Bab Sepuluh: Berkah Sun Wukong
Chen tua memimpin Liu Ping’an melangkah perlahan memasuki Balairung Latihan, sebuah aula besar yang terletak di jantung Kedua Hukum Kerajaan, bagaikan batu obsidian gelap yang sunyi berdiri di sana, diam tanpa suara namun memancarkan wibawa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Penampilan luar Balairung Latihan sangat dalam dan misterius, seolah-olah dibungkus rapat oleh kegelapan malam yang pekat, membuat orang tak mampu mengintip rahasia di dalamnya. Material bangunan tampak seperti logam hitam langka, permukaannya berkilau dingin dan tajam, bagaikan diselimuti oleh lapisan tipis embun beku yang memberi kesan tak tergoyahkan.
Keduanya melewati pintu besar hitam yang berat, seolah memasuki dunia lain. Di dalam Balairung Latihan, suasana semakin penuh misteri, udara dipenuhi aura mematikan yang membuat siapa pun tak sadar menahan napas.
Langkah Chen tua tiba-tiba terhenti, ia perlahan berbalik, matanya berkilat dengan tekad dan ketegasan. Ia menatap Liu Ping’an, suaranya rendah dan penuh kekuatan, “Anak Dali, kau harus segera menelan ramuan suci itu. Obat ini bukan sembarang ramuan, dapat membantu menstabilkan energi spiritual yang bergolak dalam tubuhmu, mencegahnya meledak dan menjaga pikiranmu tetap jernih, agar godaan tubuh monster itu tidak menguasaimu.”
Ia berhenti sejenak, nada suaranya penuh ketegasan yang tak bisa dipertanyakan, “Kau tenang saja, jika kau benar-benar jatuh menjadi monster, aku tak akan ragu. Aku akan mengakhirimu dengan tanganku sendiri, agar dunia ini kehilangan satu monster yang menebar malapetaka.”
Liu Ping’an mengangguk, sorot matanya menyiratkan keputusasaan, “Aku mengerti, aku juga tak ingin menjadi monster itu. Jika kau harus bertindak, tolong keraslah, aku takut sakit.”
Setelah memberikan instruksi dengan teliti kepada Chen tua, Liu Ping’an dengan hati-hati mengambil sebuah pil dari kotak giok yang indah. Pil itu bening bak mutiara bercahaya, memancarkan sinar lembut di dalam balairung yang remang.
Ia menarik napas dalam-dalam, seolah menyerap esensi langit dan bumi, lalu mengembuskannya perlahan, tubuhnya pun mulai rileks seiring napasnya. Kemudian dengan lembut, ia memasukkan pil itu ke dalam mulut.
Begitu pil itu masuk, langsung larut seketika, berubah menjadi sensasi sejuk dan menyegarkan yang cepat menyebar ke seluruh tubuh. Liu Ping’an merasa tubuhnya seperti dicuci oleh arus air jernih, sangat transparan, inderanya menjadi sangat tajam. Ia menutup mata, menikmati kenyamanan dan kejernihan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Duduk di pusat Balairung Latihan, Liu Ping’an duduk bersila, ruang di sekelilingnya seolah memberi jalan, energi spiritual yang melimpah bagaikan gelombang pasang datang mengalir kepadanya. Energi pekat itu mengelilinginya, perlahan masuk ke dalam tubuhnya, menyuburkan setiap sel.
Ia tak perlu mengarahkan dengan sengaja, cukup duduk tenang membiarkan energi itu mengalir alami. Saat itu, ia seolah menyatu dengan seluruh alam, merasakan energi tak berujung mengalir dan berkumpul dalam tubuhnya.
Waktu berlalu tanpa suara, satu jam telah berlalu. Chen tua berdiri di samping, alisnya berkerut, wajahnya penuh tanda tanya. Sesuai logika, Liu Ping’an seharusnya sudah menembus tingkat pertama latihan energi, tapi kenyataan di depannya jauh melampaui perkiraannya.
Liu Ping’an masih duduk dengan mata terpejam, seolah tenggelam dalam lautan energi spiritual yang dalam. Tubuhnya seperti lubang tanpa dasar yang terus menarik energi di sekitarnya. Energi dari gunung-gunung besar seolah dipanggil oleh kekuatan misterius, berkumpul ke tempat Liu Ping’an berada.
Namun hanya Liu Ping’an yang tahu kebenarannya. Di dada bagian atasnya, tiga karakter—Sun Wukong—memancarkan cahaya redup, seolah memiliki kekuatan ajaib. Tiga karakter itu terus menyerap energi di sekitarnya, dan Liu Ping’an sendiri seperti ditarik oleh kekuatan itu ke dalam tingkat yang lebih dalam.
Seiring energi terus mengalir masuk, Liu Ping’an merasakan tubuhnya diisi oleh kekuatan dahsyat. Saluran energinya penuh dengan energi spiritual yang hebat, seolah tubuhnya akan meledak. Namun tiba-tiba, tiga karakter itu mengeluarkan dengungan rendah, seperti irama aneh mengalir di dalamnya.
Dengan dengungan itu, Liu Ping’an merasa seolah memasuki dunia baru. Tubuhnya menyatu dengan energi di sekitar, ia bisa merasakan setiap aliran dan perubahan energi dengan jelas. Saat itu, ia seolah menjadi penguasa kecil di dunia itu.
Tiba-tiba, cahaya aneh muncul di dada Liu Ping’an, di dalamnya terlihat jelas tiga huruf “Sun Wukong” yang berkilauan seperti tato yang hidup. Kemudian, rasa sakit hebat datang bagaikan gelombang pasang, hingga ia hampir tak bisa bernapas.
Namun detik berikutnya, rasa sakit itu lenyap seketika, di kedalaman hatinya terdengar suara yang familiar sekaligus misterius. “Liu Ping’an, sepertinya kau akhirnya berhasil. Tapi, ada yang salah? Oh, aku mengerti, itu ‘Cang’ yang membuat ulah. Waktu memang tepat, tapi posisi ruangnya melenceng.”
Hati Liu Ping’an bergetar hebat, ia akhirnya mendengar suara legendaris itu. “Kau… kau adalah Sun Wukong, Raja Kera, Sang Dewa Agung!” Ia berbisik dengan suara gemetar, penuh rasa hormat dan kagum.
“Hehe, kau ini cukup mengenalku,” suara itu penuh candaan dan kebanggaan, “Betul, aku Sun Wukong, gelar-gelar itu adalah kejayaan masa laluku. Sekarang, kita harus menyelidiki apa yang ‘Cang’ lakukan, sampai posisi ruang kita melenceng.”
Suara itu menyiratkan kelelahan dan keputusasaan, “Dunia kecil ini sudah sarat dengan energi jahat yang merusak segalanya. Jalan ke dunia atas terputus, dunia para dewa di sini sudah lama kehilangan ketenangan dan kedamaian, malah penuh dengan keanehan dan bahaya.”
Mendengar itu, hati Liu Ping’an mengencang, ia tahu betapa berat arti semua itu. Di dunia yang disusupi kekuatan jahat ini, mereka berjalan di atas pisau, satu langkah salah berarti kehancuran abadi.
Sun Wukong melanjutkan, “Aku kini hanya seonggok jiwa yang tersisa, kekuatanku tipis, tak bisa banyak membantumu. Kau harus cepat meningkatkan kekuatanmu dan mencari cara keluar dari dunia ini. Itu adalah takdirmu, juga tugasmu.”
Sun Wukong menarik napas panjang, suaranya berat dan penuh kepedihan, “Pertarungan dahsyat itu membuat kami hancur berkeping-keping, hanya tersisa jiwa kecil yang tersegel dalam tubuhmu. Karena itulah kami bisa bersamamu melewati sungai waktu yang luas, kembali ke ribuan tahun lalu. Aku bangkit lebih dulu karena menyerap energi lebih dalam. Tapi ini hanya jiwa sementara, kekuatanku terbatas dan tak bisa bertahan lama.”
Kata-katanya penuh kepedihan namun juga keteguhan. Setiap kata bagaikan memuat beban emosi dan kenangan yang dalam, membuat orang merasakan guncangan dan kesedihan dari pertarungan luar biasa itu.
“Tapi jangan khawatir, aku punya berkat khusus untukmu, bukan sesuatu yang biasa, efeknya pasti melebihi harapanmu. Berkat ini adalah ilmu gaib dari wujudku di luar hukum. Ini bukan trik kecil, tapi ilmu unikku sebagai Sang Dewa Agung, jauh melampaui kemampuan remeh-temeh.”
“Ilmu ini akan membantumu menapaki jalan latihan dengan cepat dan mulus, melaju pesat setiap hari. Kau hanya perlu menerimanya dengan yakin, dan kau akan merasakan kekuatan serta kebijaksanaan yang tak terbatas. Percayalah, dengan berkat ini, perjalanan latihamu akan lebih lancar dan pencapaianmu tak terhingga. Cepatlah tinggalkan dunia kecil ini.”