Bab Tiga Puluh Satu: Pertemuan Pertama dengan Kaisar Pertama
Setelah berhasil lolos ke babak berikutnya, Zhi Xue yang memang pantang menyerah kembali memasuki masa latihan keras yang luar biasa! Yu Han yang sangat menyayangi gadis itu hanya bisa memandang dengan hati yang ikut terasa perih. Agar gadis pekerja keras itu bisa beristirahat sejenak, pagi ini setelah selesai berlatih, ia menggunakan berbagai cara untuk menarik Zhi Xue ke perbatasan antara manusia dan serigala, memaksanya untuk berjalan-jalan di dunia manusia.
“Baiklah, baiklah! Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri, Yu Han!” Zhi Xue merengut. “Tidak, kalau kulepaskan, kau pasti balik latihan lagi! Xue Er, aku tentu ingin kau giat berlatih, tapi kau juga harus ingat beristirahat. Kalau tidak, kau bisa jatuh sakit. Aku akan sangat sedih!” Yu Han benar-benar mengkhawatirkan Zhi Xue.
Zhi Xue juga heran dengan dirinya sendiri, mengapa ia bisa begitu gigih. Sebenarnya ia merasa dirinya cukup santai, namun terkadang ia merasa ada sesuatu yang berbeda di pikirannya, seolah dalam tubuhnya tinggal sosok lain: dirinya yang sangat rajin, ambisius, cerdas, dan entah mengapa juga sedikit kesepian.
“Apa yang kau lamunkan? Ayo cepat!” Melihat Zhi Xue yang melamun, Yu Han mengira gadis itu ingin kabur. Ia menggenggam lengan Zhi Xue lebih erat dan mendesaknya. “Oh, baiklah! Kita pergi!” Tanpa pikir panjang, Zhi Xue mengikuti Yu Han melewati perbatasan ke dunia manusia.
Di sini, dunia manusia berada pada tahun 246 sebelum Masehi. Perbatasan antara dunia manusia dan kaum serigala tepat di wilayah Negeri Qin. Yu Han dan Zhi Xue tiba di sana tepat tengah hari, saat pasar sangat ramai! Jalanan panjang dipenuhi kerumunan orang, para pedagang kecil menjajakan berbagai barang.
Melihat semua itu, Zhi Xue kembali menunjukkan sisi remajanya. Meski kecantikannya menarik banyak tatapan, ia sama sekali tidak menyadarinya. “Wah, permen buah ini sepertinya enak sekali!” Di tengah panasnya musim panas, melihat tusukan buah berlapis gula yang tampak segar manis, si gadis kecil langsung menelan ludah.
“Dua tusuk permen buah, ya!” Yu Han yang sangat memahami Zhi Xue segera mengeluarkan uang, membeli dua tusuk dan menyerahkan satu pada Zhi Xue, sedangkan satu lagi ia pegang sendiri. Tak sampai beberapa gigitan, si gadis kecil sudah menghabiskan bagiannya, lalu menatap lurus tusuk yang masih di tangan Yu Han.
Yu Han tak kuasa menahan tawa melihat ekspresi lucu Zhi Xue. “Ambil saja, ini juga untukmu!” katanya sambil tersenyum.
“Ah, aku jadi sungkan!” Zhi Xue menjilat bibir, menatap penuh selera pada tusuk permen buah di tangan Yu Han, meski pura-pura menolak. “Ambil saja, memang kubelikan dua untukmu! Aku tidak suka makanan manis.” Yu Han tersenyum. Maka Zhi Xue pun makan dengan lahap.
Sambil berjalan menemani Zhi Xue, tiba-tiba Yu Han melihat sebuah toko kain di sisi kanan jalan. Kain-kainnya sangat indah dan halus. Walaupun pakaian kaum serigala lembut dan berkualitas, warnanya cenderung polos. Zhi Xue kini berada di dunia manusia, usianya pun baru memasuki masa remaja—pasti sangat cantik bila mengenakan pakaian manusia.
Yu Han pun menyerahkan sejumlah uang pada Zhi Xue dan berpesan, “Xue, ikuti saja jalan ini, banyak makanan enak di sepanjang jalan. Bawalah uang ini, cari makanan yang kau suka. Di ujung jalan ada sebuah pendopo, kalau kau lelah, beristirahatlah di sana dan tunggu aku. Aku ada urusan sebentar.”
“Oh!” Zhi Xue yang matanya sudah terfokus pada jajanan di sepanjang jalan, hanya mengangguk tanpa menoleh. Yu Han berpikir, dengan kemampuan Zhi Xue sekarang, tak ada orang biasa yang bisa melukainya, jadi ia pun tenang pergi.
Sepanjang jalan, Zhi Xue mencoba berbagai makanan. Tiba-tiba, hidungnya menangkap aroma gurih yang menggoda, seperti kue dadar yang dipanggang. Ia mengikuti aroma itu dan melihat sebuah warung yang menjual pangsit goreng. Waah! Pangsingnya tipis, renyah, dan harum, membuat siapa pun yang melihat jadi ingin mencicipi.
“Tuan, saya mau dua buah!” Zhi Xue menyerahkan uang. “Baik!” sang penjual segera membungkus pesanan. Saat Zhi Xue hendak menerima bungkusannya, ia melihat di samping tungku ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 14-15 tahun, mengenakan pakaian lusuh dan bahkan sedikit robek. Wajah anak itu penuh bekas luka, pasti sering terlibat perkelahian.
Yang membuat Zhi Xue terkejut, anak laki-laki itu memiliki wajah tegas, alis tebal dan gagah, mata besar yang tajam, hidung mancung seperti terukir, dan bibir tegas. Namun, mulut yang seharusnya penuh wibawa itu justru sedang menelan ludah. Anak laki-laki itu jelas sudah lama kelaparan, matanya tak bisa berpaling dari kue yang ada di warung.
Tersentuh rasa iba, Zhi Xue meminta penjual membungkuskan lima buah lagi dan menyerahkannya pada anak itu. “Ini, makanlah!” Mata anak itu sempat menampakkan rasa haru sesaat, lalu ia berpaling dengan dingin ingin pergi. Namun Zhi Xue mengejarnya dan memaksa menaruh bungkusan itu di tangannya, hingga akhirnya anak itu menerima dengan enggan.