Bab Delapan Puluh Satu: Dunia Perangkap Penuh Godaan
Yu Han dan Yun Lingling telah tiba di Dunia Mekanik. Di kedua sisi dunia itu berdiri dua dinding mekanik setinggi sekitar lima ratus kaki, permukaannya dipenuhi berbagai macam duri tajam yang berkilauan dingin. Yun Lingling membandingkan duri-duri di kiri dan kanan dinding tersebut, dan terkejut membayangkan, jika kedua dinding itu benar-benar menutup, bahkan seekor semut pun tak akan mampu lolos.
Di antara dua dinding mekanik itu, terbentang sebuah jembatan kayu selebar satu kaki dan sepanjang sekitar satu depa. Di kedua sisi jembatan itu, menganga jurang hitam yang dalamnya tak terukur! Melihat Yun Lingling yang tampak penuh pertimbangan tengah mengamati Dunia Mekanik, Yu Han melangkah maju, menepuk pelan pundaknya sebagai tanda menguatkan, lalu berkata, “Takutkah kau?”
“Kalau aku bilang sama sekali tidak takut, itu bohong! Tapi demi bisa kembali ke sisi ayah dan adikku, aku takkan menyerah!” jawab Yun Lingling dengan tegas.
Melihat Yun Lingling yang begitu bulat meninggalkan dirinya, kali ini Yu Han tidak lagi bersedih. Ia tahu bahwa ia sudah mengambil keputusan—kemanapun Yun Lingling pergi, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk selalu bisa melindunginya. Setelah menyadari hal itu, Yu Han kembali tenang.
“Sudah siap? Kalau begitu, aku akan berangkat duluan! Ingat, waktu kau berjalan nanti, kau harus benar-benar fokus, jangan biarkan pikiranmu bercabang. Ingatlah, semua yang kau lihat hanyalah ilusi, tetaplah melangkah lurus ke depan!” Yu Han mengusap kepala Yun Lingling, sekali lagi menekankan pesannya. Yun Lingling mengangguk mantap, “Ya, baik!”
Tak lama setelah Yu Han pergi, Yun Lingling pun mengikuti. Saat ia berjalan, tiba-tiba saja ia menyadari Yu Han di depan telah lenyap. Yun Lingling segera mengingatkan dirinya, “Fokus, terus berjalan!”
Yun Lingling melanjutkan langkahnya, dan perlahan-lahan, lingkungan di sekitar jembatan kayu itu berubah. Sekelilingnya kini menjadi pemandangan yang sangat indah; pepohonan dan rerumputan hijau membentang, bunga-bunga bermekaran, air terjun mengalir bagaikan lukisan—semuanya begitu memesona! Lebih gawat lagi, di atas padang rumput itu tampak beberapa kelinci berbulu tebal yang sangat menggemaskan! Bagi Yun Lingling, pemandangan ini sungguh menggoda.
Yun Lingling menarik napas dalam-dalam, lalu sekali lagi mengingatkan dirinya, “Semua ini hanya ilusi, jangan teralihkan, tetap fokus dan terus berjalan!” Ia pun terus melangkah hati-hati ke depan.
Tak berapa lama, “Astaga!” Yun Lingling terperangah. Lingkungannya tiba-tiba berubah menjadi sebuah pasar yang sangat ramai! Ia kini berada tepat di tengah-tengah keramaian pasar itu. Semua jajanan yang dijajakan adalah makanan favoritnya—mulai dari kue beras goreng, bola-bola ketan warna-warni, dan masih banyak lagi yang membuat air liurnya menetes. Ia nyaris tak sanggup menahan godaan para penjual itu. Yun Lingling melangkah dengan susah payah—lima belas meter, tiga puluh meter—dan ketika hampir tak tahan, satu kakinya bahkan nyaris melangkah keluar dari jembatan kayu.
Dalam benaknya, terlintas bayangan Yu Han, “Lingling, tidak baik begitu! Jangan menyerah, keluargamu masih menantimu di kejauhan sana. Teguhkan tekadmu, aku yakin kau pasti bisa, jangan sia-siakan semua usahamu!” Yun Lingling pun langsung tersadar.
Ia menggelengkan kepala untuk mengusir kebingungan, menenangkan diri, lalu menggigit bibir dan berulang-ulang berkata pada dirinya, “Jangan teralihkan, jangan teralihkan, semua ini hanyalah ilusi, semua ini hanyalah ilusi!” Anehnya, setelah tekadnya bulat, lingkungan di sekelilingnya pun kembali berubah, seketika kembali menjadi jurang hitam yang menganga.
Yun Lingling menoleh ke belakang. Ia telah menempuh jarak yang cukup jauh, kemenangan sudah di depan mata. Ia pun tersenyum lega dan merasa sedikit bahagia.