Bab Tiga: Guruku Adalah Orang Terhebat Setelah Para Dewa
Halaman (1/3)
Pak Chen melanjutkan ceritanya, “Di benua Timur yang luas tak bertepi ini, perguruan ilmu kesaktian tersebar seperti bintang di langit, tak terhitung jumlahnya. Namun, di antara sekian banyak perguruan itu, ada satu yang bagaikan rembulan terang di angkasa, bersinar gemilang, yaitu Perguruan Pedang Langit milik saya. Hanya dari namanya saja sudah terpancar aura dominasi yang membuat orang merasa hormat dan kagum.
Perguruan Pedang Langit, nama yang menggema di seluruh daratan Timur ini, menyimpan sejarah gemilang selama lima ratus tahun. Sejak didirikan lima abad lalu, perguruan ini ibarat mutiara cemerlang yang bersinar di dunia ilmu kesaktian Timur. Tiga ratus tahun yang lalu, Perguruan Pedang Langit bahkan berhasil menguasai seluruh daratan Timur, menaklukkan berbagai penjuru, menjadi tempat suci bagi banyak praktisi kesaktian.
Ilmu utama Perguruan Pedang Langit — Sembilan Pedang Semesta — terkenal ke seluruh negeri, tak seorang pun yang tidak mengenalnya. Jurus pedang ini misterius sekaligus dahsyat, setiap tebasannya penuh dengan kekuatan dan kebijaksanaan yang tiada tara, membuat siapa saja tercengang.
Saya sendiri dulu beruntung diterima sebagai murid Perguruan Pedang Langit setelah meraih peringkat pertama dalam ujian masuk. Guru saya, Jian Jiuge, adalah sesepuh tertinggi di perguruan, memiliki kekuatan yang tak terukur dan nama besar yang melangit. Beliau memiliki mata yang tajam mengenali bakat, dan saya menjadi murid inti keenam beliau—kehormatan terbesar dalam hidup saya.
Mengenang kembali masa-masa saat diterima di Perguruan Pedang Langit, seakan baru kemarin, begitu jelas dalam ingatan. Setiap kali teringat bimbingan penuh perhatian dari guru dan segala pengalaman di perguruan, hati saya berdebar penuh semangat.
Guru saya, Jian Jiuge, menghabiskan banyak harta karun langka yang ia kumpulkan dari berbagai bahaya demi membuka bakat terpendam dalam diri saya—kemampuan mata gaib. Proses itu menyakitkan dan panjang, seolah saya berada dalam dunia kekacauan, dikelilingi tekanan dan tarikan tak kasat mata. Namun, berkat bimbingan guru, saya bertahan dan akhirnya berhasil membuka kemampuan yang dianggap orang tidak terlalu berguna itu.
Saat pertama kali menggunakan kemampuan ini, dunia di depan mata saya berubah drastis. Saya bisa melihat hakikat segala sesuatu, baik manusia maupun benda, seolah-olah dilihat oleh kekuatan misterius yang menembus hingga ke inti. Lebih ajaib lagi, kemampuan ini memungkinkan saya membedakan ilusi dan tipu muslihat musuh, tak peduli seberapa licik jebakan yang mereka buat, semuanya bisa saya lihat dengan jelas.
Walau kemampuan ini bukan bakat tempur yang dahsyat, guru saya meyakinkan bahwa itu punya peran pendukung yang tak bisa diabaikan. Dalam pertarungan, memahami niat dan kelemahan musuh seringkali lebih penting daripada kekuatan murni. Bahkan di saat-saat genting, kemampuan ini bisa berperan lebih penting daripada bakat tempur biasa.
Lima puluh tahun lalu, Perguruan Pedang Langit mengalami peristiwa luar biasa. Hari itu, lima orang guru besar yang sedang melewati ujian langit tampil bak anak terpilih, berdiri di puncak kesaktian, siap menghadapi ujian langit yang paling misterius dan mendebarkan. Guru saya, Jian Jiuge, adalah yang terbaik di antara kelima orang itu.
Sebenarnya, bertahun-tahun sebelumnya, guru saya sudah memiliki kekuatan untuk melewati ujian langit dan naik ke tingkat lebih tinggi. Namun, ia menahan kekuatannya demi menunggu empat adik seperguruannya, yang sangat dekat dengannya, untuk bersama-sama menapaki jalan menuju tingkatan lebih tinggi. Kelima orang itu tumbuh bersama, berlatih bersama, dan sudah seperti saudara. Bagi guru saya, tak ada yang lebih penting daripada bertarung dan naik bersama adik-adiknya.
Akhirnya, pada hari cerah itu, kelima guru besar berkumpul dan sepakat melewati ujian langit bersama. Berita itu membuat seluruh Perguruan Pedang Langit bergemuruh. Melihat langsung peristiwa naik ke langit seperti ini adalah kehormatan dan kegembiraan luar biasa bagi setiap murid. Maka, di gunung belakang perguruan, tempat khusus untuk ujian langit, ribuan murid berkumpul. Mereka berdiri atau duduk, berdiskusi dengan semangat atau menahan napas menatap dengan harap dan gelora di wajah.
Saya dan kelima kakak angkat saya tentu tak ingin melewatkan momen ini. Kami datang lebih awal dan berdiri paling depan. Melihat kelima guru besar itu, sosok mereka tampak tinggi dan suci di bawah sinar matahari. Hati saya penuh rasa hormat dan kagum, juga bangga menjadi murid mereka.
Kami tak pernah meragukan keselamatan guru kami. Sebab, guru kami adalah sosok teratas di perguruan yang dikenal semua orang, dijuluki manusia nomor satu di bawah dewa. Kekuatannya tak terukur, membuat perguruan bangga.
Apapun rintangan yang datang, guru kami selalu bisa menanganinya dengan mudah. Kebijaksanaan dan keberaniannya sering membuat kami terkesima. Jadi, di hati kami, guru kami adalah sosok yang tak terkalahkan, penuh rasa hormat dan kepercayaan.
Saya masih ingat betul hari itu, takkan pernah terlupakan. Kelima guru besar itu, sosok yang biasanya penuh wibawa dan misteri, berkumpul, bersiap menyambut momen paling gemilang dan mendebarkan dalam hidup mereka—ujian langit dan naik ke langit.
Hari itu, cuaca cerah tanpa awan, seolah seluruh dunia diselimuti cahaya hangat. Namun, saat kelima sesepuh itu menutup mata dan mulai menggerakkan kekuatan spiritual, langit tiba-tiba berubah warna.
Langit biru cerah itu seperti tersedot oleh kekuatan tak terlihat, menjadi gelap pekat seperti tinta. Awan bergulung, petir bergemuruh, seperti ribuan binatang buas mengaum di balik awan, menandakan badai besar akan datang.
Di langit hitam itu, sosok kelima guru besar semakin bersinar. Tubuh mereka memancarkan cahaya emas, seperti lima bintang cemerlang yang berkilauan di kegelapan. Mereka menutup mata, kekuatan besar dari segala penjuru mengalir ke dalam tubuh mereka, membuat mereka seperti lima gunung raksasa yang kokoh tak tergoyahkan.
Ratusan pedang surgawi mereka keluarkan, mengelilingi tubuh, terbang dan berkilauan dengan sinar tajam. Udara dipenuhi aura pedang yang mengerikan, seperti bilah raksasa tak terlihat yang siap memotong ruang kapan saja. Ratusan pedang mengeluarkan suara dentingan tajam yang menusuk jiwa.
Aura mengerikan itu menenggelamkan suara petir dari langit, membuat suasana di Perguruan Pedang Langit menjadi tegang dan penuh kewaspadaan. Semua murid yang hadir merasakan semangat membara dan kegembiraan. Mereka tahu, saat ini bukan hanya ujian bagi para guru besar, tapi juga ujian bagi seluruh perguruan. Mereka berharap guru besar bisa berhasil melewati ujian dan membawa Perguruan Pedang Langit ke tingkat yang lebih tinggi.
Dalam hati saya penuh rasa haru dan harapan. Karena lokasi ujian cukup jauh dan kekuatan saya masih terbatas, pemandangan megah itu tampak samar dengan mata telanjang. Namun, saya tidak putus asa, malah memutuskan mengaktifkan kemampuan mata gaib saya yang unik.
Saat itu, saya sudah memasuki tahap akhir pembentukan dasar, walaupun kekuatan masih lemah, namun menggunakan kemampuan ini tidak terlalu sulit. Saya menarik napas dalam-dalam, perlahan menggerakkan energi spiritual dalam diri, mengumpulkannya di kedua mata. Perlahan, mata saya mulai memancarkan cahaya keemasan, seolah bisa menembus segala ilusi dan melihat hakikat.
Halaman (2/3)
Pada saat itu, saya membuka kemampuan legendaris itu—mata gaib. Seolah berada di dunia lain, pandangan saya menjadi sangat jelas. Aliran energi kelima guru besar itu seperti pita warna-warni menari di udara; perubahan atribut mereka seperti palet warna yang terus berubah warna dan kilau.
Yang lebih menakjubkan, saya bahkan bisa memprediksi lintasan pedang terbang satu detik ke depan. Setiap lengkungan yang mereka lukis di udara seolah membeku di depan mata saya, memungkinkan saya melihat pergerakan dengan jelas.
Guru saya pernah berkata, mata gaib bisa mengungkap rahasia alam semesta, dan kini saya benar-benar merasakannya. Kemampuan ini tidak hanya membuat saya melihat jelas adegan ujian langit, tapi juga memberi saya harapan dan keyakinan pada masa depan.
Saya menatap ke atas pada awan ujian yang bertingkat lima, lapis demi lapis seperti istana megah di langit. Di dalam awan itu, petir sesekali menyambar dengan cahaya menyilaukan, seolah makhluk hidup menari liar di dalamnya. Saya bisa merasakan aura petir yang mengalir lembut seperti arus tak terlihat, bergulung-gulung di dalam awan.
Seiring waktu berlalu, aura awan semakin dahsyat, perlahan turun dari langit seperti gunung besar menimpa. Gelombang aura petir itu menutupi seluruh tempat, membuat semua murid yang ada merasa sesak nafas, seolah dada mereka tertimpa batu besar.
Saat itu, suara ketua Perguruan Pedang Langit menggema, memerintahkan dengan tegas, “Murid dengan kekuatan di bawah tahap Bayi Jiwa harus segera mundur sampai napas mereka stabil baru berhenti.” Suara penuh wibawa itu membuat para murid segera menuruti tanpa keberatan.
Saya pun hampir pingsan karena tekanan awan petir itu. Untungnya, kelima kakak angkat saya mengerti betapa besar keinginan saya untuk menyaksikan guru melewati ujian langit. Mereka khawatir saya tak kuat menahan tekanan itu, lalu mengeluarkan pusaka pelindung masing-masing membantu saya.
Berkat bantuan mereka, saya bisa tetap di tempat tanpa tertekan oleh awan petir. Saya bisa melihat jelas setiap gerakan dan ekspresi guru di dalam awan, merasakan perubahan aura yang seolah berdialog dengan kekuatan alam.
Proses itu menegangkan sekaligus mendebarkan, tapi dengan dukungan kakak-kakak, saya bisa tenang menyaksikan semuanya.
Guru saya dan empat sesepuh berdiri tegak di bawah awan ujian, seolah menyatu dengan dunia sekitar, tenang dan mantap. Kelima orang itu menatap awan bergulung dengan penuh keyakinan dan harapan, tanpa sedikit pun rasa takut.
Tiba-tiba, suara guru saya terdengar nyaring dan tegas, “Datang!”
Begitu suara itu jatuh, langit seperti terkoyak, ribuan petir besar seukuran tong air menyambar, membentuk cahaya menyilaukan yang menyelimuti gunung belakang. Kekuatan petir itu seperti mampu menghancurkan segalanya, membuat orang merasa kagum dan takut.
Namun, di saat itu, ratusan pedang surgawi tiba-tiba bergerak. Seolah dipanggil, mereka berubah menjadi garis cahaya dan melesat ke arah petir di langit. Setiap pedang memancarkan aura tajam, menghantam petir itu.
Langit seolah terkoyak oleh serangan pedang yang berulang-ulang, kekuatan dahsyat saling bertabrakan mengeluarkan suara gemuruh menggema. Perlahan, awan ujian bertingkat lima itu mulai terpecah oleh serangan pedang.
Saat awan mulai surut, sinar matahari kembali menerangi bumi. Sinar emas menyinari guru dan empat sesepuh, membalut mereka dengan lingkaran cahaya keemasan. Sosok mereka tampak semakin besar dan tegap, seakan menjadi pelindung dunia ini.
Suasana hening, semua yang hadir terpukau oleh pemandangan itu. Mereka tak percaya ada yang bisa menghalau awan ujian hanya dengan kekuatan pedang—sebuah keajaiban. Keteguhan dan kekuatan guru serta sesepuh membuat mereka sangat hormat dan kagum.
Namun, saat semua mulai lengah, awan ujian kembali bergulung seperti binatang marah yang bangkit. Tekanan yang muncul lebih dahsyat dan menakutkan, seperti palu raksasa menghantam hati semua orang. Ini jelas tanda datangnya petir ujian kedua.
Di langit, petir berkelok-kelok seperti naga perak menari di awan hitam, suaranya menggema dahsyat, meluapkan amarah dan kegetiran. Suara petir menggetarkan jiwa, seakan dunia ini bergetar pada saat itu.
Akhirnya, petir ujian kedua menyambar dengan dahsyat. Membawa kekuatan penghancur, petir berjatuhan dari langit, seperti banjir badai yang menutupi segalanya. Aura mengerikan itu tampak nyata, membuat udara bergetar hebat. Banyak murid yang menonton terpental dan jatuh, wajah mereka pucat dan penuh ketakutan.
Saat itu, langit dipenuhi petir, menjadi lautan ujian petir. Guru yang berada di tengah-tengah bagaikan perahu kecil di tengah badai, siap tertelan kekuatan dahsyat itu kapan saja.
Suara guru saya, Jian Jiuge, bergema seperti lonceng besar, memerintahkan dengan keras, “Adik-adik, ikut saya bersama melawan, tekan kembali ujian langit ini!”
Saat itu, ratusan pedang terbang seolah hidup, menari-nari di udara, ujung pedangnya memancarkan cahaya tajam, suara dentingan silih berganti menenggelamkan gemuruh petir. Guru saya berteriak, “Serang!” Pedang-pedang itu melesat deras ke langit, membawa aura pedang tanpa batas.
Dalam sekejap, langit penuh awan gelap terkoyak oleh kekuatan besar, menampakkan langit biru yang jernih. Awan ujian yang memenuhi langit mulai tercerai berai oleh serangan pedang.
Halaman (3/3)
Melihat pemandangan ini, ribuan murid di sekitar bersorak gembira, mengayunkan senjata dan berteriak penuh semangat.
Namun, guru saya Jian Jiuge tak lengah. Ia menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Jangan lengah, ujian langit baru melewati dua tahap, masih ada tujuh petir lagi yang akan datang. Kita harus waspada dan siap menghadapi tantangan berikutnya!”
Guru saya dan empat sesepuh lainnya, dengan kekuatan luar biasa mereka, berjuang dari petir pertama hingga kedelapan, hanya menyisakan satu tahap terakhir yang paling berat dan sulit. Saat itu, ratusan pedang surgawi telah hancur, tapi saya melihat mereka tetap tenang dan penuh keyakinan.
Jian Jiuge berteriak, “Sekarang saatnya keluarkan pedang utama kalian!” Begitu ucapannya selesai, lima cahaya gemilang tiba-tiba meledak dari dada mereka, seperti lima naga raksasa yang melesat ke langit.
Lima pedang utama itu terbang keluar, berubah menjadi pedang raksasa sepanjang ratusan meter, melayang di atas kepala semua orang.
Keluarnya pedang utama ini membuat alam semesta bergemuruh, seolah-olah langit dan bumi turut bergetar. Awan ujian yang bergulung-gulung itu tertekan dan tertahan oleh kekuatan ini, seolah terikat oleh kekuatan tak terlihat, tak mampu maju lagi.
Saat itu, petir tahap kesembilan tampaknya marah oleh perubahan mendadak ini. Petir yang biasanya liar semakin berkumpul membentuk cahaya terang yang menyilaukan, seperti naga perak besar yang berputar-putar di langit tinggi. Energi tak terbendung itu merusak sekitarnya, seolah ingin menelan seluruh dunia.
Energi terus terkumpul hingga petir membentuk bola raksasa bercahaya terang. Bola itu perlahan turun dari langit dengan kekuatan dahsyat, seolah hendak meratakan seluruh dunia.
Jian Jiuge dan empat sesepuh menatap bola petir yang semakin dekat dengan mata penuh tekad. Mereka tahu ini akan jadi ujian terbesar, sekaligus kesempatan terbaik untuk melampaui batas diri.
Saat itu, seluruh alam seakan terhenti dalam keheningan aneh, hanya suara gemuruh bola petir yang terdengar di telinga. Jian Jiuge menarik napas dalam dan menggenggam pedangnya, siap menghadapi tantangan ujian petir.
Pada saat itu, mereka mulai bergerak. Masing-masing menggerakkan pedang raksasa sepanjang ratusan meter, melesat seperti panah ke arah bola petir itu. Banyak aura pedang tajam sepanjang ratusan meter seperti pisau tajam yang memotong batu, menghantam bola petir itu dengan dahsyat.
Semua yang menyaksikan mengira pertempuran menegangkan itu akan segera usai. Namun, bola petir itu pecah dan dari dalamnya muncul naga petir yang mengamuk. Naga itu menggeram, tubuhnya diselimuti petir liar, memancarkan aura menggetarkan hati.
Naga petir melesat ke arah guru dan sesepuh dengan kecepatan luar biasa, begitu cepat sampai banyak murid dengan kekuatan rendah tak mampu menangkap gerakannya dengan mata telanjang, hanya merasakan gelombang energi hebat di udara.
Perubahan tiba-tiba ini membuat semua tegang, mereka tahu pertempuran petir ini jauh dari selesai.
Inilah ujian petir terkuat yang legendaris—Transformasi Petir Menjadi Naga. Ia bagaikan naga raksasa yang mengaum di langit berawan gelap, memancarkan aura agung dan bahaya. Ujian ini belum muncul selama ribuan tahun, setiap kemunculannya berarti ujian luar biasa mendebarkan.
Namun, menghadapi musuh sekuat ini, guru dan empat sesepuh tetap tenang. Mereka tahu setiap detik sangat berharga, hanya dengan berjuang sekuat tenaga mereka bisa melewati ujian hidup dan mati ini.
Mereka kemudian melepaskan seluruh kekuatan, energi dalam tubuh mereka seperti banjir liar yang membuat udara bergetar. Pedang utama mereka berubah ke ukuran asli, memancarkan cahaya menyilaukan, seolah ingin menembus awan hitam tebal.
Dengan aba-aba guru, mereka serentak menyerang naga petir itu. Cahaya pedang berkilauan dan kilatan petir memenuhi langit, medan pertempuran ini menerangi seluruh cakrawala.
Pertempuran berlangsung sangat sengit, setiap benturan pedang dan petir menghasilkan suara gemuruh menggema. Guru dan sesepuh bekerja sama tanpa cela, menyerang dan bertahan, maju dan mundur, memaksa naga petir itu terus mundur.
Akhirnya! Setelah berulang kali bentrokan menegangkan, dengan suara gemuruh dahsyat, tubuh naga petir raksasa itu roboh setelah serangan terakhir, mengeluarkan raungan menggelegar yang mengguncang langit. Tubuh besar itu jatuh dan perlahan berubah menjadi kilatan petir yang menghilang di cakrawala tak berujung.
Saat itu, guru dan empat sesepuh tampak kelelahan, bahkan terengah-engah, namun mata mereka berbinar dengan kebahagiaan dan kegembiraan yang sulit diungkapkan. Karena baru saja mereka bersama-sama mengalahkan naga petir yang sangat kuat, berhasil melewati sembilan tahap ujian petir yang sangat menakutkan!
Kini jalan di depan mereka terbuka lebar, kapan pun mereka mau, bisa melompati ruang kosong dan naik ke dunia dewa yang diidam-idamkan para praktisi, memulai perjalanan latihan baru yang gemilang.