Bab 97 Untungnya Luo Yan Seorang Pria
Kehadiran Nyonya Mutiara begitu tiba-tiba. Kemunculannya seketika menarik perhatian Luo Yan, dan bila dibandingkan, Nyonya Mutiara jelas lebih memesona dan memikat hati daripada Si Cantik Hu. Bukan tanpa alasan. Semata-mata karena keelokan dan wibawanya yang berada di tingkat lebih tinggi.
Jika dibandingkan, Si Cantik Hu bagai seekor rubah kecil yang lemah dan mudah ditekan, hanya bisa menunduk patuh dengan ekor terjepit.
“Adik memberi salam pada Kakak~”
Sorot mata Si Cantik Hu bertambah lembut dan rapuh, ia membungkuk pada Nyonya Mutiara, sambil berpura-pura takut mendekati Raja Han An, menimbulkan rasa iba.
Gerak-gerik kecil ini membuat ujung bibir Luo Yan terangkat. Ia menarik kembali penilaiannya tadi. Tak ada satu pun wanita di istana ini yang sederhana.
Jelas Raja Han An memang menyukai tipe Si Cantik Hu. Melihat kelembutan Si Cantik Hu, ia langsung membela, “Sudah, Mutiara, Si Cantik Hu menemaniku kemari, jangan persulit dia. Sedang Tuan baru saja tiba, bukankah aku sudah menyuruh orang mengirimkan lukisan untukmu?”
“Hamba memberi salam pada Baginda.”
Nyonya Mutiara membungkuk ringan pada Raja Han An, lalu menatap sekilas Si Cantik Hu yang sedang berpura-pura malang, matanya memancarkan cemoohan samar sebelum tatapannya beralih pada Luo Yan, dengan senyum yang semakin dalam, “Karena menerima lukisan itulah, aku sengaja datang menemui Tuan. Untunglah Tuan belum sempat pergi.”
“Salam hormat, Nyonya. Apakah Nyonya puas dengan lukisan itu?”
Luo Yan bangkit, memberi salam dengan hormat dan tersenyum ramah, sikapnya santun dan terukur, tak ada celah untuk dicela.
“Aku sudah menerimanya, benar-benar karya unggul, aku sangat suka. Hanya saja bahannya kurang baik, Tuan ternyata melukis di atas papan kayu, sedikit merendahkan kehebatan teknikmu sendiri.”
Nyonya Mutiara mengangguk pelan, suaranya lembut dan menggoda.
“Dompetku tipis, sejak kecil belajar melukis dengan arang, teknik yang lahir pun ala kadarnya, tak layak dipamerkan di ruang agung, membuat Nyonya menahan tawa saja.”
Luo Yan tersenyum getir menjelaskan.
“Jika karya Tuan saja tidak layak dipamerkan, lalu semua pelukis di dunia ini seharusnya memotong tangannya.”
Senyum tipis mengembang di bibir Nyonya Mutiara, matanya yang panjang dan memesona berkedip perlahan, seolah memancarkan pesona yang menggoda.
Benar-benar kejam!
Luo Yan memandang Nyonya Mutiara, merasa julukan 'Dewi Penggoda' benar-benar pantas baginya, bahkan dalam memuji pun ia sangat menusuk.
“Nyonya terlalu menyanjung~”
Luo Yan menanggapinya dengan rendah hati.
“Maukah Tuan menjadi guruku? Aku sangat tertarik pada teknik melukismu, semoga Baginda berkenan mengizinkan.”
Setelah memandang Luo Yan sejenak, Nyonya Mutiara menoleh pada Raja Han An di samping Luo Yan, tersenyum tipis. Terkesan bertanya, namun langsung menyerahkan keputusan pada Raja Han An, tak peduli Luo Yan setuju atau tidak.
Apa maksud wanita ini?!
Luo Yan agak ragu dan curiga, tapi ia sadar, situasi sudah tidak lagi ada di tangannya.
Pengambil keputusan kini ada pada Raja Han An.
Raja Han An sendiri jelas bukan orang yang punya pendirian kuat. Menatap Luo Yan sejenak, ia pun mengangguk, “Aku tentu tidak keberatan, hanya saja apakah Tuan bersedia?”
“Bagaimana, Tuan?”
Nyonya Mutiara menatap Luo Yan dengan sorot mata memesona, bulu matanya bergetar lembut, seolah mengirimkan sengatan pada Luo Yan, suaranya halus menggoda.
Saat itu Luo Yan ingin menolak, tetapi menolak berarti menyinggung Nyonya Mutiara. Namun andai menerima, konsekuensinya tak terduga.
Dewi Penggoda jelas bukan perempuan biasa, baik dari segi status maupun dirinya sendiri.
Pilihan ini pada dasarnya memang tak ada pilihan.
“Jika Nyonya berkenan belajar, aku tentu bersedia.”
Luo Yan pun menurut saja, memilih sikap tunduk seperti Si Cantik Hu; saat harus lunak, jangan pernah keras kepala. Namun, saat harus tegas, lelaki tak boleh lembek.
“Kalau begitu, mohon bimbingannya, Tuan.”
Nyonya Mutiara mengangguk ringan pada Luo Yan lalu menatap Raja Han An dengan senyum lembut, sepenuhnya mengabaikan Si Cantik Hu, “Jika Baginda dan Tuan tiada urusan lagi, izinkan aku mengundang Tuan ke Balai Seratus Aroma untuk belajar melukis.”
“Baiklah, merepotkan Tuan.”
Raja Han An ragu sejenak, melirik Si Cantik Hu di sampingnya, namun akhirnya mengangguk pada Luo Yan.
Jelas, dibanding Si Cantik Hu, pendapat Nyonya Mutiara lebih ia utamakan.
“Terima kasih, Baginda.”
Nyonya Mutiara membungkuk, lalu menatap Luo Yan.
Tatapan itu seolah ingin menyedot jiwa Luo Yan.
Sangat berbahaya!
Luo Yan mencium aroma bahaya. Ia tak tahu apakah dirinya mampu bertahan setelah ini.
…
Di istana tempat Han Fei berada.
Saat itu Han Fei tengah serius memikirkan sesuatu, sesekali menulis di atas kain sutra di depannya.
Meski ia sudah tahu apa yang dilakukan Luo Yan, dengan siapa ia bekerja sama, dan bagaimana rencana ke depan, tapi kapan dan bagaimana ia harus terlibat adalah perkara yang mesti ia pertimbangkan matang-matang.
Bagaimanapun, Han Fei saat ini tak punya pondasi apa pun di Kerajaan Han, bahkan jabatan pun tak punya.
Jika keliru masuk pada waktu yang salah, ia bisa hancur lebur, dan kesempatan hanya datang sekali, tak boleh meleset.
“Ternyata yang paling aku butuhkan tetaplah orang, selain itu, juga uang.”
Wajah tampan Han Fei menampakkan sedikit kegelisahan, ia menghela napas pelan.
Tanpa uang, benar-benar tak bisa bergerak.
Walau tahu rencana Luo Yan, tanpa uang, peluang untuk terlibat pun tak ada.
“Sepertinya aku harus pergi ke Rumah Anggrek Ungu.”
Han Fei bergumam pelan.
Dalam kondisinya kini, harapan hanya bisa digantungkan pada Wei Zhuang di Rumah Anggrek Ungu. Dengan pemasukan harian yang besar, tentu mereka tak kekurangan uang. Selain itu, dari hasil penyelidikan beberapa hari ini, Han Fei tahu Rumah Anggrek Ungu sudah lama berdiri dan memiliki jaringan intelijen yang cukup luas.
Itulah yang Han Fei butuhkan.
Namun, bagaimana menjalin kerja sama dengan pihak itu masih menjadi persoalan.
Pada saat itu, terdengar suara Hong Lian dan dayang yang mencoba menahan seseorang di luar, suara gaduh itu membuat Han Fei tersenyum getir. Ia buru-buru merapikan benda-benda di atas meja, dengan cekatan menumpuknya di bawah gulungan bambu.
Tak lama, pintu kamar pun didorong Hong Lian.
“Kakak, si penipu besar itu masuk istana lagi, kau tahu tidak?”
Hong Lian melangkah cepat, wajahnya yang cerah dan manis menghadap Han Fei, berkata dengan nada tergesa.
“Kak Luo?”
Han Fei pura-pura bertanya dan melambaikan tangan agar dayang keluar.
Begitu pintu tertutup, Hong Lian mengangguk, sorot matanya yang jernih tampak ragu, ia berbisik, “Sekarang seisi istana membicarakan si penipu besar yang katanya punya kemampuan melukis luar biasa. Nyonya Mutiara, si penyihir tua itu, setelah dapat lukisannya, malah mengangkat dia jadi guru, meminta si penipu besar mengajarinya melukis. Sekarang mereka ada di Balai Seratus Aroma!”
Kali ini ekspresi Han Fei benar-benar berubah, apakah kemampuan melukis Luo Yan memang sehebat itu?
Sampai-sampai Nyonya Mutiara pun tertarik padanya.
“Itu hanya rumor. Sebagus apa pun lukisannya, tetap tak bisa menandingi adikku.”
Kali ini Han Fei belajar dari pengalaman, langsung memuji Hong Lian.
“Hmph, tentu saja!”
Hong Lian mengangkat dagunya dengan bangga, memperlihatkan tulang selangkanya yang putih dan indah, seperti burung bulbul yang merengek manja.
Adik yang polos~
Han Fei tersenyum dalam hati, lalu pikirannya kembali tertuju pada Luo Yan. Apakah Luo Yan benar-benar telah menarik perhatian Nyonya Mutiara?
Meski baru beberapa hari kembali ke istana, dari Hong Lian, ia sudah mengetahui banyak rahasia dalam istana.
Salah satunya tentang Nyonya Mutiara.
Setiap tahun, selalu ada beberapa dayang di dekat Nyonya Mutiara yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Hal ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Bahkan beredar rumor bahwa di Balai Seratus Aroma ada hantu pemangsa manusia.
Untung saja Luo Yan seorang lelaki~
Han Fei tiba-tiba memikirkan itu.