Bab Empat Puluh Delapan: Bagaimana Masa Depanmu?
Sejak terluka pada hari Senin hingga keluar dari rumah sakit pada hari Jumat, Asakawa menghabiskan empat hari di Rumah Sakit Universitas Tokyo, menikmati pelayanan yang lebih mirip hotel mewah daripada ruang perawatan biasa.
Mungkin karena mereka tahu bahwa Asakawa dan Hatsushikano telah “berdamai” untuk sementara, maka kekuatan keluarga cabang Yamazaki mundur dari rumah sakit pada hari ketiga. Sebelum pergi, Yuuma Yamazaki sempat menemui Asakawa dan secara halus memberinya beberapa petunjuk.
Misalnya, kali ini Grup Keuangan Hatsushikano tidak kembali membalas, sungguh sebuah keberuntungan di antara kemalangan. Jika nona besar yang dingin itu sudah mengakui Asakawa, maka ia tidak akan lagi menekan Asakawa dengan keras.
Hatsushikano memang berubah-ubah dan angkuh, namun terhadap orang yang dianggapnya musuh, ia tak sudi menggunakan cara-cara rendah untuk mengalahkan. Keberanian Asakawa memberinya masa depan yang lebih aman serta kesempatan untuk berhadapan langsung dengan Hatsushikano.
Meski demikian, Yuuma Yamazaki tetap mengisyaratkan pada Asakawa bahwa Ai Yamazaki, demi membela seorang biasa, telah bertarung secara terbuka dengan Grup Keuangan Hatsushikano menggunakan kekuatan keluarga cabang. Itu adalah tindakan berbahaya. Meskipun pihak Hatsushikano tidak melakukan serangan balasan, kebijakan Ai Yamazaki yang keras kepala tetap menimbulkan masalah—kali ini berasal dari dalam keluarga Yamazaki sendiri.
Masalah-masalah itu bisa saja menimpa Asakawa juga.
Tentu saja, semua itu sudah diperhitungkan oleh Asakawa. Sebuah keluarga sebesar itu bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan seorang diri oleh Ai Yamazaki. Walaupun Yuuma menasihatinya dengan baik, Asakawa tetap yakin bisa menghadapi masalah yang akan datang.
Toh, jika ia telah memutuskan untuk membantu sang kakak kelas keluar dari bayang-bayang masa lalunya, maka ia takkan goyah hanya karena duri-duri di sepanjang jalan.
Penyebab Ai Yamazaki menutup diri bukan sekadar karena dirinya sendiri, tetapi juga lingkungannya.
Di dunia ini, hanya Asakawa yang bisa membantunya perlahan-lahan keluar dari kegelapan itu. Jadi, siapa pun yang berusaha menghalangi Ai Yamazaki untuk bangkit, akan dianggap musuh oleh Asakawa.
Seorang pria sejati harus berani bertanggung jawab!
Setelah berhasil menaklukkan hati sang kakak kelas, ia tidak boleh gentar menghadapi kesulitan. Setengah jalan menyerah bukanlah gaya Asakawa.
Akhirnya, Yuuma hanya bisa menghela napas melihat sorot keteguhan di mata Asakawa, lalu meninggalkan pesan, “Bagaimanapun juga, melindungi Ai adalah tanggung jawab keluarga cabang. Kehendak Ai adalah kehendak kami juga. Kau, bocah, cepat sembuh dan datanglah ke klub anggar, aku ingin menghajarmu!” Setelah itu, ia pun bergegas pergi.
Selama Asakawa dirawat, selain Ai Yamazaki, tak ada orang lain yang menengoknya.
Kabarnya Hatsushikano juga sempat datang, tapi Ai Yamazaki sudah lebih dulu menghalaunya... Sebenarnya Asakawa cukup ingin bertemu Hatsushikano, karena Mata Penembus hanya bisa diaktifkan jika ada kontak mata. Ia penasaran apakah tingkat kedekatan Hatsushikano padanya telah berubah.
Ryousuke juga sempat datang keesokan harinya, hanya saja saat itu Asakawa masih koma di ruang ICU, sehingga kedua sahabat itu belum sempat bertemu.
Hingga akhirnya, pada hari Sabtu ini, Ryousuke menekan bel di pintu rumah keluarga Kamiya.
Suara bel bergema di lorong, dan setelah melihat siapa yang datang, Megumi Kamiya membuka pintu dengan bahagia.
“Wah, Ryousuke, sudah lama tak bertemu.”
“Iya, Bibi. Apa kabar? Maaf sudah merepotkan.”
Sembari berbasa-basi pelan, Ryousuke membawa bingkisan, melepas sepatu, dan melangkah ke lantai kayu.
Gaya santunnya ini sangat bertolak belakang dengan citra dirinya yang urakan. Bagi teman yang tak terlalu mengenalnya, sikap Ryousuke mungkin terasa aneh. Namun, bagi mereka yang sudah akrab, mereka tahu, inilah bentuk rasa hormat tulus Ryousuke pada seseorang.
Tak banyak orang di dunia yang mendapat penghormatan sebesar itu darinya—bahkan ayah dan kakaknya sendiri pun tidak. Tapi ibu Asakawa, Megumi Kamiya, berhak menerima kehormatan ini.
Baginya, Megumi Kamiya sangat mirip dengan ibunya sendiri—dua wanita yang kelembutannya sudah mendarah daging.
Tentu saja, selain beliau, orang yang layak ia hormati adalah Asakawa sendiri, yang saat ini sedang duduk santai di ruang tamu, menikmati buah dan menonton televisi.
Melihat Asakawa yang malas-malasan di sofa seperti rumahan sejati, Ryousuke hanya bisa melongo heran.
“Itu kau, Ryousuke. Duduklah,” sapa Asakawa sambil menepuk sofa di sebelahnya, lalu menggeser tubuhnya memberi tempat.
Megumi Kamiya, penuh pengertian, berpamitan hendak belanja, lalu pergi membawa keranjang sayur.
“Asakawa...,” Ryousuke menunjuk lengan Asakawa, tak habis pikir.
Tiga hari lalu orang ini masih terbaring di ICU, nyaris seperti akan meninggal.
Ia bahkan sudah memikirkan warna karangan bunga yang akan dipesan, dan model peti mati yang kekinian.
Tiba-tiba mendengar kabar Asakawa sudah keluar rumah sakit, Ryousuke pun buru-buru datang untuk memastikan. Siapa tahu di saat-saat terakhir, sahabatnya ingin ganti suasana, setidaknya ia bisa melihat untuk terakhir kalinya.
Tapi sekarang...
Ternyata aku sendiri yang jadi badut?
Asakawa memutar-mutar lengannya, tersenyum, “Kenapa? Cuma luka tembak, hal kecil, tidur semalam saja sudah sembuh... Oh ya, soal ini jangan sampai ibuku atau Haruna tahu, mereka tahunya aku cuma pergi keluar kota.”
Ryousuke meletakkan kue dan suplemen mahal di meja, lalu duduk di samping Asakawa. Ia meraih lengan kiri Asakawa yang pernah tertembak, mengamati dengan kagum.
Lalu, tiba-tiba ia menjadi sangat serius, duduk tegak dan bertanya, “Jujur, sejak kapan kau bisa mengeluarkan cakar dari tanganmu?”
Asakawa langsung paham lelucon itu. Ia mengepalkan tinju, lalu menusuk udara. Tiga pisau makan pun dijepit di antara jarinya, muncul begitu saja!
“Hahaha, kau memang penggemar Marvel, sudah kuduga kau akan bertanya begitu! Gimana, mirip nggak sama si Paman Serigala?” tanya Asakawa sambil tertawa.
Ryousuke terkejut melihat pisau di tangan Asakawa, menepuk dada lega, lalu mengeluh, “Kalau pisaumu itu bukan terbuat dari adamantium, film Wolverine pasti cuma butuh lima belas menit buat menampilkan nama kru.”
Setelah meletakkan pisau di meja, Asakawa menepuk bahu Ryousuke, “Tenang saja, aku belum akan mati.”
“Tapi waktu aku ke rumah sakit Selasa lalu, dokter bilang lima sentimeter lagi pelurumu bakal mengenai jantung.”
“Lima sentimeter ya... Hm, itu mengingatkanku pada bunga sakura awal masuk sekolah dulu, berjatuhan tak menentu.”
“Asakawa, aku serius,” Ryousuke menatap mata Asakawa, “Di sekolah Nintoku seperti itu, kau mungkin akan sering menghadapi hal serupa. Kau dari keluarga biasa, tapi punya cahaya yang tak sebanding... Kalau sudah tak kuat, keluar saja, nanti ikut aku ke Grup Hanyu, kita kuasai bisnis transportasi Jepang!”
“Aku menghargai niat baikmu, Ryousuke. Tapi, kau sempat berpikir dulu nggak sih sebelum bicara? Ternyata Ryousuke yang terkenal cuek pun bisa kebingungan kalau soal sahabatnya,” kata Asakawa sambil menyilangkan tangan di belakang kepala, bersandar ke sofa, menggeleng pelan.
Ryousuke tertegun, lalu mengerti maksudnya.
Sebagai sahabat, ia sebenarnya tahu betul jawaban apa yang akan diberikan Asakawa, jadi seharusnya pertanyaan seperti itu tak perlu dilontarkan.
Meniru Asakawa, Ryousuke juga bersandar dengan tangan di belakang kepala, menatap anime yang diputar NTV, lalu bertanya santai.
“Bagimu, apa arti masa depan yang ideal?”
“Kalau kau sendiri, Ryousuke?”
“Hidup menumpang bersama Ami sampai tua.”
“Bagaimana dengan bisnis keluargamu? Bukankah kau lebih layak jadi penerus dibanding kakakmu?”
“Aku tak peduli. Kalau dia mau, silakan saja. Apa pun yang terjadi pada warisan ayah, aku tak ambil pusing. Asal aku cukup untuk makan, minum, dan bersenang-senang seumur hidup, itu sudah cukup.”
“Hm... Lihat, itulah hidupmu. Sedangkan hidupku adalah berusaha mendapatkan apa yang sudah kau miliki sejak lahir, sambil membahagiakan orang-orang di sekitarku. Aku ingin menjalani masa SMA yang sempurna, membahagiakan teman-teman SMA-ku. Aku ingin jadi profesional sukses yang kelak juga membahagiakan sahabat-sahabat masa depan... Sederhana saja, kan?”
Ryousuke mengangguk, lalu berujar, “Benar-benar mulia... Sepertinya aku tak bisa membujukmu lagi. Ya sudahlah, terserah!”
Ia pun berdiri, meregangkan badan, “Kalau begitu, sekarang kau sudah sehat, bagaimana kalau kita jalan-jalan?”
“Boleh, pas banget, sudah seminggu di rumah sakit, pengen juga keluar.”
“Mau ke mana? Ochanomizu atau Akihabara?” tanya Ryousuke.
Asakawa langsung menolak, “Akihabara? Tidak usah, bagaimana kalau ke Odaiba? Kita ke VenusFort.”
Ryousuke pun tersenyum paham, menggoda, “Apa minggu lalu di Akihabara ada kejadian yang tak ingin kau ingat?”
Mendengar itu, Asakawa teringat lagi momen romantis bersama sang kakak kelas di ruang ganti.
“Diamlah, brengsek, itu semua juga salah siapa?” Asakawa berdeham, menutupi rasa malunya.
“Baiklah, aku telepon sopir buat jemput,” kata Ryousuke sambil mengeluarkan ponsel.
Namun Asakawa menggeleng, “Tak usah, kita naik kereta bawah tanah saja. Turun di Stasiun Aomi, keluar dan jalan sebentar sudah sampai. Kalau naik mobil, harus lewat jalan layang Setagaya, aku tak mau lewat sana lagi.”
Malam itu, saat dibawa orang-orang Hatsushikano, Asakawa memang melewati Setagaya menuju pesisir Teluk Tokyo.
Lebih baik tak melihat, agar hati tetap tenang. Asakawa merasa ia tak ingin lagi berkunjung ke Setagaya seumur hidupnya.