Bab Tiga Puluh Delapan: Menjalin Persahabatan
Waktu berlalu dengan cepat, dalam sekejap satu tahun pun telah berlalu. Kemampuan Ying Zheng di berbagai bidang semakin terasah, berkat bantuan dan arahan yang sengaja diberikan oleh Rizhu. Di bawah bimbingan Rizhu, Ying Zheng juga belajar, meski hanya sebagian, bagaimana berinteraksi dengan orang lain secara ramah.
Namun, ada hal-hal yang tertanam dalam diri sejak lahir, yang sulit diubah, seperti hasrat dan kegemaran Ying Zheng terhadap kekuasaan.
Hari ini, sepulang sekolah, Ying Zheng berjalan bersama beberapa teman menuju rumah makan. Dalam perjalanan, mereka membicarakan bahwa di kediaman Guru Tertinggi Ta Wang terdapat sebuah pusaka kuno, yaitu Giok Ruyi, simbol kekuasaan yang diwariskan oleh para raja zaman dahulu, sangat berharga dan langka.
Mendengar bahwa di rumah Guru Tertinggi ada simbol kekuasaan kuno tersebut, Ying Zheng tidak bisa berhenti memikirkan benda itu; ia sangat ingin melihatnya, walau hanya sekali saja. Dalam waktu lama, keinginan ini terus memenuhi benaknya.
Hasrat memang sesuatu yang aneh—semakin dipikirkan, semakin kuat pula keinginannya. Maka, ketika Guru Tertinggi Ta Wang pergi ke Dunia Dewa untuk memberi ceramah, Ying Zheng diam-diam datang ke rumah sang guru sepulang sekolah, lalu mendorong pintu masuk...
Ying Zheng segera melihat Giok Ruyi, pusaka warisan para raja kuno, terletak di meja persembahan di aula utama rumah Guru Tertinggi. Ia melangkah perlahan, perasaan tegang dan bersemangat bercampur aduk dalam hatinya. Setelah sampai di depan meja, Ying Zheng berhenti dan menyentuh Giok Ruyi itu dengan lembut.
Dalam benaknya, Ying Zheng membayangkan dirinya suatu hari bisa menyatukan negeri seperti para raja agung di masa lampau. Makin lama ia memikirkan, makin besar hasratnya. Ia pun mengulurkan tangan dan mengambil Giok Ruyi...
Saat itu juga, pintu rumah guru kembali terbuka. Ying Zheng yang sedang berkhayal terkejut, dan karena ketakutan, ia menjatuhkan Giok Ruyi dari genggamannya.
"Ying Zheng, kenapa kau ada di sini?" Rupanya yang masuk adalah Rizhu dan Hanyu, yang datang ke rumah Guru Tertinggi untuk mengambil papan catur guna bermain bersama. Melihat Ying Zheng di dalam rumah sang guru, Hanyu langsung bertanya.
"Tidak... tidak ada apa-apa," jawab Ying Zheng dengan gugup, karena Giok Ruyi telah pecah di lantai.
Rizhu yang baru masuk melihat pecahan Giok Ruyi di lantai, langsung memahami apa yang terjadi. Rizhu mengenal baik karakter setiap orang di sekitarnya, dan ia tentu tahu alasan Ying Zheng berada di rumah Guru Tertinggi adalah untuk melihat Giok Ruyi.
"Ying Zheng, kau..." Rizhu hendak menjelaskan, namun Guru Tertinggi Ta Wang sudah kembali. Melihat pecahan Giok Ruyi di lantai, ia tercengang dan bertanya dengan suara rendah nan tegas, "Siapa yang merusak pusaka kuno milikku?"
Rizhu segera merasakan kemarahan sang guru. Ia tahu perjalanan Ying Zheng selama ini tidak mudah; tanpa banyak berpikir, ia berlutut di hadapan Guru Tertinggi, mengaku bahwa dialah yang merusak pusaka tersebut.
Melihat Rizhu mengambil tanggung jawab, Hanyu panik. Pusaka itu sangat berharga bagi guru mereka; jika rusak, konsekuensinya berat. Ia tidak bisa membiarkan Rizhu dihukum, maka Hanyu pun berlutut di depan Guru Tertinggi dan berkata, "Guru, akulah yang merusak Giok Ruyi itu, tidak ada kaitannya dengan Rizhu."
Melihat Rizhu dan Hanyu bersedia menanggung kesalahan demi dirinya, Ying Zheng tidak ingin menjadi pengecut. Ia maju dan berlutut dengan tegas, "Guru, kejadian ini tidak ada hubungannya dengan Rizhu dan Hanyu. Semua ini salahku. Aku datang ke rumah guru tanpa izin karena ingin melihat pusaka tersebut. Saat Rizhu dan Hanyu datang, aku ketakutan dan tanpa sengaja menjatuhkan Giok Ruyi."
"Bagus! Sangat bagus! Persahabatan kalian sungguh berharga," ujar Guru Tertinggi Ta Wang, yang memiliki kekuatan luar biasa dan mampu mengetahui masa depan maupun masa lalu. Sebenarnya, ia sudah memahami situasi ini sejak awal, namun tidak menyangka persahabatan ketiganya berkembang begitu pesat—baik untuk urusan di masa depan.
Meskipun Giok Ruyi telah pecah, mengetahui kedekatan ketiganya membuat Guru Tertinggi merasa puas. "Kalian mengakui bersama, sudah memahami arti kebersamaan—bagus! Kalian bertiga bertanggung jawab. Rizhu, terima dua kali sambaran petir. Hanyu dan Ying Zheng, masing-masing sepuluh kali." "Terima kasih, Guru, atas hukuman yang tidak terlalu berat."