Bab Satu: Medan Perang Dewa dan Iblis, Kedatangan yang Mencekam
Dia berdiri di tengah medan perang dewa dan iblis, hatinya hampa, seolah-olah ingatannya telah dihapus oleh kekuatan misterius. Ia berusaha keras mengingat, namun hanya satu nama yang muncul—Liu Pingan. Pandangannya menyapu sekeliling, mencari petunjuk, namun yang tampak hanyalah pemandangan kiamat yang mengerikan.
Ia menoleh ke sekeliling, napasnya tertahan. Di sekitarnya, jasad dewa dan iblis sepanjang ratusan meter tertumpuk bagaikan gunung; ada yang hancur berkeping-keping, ada yang berlumuran darah, menyerupai neraka di dunia. Malaikat bersayap dua belas, makhluk yang dulunya melambangkan kesucian dan kekuatan, kini tergeletak tak bernyawa dengan sayap yang tercabut paksa dan bulu-bulu yang berserakan. Naga raksasa sepanjang seribu meter, sang penguasa masa lalu, kini perutnya terbelah, mutiara naganya lenyap, dan sisiknya berlumuran darah, seolah meratapi kejayaan yang telah sirna.
Buddha setinggi seratus meter, sosok yang dulunya penuh welas asih, kini kepalanya terpenggal, tubuhnya lunglai dalam terpaan angin dan hujan. Iblis bertanduk merah yang dulu begitu buas, kini terbelah dua dengan kondisi yang mengerikan. Ular berkepala delapan yang tak terkalahkan di medan perang, kini tewas dengan kepala terputus, tubuhnya masih berkedut, seolah menahan siksa terakhir.
Dewa dan iblis ini dulunya adalah penguasa daratan. Namun kini, mereka hanyalah debu sejarah. Jutaan jasad menutupi medan perang, tanah berubah menjadi merah pekat, bahkan langit pun memerah, seolah seluruh dunia terbenam dalam lautan darah.
Hati Liu Pingan dipenuhi ketakutan dan kebingungan. Ia tidak tahu mengapa ia berada di sini atau apa tujuan dari perang besar ini. Ia berusaha mencari petunjuk, namun selain jasad dan genangan darah, ia tidak menemukan apa pun.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia tahu ia harus kuat agar bisa bertahan di dunia yang penuh bahaya dan misteri ini. Ia melangkah maju, menapaki medan perang yang penuh kematian dan keputusasaan.
Sembari berjalan, ia merenungkan kebenaran di balik perang ini. Ia membayangkan kejayaan para dewa dan iblis, bertanya-tanya apa yang mereka perjuangkan. Namun, selain kematian yang dingin, ia tidak merasakan apa pun.
Liu Pingan tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan. Ia tidak merasa lapar maupun lelah. Ia terus melangkah tanpa arah. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, terdengar suara-suara berbisik:
"Teruslah berjalan, dia menunggumu."
"Dia selalu ada di sana menunggumu."
"Berjalanlah, teruslah maju..."
Suara-suara itu terus bergema, menuntun langkahnya. Meskipun ia tidak tahu siapa "dia" yang dimaksud, sebuah kekuatan tak kasatmata mendorongnya terus maju. Langkahnya mantap dan penuh tekad, seolah hanya dengan cara inilah ia bisa menemukan jawaban.
Di medan perang yang tak berujung, darah para dewa dan iblis mengalir membentuk sungai merah yang seolah hidup. Sungai itu mengalir searah dengan langkah Liu Pingan, mewarnai seluruh dunia dengan warna darah.
Liu Pingan menapaki langkah berat di sepanjang sungai darah tersebut. Pandangannya tajam, seolah mampu menembus kabut merah menuju harapan. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar, seolah medan perang itu sendiri merespons tekadnya.
Sungai darah akhirnya bermuara ke lautan luas. Liu Pingan berdiri di tepi pantai, menatap samudera yang bergelora. Di tengah laut, cahaya keemasan yang menyilaukan tiba-tiba muncul, mengubah langit yang merah menjadi emas.
Sesuatu yang luar biasa terjadi. Ribuan telapak tangan muncul dari air darah, membentuk jembatan menuju pusat cahaya. Ada telapak tangan raksasa dari dewa purba, ada pula yang halus milik bidadari. Semuanya memancarkan kekuatan yang luar biasa.
Liu Pingan menatap pemandangan ganjil itu dengan takjub. Ia tahu, jembatan telapak tangan ini adalah satu-satunya jalan menuju kemenangan. Dengan menarik napas dalam, ia melangkah ke atas jembatan itu tanpa ragu.
Setiap langkahnya disambut oleh getaran lembut dari telapak-telapak tangan tersebut, seolah sedang berkomunikasi dengannya. Liu Pingan tahu, ia akan menghadapi tantangan dan kesempatan yang belum pernah ada sebelumnya.
Ia terus melangkah hingga sosoknya perlahan menghilang dalam cahaya emas, menyisakan bayangannya yang teguh di atas medan perang berdarah.
Di pusat lautan darah, cahaya keemasan menyinari sesosok tubuh agung. Tubuhnya penuh luka, namun ia tetap berdiri tegak bagaikan gunung. Satu tangannya memegang tongkat emas yang patah, memancarkan aura yang menggetarkan jiwa.
Saat Liu Pingan tiba, sosok itu menatapnya dengan mata yang kini berkilat emas bagaikan bintang. Dengan suara parau namun penuh wibawa, ia berkata, "Kau akhirnya datang. Kami semua menunggumu." Liu Pingan tersentak; ia sadar bahwa tanggung jawab besar kini berada di pundaknya.
Tiba-tiba, lautan darah yang tenang menjadi bergejolak. Gelombang darah setinggi ratusan meter menerjang, menghancurkan sisa-sisa jasad dewa dan iblis di sekitarnya. Suara-suara gaib kembali terdengar, seolah menjadi pesan terakhir dari para mendiang.
"Monyet, waktunya telah tiba," sebuah suara agung bergema. Sosok yang dipanggil Monyet itu kini diselimuti cahaya emas yang menyilaukan. Energi besar dari lautan darah mengalir ke tubuhnya, membuatnya semakin kuat.
Monyet itu tertawa membahana. Lengannya yang patah pulih secara ajaib, menjadi lebih kekar. Tubuhnya membesar hingga setinggi sepuluh ribu meter, sosok kera raksasa yang mampu menutupi langit. Kehadirannya membuat dunia bergetar.
Langit tiba-tiba dipenuhi oleh bola mata raksasa yang menatap tajam ke arah Liu Pingan. "Mereka telah menemukan kita!" teriak sebuah suara penuh keputusasaan.
"Waktu kita tidak banyak!" seru yang lain.
"Bangkitlah! Jutaan dewa dan iblis!" perintah suara agung itu. Seketika, bayangan-bayangan arwah dewa dan iblis bangkit dari lautan darah, siap untuk pertempuran terakhir.
Di bawah kaki Liu Pingan, sebuah formasi sihir berbentuk jam raksasa muncul. Jarumnya berputar berlawanan arah, memutar balik aliran waktu. Cahaya emas meledak dari formasi itu, membawa kera raksasa dan jutaan arwah melesat ke angkasa.
"Liu Pingan, kau adalah harapan terakhir kami. Bawa restu kami kembali ke sepuluh ribu tahun yang lalu, sebelum segalanya dimulai. Temukan monyet bernama Sun Wukong di Timur. Musuh kita adalah Cang..." Suara itu terputus.
Liu Pingan merasakan beban misi yang berat. "Siapa Cang? Apakah kera emas itu Sun Wukong? Aku lelah sekali..."
Saat tubuhnya menghilang dalam cahaya, ia tahu ia akan kembali ke masa lalu untuk mengubah sejarah. "Apakah aku mampu? Aku hanyalah manusia biasa yang kehilangan ingatan. Tapi, ini terdengar menarik, mari kita coba."
Di sungai waktu, Liu Pingan meluncur deras ke masa lalu. Di dadanya muncul pola jam yang bersinar emas. Tiba-tiba, langit sungai waktu terbelah, dan tentakel-tentakel hitam muncul dari bola mata raksasa, mencoba menangkapnya.
Kemarahan yang luar biasa meluap dalam diri Liu Pingan. "Apakah jutaan dewa dan iblis telah kalah? Apakah Wukong juga kalah? Tidak mungkin!"
Tepat saat tentakel itu akan mengikatnya, waktu seolah berhenti. Kekuatan dahsyat meledak dari tubuh Liu Pingan, merobek dadanya hingga arwah jutaan dewa dan iblis keluar, menyerang bola-bola mata di angkasa.
Liu Pingan tertegun melihat para arwah itu. Air matanya menetes tanpa sadar. Sang Monyet muncul di sampingnya, mengusap kepala Liu Pingan dengan lembut.
"Kami pergi duluan. Teruslah berjalan, jangan menoleh ke belakang, ada kami di sana," bisik Monyet itu.
Monyet itu kemudian membelah diri menjadi jutaan wujud, berteriak serentak, "Fa Tian Xiang Di!" (Hukum Langit dan Bumi). Suara itu menggetarkan seluruh alam semesta.
Di sepanjang sungai waktu, para dewa dan iblis bangkit dan melesat menuju musuh yang disebut "Cang".
Liu Pingan menatap sungai waktu dengan tekad bulat. "Aku akan kembali menemui kalian!"
"Baik, kami akan menunggumu di masa depan!" jawab jutaan arwah itu serempak.
Liu Pingan melangkah masuk ke dalam sungai waktu. Kesadarannya memudar, membawanya ke dalam mimpi panjang. Saat ia terbangun, tubuhnya dipenuhi tulisan kuno—nama-nama para pahlawan yang telah gugur. Nama "Sun Wukong" terukir jelas di dadanya.
Ia akhirnya terbangun di dunia sepuluh ribu tahun yang lalu. Langit biru cerah, matahari terasa hangat. Namun, suara ejekan membuyarkan lamunannya.
"Lihat, pengemis kecil itu mulai bicara sendiri lagi," ejek seorang pria bernama Lao Chen.
Seorang pria tua lainnya, Lao Yu, mencoba membela, namun berakhir dengan pertengkaran. Mereka semua adalah pengemis yang hidup susah di reruntuhan sekte yang telah lama hancur.
Liu Pingan hanya terbaring diam, merenungi nasibnya yang kini menjadi pengemis kecil. Apakah skenario hidupnya telah salah? Ia menghela napas panjang, menatap langit, bertanya-tanya bagaimana ia harus memulai misinya di dunia yang asing ini.