Bab Empat Puluh Sembilan: Turun Tangan Sendiri
Setelah menenangkan Zixue, Yuhan mulai benar-benar merenung dan menyesali segalanya. Kemunculan Daibao membantunya menemukan arah yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Ia menyadari bahwa mungkin Dazhen, yang selalu tampak manis, lembut, baik hati, bahkan tak tega menginjak seekor semut pun di sisinya, justru adalah akar dari semua permasalahan!
Selain itu, Yuhan juga mendengar kabar bahwa ayah dan ibunya bermaksud menjodohkannya dengan Dazhen! Kemunculan Daibao kali ini seolah memberinya jalan keluar untuk membereskan ancaman dari Zixue sekaligus masalah perjodohan. Namun, ini adalah urusan besar, jadi harus ada alasan yang kuat dan bukti yang jelas!
Karena itu, Yuhan kembali berulang kali berpesan dan menenangkan hati Zixue, lalu pergi mencari Daibao. Entah dengan bujukan atau ancaman, ia harus memaksa Daibao untuk mengungkapkan kebenaran, lalu secara resmi membatalkan perjodohan di hadapan kedua orang tua mereka!
Sementara itu, Dazhen yang mengetahui bahwa rencana Daibao kembali gagal, sangat marah hingga berkali-kali membanting barang-barang di kamarnya. Sambil mengomel, ia berkata, "Sekelompok pecundang, tak ada satu pun yang berguna! Satu urusan kecil saja tak bisa diselesaikan!" Kemarahan Dazhen membuat para pelayan wanita ketakutan, mereka hanya termangu tanpa tahu harus berbuat apa.
Di saat inilah ibu susuan Dazhen masuk ke kamar. Sambil membungkuk memunguti barang-barang berharga, ia berkata dengan nada penuh makna, "Zhen, dalam segala hal, apalagi yang sangat penting, mengandalkan orang lain itu tak bisa diharapkan! Kau harus pertimbangkan baik buruknya, kalau memang perlu, lakukan sendiri. Kalau bisa diselesaikan sendiri, kenapa harus mengandalkan orang lain? Selesaikan dengan cepat dan tuntas!" Selesai bicara, ibu susuan itu berdiri, menatap Dazhen sambil tersenyum, menggenggam tangan Dazhen dan menepuknya perlahan dua kali. "Zhen, kau mengerti maksudku, kan? Kebahagiaan harus diperjuangkan sendiri! Tangkap kelemahan lawan dan bertindaklah cepat, tepat, dan tajam. Ibumu dulu juga begitu menyingkirkan perempuan-perempuan di sekitar ayahmu!" Setelah berkata demikian, ia pun pergi.
Kelemahan lawan? Kelemahan lawan? Kata-kata itu terus terngiang di kepala Dazhen setelah mendengar wejangan ibu susuannya. Tiba-tiba, masalah Langwen—yang selama ini menjadi batu sandungan bagi Zixue—muncul di benaknya sebagai celah untuk menyerang. Setelah berpikir sejenak, Dazhen memutuskan untuk turun tangan sendiri.
"Zixue, bisakah kau membantuku? Tadi aku berjalan-jalan di belakang bukit, tiba-tiba angin kencang bertiup dan membawa pergi syal sutra kesayanganku, menempel di sebuah pohon besar!" Dazhen menemui Zixue yang baru keluar dari ruang makan, dengan ekspresi penuh perasaan, "Kau tahu, Zixue? Itu hadiah dari ibuku. Setelah memberiku syal itu, ibuku pergi menyusul pamanku dan tak pernah kembali ke Suku Rubah. Aku sangat, sangat menyukai syal itu, sangat berarti bagiku, sungguh tak tergantikan!"
Dazhen menceritakan kisahnya dengan perlahan dan penuh emosi, dan ketika melihat Zixue ikut terbawa suasana, ia bahkan memaksakan beberapa tetes air mata untuk menambah kesan sedih. Zixue dengan penuh simpati maju memegang bahu Dazhen, bertanya lembut, "Dazhen, jangan sedih, jangan khawatir. Katakan padaku, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? Aku rela melakukan apa saja!"
Dalam hati Dazhen bersorak, "Bodoh sekali, mudah sekali ditipu!" Ia pun pura-pura menunjukkan ekspresi terharu, "Benarkah? Kau mau membantuku?" "Tentu saja! Kita ini teman sekelas!"
"Kalau begitu ikutlah denganku, kita pikirkan cara di bawah pohon itu! Tak jauh, hanya di belakang gereja."
Dazhen menggandeng Zixue berlari ke belakang bukit, dan benar saja, Zixue melihat di puncak pohon pinus yang menempel di tebing, ada syal sutra berwarna merah muda tergantung di sana. Namun, Zixue tak menyadari, Dazhen diam-diam mengucapkan mantra, membentuk penghalang besar di belakang bukit, sehingga keadaan di dalam penghalang itu tak bisa dilihat maupun didengar oleh orang luar.