Bab 43 Burung Hantu, Wanita Berkebaya

Petikan Kecantikan dalam Peti Mati, Menikahi Istri dari Dunia Arwah, Penjaga Keseimbangan Yin dan Yang Penguasa Bintang Malam 2573kata 2026-03-04 23:44:38

Setelah berhasil melarikan diri dari gang sempit itu, aku tidak membuang waktu sedikit pun. Aku segera memesan ojek motor menuju terminal. Namun, setelah bertanya pada sopir motor, aku baru tahu bahwa sekarang sudah lewat pukul lima sore, dan tidak ada lagi mobil yang menuju Kota Ning. Mendengar itu, hatiku langsung terasa berat.

Jika di terminal sudah tak ada kendaraan ke Kota Ning, itu berarti aku harus bermalam di kota kecil ini. Bagiku, situasi ini sangat berbahaya. Bisa-bisa Hu Yangming akan menemukan aku.

“Aku masih punya satu mobil van,” kata sopir motor sambil menyeringai padaku. “Mas, kalau kamu buru-buru ke Kota Ning, aku bisa antar pakai van, langsung malam ini juga.”

“Tapi ongkosnya seratus ribu!” tambahnya.

Perjalanan dari kota kami ke Kota Ning sebenarnya hanya satu setengah jam, kalau naik bus umum cuma dua puluh ribu. Sewa mobil malah minta seratus ribu, benar-benar mahal. Namun, kondisi yang kualami membuatku tak punya pilihan lain. Kakekku masih menahan Hu Yangming demi aku, mengambil risiko besar.

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangguk setuju. Seratus ribu ya sudah, seratus ribu.

Sopir motor itu bermarga Song, orang lokal sini. Dia membawaku ke rumahnya, mengganti kendaraan dengan van, lalu kami segera berangkat ke Kota Ning.

Duduk di kursi depan, aku melihat van melaju keluar kota, menempuh jalan menuju Kota Ning. Barulah saat itu pikiranku yang tegang perlahan-lahan mengendur, napasku lega.

Soal keselamatan kakek, aku sebenarnya tidak terlalu khawatir. Beliau orang yang sangat cerdik. Walaupun harus menahan Hu Yangming demi aku, beliau pasti tidak akan membiarkan dirinya terjebak, tentu akan menemukan cara untuk lolos.

Semakin jauh van melaju, kendaraan di jalan raya nasional semakin sedikit. Di kiri-kanan hanya pegunungan. Setelah matahari terbenam, di luar van gelap gulita dan sunyi senyap.

“Pak, silakan merokok,” ujarku sambil menawarkan sebatang rokok pada Pak Song. Aku sendiri juga menyalakan satu, mengisapnya dalam-dalam.

Aku mengernyitkan dahi, pikiranku penuh kekhawatiran. Sejak dibuntuti oleh Tuan Cao, hidupku yang damai benar-benar hancur. Sekarang malah jadi incaran Hu Yangming. Untung saja, selama aku bisa menikahi putri keluarga Lu, aku akan dapat mengaktifkan tato naga legendaris di tubuhku, sehingga punya kekuatan untuk melawan Hu Yangming.

Hanya saja, aku tidak tahu, seperti apa sebenarnya putri keluarga Lu itu—cantik atau jelek, gemuk atau kurus.

Tapi meskipun harus menikahi wanita buruk rupa, aku rela. Dibandingkan nyawa sendiri, hal lain tak ada artinya. Aku tahu betul mana yang lebih penting.

Bersamaan dengan itu, aku melirik ke luar jendela. Jalan raya nasional tampak sunyi, tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Hanya van kami yang melaju kencang di jalanan.

Melihat pemandangan itu, aku jadi mengerutkan kening. Perasaan tak nyaman menggelayuti hati. Sudah hampir pukul delapan malam, mana mungkin jalan nasional sama sekali tak ada mobil lewat?

Menatap ke depan, hanya tampak pemandangan gelap dan sunyi, seperti berjalan menuju alam baka.

“Pak Song, kenapa di jalan nasional ini tidak ada mobil sama sekali?” tanyaku tak kuasa menahan rasa heran. “Aneh sekali, ya.”

“Aneh?” Pak Song menatapku dengan wajah aneh. “Di beberapa ruas jalan memang wajar kalau sepi, tak ada mobil lewat. Itu hal biasa, kok, Mas. Nah, itu, kan, ada mobil dari arah berlawanan?”

Saat dia berkata begitu, benar saja, tampak sebuah bus penumpang melaju dari arah depan.

Ketika bus itu melintas, aku sempat mengangkat kepala dan melirik ke dalamnya.

Di dalam bus, tampak banyak penumpang, ada laki-laki, perempuan, tua, muda.

Namun, semua penumpang itu berdiri dengan wajah menghadap ke jendela tempatku berada. Wajah mereka pucat tanpa setetes darah, ekspresi mereka kosong, dingin, tanpa emosi. Mata mereka hampa, gelap, tanpa cahaya.

Sekejap saja aku sadar, itu bus arwah! Semua penumpangnya adalah roh gentayangan.

Saat itu, para arwah di bus menatapku tajam tanpa berkedip. Adegan itu sungguh menggetarkan, menakutkan, membuat bulu kudukku meremang. Ketika mata kami bertemu, aku hampir saja berteriak ketakutan kalau saja tidak segera kututup mulut dengan tangan. Seluruh tubuhku menggigil, napasku memburu, wajahku memucat luar biasa.

“Mas Chen, kamu kenapa?” tanya Pak Song, menoleh ke arahku dengan cemas. “Kok wajahmu jadi pucat begitu?”

“Tidak apa-apa,” jawabku setelah menarik napas panjang dua kali, berusaha tersenyum. “Cuma agak masuk angin, badan kurang enak.”

Melihat ekspresi Pak Song, sepertinya dia tak melihat bus arwah itu. Karena dia tidak melihatnya, aku tentu tak berani berkata jujur. Lagipula, tak semua orang bisa melihat arwah gentayangan. Tak perlu menakut-nakuti Pak Song.

Pak Song pun tidak bertanya lebih jauh, hanya mengingatkan aku untuk menjaga kesehatan, lalu kembali berkonsentrasi mengemudi.

Namun, di saat itulah, tiba-tiba ada seseorang di pinggir jalan yang melambaikan tangan, minta berhenti.

Tak lama kemudian, aku bisa melihat jelas sosok yang menghentikan mobil itu.

Seorang perempuan berambut panjang, wajahnya cantik dan menawan, mengenakan cheongsam merah serta sepatu hak tinggi.

Perempuan bercheongsam itu berdiri di pinggir jalan, sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

“Sekarang ini, perempuan kok tidak ada rasa waspada sama sekali, malam-malam begini berani sendirian menunggu mobil, tidak takut apa ketemu orang jahat?” gumam Pak Song, matanya berbinar penuh semangat. “Hahaha, ternyata cantik pula.”

Sambil berkata begitu, dia memperlambat laju van, berniat berhenti untuk menanyakan tujuan perempuan itu.

“Pak Song, jangan sembarangan menaikkan orang,” seruku cepat-cepat, merasa waspada, khawatir ada hal aneh terjadi.

“Tak dinaikkan, sayang dong. Masih satu jam perjalanan lagi, kalau ada wanita cantik menemani kan asyik,” jawab Pak Song sambil menyeringai.

Van pun berhenti tepat di depan perempuan bercheongsam itu.

Pak Song menjulurkan kepala, mengamati perempuan itu, lalu bertanya ramah, “Mbak mau ke mana? Kalau searah, saya bisa antar.”

Perempuan bercheongsam itu tersenyum dan melangkah anggun mendekat. Sinar bulan menyinari wajahnya yang indah, membuatnya tampak makin memikat dan memesona.

Namun, saat perempuan bercheongsam itu semakin dekat, aku merasakan hembusan angin aneh menerpa wajah, hawa dingin menusuk langsung ke tulang.

Aura dingin itu sangat kuat. Artinya, perempuan bercheongsam yang ingin menumpang bukanlah manusia.

Dia adalah roh gentayangan.

Di tengah keterkejutanku, perempuan bercheongsam itu sudah berdiri di depan van, memandang Pak Song sambil tersenyum lebar dan berkata, “Saya mau ke Kota Ning, Mas, boleh nebeng?”