Pada usia tujuh puluh sembilan tahun, ia kembali melangkahkan kaki ke kantor pemerintahan.
Anak buah pria bertato itu semuanya ketakutan sampai tak bisa berkata-kata. Beberapa yang berdiri dekat bahkan sampai terkencing-kencing di celana karena saking takutnya. Sudah sekian lama mereka berkecimpung di dunia seperti ini, tapi baru kali ini melihat seseorang dipukuli sampai sebegitu parahnya. Terlebih lagi, selama proses itu, wajah Li Cha sama sekali tidak memperlihatkan emosi, tidak ada sedih maupun senang, menunjukkan mental yang sangat kuat. Mental seperti itu, bukankah itu seperti pembunuh berdarah dingin yang hanya ada dalam cerita-cerita?
Bahkan pria bertato yang tadi begitu keras kepala pun akhirnya tak sanggup bertahan, mulai memohon ampun pada Li Cha.
“Tuan muda, ampun, saya salah! Jangan lagi, tolong lepaskan saya! Kalau kau lanjutkan, seumur hidup saya akan jadi lumpuh!” Pria bertato itu merintih sambil menangis.
“Tadi bukankah sudah kuberi kesempatan? Aku suruh kamu cepat-cepat pergi, kan?” Li Cha menarik kerah baju pria itu dan bertanya dengan dingin.
“Sudah, sudah, Tuan sudah beri saya kesempatan!” pria bertato itu cepat-cepat menjawab.
“Sudah dikasih kesempatan, tapi memang dasar tak berguna!” ucap Li Cha, lalu sebuah botol minuman dihantamkan ke wajah pria bertato itu, membuat tulang pipinya langsung patah.
Anak buah yang lain tak tahan untuk melihat lagi, bahkan tulang di wajah pun tidak dibiarkan utuh!
Akhirnya, Li Cha berdiri, mengusap peluh di dahinya. Memukuli orang ternyata juga menguras tenaga.
Li Cha mengitari pria bertato itu dua kali, hendak berbalik pergi, tapi tiba-tiba matanya tertumbuk pada satu bagian tubuh pria itu. Benar juga, masih ada satu tulang lagi di sana!
Tanpa ragu, Li Cha mengangkat kakinya dan menginjak selangkangan pria bertato itu. Ia mengatur kekuatan dengan pas, tendangannya tidak sampai membunuh, tapi patah tulang jelas tak bisa dihindari.
Setelah memastikan semua tulang luar pria bertato itu sudah remuk, Li Cha baru merasa puas dan mengangguk.
“Kalian punya waktu tiga menit, cepat enyah dari sini. Jangan sampai aku melihat kalian lagi,” Li Cha berkata dengan suara dingin.
Anak buah pria bertato itu seperti mendapat pengampunan, tanpa berkata sepatah pun, mereka segera mengangkat bos mereka dan lari terbirit-birit.
Tiga menit kemudian, Li Cha membuka pintu toilet di dalam ruang karaoke, lalu tersenyum pada orang-orang yang bersembunyi di dalamnya, “Kalian boleh keluar, sudah selesai.”
Sudah selesai?
Anak-anak di bagian seni keluar dari toilet satu per satu. Mereka mendapati ruang karaoke berantakan, tapi pria bertato dan anak buahnya sudah raib entah ke mana.
Tadi saat di dalam toilet, mendengar jeritan menyayat hati dari luar, Zhao Feixue sempat beberapa kali ingin keluar untuk melihat keadaan, tapi selalu ditahan oleh Deng Lan.
Beberapa saat kemudian, suara jeritan itu hanya tinggal satu, dan terdengar berat, jelas bukan suara Li Cha.
Saat semua sedang cemas, pintu terbuka, dan Li Cha muncul di hadapan mereka.
Semua tampak bingung, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa masalah bisa selesai begitu saja.
“Pria bertato dan anak buahnya ke mana?” tanya Zhao Feixue dengan heran.
“Saya sudah beri mereka nasihat, mereka sadar atas kesalahan mereka dan kabur. Mereka malu bertemu kalian lagi,” jawab Li Cha sambil tersenyum.
“Kau beri nasihat? Serius?” Zhao Feixue jelas tidak percaya.
“Feixue, lebih baik kita segera pergi dari sini, cari tempat yang lebih aman, baru kita bicara lagi,” Deng Lan mengingatkan.
“Kau benar, ayo kita pergi!” kata Zhao Feixue, lalu mengajak semua orang keluar dari KTV.
Namun, baru saja sampai di pintu, tiga mobil kepolisian mendadak meluncur dan menghadang mereka.
Pintu mobil terbuka, belasan polisi bersenjata lengkap turun dan mengepung Li Cha serta rombongannya.
“Siapa di antara kalian yang bernama Li Cha?” seru salah satu polisi dengan suara keras.
Mengingat ucapan pria bertato tadi, bahwa wilayah ini dikuasai oleh kawannya, Li Cha langsung memahami situasi. Ternyata pria bertato itu masih belum menyerah, ingin membalas dendam. Baiklah, kalau begitu, dia akan melayani sampai selesai.
Li Cha berdiri di tengah kerumunan, diam-diam memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengirim pesan ke Deng Lan, hanya berupa nomor telepon.
“Hubungi nomor ini,” bisik Li Cha pelan di telinga Deng Lan.
Deng Lan sempat terkejut, lalu melihat pesan di ponselnya, paham maksud Li Cha, dan mengangguk.
Setelah itu, Li Cha melangkah keluar dari kerumunan, berhadapan langsung dengan polisi tadi. “Saya Li Cha, ada apa?”
“Kau diduga melakukan penganiayaan berat, sekarang harus ikut kami ke kantor untuk diperiksa!” kata polisi itu.
“Kakak senior, kalian pergi dulu saja. Aku ada urusan yang harus kuurus,” kata Li Cha.
“Tapi bagaimana denganmu?” Zhao Feixue cemas. Li Cha melakukan ini demi membantu mereka, kalau sampai terjadi sesuatu, dia takkan bisa tenang.
“Tenang saja, aku benar-benar baik-baik saja. Tadi aku bisa membuat pria bertato itu pergi, apa kau masih tidak percaya pada kemampuanku membujuk orang?” Li Cha tersenyum.
Zhao Feixue ingin bicara lagi, tapi Deng Lan menahan lengannya.
Li Cha pun berbalik dan melangkah gagah menuju mobil polisi, lalu duduk di dalamnya.
Para polisi bersenjata juga naik ke mobil. Tiga mobil polisi itu pun melaju kencang meninggalkan tempat.
Melihat mereka sudah pergi, anak-anak bagian seni saling berbisik, tapi hanya membicarakan kekhawatiran, tak ada satu pun yang bisa memberi saran yang berguna.
Zhao Feixue meminta semua orang naik taksi kembali ke kampus, karena tempat ini tidak aman. Anak buah pria bertato bisa muncul kapan saja.
Di dalam taksi, Deng Lan mengeluarkan ponselnya, membuka pesan dari Li Cha, dan menekan nomor yang dikirimkan tadi.
“Halo, saya temannya Li Cha...”
...
Di ruang interogasi kantor polisi, Li Cha duduk sambil memejamkan mata, menunggu saudara pria bertato itu datang menemuinya.
Ini adalah kali kedua Li Cha masuk ruang interogasi. Dulu, yang menginterogasi adalah seorang polwan muda yang ramah, entah kali ini akan seperti apa.
Tak lama kemudian, pintu ruang interogasi terbuka, masuklah seorang polisi bertubuh gemuk dan berkulit gelap.
Li Cha berkata dalam hati, “Akhirnya datang juga.”
Polisi gemuk itu adalah kepala tim di kantor tersebut, bermarga Zhang.
Kepala Zhang melangkah santai ke kursi di balik meja interogasi, lalu duduk.
“Ptui!” Belum berkata apa-apa, ia meludah sembarangan.
“Nama,” Kepala Zhang melirik Li Cha dengan malas.
Li Cha diam saja, bahkan tidak membuka matanya.
Plak!
Kepala Zhang membanting meja. “Hei, bocah! Aku sedang bertanya padamu!”
Perlahan, Li Cha membuka matanya. Sepasang mata tajam menatap lurus ke Kepala Zhang.
Raut muka Kepala Zhang yang tadinya galak, tiba-tiba ciut. Entah kenapa, hanya dengan satu tatapan, ia merasa nyalinya menguap. Ia menatap Li Cha dengan bingung, tak mengerti kenapa hanya satu pandangan saja bisa membuatnya begitu gentar.
“Tak perlu basa-basi. Pria bertato itu aku yang pukuli. Kau mau apa?” jawab Li Cha dengan santai.
“Baiklah, kalau kau sudah mengaku, katakan saja, kenapa kamu memukulnya, dan begitu kejam pula,” Kepala Zhang mencoba mengendalikan emosi dan melanjutkan pertanyaan.
Dia tidak menyangka Li Cha akan begitu mudah mengaku. Bagus, kalau sudah mengaku, urusan berikutnya jadi lebih mudah.
“Kejam? Aku hanya memberinya pelajaran kecil yang sangat ringan,” ucap Li Cha datar.
“Kurang ajar! Kau pikir hukum tidak berlaku bagimu?” Kepala Zhang kembali menaikkan suaranya.
“Hukum? Kalau begitu aku tanya, apakah hukum masih berlaku di matamu? Apa hubunganmu dengan pria bertato itu? Apa saja yang kalian lakukan bersama? Kalian kira tidak ada yang tahu?” balas Li Cha.
“Haha, bocah, tampaknya aku harus menambah daftar kesalahanmu. Menfitnah polisi, hukumannya bertambah berat!” Kepala Zhang berkata.
Memang banyak yang tahu bahwa ia dan pria bertato itu bersaudara. Tapi sayangnya, belum pernah ada bukti nyata mereka berbuat kejahatan bersama, sehingga mereka tetap bebas berkeliaran.
“Fitnah? Baik, aku akan jelaskan.”
“Tak usah bicara yang terlalu jauh, cukup yang baru-baru ini. Bulan lalu, pria bertato itu membuka kasino gelap, kau yang melindungi, dan dia memberimu tiga puluh persen dari keuntungan, semuanya dalam bentuk tunai. Uang itu kau sembunyikan di celah dinding rumahmu. Kurasa uang itu belum habis, kan?”
Li Cha menatap mata Kepala Zhang, mengucap setiap kata dengan jelas.
Apa?!
Mendengar ucapan Li Cha, wajah Kepala Zhang langsung pucat pasi, kepalanya berdengung, nyaris pingsan.
Soal itu hanya dirinya sendiri yang tahu, bagaimana bocah di depannya bisa tahu?
Apa mungkin pria bertato yang mengatakan? Tak mungkin. Kepala Zhang segera membuang pikiran itu. Pria bertato itu tahu betul, mereka satu kapal, kalau dirinya jatuh, pria bertato itu juga tamat. Dia pasti tidak berani bicara sembarangan.
Lalu, dari mana bocah ini tahu?
Kepala Zhang memang tak tahu, tapi yang pasti, hari ini ia tak boleh membiarkan bocah ini keluar dari ruangan ini.
Memikirkan itu, Kepala Zhang berdiri, mengeluarkan sehelai kain hitam dari saku, lalu menutup kamera pengawas di ruang interogasi. Ia menoleh pada Li Cha dan berkata, “Bocah, tadinya aku masih ingin memberimu jalan keluar, tapi kau tahu terlalu banyak. Jangan salahkan aku kalau harus bertindak kejam.”