Bab Lima Puluh Tiga: Cinta Yuki
Hari Minggu, Asakawa menghabiskan akhir pekan yang hangat di rumah bersama ibunya dan Haruna. Ayahnya, Tomoya Kamiya, yang jarang punya waktu luang, untuk sekali ini juga menemani keluarga di rumah.
Ia belajar membuat makanan penutup dari Megumi Kamiya, dan berbincang dengan Tomoya Kamiya tentang kisah-kisah lucu sang ayah di masa lalu. Wajah Haruna tampak berseri penuh kebahagiaan.
Asakawa yang duduk di samping mereka merasa seolah-olah Haruna benar-benar sudah menjadi bagian dari keluarganya. Suasana harmonis itu membuat cahaya di dalam ruangan terasa lebih terang.
Keesokan harinya, pada hari Senin, Asakawa kembali melangkahkan kaki ke gerbang SMA Jinde Yijuku.
Pemandangan yang familiar dan sosok senior berkepala plontos yang tak asing membuatnya sejenak lupa akan malam yang tidak menyenangkan itu, juga angin laut yang sama tak menyenangkannya.
Para senior dari klub kendo sedang berlari pagi mengitari gedung sekolah dengan membawa pedang bambu di bahu. Suara lantang “Hoi!” yang mereka teriakkan penuh semangat, menebarkan aura muda yang begitu nyata.
Pagi ini ia tidak pergi bersama Ryosuke. Ami tidak selalu bisa menemani Ryosuke setiap minggu. Di akhir pekan kali ini, mereka akhirnya punya kesempatan bersama, yang tentu saja sangat menguntungkan Ryosuke.
Setelah bermesraan selama dua hari satu malam, pagi ini Ryosuke harus memaksakan diri dengan tubuh yang masih pegal untuk mengantar pacarnya kembali ke sekolah khusus putri, jadi mungkin ia akan datang terlambat ke sekolah.
Sinar matahari cerah menembus celah-celah dedaunan, membentuk pola bercak di atas lantai semen seperti cipratan tinta.
SMA Jinde Yijuku memiliki penghijauan yang sangat baik, memperlihatkan kemewahan sekolah ini. Dimana-mana di lingkungan sekolah bisa ditemukan deretan pepohonan rindang.
Jika dilihat dari atas, kompleks akademi ini bagaikan hutan lebat yang diciptakan di tengah-tengah hutan beton Kota Tokyo.
Namun, Asakawa tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan hijau itu. Dari kekacauan yang terjadi di depannya, ia bisa menebak apa yang dimaksud Ryosuke pada hari Sabtu lalu.
Seolah-olah terjadi invasi Godzilla, sekelompok siswa dengan rambut diwarnai dan tidak memakai seragam sekolah berlarian panik di gerbang sekolah, seakan lari dari sesuatu yang menakutkan.
Terutama yang paling belakang, wajahnya seperti melihat hantu, berteriak sekuat tenaga sambil berlari dengan kaki yang sudah lemas.
Sekelompok siswa itu berlari ke arah keluar melewati Asakawa, ia belum sempat melihat apa yang terjadi, tiba-tiba terdengar suara lantang!
“Masih berani lari?!”
“Wuss!”
Sebuah sosok gesit melesat dari kerumunan, langsung menangkap siswa laki-laki berpenampilan nyentrik yang tertinggal di belakang!
Yuki Ai yang tingginya sekitar seratus enam puluhan sentimeter mencengkeram kerah baju siswa itu, auranya garang seperti seseorang yang tingginya hampir dua meter. Wajahnya yang galak, benar-benar seperti ada raungan binatang buas yang menggetarkan.
Saat itu, Yuki Ai sudah tidak menunjukkan sikap sopan seperti saat rapat rutin, juga tidak ada lagi kesabaran dan keramahan seperti ketika bekerja paruh waktu di akhir pekan. Yang tampak kini adalah wibawa seorang ketua OSIS sejati!
Dalam hati, Asakawa merasa perlu meminta maaf padanya. Menyebutnya anjing kampung memang keterlaluan… Ini bukan anjing kampung, tapi benar-benar serigala lapar!
“Ada apa ini? Apa yang sudah dia lakukan?”
Asakawa memandang siswa yang ditahan Yuki Ai itu. Dari wajahnya, tampaknya bukan siswa kelas satu… kemungkinan besar malah seorang senior.
Yuki Ai terlalu sibuk menangkap siswa itu hingga belum sempat melihat wajah Asakawa. Ketika mendadak mendengar pertanyaannya, suara indah itu kembali berpadu dengan kehangatan hari Sabtu.
Hati Yuki Ai langsung bergetar, lalu ia menatap dan mengenali wajah Asakawa yang tampak penuh keheranan.
Cita rasa jus lemon hari itu seakan terbayang di depan mata, entah mengapa, Yuki Ai merasa mencium wangi segar lemon di udara.
Apakah ini hanya halusinasi?
Ia menggelengkan kepala, lalu menatap senior yang tampak galak di luar namun lemah di dalam, lalu berkata tegas, “Di sekolah tidak diperbolehkan mengecat rambut, dilarang memakai pakaian aneh, dan tidak boleh masuk tanpa seragam!”
“Itu tugas komite ketertiban! Lagi pula aku siswa kelas dua, kau masih kelas satu dan sudah jadi ketua OSIS, kenapa menangkapku?” Senior itu berontak, tampak tidak terima.
Yuki Ai mendengus dingin, “Begitu ya? Baiklah, aku akan mengantarmu langsung ke komite ketertiban. Lagipula, aku tidak pernah dengar kalau OSIS dilarang menindak pelanggaran dari siswa kelas atas. Jangan macam-macam, Senior!”
Genggamannya semakin kuat, membuat senior yang ingin melepaskan diri itu hampir berlutut, dalam hati mengeluh, “Gila, kekuatan gadis ini luar biasa!”
“Kau…”
Senior itu makin kesal, hendak menunjukkan identitasnya tapi tiba-tiba ingat bahwa bertindak seperti itu di sekolah bisa berakibat fatal. Akhirnya ia hanya bisa menahan diri, menatap teman-temannya di luar gerbang dengan ekspresi “Aku sudah tidak ada harapan, hanya bisa berharap pada kalian.”
“Bagaimana ini? Ryota tertangkap, apa yang harus kita lakukan?”
“Padahal komite ketertiban tidak melihat, malah ketemu ketua OSIS baru yang tiba-tiba muncul… Memang dia selalu suka ikut campur urusan orang?”
“Apa latar belakangnya? Kok berani benar, tidak takut cari masalah?”
“Kudengar keluarganya Yakuza, punya tiga ribu anak buah, menguasai perdagangan ganja dari Tokyo sampai Osaka!”
Para senior yang beruntung tidak tertangkap hanya berdiri ragu di luar gerbang, sibuk menelpon orang rumah agar dikirimi seragam. Mau masuk takut, mau pergi juga tidak bisa, berdiri layaknya anak buah rendahan.
Pemandangan ini pantas masuk dalam deretan momen legendaris Jinde Yijuku sejak didirikan. Walaupun di sekolah tidak boleh saling mengandalkan latar belakang, apalagi berlaku sewenang-wenang, namun para siswa dari keluarga terpandang ini sangat lihai dalam membangun relasi.
Semua tahu, asal lulus dari sini, mereka akan menjadi tokoh papan atas di masyarakat. Banyak pula yang memang dari awal sudah berlatar belakang keluarga berpengaruh, sekolah di sini hanya untuk menambah gengsi, jadi tentu tidak ingin bermusuhan.
Bahkan komite ketertiban pun terkadang menutup mata untuk hal-hal remeh seperti tidak memakai seragam, cukup berpaling dan membiarkan lewat.
Namun Yuki Ai berbeda. Ia mengejar para senior itu dari gedung sekolah sampai ke gerbang, bahkan menjatuhkan tiga orang di perjalanan, dan yang di gerbang ini menjadi yang keempat.
Komite ketertiban yang mengikuti di belakangnya sibuk menangani para pelanggar, nyaris kewalahan.
Asakawa berdiri tak jauh dari gerbang, samar-samar mendengar percakapan para senior itu.
Dalam hati ia mencibir, tiga ribu anak buah? Menguasai perdagangan ganja?
Keluarga Yakuza, putri mafia?
Kalau memang keluarganya sehebat itu, mana mungkin seorang putri mafia harus kerja paruh waktu di akhir pekan demi upah seribu yen per jam, sampai harus memakai kostum kepala beruang dan hampir pingsan karena kepanasan?
Asakawa jelas tidak percaya rumor itu. Bukan hanya karena ia pernah melihat Yuki Ai kerja paruh waktu, sebab bahkan Ai Yamazaki pun kadang datang ke panti asuhan milik kuil untuk menghibur anak-anak.
Alasan terkuatnya justru informasi dari Ryosuke soal beasiswa untuk siswa kurang mampu.
SMA Jinde Yijuku sangat ketat dalam proses seleksi. Jika benar keluarga Yuki Ai seperti rumor itu, punya banyak anak buah dan menjadi bos Yakuza di Tokyo, mana bisa lolos seleksi beasiswa?
Asakawa semakin merasa Yuki Ai penuh misteri. Ia menyilangkan tangan di dada, tersenyum sambil menonton Yuki Ai menindak pelanggaran sekolah.
Memang, menonton drama seperti ini sudah menjadi naluri bagi Asakawa.
Setelah menyerahkan senior itu ke komite ketertiban, Yuki Ai menatap para senior yang masih berdiri di gerbang dengan pandangan tajam. Wajahnya menunjukkan ketegasan, gigi taring kecilnya menggigit bibir dengan keras.
Meski dari segi penampilan tidak secantik Ai Yamazaki, dan jauh di bawah pesona menakutkan Ichikano yang punya daya tarik nilai 96, Yuki Ai adalah tipe yang semakin dilihat semakin menarik.
Matanya sangat besar dan amat hidup. Jika hanya bicara soal mata, Yuki Ai adalah yang tercantik yang pernah Asakawa temui.
Sepasang mata bagaikan bintang yang sangat langka, berbeda dari siapapun.
Mata Haruna terkadang lembut seperti air, kadang genit seperti iblis; mata Kak Yamazaki lebih sering memantulkan kesepian rembulan; Ichikano ibarat raja iblis berhati dingin, matanya selalu menyiratkan ejekan dan permainan.
Sedang mata Yuki Ai lebih membumi, penuh kehangatan kehidupan sehari-hari, ada keteguhan, harapan, dan juga keindahan polos khas remaja putri.
Namun entah disengaja atau tidak, Yuki Ai sangat pandai menyembunyikan perasaan khas gadis remaja itu di balik sorot matanya. Kalau bukan karena Asakawa sudah malang melintang di dunia asmara, mungkin orang lain takkan pernah menyadarinya.