Bab Enam Puluh Enam: Terus Terbayang di Hati
Setelah Dai Zhen dan Dai Bao berkomunikasi dengan jelas dan membagi tugas secara rinci, mereka segera mulai bertindak.
Begitu pelajaran di Gereja Kaisar selesai, Dai Zhen langsung mengerahkan segala cara untuk menahan Yu Han. Ia memanggil-manggil Yu Han dengan panggilan yang membuat merinding, “Kakak Yu Han”, membujuk dengan logika dan perasaan, pokoknya segala macam cara dilakukan, tidak mau menyerah. Akhirnya, Yu Han pun terpaksa angkat tangan menyerah, setuju untuk tetap tinggal, menyuruh Zhi Xue pulang terlebih dahulu, sementara ia akan membantu Dai Zhen mempelajari pelajaran yang belum sempat dipelajari.
Zhi Xue keluar dari pintu gereja sendirian, wajahnya berseri-seri dan penuh kegembiraan. “Pertama kalinya aku tidak bersama Yu Han, haha, harus main dulu sebelum pulang,” gumamnya dengan semangat dan mata yang berbinar. “Ah! Benar-benar keberuntungan, mencari-cari tak ketemu, ternyata muncul begitu saja!” Di depan matanya, Zhi Xue melihat seekor kelinci yang bulunya panjang dan hitam berkilauan.
Zhi Xue pun dengan penuh semangat mengejar kelinci itu. Selain karena kelinci itu sangat cantik, Zhi Xue memang sangat menyukai kelinci! Ia mendekati kelinci itu dengan hati-hati, namun kelinci yang lincah segera melarikan diri. Zhi Xue mendekat lagi, kelinci yang semula diam pun kembali lari. Begitu terus, sehingga Zhi Xue semakin jauh dari jalan pulang ke Istana Han Yu.
Zhi Xue menengadah melihat langit, hari masih belum terlalu sore, lagipula ia cukup mengenal lingkungan sekitar, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia pun mulai merasa santai, dan terus mengejar kelinci itu.
Sambil berlari mengejar, Zhi Xue mengikuti kelinci hingga tiba di mulut sebuah gua di belakang bukit. Kelinci itu seolah-olah sudah tidak punya jalan keluar lagi. “Haha, lihat ke mana lagi kau akan lari!” Zhi Xue menunjuk kelinci itu sambil tersenyum manis, “Tapi kau tidak perlu takut, kakak hanya ingin membawamu pulang, aku tidak akan menyakitimu!” Tanpa rasa curiga, Zhi Xue pun melangkah ke dalam gua.
Namun tepat saat ia masuk ke dalam gua, Zhi Xue merasa lingkungan di sekitar mulut gua berputar dan berubah dengan cepat. Ketika ia menyadari ada yang tidak beres dan ingin melarikan diri, tiba-tiba sebuah batu besar jatuh seperti pintu tertutup, menutup jalan keluar Zhi Xue!
Kelinci hitam itu tiba-tiba berubah menjadi seorang manusia tinggi besar. Orang itu berpenampilan flamboyan, matanya panjang dan tajam, mulut kecil, kulitnya putih seperti kertas. Di kepala Zhi Xue muncul sebuah pikiran: orang ini mirip dengan Dai Zhen, tapi sepertinya bukan orang baik!
“Siapa kamu? Kenapa membawaku ke sini?” Zhi Xue menenangkan diri dan berdiri tegak di hadapan Dai Bao, bertanya dengan penuh keberanian. “Wah, kukira kau akan jadi pengecut, ternyata kau justru gadis pemberani. Haha, tak apa, gadis pemberani malah lebih aku suka!” Dai Bao berkata sambil mendekati Zhi Xue, berusaha menyentuh wajah cantiknya.
Zhi Xue menepis tangan Dai Bao, namun Dai Bao sama sekali tidak marah, malah semakin mendekat. “Cepat minggir, di bawah ada ular!” Dai Bao berteriak keras saat berada di dekat Zhi Xue. Zhi Xue terkejut, membuka mulut hendak berteriak, dan saat itulah, Dai Bao yang sudah bersiap, dengan cepat menyelipkan sebuah pil ke mulut Zhi Xue, lalu menepuk punggungnya dengan tangan lain. Tanpa sempat menolak, Zhi Xue pun menelan pil itu.
“Apa yang kau berikan padaku?” Zhi Xue berusaha memuntahkan pil itu, namun gagal, lalu bertanya dengan suara panik. “Hahaha, itu akan membuat seluruh tubuhmu lemas, sehingga kau tak bisa berbuat apa-apa selain menyerah di pelukanku!” Dai Bao kali ini berhasil menyentuh dagu tajam Zhi Xue dengan jarinya, mengangkatnya, matanya berbinar penuh nafsu. Dai Bao, sang pangeran kecil dari suku rubah yang sering berkelana di taman bunga, punya banyak cara menghadapi wanita!
Zhi Xue mulai merasakan perubahan di tubuhnya...