Bab Sembilan Puluh Tujuh: Sesama Orang dari Masa Depan
“Benar, waktu sidang pagi sudah hampir tiba, mari kita pergi!” Ini adalah pertama kalinya Ying Zheng bertemu Yun Wei. Sejujurnya, ia tidak begitu tertarik pada Yun Wei yang menyamar sebagai pria. Penampilannya yang lembut dan lemah tidak sesuai dengan gambaran Ying Zheng tentang seorang pria tangguh di medan perang, yang menurutnya harus memiliki aura yang mampu mengguncang gunung.
Ketiganya, Ying Zheng, Yu Han, dan Yun Lingling, berjalan kaki menuju balairung istana. Para pejabat yang akan menghadiri sidang sudah berbaris rapi, dan Lu Buwei berdiri di tengah. Begitu Yun Lingling masuk, ia langsung menarik perhatian Lu Buwei. Tatapan Lu Buwei penuh keheranan, kegembiraan, dan terutama kebahagiaan yang jelas terpancar di wajahnya, menatap Yun Lingling tanpa henti.
Ketika Yu Han membawa Yun Lingling ke hadapan Lu Buwei, barulah Lu Buwei sedikit menahan ekspresinya. Dengan penuh hormat, Yu Han memperkenalkan, “Perdana Menteri Lu, ini adik saya, Yun Wei.” “Oh? Adikmu?” sambil tersenyum ragu, Lu Buwei mengulang kata-katanya. Yu Han menyadari keraguan itu, tapi ia tidak memberi penjelasan lebih lanjut, melainkan melanjutkan, “Yun Wei, cepat beri salam kepada Perdana Menteri Lu.” Yun Lingling melangkah ke sisi Yu Han, menatap Lu Buwei tanpa menunjukkan emosi, lalu memberi hormat dengan sopan.
“Sidang pagi dimulai, silakan semua kembali ke tempat, jaga ketenangan!” pelayan istana mengumumkan dengan suara lantang. Seketika suasana menjadi sunyi. Yun Lingling berdiri di antara Yu Han dan Lu Buwei. Di depan, Ying Zheng mengibaskan lengan bajunya dengan wibawa, menatap para pejabat di bawah, “Hidup Kaisar! Hidup! Hidup selama-lamanya!” seru para pejabat serentak. “Semua boleh bangkit!” jawab Ying Zheng, lalu duduk di singgasananya dan memberi isyarat pada pelayan istana. Pelayan istana kembali berseru, “Para pejabat, silakan mulai menyampaikan laporan.”
Para pejabat pun mulai melaporkan tugas dan tanggung jawab mereka kepada Ying Zheng, yang menanggapi satu per satu dengan komentar dan arahan. Biasanya, Lu Buwei dikenal aktif dan sering menyampaikan pendapat dengan tegas dalam sidang, namun hari ini ia malah tenggelam dalam pikirannya sendiri, bahkan sesekali tersenyum tipis, sesuatu yang jarang sekali terlihat.
“Ha ha, betapa takdir mempertemukan kita lagi! Tak kusangka kita bisa menyeberang waktu dan kembali ke dunia manusia bersama!” Ya, Lu Buwei langsung mengenali Yun Lingling yang menyamar sebagai pria. Ia adalah gadis murni yang dulu, di zaman modern, sangat menarik perhatiannya. Lewat kelemahan gadis itu, ia berhasil membuatnya menjadi miliknya, gadis yang begitu polos hingga membuatnya tergila-gila. Tak disangka mereka berdua justru terlempar ke masa lalu bersama, dan kini kembali ke negeri Qin. Betapa luar biasanya pertemuan ini.
“Aku mengenalimu sejak pertama kali melihatmu, tapi kau tak mengenaliku, ya?” Lu Buwei merasa sedikit cemburu, namun ia tak bisa menahan diri untuk terus mencuri pandang pada gadis yang kerap mengisi mimpi-mimpi malamnya itu! Setelah sekian lama, ia masih tampak segar dan menawan, bahkan kini lebih dewasa dan tenang. Terima kasih pada langit, di tengah kekacauan zaman ini, aku masih bisa bertemu dengan orang yang tepat!
Tak mengenaliku? Tak masalah, akan kutunjukkan kekuatanku. Tak akan kau sangka, Shen Ba yang sudah tangguh di era modern, kini di negeri Qin menjadi Lu Buwei yang tersohor! Selama punya kemampuan berdagang, di mana pun bisa meraih kejayaan! Kau tak mengenaliku, tak apa, akan kutunjukkan diriku yang lebih hebat dibanding di masa kini! Begitu pikir Lu Buwei dengan penuh keyakinan.
“Perdana Menteri Lu!” Kini giliran Lu Buwei berbicara. Pelayan istana melihat Lu Buwei melamun, lalu memanggilnya pelan, “Perdana Menteri Lu, Perdana Menteri Lu.” Setelah beberapa panggilan, Lu Buwei masih saja tenggelam dalam “lamunan”. Hingga Yun Lingling menatap ke arahnya dan Yu Han juga memanggilnya pelan, barulah Lu Buwei sadar bahwa kini gilirannya untuk menyampaikan laporan.