tekan sebentar~”
Nada dering ponselnya berbunyi, lagu tema dari “Tiga Bersaudara di Bawah Cahaya Bulan” berkumandang dari meja. Tanpa melihat pun, Akira tahu pasti itu dari Ryosuke. Nada dering itu memang permintaan khusus Ryosuke, karena ia sangat menyukai para antagonis dalam karya Araki. Katanya, “Supaya setiap kali Akira mendengar nada dering ini, ia akan teringat aku yang sedang bergaya.”
Ryosuke pernah terkilir kakinya karena memaksa meniru gaya JOJO. Saat itu Akira sudah mengingatkan, gaya seperti itu memang bukan untuk manusia. Tapi Ryosuke tak peduli; di dunia ini, apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh Hanyu Ryosuke?
Akhirnya, ia terkilir lagi untuk kedua kali dan masuk rumah sakit.
“Halo, Akira?” suara malas Ryosuke terdengar.
“Sudah sadar dari mabuk?”
Meletakkan pena, Akira menempelkan ponsel ke telinga dengan satu tangan, sementara tangan satunya menggosok sudut matanya yang lelah, lalu menetesi mata dengan obat dan bersandar di kursi.
Menelpon tidak perlu menggunakan mata, jadi ia biarkan matanya beristirahat.
“Sebenarnya aku tidak sampai mabuk. Mana mungkin Tuan Ryosuke sampai mabuk?” Ryosuke bersikeras menyangkal.
“Kalau tidak mabuk, tak mungkin kau sampai memeluk papan pengumuman di jalanan sambil berteriak ‘Hatsune adalah istriku’ dengan malu-maluin.”
“Ah…” Suara Ryosuke di seberang sana terdengar gugup, lalu ia membela diri, “Tapi Hatsune memang istriku, itu tidak membuktikan aku mabuk. Kalau nanti aku berteriak ‘Aku mau cerai dengan Hatsune’, itu baru tanda-tandanya.”
“Jangan ngeles, sobat. Sepertinya kau benar-benar mabuk,” Akira memutar bola matanya dan membuka mata. “Soalnya kejadian itu tidak pernah terjadi, sepanjang jalan aku yang membawamu, tak ada kesempatan bagimu untuk beraksi.”
“Kau menipuku, dasar licik!”
“Haha, ternyata Tuan Ryosuke pun bisa tertipu kalau tidak bertatap muka!” Akira sangat senang, ia bangkit dan bersiap ke bawah untuk memotong apel.
Satu apel setiap malam, kebiasaan baiknya.
Di Jepang, buah-buahan tidak dijual per kilo, tapi per buah. Dan buah-buahan di Jepang harganya selangit; satu melon bagus di Tokyo bisa mencapai hampir dua puluh ribu yen, di tempat lain sedikit lebih murah pun tetap ribuan yen.
Yang paling menyebalkan, di kota besar Jepang tidak ada pasar sayur-buah, semua supermarket dan minimarket dimonopoli perusahaan besar. Barang murah pun hanya relatif lebih murah dibanding produk lain di toko, mau beli buah hanya bisa di sana, tidak ada pilihan lain.
Untungnya, apel masih tergolong murah, apel biasa hanya seratusan yen, sekitar enam atau tujuh ribu rupiah, keluarga sederhana pun masih mampu membelinya.
Alasan Akira sangat senang adalah karena kali ini ia berhasil menipu Ryosuke, hal yang sangat jarang terjadi.
Ryosuke itu, selama ia bisa mengamati lawannya, mustahil bisa dibohongi di depan muka.
Orang ini kemampuan membaca ekspresi dan psikologi terlalu berlebihan. Pernah, Kepolisian Metropolitan bahkan mengundangnya untuk menjadi juri dalam interogasi tersangka. Walau akhirnya analisa Ryosuke hanya dijadikan referensi, ternyata dugaan dia benar, tersangkanya memang berbohong.
“Jadi, Tuan Muda Hanyu nelpon ada perlu apa? Ini sudah waktunya tidur, dan aku tidak mungkin keluar tengah malam lagi menemanimu berkendara ke Teluk Tokyo. Waktu itu kepalaku pusing semalaman, besoknya jadi lemas.”
“Teluk Tokyo sudah bosan, lain kali ke Hokkaido. Nanti waktu study tour, coba musyawarahkan dengan kelas, bisa main ke kawasan wisata pribadi keluargaku di Hokkaido.”
Mendengar ucapan Ryosuke, Akira membalikkan mata.
Dasar orang kaya menyebalkan.
Ia bisa membayangkan Ryosuke berkata begitu sambil jongkok di kursi gaming, menahan ponsel di pipi, main game, dan ekspresi tak peduli yang bikin gemas.
Ryosuke melanjutkan, “Aku telepon mau nanya, kau lihat ‘Arus Baru’ di tasku enggak? Di situ ada karya Ryuunosuke sebelum terkenal, ‘Hidung’, aku suka banget, sekarang gak ketemu.”
“Buku? Aku nggak… ah, aku ingat!” Akira menepuk pahanya, baru ingin bicara, mendadak terdiam.
Ia menggaruk kepala, agak malu.
Buku yang dimaksud Ryosuke, sepertinya yang ia lempar kemarin ke pintu ruang anggar. Untungnya, Yuma Yamazaki mengambilnya, jadi tidak hilang.
Ia mengira itu buku pelajaran biasa, tak menyangka ternyata buku kuno.
“Mungkin ada di Yuma Ketua Klub Anggar.”
“Hah? Ketua Yamazaki? Yamazaki yang mana, Ai Yamazaki atau Yuma Yamazaki?”
Ryosuke di seberang sana kebingungan, kenapa bukunya bisa berada di tangan mereka?
Apalagi Ai Yamazaki, jangan-jangan Akira pakai bukunya buat pendekatan ke kakak kelas?
“Yuma, Yuma Yamazaki. Besok kau tanya saja ke klub anggar, bukunya entah di sana atau di Komite Disiplin… eh…”
“Ada apa lagi? Dan kenapa bisa di Komite Disiplin? Bukuku itu bukan bacaan dewasa, sebenarnya sudah mengalami apa saja!”
Ryosuke curiga.
Akira terdiam karena saat ia membuka pintu kamar, ia melihat Haruna Sakura malam-malam naik ke atas, membawa sepiring apel berbentuk kelinci.
Apelnya baru dipotong, pisau buahnya masih berembun, apelnya pun belum berubah warna.
Memotong apel dengan kulit menjadi bentuk kelinci adalah cara membuat piring buah yang cukup populer di Jepang, anak-anak sangat menyukainya.
Selain itu, Haruna Sakura sengaja menyisipkan biji apel sebagai mata kelinci, hitam kecil, sangat hidup.
“Haruna, kamu…”
“Kakak Akira sejak SD suka makan apel satu jam sebelum tidur, kata bibi kamu lagi belajar, jadi aku antarkan ke sini!” kata Haruna Sakura sambil mengintip otot Akira yang tampak di balik baju longgar, menelan ludah diam-diam.
“Bukan, maksudku, kenapa kamu bisa ada di rumahku, dan dengan santainya pakai piyama?” Akira mengangkat alis, Haruna Sakura memang sejak kecil suka dengan hal-hal imut seperti piyama kelinci merah mudanya.
Makanya ia rela repot-repot memotong apel jadi kelinci lucu, Akira biasanya hanya mencuci lalu langsung makan, paling jauh membelah dua, tetap mempertahankan kebiasaan baik sewaktu tinggal di Tiongkok.
“Itu…,” wajah Haruna Sakura memerah, seperti apel, ia berbisik, “Aku sudah bilang pada ayah, mungkin aku akan sering menginap di sini untuk belajar bikin kue sama bibi, dan bibi juga senang.”
Itu bohong!
Ini jelas bohong! Ibu, jangan percaya! Sebenarnya dia itu siluman penggoda! Siluman penggoda adalah jenis iblis, jangan sampai tertipu!
Akira berteriak dalam hati. Bahkan kalau Ryosuke tiba-tiba ingin jadi biksu, ia masih bisa percaya, tapi kalau Haruna Sakura kesini hanya untuk belajar bikin kue? Tidak akan ia percaya!
“Haruna, ada pepatah Tiongkok, ‘Niat Sima Zhao, semua orang tahu’. Tahukah kamu artinya?”
Pepatah itu Akira ucapkan dalam Mandarin murni, sementara Haruna Sakura tak pernah belajar Mandarin, jadi jelas ia tak mengerti.
Ia menggeleng, tanda tidak tahu.
Akira menghela napas. Ia hanya ingin mengeluh, tidak berniat menjelaskan.
Namun, tiba-tiba terdengar suara Ryosuke di telinganya.
Ia lupa mematikan telepon.
“Aku tahu itu! Sejarah Tiga Kerajaan! Artinya, Akira sudah tahu niat kecilmu!”
Mendengar penjelasan Ryosuke, Haruna Sakura jadi malu, merasa kebohongannya terbongkar orang lain, tak berani memandang Akira.
Ternyata… Kakak Akira sedang menelpon! Berarti semua obrolan tadi terdengar juga?
Menyadari itu, wajahnya makin memerah, sampai ke dahi.
Saat berdua saja, ia bisa bebas menggoda Akira, tapi kalau ada orang ketiga, si siluman penggoda itu langsung berubah jadi gadis pemalu.
“Halo, Ryosuke, menguping pembicaraan orang itu tidak sopan,” protes Akira.
“Bukan salahku, Akira. Kau yang lupa menutup telepon, lagi pula aku masih ada urusan.”
“Kalau begitu cepat bilang, kau juga dengar kan aku sedang sibuk.”
“Malam-malam begini berdua, jangan-jangan kau dan teman masa kecilmu akan…”
“Tutup mulutmu, dasar brengsek, besok siap-siap dihajar sahabatmu!”
“Kalau kau si gorila berani memukulku, aku akan membocorkan soal kencanmu akhir pekan ini… eh, aku ada urusan mendesak, aku tutup dulu.”
“Tuut… tuut… tuut…”
Akira masih melamun, telepon sudah diputus di sana.
Di depan, Haruna Sakura yang tadinya malu, kini memancarkan aura membunuh yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Akira, yang bisa mengalahkan tiga preman mabuk sendirian di pasar malam, malah mulai berkeringat dingin!
“Brengsek Ryosuke, pasti sengaja! Eh, Haruna? Sebelum aku menjelaskan, tolong serahkan pisaunya dulu ya, ayo, dengar…”