Bab Enam Puluh Lima: Seperti Apa Kehidupan Sehari-hari Tanpa Luki Awal?
"5120 poin... Dibandingkan dengan itu, aku justru lebih penasaran dengan penderitaan yang lebih besar yang disebutkan oleh sistem..." Malam itu, Asukawa berbaring di tempat tidurnya di kamarnya sendiri, menatap jumlah poin Cinta Berbahaya yang tersisa pada jendela pop-up biru muda, alisnya berkerut penuh kebingungan.
Setelah pertunjukan seruling bambu yang konyol dan melelahkan itu, Haruna yang kelelahan pergi beristirahat di kamar orang tua Asukawa, sementara Asukawa sendiri, khawatir Haruna akan melakukan serangan mendadak lagi di malam hari, mengunci pintu kamarnya agar merasa tenang.
Mengingat berita tentang pembunuh berantai di Nara yang terdengar di radio, lalu mengaitkannya dengan kenyataan bahwa kedua orang tuanya sedang berada di Nara untuk menjenguk kakeknya di desa dan kini terjebak hujan lebat di sana, Asukawa merasa hatinya selalu gelisah.
Ia berguling-guling tak bisa tidur, sementara suara guntur di luar jendela terus menggelegar.
Akhirnya, Asukawa mengambil ponsel dan menelpon Ryosuke.
Nada sambung berdering cukup lama sebelum akhirnya tersambung. Suara Ryosuke yang biasanya sudah terdengar malas, kini bahkan lebih loyo lagi, seolah-olah ia bisa mati mendadak kapan saja.
"Kau tahu sekarang jam berapa?" tanya Ryosuke.
Asukawa mengangkat ponselnya dari telinga dan melihat ke layar yang diterangi cahaya lembut, menunjukkan pukul satu dini hari. Ia berkata sedikit menyesal, "Maaf, Ryosuke, meneleponmu tengah malam begini."
"Ceritakan saja, aku tahu kau pasti ada urusan penting sampai menelponku selarut ini. Langsung ke poinnya."
"Kau tahu tentang kasus pembunuhan di Prefektur Nara?"
"Ya... Sore tadi aku baru saja ke Kantor Kepolisian Metropolitan Tokyo untuk urusan itu. Informasiku mungkin lebih banyak darimu," jawab Ryosuke, nadanya kini lebih serius.
Asukawa agak terkejut. "Kau ke Nara sore tadi?"
Padahal pagi tadi mereka masih pergi bersama ke Jalan Haruka, lalu siang harinya ia pergi berkencan dengan Haruna, malamnya sibuk latihan suling, eh Ryosuke sempat-sempatnya ke Nara dan balik lagi ke rumahnya?
Kenapa semua orang suka pergi ke Nara? Apa di Nara ada harta karun bajak laut legendaris?
Ryosuke menguap, "Nggak, hujan begini deras, ke sana bagaimana pulangnya? Aku ke Kantor Kepolisian di Tokyo."
Asukawa pun mulai meninggalkan pikiran-pikiran anehnya, lalu fokus menganalisis masalah ini.
Ia merasa, jika sampai Ryosuke begitu repot, pasti ada sesuatu yang serius.
"Bisa kau bocorkan sedikit informasi?" Asukawa tahu ada hal-hal yang walaupun hubungan mereka dekat, tak bisa diungkap sembarangan. Meski Ryosuke tak peduli, ia tak ingin membuat Ryosuke mengambil risiko.
Ryosuke memang santai saja, toh ini bukan rahasia negara.
Bahkan kalau pun rahasia negara, Ryosuke tak bakal takut, mati pun tak akan mengaku kalah. Itu memang gaya Ryosuke.
"Tidak ada perjanjian rahasia, santai saja. Intinya, di Nara ada psikopat pembunuh berantai, setelah ditangkap polisi entah kenapa bisa lolos, dugaan awal ada pengkhianat di kepolisian. Bisa kabur dari kantor polisi, dengan sedikit logika saja tahu pasti ada masalah! Tapi itu bukan intinya, intinya, orang itu sekarang sudah tidak ada di Nara."
"Dia keluar dari Prefektur Nara?" Asukawa bertanya heran, alisnya semakin berkerut.
Secara logika, seharusnya pelarian seperti itu tidak akan bertahan lebih dari setengah jam sebelum tertangkap lagi, apalagi sampai bisa menyeberang keluar Nara. Dunia nyata bukan film laga, tidak ada kejar-kejaran polisi di jalanan, atau adegan tembak-menembak dengan tubuh kebal peluru. Hanya ada satu kemungkinan.
Namun, terus terang, urusan pembunuh itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Asukawa. Ia menelepon Ryosuke hanya untuk memastikan, apakah orang tuanya dalam bahaya atau tidak.
Prinsip hidupnya, sama seperti sikapnya dalam percintaan: kepada orang yang baik padanya, harus dibalas dengan baik, kepada orang yang dicintai, harus dijaga sebaik mungkin.
Kepada yang lemah, selama mampu, ia akan membantu. Tapi terhadap orang asing yang tak mampu ia tolong, Asukawa tidak akan mencari masalah sendiri.
Urusan pembunuh, serahkan saja pada polisi. Ia hanya ingin melindungi orang-orang di sekitarnya.
Ia bukan orang jahat, tapi juga bukan pahlawan tanpa cela. Meski dengan bantuan sistem, ia bisa dengan mudah menemukan pembunuh itu, bahkan mungkin menangkapnya sebelum polisi.
Tapi...
Di dunia ini, setiap detik ada pembunuh yang melarikan diri. Ia memang tak sanggup mengurus semuanya.
Setelah memastikan lewat telepon bahwa kedua orang tuanya aman, Asukawa akhirnya bisa tidur dengan tenang.
Lagi pula, kejadian romantis di senja itu memang cukup melelahkan.
Hari Minggu, waktunya membimbing Haruna belajar.
Sebagai peringkat dua besar di seluruh angkatan SMA Nindoku Gijuku, kemampuan Asukawa tidak kalah dari guru mana pun. Bahkan, dengan pemahamannya terhadap Haruna, ia bisa membimbing lebih efektif daripada guru di kelas.
Perlu diketahui, nilai deviasi Nindoku mencapai 70 poin. Siswa berprestasi di sini adalah calon mahasiswa universitas papan atas. Mengundang guru les pribadi seperti Asukawa, tarifnya di pasaran bukan angka kecil.
Walaupun Haruna selalu ingin melakukan hal-hal yang tak pantas dengan Asukawa, jika sudah menyangkut pelajaran, Haruna tahu batasan.
Hari Senin, sekolah dimulai. Rutinitas yang sederhana namun penuh makna seperti inilah yang paling dinikmati Asukawa.
Di kelas, ia menunjukan keunggulannya sebagai siswa teladan. Saat istirahat, ia bercanda dengan Ryosuke. Saat makan siang, ia ke klub anggar bermain hal-hal terlarang bersama tiga kakak senior.
Di situ, Asukawa bukan lagi wakil ketua OSIS. Menghadapi Yamazaki Yuma yang pernah menyelamatkannya, ia tidak pernah dan memang tak pantas membawa aturan OSIS ke sana.
Dilihat dari sisi itu, ia mungkin bukan wakil ketua OSIS yang baik, tapi ia adalah pria sejati yang hangat dan berperasaan.
Setiap memikirkan ini, Asukawa selalu merasa, orang seperti Yuuki Ai yang selalu memegang aturan dan bersikap adil itu sangatlah langka.
Setelah lulus, Asukawa jelas tidak cocok terjun ke dunia politik, tapi orang seperti Yuuki Ai memang layak menjadi politisi yang benar-benar memperhatikan rakyat.
Sayangnya, orang seperti dia selamanya takkan pernah menjadi politisi sejati.
Realitas kejam, sehingga Yuuki Ai hidup dengan sangat berat. Beban yang ia pikul terlalu banyak.
Berbeda dengan kakak senior Yamazaki yang memikul sejarah dan kehormatan keluarga—Yamazaki memang sudah siap untuk membesarkan nama keluarganya.
Sedangkan Yuuki Ai lebih seperti seseorang yang didorong jatuh ke lumpur oleh orang lain, sementara mereka berdiri di tepi dengan ejekan dingin, melihatnya memikul beban berat melangkah semakin jauh ke dalam rawa.
Mereka hanya menonton, sekadar melihat.
Mungkin memang harus ada seseorang yang muncul dan memberitahu Yuuki Ai, bahwa hidup itu indah, ada orang yang bersedia menanggung bersama.
Asukawa merasa dirinya mungkin cocok menjadi orang itu, tapi ia tak yakin apakah Yuuki Ai juga berpikir demikian.
Sepulang sekolah sore itu, ia sudah terlalu sering membolos klub panahan karena urusan OSIS dan festival olahraga. Kalau tidak ikut kali ini, ia benar-benar tak punya alasan.
Ishihara Shinta sudah berkali-kali menegur, kehadirannya sangat kurang. Kalau bukan karena Yamazaki Ai yang selalu membelanya, mungkin ia sudah dikeluarkan dari klub.
Tak ada pilihan, Asukawa akhirnya menyempatkan diri datang ke klub panahan.
Ruang latihan klub panahan yang besar itu terbagi menjadi dua bagian.
Taman kecil berbentuk setengah lingkaran dengan jendela kaca besar, atapnya juga kaca, seperti mutiara kaca yang menempel di dinding lantai tiga.
Asukawa duduk di gazebo buatan taman itu, di atas meja ada teh yang sudah diseduh.
Ia tak mengerti kenapa klub-klub di Jepang sangat suka minum teh. Berbagai klub di anime pun sudah banyak yang “ditaklukkan” oleh teh, ia tak ingin klub panahan bernasib sama.
Untungnya, yang suka minum teh hanya beberapa putri bangsawan, misalnya yang ada di depannya sekarang. Anggota lain lebih suka memanah sasaran jauh dengan anak panah berbulu putih.
Yamazaki Ai duduk di seberang Asukawa, lalu berdiri pelan menambahkan teh untuknya.
Asukawa tersenyum dan berterima kasih pada kakak seniornya.
"Kamiyama, bagaimana hasil diskusi OSIS kelas satu tentang penampilan musik di festival olahraga?"
"Yah... lumayan, setidaknya kami sudah punya andalan." Asukawa teringat kejadian “Su Wu Menggembala Domba” yang diprotes tetangga, ia tersenyum canggung.
"Baguslah. Tapi aku harus mengingatkan, jangan sekali-kali pilih piano," wajah kakak Yamazaki yang biasanya dingin kini jadi lebih serius.
"Itu karena Hatsushikano, kan? Aku pernah dengar juga," jawab Asukawa sambil mengangkat bahu. "Kemampuan pianonya di tingkat tertinggi. Menantang orang di bidang yang mereka kuasai memang berani, tapi tidak bijaksana... Menyeret lawan ke medan yang kita kuasai, itulah yang dilakukan orang cerdas."
Yamazaki Ai menutup mulutnya sambil tertawa, "Kupikir Kamiyama yang merasa hebat akan menantang Hatsushikano di piano."
Asukawa menggeleng dan menghela napas, "Walau aku seorang pahlawan yang akan menantang raja iblis, tapi pahlawan bukan berarti bodoh... Aku punya kebijaksanaan seorang pahlawan!"
Kalimat itu bermakna ganda, karena salah satu “kartu as” Asukawa memang “Kebijaksanaan Sang Pahlawan”.
"Ngomong-ngomong soal Hatsushikano... kudengar hari ini dia tidak masuk," Asukawa teringat kabar yang didapat dari Yuuki Ai tadi.
Hatsushikano, yang hampir tak pernah absen sebagai ketua OSIS kelas tiga, ternyata mengambil cuti panjang hari ini.