Bab 10: Sebuah Tamparan
Tidak ada lagi tangga panjang tanpa ujung di depan sana, melainkan sebuah lahan terbuka kecil yang dihiasi dengan pilar-pilar berukir nan megah.
Sebuah papan nama tergantung tepat di tengah, bertuliskan tiga karakter: "Sekte Zhengguang".
Jika seseorang menatap tulisan itu lebih dari tiga detik, ia akan merasa pening dan hampir terjatuh dari tangga.
Xie Qilan memantapkan langkahnya, menapaki anak tangga terakhir, dan sampai di pelataran.
Di sana, beberapa orang yang mengenakan jubah putih seragam berdiri berkelompok, seolah sedang menanti para "pengunjung" yang mendaki tangga.
Begitu sosok Xie Qilan muncul, mereka yang tadinya tampak sedang berbincang seketika berdiri tegak dan menatap ke arahnya dengan wajah serius.
Saat menyadari bahwa orang pertama yang tiba hanyalah seorang gadis muda yang cantik, mata beberapa orang di antara mereka tampak berbinar.
Namun, ada satu orang di antara mereka yang terus memasang wajah datar dan dingin, memancarkan aura "jangan dekati aku". Dia tidak tampak seperti penyambut tamu, melainkan seperti seseorang yang datang untuk melakukan pembunuhan.
Perhatian Xie Qilan pun tertuju sepenuhnya pada orang itu.
Zhu Yang!
Pria brengsek, Zhu Yang!
Saat setuju untuk masuk ke Sekte Zhengguang, Xie Qilan sudah menduga pasti akan bertemu dengan Zhu Yang di sini. Namun, ia tidak menyangka akan bertemu secepat ini!
Dulu ia mengira pria brengsek ini menjadi sedingin es karena menempuh jalur kultivasi tanpa emosi, tetapi sekarang terlihat jelas bahwa makhluk ini memang tidak punya perasaan sejak awal! Sudah sepandai itu memasang wajah masam sejak dini, ya.
Menurut garis waktu, Zhu Yang baru tiba di Sekte Zhengguang beberapa hari lebih awal darinya. Saat ini, dia baru saja masuk dan bahkan belum bisa dianggap sebagai pengultivasi resmi.
Xie Qilan menyapu pandangan ke sekeliling dengan cepat.
Setelah menyadari ada beberapa pengultivasi lain dengan tingkat kultivasi yang berbeda di depannya, Xie Qilan dengan berat hati mengurungkan niat untuk menghunus pisau dan menusuknya saat itu juga.
Dengan wajah tegang dan pandangan lurus ke depan, ia melangkah maju dan mendengar seorang pemuda yang bertugas menyambut tamu berkata:
"Nona, silakan menunggu di sini sebentar. Setelah dupa itu habis terbakar, barulah Anda bisa pergi ke dalam aula bersama pendatang baru lainnya untuk melakukan upacara berguru."
Berguru...
Xie Qilan meremas kantong kain yang tergantung di pinggangnya. Di dalamnya tersimpan seekor burung bangau kertas yang terlipat dari kertas putih.
Apakah benda ini benar-benar berguna? Atau, jangan-jangan ini hanyalah lelucon yang dibuat si pak tua itu untuk membohonginya?
Tidak penting. Yang penting, ia harus masuk ke Sekte Zhengguang terlebih dahulu.
Xie Qilan mengangguk dan melangkah ke samping. Tanpa diduga, saat melewati sisi Zhu Yang, tiba-tiba terdengar bunyi "ding-dong" di dalam kepalanya.
"Ding-dong! Target telah muncul! Selamat, Tuan rumah telah berhasil mengaktifkan Sistem Kultivasi Buff Kematian!"
Apa-apaan ini?
Langkah Xie Qilan terhenti. Ia hampir mengira dirinya masih terjebak dalam ujian ilusi di tangga tadi dan orang-orang di depannya hanyalah imajinasi belaka.
Sesaat setelah mengira itu hanyalah ilusi, reaksi pertama Xie Qilan bukanlah berusaha sadar, melainkan ingin menghunus pisau dan menusuk Zhu Yang sampai mati.
Tentu saja, pisau panjang yang dibayangkannya tidak muncul. Namun, suara di dalam kepalanya masih terus berbunyi:
"Mohon Tuan rumah jangan berpikir yang tidak-tidak. Sistem ini nyata! Saya adalah mitra pendukung Anda untuk berkultivasi dan mencapai keabadian!"
Xie Qilan tidak menghiraukannya. Sebab, Zhu Yang yang berada di sampingnya tampak tidak senang.
Mungkin karena salah paham dan mengira Xie Qilan terpesona oleh parasnya, wajah Zhu Yang yang tadinya datar menjadi semakin dingin. Ia mengerutkan kening, mundur setengah langkah, dan berkata dengan nada jijik:
"Manusia fana, ternyata masih bisa terpesona oleh paras. Entah bagaimana caranya kau bisa lolos ujian gerbang sekte. Orang sepertimu sama sekali tidak pantas berkultivasi!"
Xie Qilan tertawa sinis di dalam hati. Bukannya takut oleh kata-kata dinginnya, ia justru berhenti melangkah, berbalik menghadap Zhu Yang, dan sebelum orang lain sempat bereaksi, sebuah tamparan mendarat di wajahnya—plak!
Suara tamparan itu membuat mata orang-orang di sekitarnya terbelalak.
Zhu Yang sendiri, untuk pertama kalinya, merusak ekspresi wajah datarnya. Ia terpaku di tempat dengan wajah memerah, jelas tidak menyangka ada orang yang berani memukulnya, apalagi memukul wajah tampannya yang berharga itu!
Xie Qilan mengusap telapak tangannya. Ah, memukul si brengsek ini malah membuat tangannya sendiri yang sakit. Lain kali, ia harus mencari papan atau benda lain untuk menampar mulutnya.
Begitu ia bertindak, orang-orang lain akhirnya tersadar dan segera mengerumuninya. Dua wanita muda menghampiri Zhu Yang untuk memeriksa lukanya, sementara pria lain menatap Xie Qilan dengan heran.
Gadis secantik ini, bagaimana bisa emosinya begitu meledak-ledak? Berani-beraninya dia memukul Zhu Yang!
Dia adalah murid yang diterima langsung oleh Tetua Agung. Gadis kecil ini sudah tamat riwayatnya. Meskipun dia adalah orang pertama yang mendaki tangga keabadian, apa gunanya jika sudah menyinggung murid kesayangan Tetua Agung?
Sebenarnya mereka juga tidak suka dengan wajah masam dan temperamen buruk Zhu Yang, namun tidak ada yang berani menamparnya.
"Kalian menyingkir!" Zhu Yang menggeram dengan gigi terkatup, "Aku akan mengurusnya sendiri!"
Orang-orang lain merasa lega mendengar itu. Mereka tidak ingin terlibat dalam masalah ini. Berbeda dengan Zhu Yang yang baru saja diterima, mereka sudah menjadi pengultivasi yang memiliki kekuatan. Jika menindas seorang gadis dari dunia fana, bukankah itu hanya akan menambah karma buruk? Mereka hanya memperhatikan karena menghormati Tetua Agung. Jika Zhu Yang ingin mengurusnya sendiri, itu justru lebih baik. Sayang sekali, si cabe rawit yang pemarah ini akan berakhir tragis.
Si cabe rawit, Xie Qilan, menatap mata Zhu Yang yang meluap amarah tanpa rasa takut sedikit pun, justru berkata:
"Jangan asal bicara dan menghakimi orang lain, kau pikir kau siapa? Wajah masam seperti itu kau sebut mempesona? Benar-benar menggelikan. Lagipula, jangan urusi bagaimana caraku bisa sampai di sini. Hari ini, orang pertama yang mendaki tangga keabadian adalah aku. Sebaliknya, melihat perbedaan antara kau dan para senior di sini, jangan-jangan kau ini hanyalah ayam sayur yang bahkan belum pernah mendaki tangga keabadian? Cih..."
Setelah berkata demikian, ia berbalik dan berjalan ke sisi lain, seolah tidak takut sama sekali akan pembalasan Zhu Yang.
Dada Zhu Yang naik-turun dengan hebat. Ia hampir mati karena marah.
Dulu, dia adalah pangeran di kediaman raja, dan setelah dibawa ke Sekte Zhengguang oleh Tetua Agung, statusnya pun sangat tinggi. Belum lagi tidak ada yang berani menantangnya, jika pun ada yang membuatnya tidak senang, selalu ada pelayan yang akan menghukum orang tersebut, untuk apa dia harus turun tangan sendiri?
Sekarang, dia sebenarnya ingin menampar balik. Namun, Zhu Yang merasa dirinya adalah seorang pengultivasi, sementara lawannya hanyalah orang fana yang baru datang untuk berguru hari ini. Baik dari segi status maupun gender, dia merasa tidak pantas melakukannya di depan umum karena akan menjatuhkan martabatnya.
Namun, jika membiarkannya begitu saja... rasa sesak di dadanya tidak bisa hilang!
Yang lebih penting, Zhu Yang memang memiliki situasi khusus sehingga langsung dibawa masuk oleh Tetua Agung dan dijadikan murid, sehingga ia benar-benar belum pernah melewati ujian tangga keabadian. Setelah dikatakan begitu oleh Xie Qilan, ia merasa seolah pakaiannya dilucuti di depan umum. Ia bahkan curiga jangan-jangan para senior di sana sedang menertawakannya di dalam hati sebagai pendatang baru yang belum melewati ujian, sungguh ayam sayur.
"Hanya tangga keabadian, tunggu saja, aku akan menyelesaikannya dengan kecepatan yang jauh lebih cepat darimu!" Zhu Yang berkata dengan wajah muram kepada Xie Qilan, "Saat itu tiba, kau harus menampar dirimu sendiri sepuluh kali, lalu pergi dari gunung ini dan jangan pernah diizinkan masuk ke Sekte Zhengguang lagi!"
Jika bukan karena Sekte Zhengguang adalah sekte ternama di mana ia harus menjaga sikap di depan para senior, dia mungkin sudah memerintahkan Xie Qilan untuk bunuh diri saat itu juga.
Setelah mengatakannya, Zhu Yang merasa puas. Dengan cara ini, ia tidak hanya membuktikan bahwa dirinya bukan orang yang tidak kompeten, tetapi juga bisa membuat wanita bermulut tajam itu menghukum dirinya sendiri dan kehilangan kualifikasi untuk berkultivasi!
Tanpa pikir panjang, Zhu Yang langsung turun gunung dari sisi lain, benar-benar berniat mendaki tangga keabadian.
Para pengultivasi lain tertegun. Zhu Yang ini bahkan belum mulai berkultivasi, dan jika dia tidak takut akan karma, bukankah dia seharusnya bertarung saja di tempat? Apa yang sedang dia lakukan?
Dibandingkan dengan Zhu Yang, mereka justru lebih mengagumi si cabe rawit itu. Dia memiliki gaya seorang pengultivasi sejati, jika bisa diselesaikan dengan tindakan, maka tidak perlu banyak bicara.
Hanya saja...
"Apa kau tidak takut? Dia adalah murid kesayangan Tetua Agung kita, orang yang bisa direkrut secara khusus pasti memiliki kemampuan lebih. Jika nanti dia berhasil, kesempatan yang susah payah kau dapatkan setelah mendaki tangga ini akan hilang, kau tidak khawatir?" tanya seorang senior wanita dengan penasaran.
Xie Qilan tersenyum tipis:
"Tadi itu hanya dia yang bicara, aku tidak pernah setuju dengan syaratnya. Jika dia ingin melatih tubuhnya yang lemah dengan mendaki tangga, silakan saja, bukan aku yang memaksanya. Mengenai hal lain... aku tidak mendengar apa pun, dan itu tidak ada hubungannya denganku."
Orang-orang lain: ...
Mereka memandang Xie Qilan yang tetap tenang, lalu beralih menatap punggung Zhu Yang yang menjauh. Tiba-tiba mereka merasa, junior berwajah masam ini mungkin baru saja bertemu dengan lawan yang setimpal.