Bab Dua Puluh Satu: Akhirnya Mengambil Keputusan

Menembus Waktu: Cinta Abadi Sepanjang Seribu Tahun Roh Air yang Suci 1063kata 2026-03-04 23:46:58

Yumei duduk di tepi ranjang ibunya, terbenam dalam lamunan, sesekali membereskan selimut sang ibu, khawatir selimut itu tidak menutupi dengan baik dan akan memperparah penyakit ibunya. Padahal, tubuh sang ibu sama sekali tak mampu bergerak, jadi selimut itu tak mungkin tersingkap, apalagi membuatnya kedinginan. Semua ini semata-mata karena batin Yumei saat itu sedang diliputi kegelisahan dan kebimbangan yang amat dalam.

Kasih sayang dan perhatian Rixue kepadanya, mengetahui ibunya sakit parah, berkali-kali memberikan jatah yang diterimanya dari Pangeran Serigala kepada Yumei, bahkan dengan tulus kerap menanyakan kabar kesehatan sang ibu, betapa indah dan manisnya gadis itu, tak pernah mempersulit Yumei, bahkan memperlakukannya bak kakak kandung sendiri. Bagaimana mungkin sekarang Yumei tega memperlakukan Rixue seperti yang dilakukan Ratu Serigala?

Namun, ingatan lain pun bermunculan tanpa henti: saat pertama kali menemukan ibunya, sang ibu memeluknya dengan penuh kehangatan, air mata menetes di pipinya; ketika beranjak dewasa, untuk pertama kalinya Yumei merasakan kehangatan seorang ibu, sekaligus menyadari betapa tak berdayanya kaum serigala di hadapan maut; sang ibu mengerahkan seluruh tenaganya demi putrinya, Yumei pun berusaha keras menebus penyesalan karena baru ingin berbakti saat sang ibu hampir tiada. Semua itu terasa begitu akrab sekaligus asing bagi Yumei, namun satu hal yang pasti, ia sangat, sangat memedulikan ikatan keluarga ini.

Semakin wajah sang ibu dan kenangan tentangnya memenuhi benak Yumei, dua suara yang saling bertentangan di kepalanya pun perlahan kehilangan keseimbangan: suara yang mendesaknya untuk tenang, bersyukur, dan tidak mengkhianati Rixue, perlahan kalah oleh suara yang terus berteriak bahwa ibu hanya satu, utamakan sang ibu, dan Rixue, manusia itu, hanya akan kembali ke dunianya sendiri.

Tangan Yumei yang sedari tadi erat menggenggam tangan sang ibu, kini perlahan terlepas. Dengan tekad bulat, ia keluar dari kamar ibunya, menengadah ke langit, seperti mengerahkan segenap kekuatannya, dan berteriak tiga kali memanggil Ratu Serigala. Ratu Serigala dan Kepala Dayang segera muncul. Ratu Serigala menggenggam tangan Rixue, berpura-pura tulus berkata, "Yumei, kau benar-benar anak yang berbakti. Raja Serigala tidak salah memilihmu untuk mendampingi Haner. Demi ibumu, aku rela menanggung murka langit!" Setelah memberi isyarat kepada Kepala Dayang, ia pun masuk ke dalam untuk menyelamatkan sang ibu.

Kepala Dayang mengeluarkan sebuah peta, dengan suara meyakinkan memberi petunjuk kepada Yumei yang keningnya berkerut, bagaimana mengambil jalan memutar, melewati beragam rintangan, dan membawa Rixue ke tempat yang disebut "dunia manusia". Meski berat, Yumei akhirnya menggigit bibir dan melaksanakan rencana itu.

Rixue, yang belum banyak mengalami pahitnya hidup, dan sangat mempercayai Yumei, dengan mudah terjebak. Ia diam-diam mengikuti Yumei, dan berangkat tanpa curiga. Dengan sihir penglihatan Ratu Serigala, Rixue pun menghilang tanpa jejak, tak seorang pun menyadari kepergiannya.

Setelah menempuh jalan berliku dan melewati berbagai rintangan, saat Rixue akhirnya menyadari dirinya telah ditipu, air matanya pun tumpah. Ia berusaha memohon pada Yumei, namun sebelum hati Yumei sempat goyah, Ratu Serigala datang dengan kekuatan gaib dan membawa Yumei pergi, lalu menghapus seluruh ingatan Yumei tentang kejadian itu secepat kilat.

Karena itu, manusia tak boleh terlalu mudah percaya pada orang lain, apalagi saat berada dalam bahaya. Kebencian terhadap seseorang tidak akan berkurang, terutama jika kebencian itu telah tertanam dalam. Begitu permusuhan terjalin, kau harus selalu waspada dan berhati-hati. Bukankah begitu? Di tengah gurun asing yang mengelilinginya, Rixue memahami pelajaran ini dengan cara yang paling menyakitkan.