Di bawah langit luas, dunia dipenuhi dinginnya sikap manusia; segala makhluk gaib, iblis maupun siluman, tak mampu menandingi hangat atau dinginnya hati manusia! Lembut jemari, paras jelita bak batu g
"Jangan lari! Marga Miao, kau takkan bisa kabur, berhenti di situ juga!"
Tiga pemuda berlari menembus gelapnya malam, melintasi pegunungan yang aneh dan sunyi, sambil mengacungkan golok panjang, sesekali mengayunkan senjata untuk menakuti orang yang mereka kejar agar berhenti. Namun, ancaman mereka sia-sia, orang di depan tak kunjung berhenti, malah justru semakin kencang larinya.
Remaja yang dikejar itu, menggenggam pisau penjagal babi di tangannya, sama sekali tak menghiraukan teriakan di belakang. Sambil berlari, ia menoleh dan membalas, "Anjing gila, tak lihat ini tempat apa? Kalian benar-benar sinting!"
Kalau dia sampai berhenti, pasti celaka, mungkin nyawanya melayang. Ia terus berlari kencang, pijakan kakinya mengeluarkan suara berderak, setiap ia melintas, rerumputan hitam berubah menjadi abu yang terbang ditiup angin.
Di sekelilingnya, rumput berwarna hitam, pepohonan juga hitam, semua tumbuhan pun sama, hitam legam. Bukan karena dicat, bukan pula memang aslinya berwarna hitam, melainkan semuanya telah menjadi arang. Sepuluh ribu tahun lalu seperti itu, sepuluh ribu tahun kemudian juga tetap sama, seolah waktu berhenti di tempat ini. Semua vegetasi bagai patung hidup dari arang hitam, terbungkus kabut putih yang samar dan misterius.
Tempat yang ibarat dunia arwah ini dikenal dengan nama 'Debu Merah Tak Berujung'. Konon, sepuluh ribu tahun silam, seratus ribu prajurit langit melintasi bintang-bintang untuk memburu seorang iblis besar hingga ke sini. Namun, iblis itu terlalu sakti, hingga seratus ribu pr