Bab 79 – Kakak Ipar
"Pak Feng, Anda tidak mengeluarkan uang sepeser pun, tapi masih ingin saya memperlihatkan bokong saya, bukankah itu sudah keterlaluan!?"
Chen Jiahui tertegun.
Ia sama sekali tak menyangka Pak Feng bisa mengajukan permintaan yang begitu tak masuk akal, namun memang setiap sutradara punya gayanya sendiri, susah juga menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Lagipula, seperti yang dikatakannya, memang ada penonton yang suka dengan adegan seperti itu. Hanya saja, Chen Jiahui sendiri tak bisa menerima. Ia mengerutkan dahi dan berkata, “Itu sudah batas maksimal yang bisa saya lakukan.”
"Anak muda, jangan kolot begitu. Toh cuma setengah saja. Kalau aku yang main, penonton pasti jijik. Makanya kesempatan ini jatuh ke tanganmu," bujuk Pak Feng.
"Tidak bisa," jawab Chen Jiahui dengan tegas.
"Harus bisa!" Nada Pak Feng langsung berubah ketus. "Kalau begitu, aku kasih honor deh. Pokoknya, kalau mau adegan ini bagus, kamu harus sedikit berkorban. Aku bilang ya, kamu laki-laki, juga nggak buka semuanya, kenapa takut? Dulu waktu aku bikin film perang, ada adegan pemeran perempuan harus buka atasan, dia juga langsung setuju, nggak banyak protes. Sebagai aktor profesional, kalau mental berkorban saja nggak ada, gimana mau main film? Siapa juga nanti yang mau pakai kamu? Dengar aku, buka sedikit, hari ini kamu mau, besok-besok aku masih bakal cari kamu!"
Karena sudah tidak ada titik temu, Chen Jiahui pun malas berdebat lagi.
Kadang memang begitu, saat syuting, sutradara tiba-tiba dapat inspirasi baru. Ada yang masuk akal, seperti mengubah dialog atau alur cerita, ada juga yang kelewat batas.
Tentu saja, selama permintaannya tidak terlalu berlebihan, aktor umumnya akan mengikuti.
Tapi Chen Jiahui berbeda. Ia memang tidak terlalu suka memerankan karakter semacam ini, bukan soal besar kecilnya peran, karena dalam satu film, yang ada hanya peran kecil, bukan aktor kecil.
Tapi soal memperlihatkan setengah bokong, itu sudah di luar batas toleransinya.
Di kehidupan sebelumnya, meski ia pernah dipaksa oleh pihak modal untuk main di film dengan adegan dewasa, biasanya perempuan yang harus berkorban lebih banyak, sedangkan dia hanya berperan sewajarnya.
"Pak Feng, maaf," ucap Chen Jiahui.
"Kenapa keras kepala sekali, sih! Sebagai aktor, harus bisa berkorban untuk penonton. Kamu bukan perempuan, kenapa mesti malu-malu?" Pak Feng kesal.
"Kenapa kamu maksa-maksa Chen Jiahui buat buka bokong, hah?!" Pak Guru Chen Dao tiba-tiba angkat suara, "Kalau kamu suka yang begituan, mending syuting film di luar negeri sana!"
"Aku ini mikirin kualitas film!" setelah kena semprot, wajah Pak Feng langsung berubah, nadanya pun melunak.
Dari sini terlihat, posisi Pak Guru Chen Dao di dunia hiburan memang tinggi. Bicara dengan sutradara pun bisa sesantai itu, dan Pak Feng, meski kesal, tetap harus menjelaskan.
"Jangan samakan penonton dengan pikiran kotormu," Pak Guru Chen Dao tertawa mencibir. Lalu ia menoleh ke Chen Jiahui, "Syuting saja seperti tadi."
Begitu Chen Jiahui pergi, Pak Feng berbisik pelan, "Kamu nggak lihat tadi? Banyak aktris yang ngelirik bokong si anak itu. Makanya, aku pikir, kalau aktris saja suka, penonton perempuan pasti lebih suka. Bisa-bisa ini jadi daya tarik film. Lao Chen, karena kamu yang ajak dia hari ini, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Coba kamu bujuk dia, biar buka sedikit saja."
"Sudah, syuting saja! Dia datang cuma-cuma saja sudah terima kasih, kalau kamu maksa, semua jadi nggak nyaman, besok-besok jangan harap ada kerja sama lagi," kata Pak Guru Chen Dao, lalu tak mau lagi meladeni Pak Feng.
Ia punya prinsip sendiri, kalau mengajak orang membantu, jangan buat mereka kesulitan.
Apalagi ini cuma syuting, masa harus buka bokong segala?
"Sungguh disayangkan," Pak Feng menoleh ke sekeliling. Melihat beberapa aktris masih melirik punggung Chen Jiahui, ia tak kuasa bergumam demikian.
Sebagai pria, ia sendiri merasa bokong Chen Jiahui tak ada yang istimewa, tapi pengalaman sebagai sutradara membuatnya paham satu hal.
Jika para aktris saja sering melirik diam-diam, sudah pasti itu sesuatu yang menarik, dan bisa jadi nilai jual di box office.
Tapi Chen Jiahui menolak.
Ia pun tak bisa berbuat apa-apa.
Mungkin memang penonton perempuan dan setengah bokong Chen Jiahui belum berjodoh. Mau memaksa pun ia tak berani, pertama karena ada Pak Chen Dao, kedua, Chen Jiahui juga tidak dibayar. Apa haknya memaksa? Terlebih lagi, ayah mertua Chen Jiahui adalah Zhou Yu.
Pak Feng dan Zhou Yu seumuran.
Dua puluh tahun lalu, Zhou Yu pernah membuat film laga yang sangat sukses. Pak Feng sempat ikut-ikutan, dan karena pertama kali, ia sampai datang ke lokasi syuting Zhou Yu untuk belajar. Mereka pun jadi kenal.
Saat belajar itu, ia sendiri pernah menyaksikan Zhou Yu mengirimkan naskah berisi peluru ke rumah seorang aktor yang menolak main di filmnya. Akhirnya aktor itu pun menurut, dan syuting selesai tanpa diberi bayaran, karena Zhou Yu merasa harga dirinya telah direndahkan.
Dengan semua pertimbangan itu, meski sangat ingin Chen Jiahui buka sedikit, ia tak berani memaksa, karena memang tak punya alasan yang kuat.
Tentu saja.
Kalau Chen Jiahui sendiri yang setuju, lain soal.
Sayangnya, Chen Jiahui yang masih muda ini sama sekali tidak menunjukkan semangat berkorban. Ia tidak membayangkan, saat film tayang nanti, ribuan penonton perempuan berteriak histeris karena melihat setengah bokongnya, bisa jadi itu membawa keberuntungan dan namanya langsung melejit.
Setelah pemeran Kakak Ipar, Xu Dong, selesai merias diri, syuting pun berlanjut.
Chen Jiahui membanting Kakak Ipar ke atas kap mesin mobil, Kakak Ipar berusaha keras melawan.
Tapi pemeran preman yang dimainkan Chen Jiahui menampar keningnya, dan Kakak Ipar tiba-tiba tertawa cekikikan. Ini untuk menyambung adegan sebelumnya, di mana ia menggoda Chen Jiahui, sambil tetap berusaha menjaga citra diri.
Mengikuti alur yang telah ditetapkan, Chen Jiahui meraih pinggiran rok panjang hitam Kakak Ipar, menariknya ke bawah bersama properti yang disembunyikan di balik rok.
Ia lalu membuka resleting celana, menggulung rok Kakak Ipar, dan menindihnya.
Di layar monitor, Chen Jiahui terlihat menggertakkan gigi, sorot matanya garang.
Sementara ia menindih, satu tangannya tetap menekan kepala Kakak Ipar ke kap mesin.
Karena hanya menyorot ekspresi dan gerak punggung, sebenarnya Chen Jiahui hanya berpura-pura menindih, jarak di antara mereka tetap dijaga. Dalam proses itu, sebagai aktris profesional, Kakak Ipar menggerakkan kakinya untuk membuat tubuhnya maju mundur.
Inilah yang dinamakan adegan dewasa ala profesional.
Meski berjarak, hasil akhirnya tetap bisa terlihat panas dan membakar emosi penonton.
Demi totalitas, Chen Jiahui mengganti posisi tangan dari kepala ke tengkuk Kakak Ipar, sembari mengurangi tekanan, yang disebut dengan teknik pengembangan dan penyesuaian adegan, sementara itu Kakak Ipar mengeluarkan erangan tertahan, setengah nikmat, setengah sakit, mirip pengisi suara profesional.
Walau ini adegan panas, Chen Jiahui tetap merasa tersiksa, sama sekali tidak menikmati. Ia harus membagi fokus antara ekspresi dan gerak, juga tetap menjaga jarak, agar tidak bersentuhan langsung dengan tubuh Kakak Ipar.
Adegan ini harus diulang empat sampai lima kali.
Tiga kali gagal karena Xu Dong, pemeran Kakak Ipar, tidak tahan dan tertawa, satu kali lagi karena Chen Jiahui saat menarik properti, malah ikut menarik lakban.
Begitu Pak Feng berteriak "cut", Chen Jiahui langsung lunglai di kursi, kelelahan seperti kehilangan tenaga. Adegan seperti ini sangat menguras fisik dan mental.
Terlebih, bedanya dengan aktor lain, Chen Jiahui tidak memanfaatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan.
Sementara dalam adegan dewasa, jika tak mengambil kesempatan, tuntutan profesionalisme justru lebih tinggi.