Bab 3: Waktu Menghilang di Pegunungan

Satu Nafas Mengejar Keabadian Pesona Mabuk di Selatan Sungai 2322kata 2026-02-09 11:17:39

Di bawah bimbingan seorang pengurus, Li Xu menerima perlengkapan yang dibagikan lalu menuju ke tempat tinggal barunya. Di lereng timur puncak Gunung Awan Melayang, deretan paviliun kecil tersebar laksana bintang di langit. Setiap paviliun dilindungi oleh formasi yang dipasang oleh para ahli formasi puncak. Mereka yang belum mencapai tingkat dasar tak dapat masuk tanpa tanda pengenal, agar ketenangan para murid yang sedang berlatih tak terganggu.

Tempat tinggal Li Xu adalah salah satu paviliun kecil bernomor tujuh milik sekte. Ia menggesekkan tanda pengenalnya di nomor pintu, formasi perlindungan terbuka, dan di halaman kecil itu tumbuh barisan tanaman hijau yang menyerupai serat pedang di sepanjang dinding. Ada sumur di tengah halaman, dan di ujung halaman berdiri sebuah rumah bambu mungil.

Dengan tanda pengenal, Li Xu membuka penghalang rumah bambu itu. Di dalamnya sangat sederhana: sebuah tikar meditasi di tengah ruangan, sebuah ranjang batu di sampingnya, dan beberapa perlengkapan hidup. Ia meletakkan pakaian dan barang-barang yang diterimanya di atas ranjang batu, menatap sekeliling sekali lagi, menghela napas dalam-dalam. Tiga tahun ke depan akan ia habiskan di sini. Hidupnya, apakah akan menjadi naga atau ulat, akan ditentukan oleh usahanya dalam tiga tahun ini!

Setelah menenangkan diri, Li Xu membuka pakaian barunya. Sebuah jubah dao berwarna biru—khusus buatan sekte, tahan api dan air, cukup dibersihkan dengan sentuhan energi spiritual agar tampak seperti baru. Sebuah pedang pusaka dari logam murni, sebuah buku panduan masuk, sebuah kantung berisi tiga puluh butir Pil Penahan Lapar, serta sebuah kitab suci berjudul "Ilmu Memelihara Qi", yang merupakan metode latihan dasar bagi anggota baru Sekte Keheningan Ilahi.

Dalam buku panduan disebutkan berbagai peraturan luar sekte, termasuk anjuran agar semua murid berlatih sesuai "Ilmu Memelihara Qi". Selama tiga tahun pertama, murid baru diperbolehkan mengonsumsi Pil Penahan Lapar untuk berlatih; satu butir dapat menahan lapar selama tiga hari, dan setelah habis dapat mengambil lagi dengan tanda pengenal.

Setiap awal bulan, para guru tingkat dasar akan mengajar seni keabadian serta menjawab pertanyaan di aula utama puncak tengah. Semua murid luar sekte bebas memilih untuk ikut mendengarkan atau tidak.

Pada tikar meditasi di rumah, telah dipasangi formasi penarik energi sederhana oleh murid bagian formasi. Duduk di atasnya dapat membantu latihan.

Setelah membaca semua penjelasan itu, Li Xu membersihkan diri, mengganti dengan jubah dao, lalu mengambil satu butir Pil Penahan Lapar dan kitab Ilmu Memelihara Qi. Ia duduk bersila di atas tikar meditasi, lalu menelan pil itu.

Sekejap perutnya terasa hangat, semangatnya pun segar bugar. Ia merasakan keajaiban benda-benda para dewa itu! Kemudian ia membuka kitab Ilmu Memelihara Qi, membacanya dengan saksama. Tiga hari penuh ia habiskan mempelajari kitab itu, dan baru berhenti ketika rasa lapar mulai muncul.

Kitab Ilmu Memelihara Qi hanya beberapa lembar tipis. Bagian awal berisi metode latihan qi, sedangkan bagian akhir memuat lima teknik dasar yang sesuai dengan lima unsur: logam, kayu, air, api, dan tanah.

Selama tiga hari itu, Li Xu tak langsung memulai latihan, melainkan mengulang-ulang membaca kitab itu belasan kali, menelaah setiap kata dan kalimat, memahami benar teknik penarikan qi, memastikan ia benar-benar mengerti.

Setelah meletakkan kitab Ilmu Memelihara Qi, Li Xu kembali mengingat seluruh metode penarikan qi. Setelah yakin telah menguasainya, ia menelan lagi satu butir Pil Penahan Lapar, lalu mulai latihan penarikan qi dengan menutup mata.

Sesuai petunjuk kitab, ia memusatkan pikiran di dan tian, mengumpulkan energi spiritual sekitar perlahan seiring napas, lalu mengalirkannya dalam tubuh sesuai urutan besar sirkulasi qi.

Berkali-kali ia mengalirkan qi, hingga tak terasa waktu berlalu. Li Xu pun semakin tenggelam dalam keheningan, pikirannya hening dan bersih.

Tiba-tiba ia merasakan hawa hangat muncul dari dan tian, mengalir ke seluruh titik energi tubuhnya, hingga setelah melengkapi satu sirkulasi besar, seluruh tubuh terasa nyaman tak terkira.

Kini ia benar-benar dapat merasakan energi spiritual lembut meresap ke dalam kulit, seolah seluruh pori tubuhnya hidup dan bernapas, tubuhnya serasa berendam di air panas.

Li Xu tahu, sejak saat ini ia telah menapaki jalan mengubah takdir, meraih keabadian!

Tiga bulan berikutnya, selain setiap tiga hari menelan satu butir Pil Penahan Lapar, Li Xu hanya fokus menyerap energi spiritual sekitarnya, mengalirkan qi dalam tubuh, perlahan mengubahnya menjadi kekuatan dalam dan tian.

Seiring waktu, pemahamannya terhadap energi spiritual pun kian mendalam. Dalam kesadarannya, energi itu perlahan berubah dari tak kasat mata menjadi berwarna-warni, dan tingkat kecocokan tiap warna dengan dirinya pun berbeda.

Hingga suatu hari, saat kesadarannya terguncang, energi spiritual langit dan bumi tiba-tiba menjadi sangat hidup. Li Xu dapat jelas merasakan energi di sekitarnya beraneka warna; di antara semuanya, energi logam berwarna emas dan energi air berwarna biru muda paling cocok dengannya, sementara energi api berwarna merah dan lainnya terasa asing.

“Benar, jenis energi spiritual yang bisa diserap memang bergantung pada akar spiritual seseorang!”

Li Xu tahu ia telah menembus tingkat pertama latihan qi, memasuki tingkat kedua. Ia berdiri perlahan, bersyukur dalam hati. Saat memeriksa Pil Penahan Lapar, hanya tersisa dua butir. Kurang dari tiga bulan ia sudah mencapai tingkat dua, meski tak tahu seberapa cepat orang lain, tetapi mengingat syarat menembus tingkat tujuh dalam tiga tahun, ia cukup puas dengan kemajuannya.

Tiga bulan sejak naik gunung, ia nyaris tak pernah keluar dari paviliunnya. Li Xu pun merasa betapa asyiknya tenggelam dalam latihan hingga lupa segalanya.

Namun persediaan Pil Penahan Lapar telah menipis, perlu mengambil lagi. Selain itu, ia hanya mengandalkan diri sendiri dalam berlatih; perlu juga bertanya pada guru apakah ada jalan pintas, sekaligus ingin mengenal lebih jauh kehidupan di sekte. Maka ia putuskan beberapa hari ke depan akan berinteraksi dengan sesama murid, dan awal bulan nanti akan mendengarkan pelajaran guru.

Setelah yakin dengan keputusannya, ia merapikan diri dan keluar dari paviliun. Sekeliling halaman sangat sunyi, tampaknya para murid lain juga sibuk berlatih.

Berdasarkan petunjuk di buku, tak lama kemudian Li Xu sampai di puncak tengah. Ia melihat deretan bangunan berwarna abu-abu dan putih saling terhubung, bertingkat-tingkat megah.

Di depan, berdiri sebuah gapura batu giok dengan tulisan “Paviliun Awan Melayang” di atasnya. Di bawah gapura itu, ada sebuah layar batu yang mencantumkan letak dan fungsi setiap bangunan.

Li Xu membaca satu per satu, dan menemukan bahwa selain dapat mengikuti pelajaran guru di Aula Ajaran, dengan tanda pengenal ia bisa mencicipi makanan spiritual di Gedung Santapan Rohani, mengambil satu senjata di Gedung Senjata Emas, serta membaca koleksi buku luar sekte di Gedung Kitab Giok, termasuk pengalaman berlatih para murid generasi sebelumnya.

Setelah meneliti semuanya, Li Xu memutuskan untuk mencicipi makanan spiritual terlebih dahulu. Tiga bulan hanya mengandalkan Pil Penahan Lapar, meski tidak lapar, namun ia sudah sangat merindukan makanan spiritual itu.

Di Gedung Santapan Rohani, aula luas di lantai satu hanya berisi beberapa murid yang sedang makan, selain beberapa murid yang bertugas menyiapkan makanan.

Li Xu menyerahkan tanda pengenalnya, dan seorang murid dapur memeriksanya, lalu memberinya seporsi makanan spiritual, yang ternyata sangat sederhana—hanya sejumput nasi spiritual.

Li Xu duduk di meja makan, mencicipi nasi spiritual itu. Begitu masuk ke mulut, berubah menjadi setetes energi murni dalam tubuh, meski sedikit tapi jauh lebih berkualitas daripada energi yang diserap lewat latihan biasa. Hanya saja, karena tiap hari hanya diberikan satu porsi, tak mungkin mengandalkannya untuk berlatih.

Usai makan, Li Xu melangkah ke Gedung Kitab Giok. Setelah tanda pengenal diperiksa oleh penjaga, ia masuk ke dalam.

Di pintu masuk berdiri sebuah layar giok yang menjelaskan isi setiap lantai. Gedung ini terdiri dari tiga lantai: lantai pertama berisi catatan geografi dan kisah-kisah ajaib, lantai kedua berisi pengalaman berlatih para murid luar sekte, dan lantai tiga berisi teknik dan seni keabadian.

Lantai satu dan dua dapat diakses hanya dengan tanda pengenal, sedangkan lantai tiga memerlukan kontribusi khusus pada sekte, khusus bagi murid yang hendak menghadapi bahaya di luar.

Ada berbagai cara mendapatkan kontribusi untuk sekte; menulis pengalaman latihan sendiri lalu menyerahkannya ke Gedung Kitab Giok, selama isinya bermanfaat dan baru, juga akan mendapatkan kontribusi. Karena itu koleksi pengalaman di lantai dua sangat banyak.