Bab Lima: Kisah Pengemis Tua

Jornada macabra do fim do mundo: O crepúsculo de um milhão de deuses e demônios O quarto gato 2949kata 2026-08-03 01:23:53

Wajah Guru Pedang Jiu Ge bagaikan sulur anggur layu di musim gugur, kebasahan dengan rasa getir yang tercampur dengan embun waktu. Ia menghela napas pelan, suara itu bergema di aula yang sunyi, seperti rintihan burung bangau yang kesepian, membangkitkan kesedihan yang tak terjelaskan dalam hati.

Di dalam matanya yang dalam, tersirat kesakitan dan ketidakberdayaan, seolah melihat sekte-sekte besar yang pernah berjaya, setelah mengetahui bahwa dunia para dewa hanyalah sebuah ilusi belaka, seperti kapal yang ditelan ombak besar, dengan cepat tenggelam dan akhirnya mengalami kepunahan total.

Ia perlahan membuka mulut, suaranya rendah dan penuh kekuatan, seolah setiap kata menyimpan sejarah berat dan duka yang tak berkesudahan: “Mereka dulu sangat disegani, murid-muridnya memendam harapan untuk terbang ke dunia para dewa, berlatih siang malam demi suatu hari menjejakkan kaki di dunia legenda itu. Namun, mereka tak pernah menyangka, semua itu hanyalah konspirasi makhluk-makhluk aneh.”

Suara Jiu Ge bergetar di udara, kedua tangannya menggenggam erat seperti merasakan keputusasaan dan kemarahan murid-murid sekte itu ketika mereka mengetahui kebenaran. Mimpi mereka, dunia para dewa yang diidam-idamkan oleh banyak orang, ternyata hanya tipuan, sebuah jebakan yang mengantarkan mereka ke kehancuran.

“Mimpi terbang ke dunia para dewa, pada akhirnya hanyalah bayangan kosong,” suara Jiu Ge penuh duka dan keputusasaan, “Mereka membayar harga yang sangat mahal, sekte-sekte yang dulu gemilang kini hanya meninggalkan reruntuhan dan ratapan tanpa akhir.”

“Chen Xiaobao, pergi sekarang juga! Di sini usiamu masih muda, kemampuanmu masih rendah, baru memasuki pintu, tinggal hanya memperbesar risiko, menjadi santapan makhluk aneh itu, mengorbankan nyawamu sia-sia, apa gunanya?”

Jiu Ge mengayunkan tangannya pelan, sebuah piringan bundar kuno dan misterius terbang keluar. Piringan itu sudah dipenuhi dengan rune dan pola rumit yang berkilauan dengan cahaya dalam, jelas sebuah pusaka yang mengandung rahasia tak berujung. Piringan itu adalah sebuah portal teleportasi tingkat tertinggi sekali pakai, sangat berharga, sulit ditemukan di dunia.

Begitu piringan itu menyentuh tanah, cahaya terpancar ke segala arah, gelombang ruang bergetar meluas. Kemudian piringan itu berubah menjadi sebuah panggung teleportasi raksasa, dengan rune yang berputar di atasnya, seolah mengandung kekuatan misterius alam semesta.

Jiu Ge menatap panggung teleportasi itu, menarik napas dalam-dalam, kemudian berbalik menatap enam murid pribadinya dengan suara sedikit berat: “Siapa yang ingin pergi, cepatlah pergi. Tak ada waktu lagi. Aku sudah bertahan di Gerbang Langit selama ratusan tahun, ini adalah akarku, aku akan tinggal di sini.”

Kakak kedua mendengar itu, matanya menyala dengan tekad, berteriak lantang: “Guru tidak pergi, aku juga tidak pergi!” Para kakak lainnya juga menyatakan ingin tinggal bersama guru menghadapi kesulitan.

Aku berdiri di samping, hatiku membara, juga berteriak keras: “Aku juga akan tinggal!” Namun sebelum kata-kataku selesai, guru dengan satu tangan mengangkatku dan melemparkan ke dalam portal.

Aku merasakan dunia berputar, tubuhku seperti terbentang di ujung lain portal teleportasi. Saat melihat ke belakang, sosok guru dan para kakak semakin samar di luar portal.

Aku menengadah memandang sobekan besar di langit sembilan, seperti langit yang terkoyak, menyebarkan aura tidak baik. Makhluk-makhluk aneh turun perlahan dari sobekan itu.

Satu per satu, makhluk raksasa dengan bentuk aneh dan mengerikan. Mereka sangat besar, seperti gunung berjalan, memancarkan aura gelap. Tubuh mereka seolah terdiri dari banyak bola daging yang merayap, mengeluarkan bau amis yang menjijikkan.

Lebih mengerikan lagi, mulut mereka terbuka lebar memancarkan warna merah darah, seolah bisa menelan segalanya. Dari mulut mereka keluar banyak tentakel panjang yang bergerak seperti ular berbisa, memancarkan hawa dingin dan kejam.

Mereka mengincar orang-orang Gerbang Pedang Langit dengan sangat jelas. Makhluk-makhluk itu menyerang dengan kecepatan luar biasa, setiap ayunan tentakel disertai suara angin dan guntur, seolah ingin merobek seluruh alam semesta.

Namun bagi teman-temanku, pemandangan itu seperti mitos yang turun ke dunia. Mereka merasa menyaksikan tiga tetua yang melayang ke surga, dan banyak bidadari dari langit sembilan turun dengan anggun. Semangat mereka terpaut, seolah berada dalam mimpi, sorak sorai kegembiraan dan sukacita bergema tiada henti, sukar diungkapkan.

Orang-orang Gerbang Langit menyaksikan guru dan empat kakakku muncul, namun menunjukkan sikap waspada, memegang pedang terbang utama dengan erat bersiap bertempur. Wajah mereka penuh tanda tanya dan kebingungan, sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Mereka tentu tak bisa melihat, tak mampu mengungkap ilusi di balik pemandangan itu, sehingga tak menyadari bahwa sosok-sosok yang tampak anggun bagai dewa itu sebenarnya makhluk jahat penuh tipu daya. Mata mereka tertutup, tak dapat melihat kebenaran, apalagi mendengar tawa gila makhluk-makhluk itu yang penuh keanehan dan kejahatan.

Banyak murid tanpa sadar, diserang tentakel panjang makhluk jahat, menusuk tanpa ampun seperti pisau gelap. Kemudian mereka ditelan oleh makhluk itu, seperti pusaran raksasa yang menelan segalanya, lenyap dalam kegelapan.

Murid-murid itu berjuang dalam penderitaan, darah muncrat memenuhi udara di sekitar. Pemandangan itu sangat mengerikan, membuat bulu kuduk meremang. Namun makhluk jahat itu tampak tak peduli, terus tertawa dan menelan mangsa, seolah ini adalah pesta yang mereka nikmati.

Seluruh pemandangan dipenuhi aura aneh dan mengerikan. Di tanah yang diliputi kekuatan aneh ini, hanya orang-orang yang malang tersentuh makhluk aneh yang dapat melihat makhluk jahat tersembunyi di balik realitas. Namun mereka yang mengetahui kebenaran sudah lama tertusuk tentakel.

Mereka menatap sekeliling dengan penuh ketakutan dan putus asa. Mereka mengayunkan tangan dengan panik, berteriak minta tolong dengan suara nyaring dan pilu, seperti tirai malam yang terrobek. Namun suara mereka hilang dalam hambatan tak terlihat, tak sampai ke telinga orang lain.

Orang-orang lain tetap tenggelam dalam mimpi yang diciptakan makhluk jahat itu, tanpa sadar melanjutkan hidup mereka. Senyum mereka cerah dan polos, seolah tak pernah ada keanehan atau teror di tanah ini.

Jeritan dan perjuangan murid yang tertangkap makhluk jahat terdengar semakin memilukan dalam keheningan. Tubuh mereka berubah menjadi bengkok di bawah sentuhan makhluk, wajah mereka mengerikan dan penuh ketakutan, seolah melihat pemandangan horor yang tak terkatakan.

Pemandangan terakhir di mataku terpatri pada sosok guru dan kakak-kakakku yang penuh tekad, tanpa rasa takut menyerbu makhluk jahat, seolah ingin merobek seluruh kegelapan. Namun saat berikutnya, aku menghilang dari tanah Gerbang Pedang Langit, dibawa oleh kekuatan misterius ke ribuan li jauhnya.

Saat aku berusaha sekuat tenaga kembali ke Gerbang Pedang Langit, pemandangan yang kutemui membuat hatiku terasa seperti disayat. Seratus delapan aula megah yang pernah berdiri gagah, masing-masing menyimpan sejarah dan kemuliaan Gerbang Pedang Langit, kini hanya menjadi reruntuhan berdebu. Dua puluh enam gunung yang dulu hijau dan dipenuhi aura dewa, kini hancur tak berbekas, tak ada lagi kehidupan yang pernah ada.

Aku mencari ke mana-mana, mencoba menemukan jejak Gerbang Pedang Langit, namun hanya kosong yang kutemui. Suara tawa dan kemegahan pedang seolah lenyap menjadi debu di angin. Sulit dipercaya, gerbang yang pernah berjaya itu lenyap dalam sekejap mata.

Aku berdiri sendiri di puncak reruntuhan, dikelilingi kehancuran dan kekacauan seperti kiamat. Hatiku penuh kesedihan dan kemarahan yang meluap-luap, sulit untuk tenang.

Aku menengadah memandang langit sembilan, tempat yang dulu retak besar terbuka, seolah langit robek memperlihatkan kekosongan misterius. Kini retakan itu sudah hilang, seolah tak pernah ada, hanya meninggalkan jejak samar di udara.

Makhluk-makhluk aneh itu juga sudah pergi, bayangannya lenyap saat retakan menutup, seolah tak pernah menginjak dunia ini. Namun keberadaan mereka meninggalkan bekas mendalam di hatiku, tak mungkin terlupakan.

Aku tak berani membuka kemampuan khususku—Mata Lainku. Aku takut melihat lagi sosok makhluk aneh itu, bentuk dan aura menyeramkan yang bisa menelan segala hidup dan harapan. Aku menutup mata rapat, berusaha mengurung kenangan mengerikan itu jauh di dalam hati.

Lao Dali, inilah ceritaku, kisah yang penuh kebahagiaan dan penderitaan. Sejak hari aku meninggalkan reruntuhan misterius Gerbang Pedang Langit, aku memulai perjalanan tanpa tujuan. Aku pernah menembus padang gurun luas, mendaki pegunungan terjal, hanya untuk mencari tempat yang bisa kuanggap rumah.

Akhirnya, setelah pengembaraan tanpa akhir, aku tiba di Kota Guangfu yang makmur, dan menjadi pengemis tua bernama Lao Chen.