Orang yang paling ingin aku ajak bermain film adalah suamiku sendiri, tapi dia selalu meremehkan aktingku.
Di luar jendela, langit tampak suram dan kelabu, tetesan hujan sebesar kacang kedelai jatuh dari angkasa, menghantam ambang jendela dengan suara gemericik yang ramai. Suara tetesan hujan itu membangunkan Jaya. Ia membuka mata dengan setengah sadar, dan yang pertama dirasakannya adalah nyeri hebat di kepalanya, seolah akan meledak. Semalam ia sudah bilang tidak akan minum lagi, berniat menemani pria murung menikmati teh untuk menghilangkan mabuk, namun beberapa teman memaksa agar ia menenggak minuman lagi. Akibatnya, sekarang kepalanya terasa seperti akan pecah.
Perlahan-lahan, Jaya mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ingatan yang membanjiri benaknya membuatnya kebingungan. Pertama, namanya adalah Jaya, bukan Jaha. Kedua, pria bernama Jaya ini baru berusia dua puluh lima tahun, lulusan jurusan seni peran. Meski bukan pemeran utama, ataupun pemeran kedua atau ketiga, dalam sebuah serial televisi ia setidaknya memerankan tokoh pendukung dengan dua hingga tiga halaman dialog, mungkin berkat statusnya sebagai lulusan seni peran.
Namun, pria bernama Jaya ini kini sudah menikah. Berdasarkan ingatan di kepalanya, istrinya adalah sutradara dari salah satu drama yang ia perankan. Mereka menikah bukan karena cinta, melainkan karena ibu Jaya sakit dan membutuhkan banyak uang untuk berobat. Istrinya yang seorang sutradara menawarkan sebuah kontrak pernikahan, dan Jaya yang baru lulus dan tak memiliki cukup uang untuk biaya pengobatan, terpaksa menandatangani kontrak tersebut.
Isi kontraknya sederhana. Istrinya membiayai pengobatan ibu Jaya, dan setiap bulan memberika