11 Perebutan Kekuasaan Musim Semi dan Gugur
Halaman (1/3)
【Inilah pandangan Du Mu mengenai sebab-sebab runtuhnya Dinasti Qin. Untuk memahami tulisan ini, latar belakang penciptaannya tidak boleh diabaikan. Du Mu hidup pada masa akhir Dinasti Tang, ketika politik korup, pemerintahan bobrok, para panglima daerah bertindak sewenang-wenang, dan pertentangan antarkelas kian tajam. Negara-negara seperti Tibet, Nanzhao, dan Uighur berturut-turut melancarkan invasi—Kekaisaran Tang telah berada di ambang keruntuhan.】
Li Shimin mendadak bangkit. Matanya berkilat menatap layar langit, sementara para menteri di Istana Taiji tanpa sadar maju selangkah, ingin melihat lebih jelas dan mendengar lebih saksama.
“Dinasti Tang yang kudirikan akan runtuh…”
Cheng Zhijie menggertakkan gigi dan berkata, “Yang Mulia, hamba mohon izin memimpin pasukan untuk memusnahkan Tibet dan negara-negara lainnya, demi menyingkirkan bahaya yang mengancam Dinasti Tang.”
Qin Qiong, Yuchi Gong, Li Jing, dan para jenderal besar lainnya pun segera mengajukan diri.
Pada masa awal Dinasti Tang, para jenderal besar bagaikan awan di langit. Siapa di antara mereka yang tidak memiliki prestasi menaklukkan negeri?
Tentu saja, saat ini jasa mereka belum setinggi itu. Namun, mereka semua telah mengikuti Panglima Agung Tiance melewati hidup dan mati, menempuh peperangan demi peperangan. Negeri-negeri kecil semacam itu benar-benar tidak mereka pandang sebelah mata.
Li Zhi dan Wu Zetian juga tak lagi tampak santai. Bukankah yang sedang dibahas adalah kehancuran Dinasti Qin setelah baru dua generasi? Mengapa justru Dinasti Tang yang menderita paling parah?
【Du Mu dengan gigih menganjurkan agar para panglima daerah ditundukkan dari dalam dan persatuan diperkuat, sementara dari luar serangan musuh harus ditahan dan pertahanan negara dikokohkan. Ia berharap para penguasa pada zamannya bekerja keras memperbaiki pemerintahan, menyejahterakan rakyat, dan memperkuat militer. Namun, kenyataan justru bertolak belakang dengan harapannya.】
Du Mu menggenggam cawan arak, pikirannya dipenuhi perasaan yang rumit. Ia pernah bercita-cita menjadi panglima lalu menjabat menteri, “membawa junjunganku melampaui Yao dan Shun, lalu sekali lagi memurnikan adat dan kebiasaan negeri.” Namun, yang diperolehnya hanyalah reputasi sebagai sastrawan yang gemar bersenang-senang.
“Sepuluh tahun lamanya aku terlelap dalam mimpi Yangzhou, yang kudapat hanyalah nama sebagai lelaki tak setia di rumah-rumah bordil.”
【Sejak Pemberontakan An Lushan dan Shi Siming, Dinasti Tang tak pernah lagi mendapatkan kembali kejayaannya. Para panglima daerah saling menguasai wilayah, cabang-cabang kekuasaan menjadi kuat sementara pusat pemerintahan melemah. Kaisar sebenarnya ingin menekan para panglima daerah, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi negara-negara di perbatasan yang terus menyerang. Para panglima memegang kekuasaan besar dan hanya patuh di permukaan terhadap perintah pusat.
Kaisar Muzong, Li Heng, tenggelam dalam kenikmatan duniawi hingga mengembuskan napas terakhir. Kaisar Jingzong, Li Zhan, hidup lebih bejat lagi: “bermain tanpa batas dan bergaul akrab dengan orang-orang rendahan”; “dalam sebulan, ia menghadiri sidang kekaisaran tak sampai tiga kali, sementara para menteri jarang mendapat kesempatan menghadap”; “gemar membangun istana dan hendak mendirikan balairung lain dengan rancangan yang sangat luas.”】
Li Shimin berkata, “Orang-orang bejat dan tak bermoral seperti itu ternyata adalah keturunanku, ternyata mereka adalah kaisar Dinasti Tang. Apakah mereka tidak pernah belajar sejarah? Keruntuhan Dinasti Sui setelah dua generasi masih begitu dekat di depan mata, tetapi mereka tetap menutup mata dan menyumbat telinga.”
Dengan hati pilu ia berkata, “Apa dosa rakyat jelata?”
Li Heng dan Li Zhan hanya menertawakannya. Bukankah negeri ini belum runtuh? Layar langit itu terlalu membesar-besarkan persoalan.
Sebagai kaisar, mereka diberi makan oleh seluruh rakyat. Apa salahnya menonton tari-tarian dan bermain-main?
Sejak Pemberontakan An Lushan dan Shi Siming, Dinasti Tang memang telah menuruni jalan kemunduran. Selama mereka masih mampu mempertahankan negeri agar tidak runtuh, itu sudah cukup. Ancaman para panglima daerah dan bahaya perbatasan berada jauh di ujung cakrawala, sedangkan tari-tarian dan permainan ada tepat di depan mata. Mengapa harus meninggalkan kesenangan yang dekat demi mengejar masalah yang jauh dan menambah beban pikiran?
【Di istana juga terdapat kasim-kasim yang memegang kekuasaan, sesuka hati menurunkan atau mengangkat kaisar, serta para menteri berkuasa yang saling berebut pengaruh. Situasi politik menjadi kacau balau. Namun, para kaisar justru tenggelam dalam pujian para pejabat dekat dan memilih hidup aman untuk sementara. Du Mu merasa murka sekaligus terluka menghadapi semua itu. Sasaran utama kritik dalam Fu Istana Epang adalah penguasa tertinggi pada zamannya.】
Kolom komentar:
“Kasim-kasim Dinasti Tang sangat hebat. Sepuluh Pelayan Tetap pada akhir Dinasti Han dan Wei Zhongxian pada akhir Dinasti Ming pun tidak sebanding dengan mereka.”
“Benar. Para kasim Dinasti Tang menguasai militer. Bahkan nyawa kaisar berada di tangan mereka.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Li Shimin: Keturunan tak berbakti mana yang memberi para kasim kekuasaan sebesar itu?”
Li Zhi dan Wu Zetian juga ingin menanyakan hal yang sama. Namun, setelah melihat Li Shimin menulis komentar, Wu Zetian diam-diam menahan diri untuk tidak bersuara, sedangkan Li Zhi justru menjadi sangat bersemangat.
“Li Zhi: Ayahanda!”
Li Zhi rela menyia-nyiakan satu kesempatan berkomentar hanya demi menyapa ayahnya.
Zaman yang ia jalani adalah tahun keenam era Yonghui. Ia baru saja melewati gejolak pengangkatan permaisuri dan sedang berebut kekuasaan dengan kaum bangsawan Guanzhong-Longxi yang dipimpin Changsun Wuji, tokoh penting dari pemerintahan sebelumnya.
Ia sangat ingin bertanya kepada ayahnya: mengapa Ayahanda harus mengangkat menteri pendamping yang mengurus pemerintahan? Apakah Ayahanda merasa takhtanya diperoleh terlalu mudah, sehingga perlu memberinya sedikit tantangan?
Changsun Wuji adalah menteri pendamping yang ditinggalkan oleh mendiang kaisar, sekaligus paman kandungnya dan salah satu pendiri Dinasti Tang. Dengan tiga lapis keistimewaan itu, entah kapan ia baru bisa menumbangkan orang tersebut.
Sayangnya, semua itu tak dapat diucapkan terang-terangan. Ia hanya bisa berharap, ketika layar langit membahas Dinasti Tang, sang pembawa acara akan mengingatkan ayahnya.
Li Shimin menatap pesan di layar langit dengan agak bingung. Kemudian ia teringat bahwa orang itu pastilah Zhinu dari ruang waktu lain. Ia tak tahu bagaimana Chengqian menjalankan tugasnya sebagai kaisar, apakah ia rukun dengan saudara-saudaranya, dan apakah Zhinu pernah diperlakukan tidak adil.
Sayang sekali, ia sudah tidak memiliki kesempatan untuk berkomentar.
Permaisuri Changsun memandangi putra bungsunya yang masih berada dalam buaian, pikirannya pun dipenuhi perasaan yang kacau.
Para kaisar sebelum Pemberontakan An Lushan dan Shi Siming sedang mencari biang keladi bencana. Para kaisar setelah pemberontakan itu semuanya mengarahkan pandangan kepada Kaisar Xuanzong dari Tang. Mereka diam-diam menggerutu di dalam hati, tetapi tidak bisa mengatakannya terang-terangan di layar langit.
Seluruh manusia di dunia dapat melihat layar langit. Apa pun yang telah dilakukan leluhur mereka, sebagai keturunan, mereka tidak boleh kehilangan rasa hormat.
【Kita semua tahu bahwa memaki kaisar secara langsung dapat mengundang maut. Karena itu, Du Mu hanya dapat menyindir keadaan masa kini melalui kisah masa lampau, menggunakan pelajaran tentang kehancuran Dinasti Qin setelah generasi kedua untuk menasihati sang kaisar. Sayangnya, jika nasihat benar-benar berguna, Dinasti Tang tidak akan berjalan menuju kehancuran di tengah kekacauan. Bagaimanapun juga, tidak semua orang adalah Kaisar Taizong dari Tang, yang mampu menahan dorongan untuk membunuh Wei Zheng dan menerima nasihat dengan lapang dada!】
Wei Zheng terdiam…
Sudahlah. Yang Mulia baru saja mengetahui kabar buruk semacam ini dan pikirannya sedang kacau. Lebih baik ia tidak mengganggunya.
Tuan Wei memang tegas dan tidak memihak, tetapi ia juga memiliki cara sendiri dalam menjalankan tugas sebagai pejabat.
Nasihatnya yang terus terang dan kesediaan Li Shimin untuk menerimanya saling melengkapi. Kedua orang itu memiliki cita-cita yang sama: menjadi penguasa bijaksana dan menteri berbudi yang namanya dikenang dalam kitab sejarah. Karena itulah mereka mampu mengekang keinginan pribadi.
Li Shimin semakin merasa bahwa keturunannya benar-benar tidak berguna. Ia tidak menuntut mereka memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi bahkan untuk mendengarkan nasihat pun mereka tidak mampu.
【Karena itu, persoalan mengenai keruntuhan sebuah dinasti sangatlah besar. Xiao Xi juga memerlukan waktu untuk mempersiapkan diri. Pada pelajaran berikutnya, kita akan membahas dari Reformasi Shang Yang hingga keruntuhan Dinasti Qin—bagaimana aliran Legalis membangun sebuah kekaisaran yang mempersatukan seluruh negeri, lalu membuatnya tercerai-berai. Terima kasih kepada semua penonton yang telah belajar sejarah bersama Xiao Xi. Sampai jumpa minggu depan.】
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Layar langit menghilang.
Kaisar Qin Shi Huang memandang putra sulung di sisinya, kemudian menatap Zhao Gao yang berlutut di lantai serta Li Si yang bersembunyi di sudut ruangan. Ia memerintahkan, “Seret Zhao Gao pergi dan tahan untuk diperiksa.”
Adapun Li Si, ia terlalu berguna. Orang itu selalu mampu memahami isi hati Kaisar Pertama. Lebih baik ia melihat terlebih dahulu apa saja yang telah dilakukan Li Si sebelum menjatuhkan hukuman.
Meskipun Kaisar Qin Shi Huang tidak tahu secara pasti apa yang telah dilakukan kedua orang itu, ia mampu menebak sebagian. Zhao Gao adalah pelayan dekatnya yang mengendalikan stempel kekaisaran, sedangkan Li Si kelak akan menjadi perdana menteri dan memegang kekuasaan seorang diri. Begitu dirinya mangkat, jika kedua orang itu bekerja sama, apa pun yang ingin mereka lakukan pasti dapat terlaksana.
Hanya saja, ia tidak tahu siapa Kaisar Qin Kedua…
Orang-orang dari berbagai dinasti menyesal setengah mati. Kaisar Qin Shi Huang telah merebut kesempatan terakhir, bahkan sang pembawa acara berjanji akan secara khusus menjelaskan sebab-sebab runtuhnya Dinasti Qin. Sementara itu, mereka hanya bisa menonton tanpa daya.
Mereka yang tidak menulis komentar dalam siaran kali ini masih menyimpan layar kecil di tangan masing-masing. Kesempatan berkomentar dapat disimpan hingga siaran berikutnya.
Dinasti-dinasti yang disebut di layar langit segera mengadakan sidang sepanjang malam untuk mengumpulkan seluruh informasi yang mereka ketahui. Dinasti-dinasti yang tidak disebut pun tidak berani bermalas-malasan. Mereka mempelajari cara berbicara di layar langit agar sang pembawa acara memperhatikan mereka dan menjelaskan berbagai hal mengenai dinasti masing-masing.
Bagaimanapun, pekerjaan rumah setelah pelajaran kali ini berkaitan dengan Perdebatan Seratus Aliran, sedangkan siaran berikutnya akan membahas Reformasi Shang Yang. Ini menunjukkan bahwa sang pembawa acara akan mengubah urutan tayangan berdasarkan komentar mereka.
Namun, para penguasa negara-negara pada masa sebelum Qin tidak memusingkan semua itu. Mereka bagaikan pasien kanker stadium akhir yang mengetahui bahwa waktu hidup mereka tak lagi banyak; justru karena itu, mereka tidak terburu-buru.
Kaisar Qin Shi Huang memeras otak, tetapi tetap tak mampu memahami siapa sebenarnya Kaisar Qin Kedua. Selain Fusu, ia memang tidak terlalu mengenal anak-anaknya yang lain. Bahkan Hu Hai pun hanya diuntungkan oleh usianya yang masih muda.
Kaisar Qin Shi Huang sangat lunak terhadap anak-anaknya. Mereka boleh mempelajari aliran pemikiran mana pun yang mereka sukai, tetapi setiap orang wajib menguasai hukum-hukum Shang Yang. Itulah dasar berdirinya Negara Qin.
Menurutnya, Fusu terlalu menjunjung kebajikan dan kasih sayang. Untuk mengatur negara, seseorang harus menggunakan hukuman berat dan hukum yang keras agar rakyat merasa gentar dan tidak berani menimbulkan masalah. Namun, Fusu justru berkhayal dapat membuat rakyat jelata menyerahkan hati mereka dengan sukarela dan ingin menghapus hukum-hukum yang kejam. Itu jelas merupakan ajaran kaum Konfusianis.
Kaum Konfusianis berbicara tentang moralitas, kebajikan, dan kasih sayang, sedangkan kaum Legalis berbicara tentang hukum serta aturan. Kedua aliran itu bagaikan air dan api yang tidak mungkin berdamai. Bahkan dirinya sendiri tidak mampu memadukan keduanya ke dalam sistem politik Negara Qin. Bagaimana mungkin Fusu dapat melakukannya?
Ia juga tidak tahu bagaimana dinasti-dinasti pada masa mendatang akan mengatur negara.
Karena keterbatasan zamannya, Kaisar Qin Shi Huang tidak pernah membayangkan bahwa kaum Konfusianis pada generasi-generasi berikutnya akan begitu lentur. Aliran pemikiran apa pun yang diinginkan penguasa, akan mereka tafsirkan dari kitab-kitab klasik Konfusianis sesuai dengan kehendak sang penguasa.
Halaman (3/3)