Perubahan iklim yang tak terduga menyebabkan tanaman tumbuh dengan cara yang melawan hukum alam. Lingkungan hidup manusia pun memburuk dengan cepat. Dalam waktu hanya satu tahun, hutan-hutan telah men
Begitu pintu bus terbuka, Luo Yuan langsung berdesakan turun bersama arus penumpang. Kemeja putihnya sudah basah kuyup oleh keringat, penuh bercak noda dan bekas tangan yang acak-acakan. Setiap hari naik bus bagi Luo Yuan seperti mimpi buruk yang harus diulang terus-menerus, menguji kesabaran dan ketahanan sarafnya hari demi hari!
"Cuaca ini semakin panas saja," gumam Luo Yuan sambil menarik-narik kerah bajunya yang lepek. Ditambah lagi hari ini ia menghadapi pelanggan yang sulit, membuat suasana hatinya semakin jengkel. Dengan map kerja di tangan, ia mempercepat langkah menuju kawasan perumahan Jingyue yang tak jauh dari situ.
Jingyue terletak di pinggiran Kota Danau Timur, berjarak belasan halte dari pusat kota. Meski demikian, harga sewanya tidak murah. Saat ini Luo Yuan tinggal bersama sepasang kekasih, menyewa apartemen dua kamar tidur dengan fasilitas dapur dan kamar mandi lengkap. Sewa bulanan tiga ribu, ia hanya menanggung seribu dua ratus, terbilang sangat terjangkau untuk kota metropolitan seperti ini. Walau kadang kurang nyaman, rekan serumahnya cukup baik dan hubungan mereka pun cukup akrab.
Aroma segar rumput terpotong tercium dari kejauhan. Beberapa pekerja tengah mendorong mesin pemotong rumput membersihkan taman perumahan.
"Kenapa ini? Bukannya baru beberapa hari lalu rumput sudah dipotong?" pikir Luo Yuan heran. Saat menengok ke lahan rumput yang belum dibersihkan, ia baru sadar, rumputnya tumbuh sangat cepat, hampir setengah kaki tingginya. Ia melirik pula ke pohon-pohon di sekitarnya; tampak lebih tinggi dan