Bab 14 Penerimaan Murid
Halaman (1/3)
“Kau! Kau, kau, kau...!”
Mendengar ucapan itu, pemuda bangsawan tersebut hendak meluapkan amarah. Namun, begitu menoleh dan menyadari bahwa orang yang menyela adalah Sye Cilan, kata-kata yang hampir saja terlontar itu terpaksa ditelannya kembali. Wajahnya memerah padam. Setelah beberapa saat, barulah ia berkata,
“Siapa bilang namaku Ayam Jantan? Namaku Ouyang Jing!”
“Menurutku kau sama sekali tidak tenang,” Sye Cilan mengibaskan tangan. “Kalau berjalan, ya berjalan saja. Mulutmu terus mengoceh begitu, apa tidak lelah?”
Begitu Sye Cilan mengibaskan tangan, Ouyang Jing refleks mundur. Kakinya tersandung dan ia nyaris jatuh, tetapi adiknya, Ouyang Yue, segera menopangnya hingga ia kembali berdiri tegak.
Semua orang berjalan mengikuti sang kultivator di depan. Karena tertinggal selangkah, gerakan itu tidak terlihat oleh siapa pun.
Ouyang Jing merasa kesal.
Dia mundur bukan karena takut dipukul oleh perempuan itu!
Namun... tetapi, perempuan sinting itu bahkan berani memaki seorang tetua abadi secara langsung. Kalau dia merasa sedikit takut, bukankah itu masih bisa dimaklumi?
Emas tidak lagi memedulikan Ouyang Jing. Ia justru berjalan dengan kaki-kaki pendeknya mengikuti Sye Cilan dari belakang. Walaupun perempuan itu sama sekali tidak menoleh kepadanya, ia tetap menatapnya dengan sepasang mata besar hitam berkilau, penuh kekaguman, seolah-olah sedang memandangi bintang.
Kultivator yang memimpin mereka tentu saja melihat pertengkaran kecil itu.
Namun, tak seorang pun turun tangan.
Semua itu telah terlihat oleh para tetua di dalam aula. Tidak perlu bagi mereka untuk ikut campur.
Tentu saja, mereka tidak akan pernah mengakui bahwa salah satu alasannya adalah karena mereka juga tidak ingin mencari gara-gara dengan Sye Cilan dan yang lainnya.
Bukan karena mereka tidak sanggup mengalahkan mereka.
Melainkan karena pengorbanan dan hasilnya tidak sebanding.
Bagi seorang kultivator, berurusan dengan manusia biasa dapat menimbulkan hukum sebab-akibat yang sangat serius. Tanpa alasan yang benar-benar diperlukan, sebaiknya hal semacam itu tidak disentuh.
Terlebih lagi, gadis ini adalah orang pertama yang berhasil memanjat Tangga Pendakian ke Keabadian. Selama tidak ada masalah dari pihak Tetua Agung, kelak ia pasti akan diterima sebagai murid Sekte Cahaya Lurus.
Untuk perkara sekecil ini, tidak ada gunanya membesar-besarkannya.
Lagipula, bukankah pemuda itu yang lebih dahulu mencari masalah?
Anak muda memang harus ditempa dengan baik. Kalau tidak, setelah keluar dan menjelajah dunia, orang yang akan memberinya pelajaran bukan hanya akan memarahinya beberapa patah kata—bahkan nyawanya pun bisa direnggut.
“Di depan adalah aula utama. Bersiaplah. Penampilan kalian berikutnya akan menentukan nasib kalian setelah ini. Pastikan kalian memanfaatkannya sebaik mungkin.”
Setelah mengingatkan mereka demikian, kultivator pemandu itu tak lagi berbicara. Ia segera membawa mereka ke tempat tujuan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Di luar aula utama hanya tergantung sebuah papan nama kosong, tanpa satu huruf pun terukir di atasnya.
Bangunannya sangat indah, benar-benar sesuai dengan bayangan orang-orang tentang dunia kultivasi.
Beberapa manusia biasa yang baru memasuki dunia kultivasi itu tampak sangat tegang.
Emas memang masih kecil. Sepanjang perjalanan ia selalu bersikap patuh dan dewasa, tetapi kali ini ia tetap tak kuasa menahan diri untuk meraih rok Sye Cilan dan menggenggamnya erat.
Sye Cilan menoleh dan melirik bocah kecil itu dari sudut mata. Semula ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi begitu melihat sepasang mata bening yang penuh harap, ia mengumpat dalam hati. Lalu ia berpura-pura tidak tahu dan memalingkan wajah, membiarkan bocah itu terus menggenggam roknya.
Bocah kecil itu tersenyum dengan bibir terkatup, menampakkan dua lesung pipit. Ia sungguh menggemaskan.
Bukan hanya mereka. Bahkan Ouyang Jing, yang sepanjang perjalanan sebelumnya tampak sangat percaya diri, kini memiliki telapak tangan yang berkeringat karena mengepalkan tangannya erat-erat. Jelas, kepercayaan dirinya tidak sebesar yang ia nyatakan lewat mulut.
Rombongan itu memasuki aula.
Di dalam, mereka melihat empat kultivator agung duduk dengan khidmat di tempat masing-masing.
Yang duduk paling tinggi adalah pemimpin Sekte Cahaya Lurus. Ia memelihara janggut putih dan tampak seperti orang yang berwatak sangat baik.
Tiga kultivator lain, yang mengenakan jubah putih serupa, duduk di kedua sisi. Masing-masing memiliki wajah penuh wibawa.
Terutama orang yang duduk di sebelah kiri pemimpin sekte. Raut wajahnya sangat serius—jenis wajah yang sanggup membuat segerombolan anak kecil menangis hanya dengan sekali tatap.
Cermin air di dalam aula telah disimpan. Yang mereka lihat kini hanyalah pemimpin sekte dan tiga tetua yang menunggu kedatangan mereka.
Mereka yang sejak awal sudah sangat gugup itu mau tak mau merasa gentar oleh aura para kultivator agung tersebut. Kedua kaki mereka bahkan mulai gemetar.
Berbeda dengan Sye Cilan. Sekilas saja ia sudah mengenali keempat orang itu—ia telah melihat mereka sebelumnya di depan stan penerimaan murid.
Entah karena setelah mengalami kematian berkali-kali hatinya telah benar-benar menjadi lapang, atau karena sang pemimpin sekte dan para tetua sengaja menahan sebagian tekanan yang berasal dari tingkat kultivasi mereka, Sye Cilan tidak merasa terlalu tegang. Ia bahkan masih sempat mengamati tempat duduk mereka dan menyadari bahwa Tetua Wuxiang tidak berada di sana.
Ia meremas kantong uangnya, dengan wajah tetap datar.
“Baiklah, selamat kepada kalian semua karena telah berhasil melewati ujian penerimaan, menaklukkan tantangan Tangga Pendakian ke Keabadian, dan secara resmi menjadi murid Sekte Cahaya Lurus,” ujar sang pemimpin sekte sambil tersenyum.
“Sekarang, kita harus menentukan tujuan kalian masing-masing. Penampilan kalian sepanjang perjalanan telah diamati olehku dan para tetua. Kami sudah memiliki gambaran mengenai pilihan masing-masing. Tentu saja, kalian juga boleh menyampaikan keinginan kalian sendiri. Bagaimanapun, hubungan antara murid dan guru adalah proses saling menyempurnakan. Di bawah naungan sekteku, kami tidak memaksakan kehendak.
“Tetua Agung?”
Tetua yang memiliki raut wajah paling berwibawa itu membuka mata dan menatap sang pemimpin sekte. Dengan suara tenang, ia berkata,
“Aku tidak perlu. Sebelumnya telah kukatakan bahwa Zhu Yang akan menjadi murid terakhirku. Mulai sekarang, aku tidak akan menerima murid lagi. Silakan kalian memilih!”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Tetua Kedua langsung tertawa.
“Hahahaha! Kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi! Bocah kecil itu bernama Emas, bukan? Bagaimana kalau kau menjadi muridku?”
Emas tidak segera maju. Ia malah mengangkat kepala dan menatap Sye Cilan.
Sye Cilan mendorongnya ke depan.
“Kau bodoh, ya? Cepat maju, bersujud, dan panggil dia Guru.”
Setelah memperoleh izin, Emas pun berlari kecil ke depan dengan langkah riang. Tanpa ragu, ia langsung menjatuhkan diri berlutut dengan suara gedebuk, lalu membenturkan kepalanya ke lantai berkali-kali dengan suara nyaring.
“Guru!”
Dahinya seketika memerah. Jelas sekali ia bersujud dengan segenap tenaga.
“Baik!” Tetua Kedua menjawab dengan riang. Ia memberi isyarat agar Emas berdiri di sisinya. “Kau anak yang jujur dan polos. Ayo, berdirilah di sebelah Guru.”
Tetua Ketiga melirik Tetua Kedua yang telah menerima murid, lalu menatap sang pemimpin sekte.
“Kalau begitu, sekarang giliranku?”
Sang pemimpin sekte mengulurkan tangan.
“Silakan, silakan.”
Tetua Ketiga kemudian memandang Ouyang Yue.
“Menurut pengamatanku, kau...”
“Tunggu dulu!”
Sebuah suara tiba-tiba menyela ucapan Tetua Ketiga. Orang-orang lain pun melihat seorang kultivator perempuan yang mengenakan gaun merah muda melangkah cepat dan muncul di tempat duduk lain.
“Bukankah sebelumnya sudah disepakati bahwa aku yang memilih lebih dahulu? Kali ini kalian tidak boleh berebut denganku.”
“Adik Bungsu?”
Tetua Ketiga dan beberapa orang lainnya menoleh. Tatapan Sye Cilan dan yang lain pun ikut beralih ke sana.
Kultivator perempuan yang duduk di tempat itu memiliki wajah seorang jelita. Rambutnya disanggul tinggi dengan hiasan yang anggun, memancarkan pesona luar biasa. Walaupun jelas bahwa usia kultivator tersebut pasti sudah tidak muda lagi, gaun yang dikenakannya, dipadukan dengan wajah secantik itu, membuat daya tarik feminin dan keceriaan seorang gadis seolah-olah menyembur ke segala arah.
Pantas saja orang-orang berkata bahwa dunia kultivasi tidak pernah kekurangan perempuan cantik.
Setidaknya, dari semua orang yang mereka lihat saat ini—termasuk para lelaki tua berjanggut putih—tak seorang pun yang pantas disebut buruk rupa.
Dan kultivator perempuan ini tanpa diragukan lagi adalah salah satu yang tercantik di antara mereka.