Bab Lima Puluh Lima: "Si Bodoh" di Jalan Ramai Festival Lampion
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa satu tahun sudah lewat. Meskipun setiap hari Yu Han harus rela meneguk begitu banyak “cemburu buta”, namun melihat kemajuan pesat Zhi Xue dalam bahasa serigala di lingkungan yang penuh dengan para pangeran yang hampir selalu berbicara dengan bahasa itu, ditambah lagi dengan tuntutan keras dari guru-guru di Gereja Kekaisaran, Yu Han tetap merasa puas dan menganggap semua itu sangat berharga.
Pelajaran memang sangat padat, namun Yu Han tetap menepati janjinya untuk sering membawa Zhi Xue berjalan-jalan ke dunia manusia yang sangat ia sukai. Selain agar ia bisa bersantai, juga untuk mengobati kerinduannya pada kampung halaman.
Hari ini adalah Festival Lampion di dunia manusia, sebuah hari besar yang sangat meriah. Pada hari seperti ini, mana mungkin Yu Han tidak membawa Zhi Xue berjalan-jalan di dunia manusia?
Di pasar terbesar dan paling ramai di Linzi, Zhi Xue dengan penuh semangat menarik Yu Han berkeliling di antara kerumunan orang. Malam ini cuaca di Linzi sangat cerah, meskipun agak dingin, namun kerumunan orang di pasar yang meriah ini, deretan penjaja makanan hangat di sepanjang jalan, dan barisan lampion yang indah, semuanya mengusir rasa dingin.
Setiap orang menikmati hidangan tangyuan dan menyaksikan lampion, suasananya sangat meriah. Zhi Xue pun dengan riang menyantap makanan dari ujung jalan ke ujung lainnya sambil terus berbelanja, sementara Yu Han di belakangnya harus susah payah membawa banyak barang belanjaan.
Di sebuah lapak penjual tangyuan warna-warni, Zhi Xue berhenti. “Pak, ini apa ya? Cantik sekali! Pasti rasanya enak!” tanyanya. “Nona memang punya selera bagus, ini adalah tangyuan tujuh warna yang dibuat dengan resep rahasia turun-temurun keluarga kami. Rasanya sangat lezat! Makan tangyuan itu berarti kebersamaan dan keberuntungan, apalagi untuk sepasang kekasih!” jawab si penjual dengan sengaja menggoda pasangan muda yang rupanya serasi itu.
“Hah?” Zhi Xue belum juga memahami maksudnya. “Pak ini memang pandai bicara, kalau begitu beri dua porsi ya!” Yu Han merasa pertanda itu sangat baik, bahkan belum sempat Zhi Xue menjawab ia sudah lebih dulu memesan, lalu dengan susah payah mengosongkan satu tangannya dari tumpukan barang untuk mengeluarkan beberapa keping perak dari sakunya dan menyerahkannya pada si penjual, “Pak, sisanya ambil saja!” “Terima kasih! Terima kasih banyak!” jawab si penjual dengan senyum lebar, lalu menuangkan penuh dua mangkuk tangyuan untuk Zhi Xue dan Yu Han.
Zhi Xue dengan cepat menerima semangkuk tangyuan, lalu menyuapkan satu butir yang berwarna merah muda ke mulutnya, “Wah! Ini enak sekali!” serunya dengan ekspresi yang berlebihan, seolah-olah hendak terbang ke langit. Yu Han, dengan tangan yang akhirnya berhasil bebas, mengambil mangkuk miliknya dan memandangi Zhi Xue yang makan dengan lahap. Ia khawatir Zhi Xue akan tersedak, jadi ia terus mengingatkan, “Xue, pelan-pelan makannya! Jangan buru-buru. Kalau suka, mangkukku juga buatmu, pelan-pelan saja.”
Melihat penjual tangyuan warna-warni mendapat rezeki berkat rayuannya, para penjual di sekitar pun ikut-ikutan meniru taktik itu. Zhi Xue sama sekali tidak terpengaruh, namun Yu Han sangat mudah luluh jika didoakan dengan kata-kata manis. Maka sepanjang perjalanan, Yu Han pun terpaksa membawa satu karung besar berisi barang-barang yang ia beli “secara sukarela” hanya karena para penjual mengatakan bahwa ia dan Zhi Xue sangat serasi, atau mendoakan agar mereka selalu bersama dan langgeng selamanya.
Astaga! Ia, pangeran bangsa serigala yang paling unggul dan sempurna sepanjang sejarah, ternyata bisa melakukan hal “bodoh” seperti itu...
Saat Yu Han masih tenggelam dalam kebahagiaan karena menerima berbagai doa restu, tiba-tiba cermin penerawangan khas bangsa serigala di sakunya bergetar hebat. Yu Han mengerutkan kening, menduga pasti ada urusan penting dari bangsa serigala yang memanggilnya, namun di depannya Zhi Xue tampaknya masih belum puas menikmati malam itu.