Bab Empat Puluh Sembilan: Ya, Sudut Ini
Begitu selesai berbicara, Jiang Qiye langsung lari terbirit-birit. Lin Muxue sempat tertegun, lalu berteriak kencang,
“Jiang! Qi! Ye!”
Setelah saling kejar-kejaran sejenak, mereka pun duduk di bangku kayu panjang di taman perumahan.
“Ibuku memanggil kalian untuk makan bersama,” kata Jiang Qiye sambil merapikan rambut Lin Muxue yang bersandar di pundaknya.
“Aku sudah menduga,” jawab Lin Muxue. “Sebelum berangkat tadi, aku sengaja bilang ke ibuku supaya jangan masak. Kupikir, karena kau baru pindah, pasti akan mengundang kami makan.” Ia menegakkan dagu, menatap Jiang Qiye dengan ekspresi penuh kebanggaan, seolah menunggu dipuji.
“Hahaha, memang Muxue-ku yang paling pintar,” kata Jiang Qiye sambil tertawa.
“Huh, siapa juga yang jadi punyamu! Masih jauh!” seru Lin Muxue malu-malu, lalu meludah pelan. Sebenarnya, kepindahan Jiang Qiye ke sini membuat hatinya jauh lebih tenang. Ia adalah anak tunggal. Kelak jika ia kuliah di luar kota dan terjadi sesuatu di rumah, tak ada yang bisa membantu mengurus orang tuanya.
Sekarang, setidaknya dengan kehadiran Jiang Qiye, He Hui dan kedua orang tuanya bisa saling menjaga. Kalau pun suatu saat ia menikah, mereka tetap tak akan terpisah terlalu jauh. Ah, kenapa pikirannya jadi merembet ke soal pernikahan?
Lin Muxue menggeleng-geleng, masih terlalu dini untuk memikirkan itu!
“Ngomong-ngomong, kenapa kamu beli buku Sinyal dan Sistem itu?” Jiang Qiye tiba-tiba teringat keluhan Lin Muxue sebelumnya, lalu bertanya penasaran. Bukankah kampus akan mengirimkan buku ajar?
“Aku sempat cari tahu di internet, katanya Sinyal dan Sistem itu pelajaran tersulit di jurusan kita. Aku mau coba pelajari dulu. Tapi ternyata susah banget, lihat saja, dua hari ini rambut putihku mulai bermunculan!” kata Lin Muxue sambil duduk tegak, membelakangi Jiang Qiye dan memintanya memeriksa rambutnya.
“Jangan buru-buru, nanti kalau buku ajarnya sudah sampai, kita pelajari pelan-pelan saja,” ujar Jiang Qiye. Ia memang menemukan beberapa helai rambut putih di kepala Lin Muxue, lalu mencabutnya dan menenangkan gadis itu. Dasar mereka memang belum punya banyak bekal, sebaiknya tunggu buku ajar datang lalu belajar bertahap.
“Itu semua gara-gara kamu,” ucap Lin Muxue tiba-tiba, lalu menoleh dengan wajah merajuk dan memukul lengan Jiang Qiye, “Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan segelisah ini!”
“Gara-gara aku?”
“Kamu kemajuan terlalu cepat, aku takut tidak mampu mengikuti jejakmu.” Suara Lin Muxue perlahan mengandung kesedihan. Belakangan ini ia benar-benar sering merasa terancam. Baginya, cinta yang indah adalah cinta yang seimbang, dua insan yang bisa berjalan sejajar.
Jiang Qiye memang terus berkembang belakangan ini. Meski ia senang, tapi rasa cemas selalu mengikuti. Hubungan tanpa topik bersama tak akan bertahan lama. Walaupun dalam tradisi, lelaki bertugas mencari nafkah, ia tak sepakat. Menurutnya, cinta hanya akan langgeng jika keduanya saling menopang dan saling menghormati.
Buktinya, kekayaan segunung pun tak bisa membeli cinta sejati.
Jiang Qiye sempat terdiam. Ia tak pernah menyadari Lin Muxue berpikiran seperti itu, tapi ia sangat memahaminya. Inilah Lin Muxue yang telah menerangi masa mudanya—penuh semangat, pantang menyerah.
Dengan lembut ia merangkul Lin Muxue, “Tak apa, kita maju bersama.”
“Iya…” Lin Muxue menyandarkan kepalanya di bahu Jiang Qiye.
Keduanya duduk diam menikmati hembusan angin sore dan matahari terbenam di musim panas.
Malam harinya, setelah Lin Xiao pulang, ia dan Zhong Xue datang ke rumah Jiang Qiye.
“Jadi kau yang beli rumah ini? Tadi malam aku heran, kukira pemilik lamanya tiba-tiba balik,” kata Lin Xiao begitu masuk ke rumah, menengok sekeliling dengan takjub. Ia memang sempat memperhatikan tetangganya ini, baru sekarang menyadari Jiang Qiye sudah menetap di situ.
Lin Xiao lalu berjalan ke sana kemari, seolah-olah memeriksa kualitas rumah, dan tanpa sengaja berdiri di dekat jendela.
Ia menengadah, menatap ke luar jendela.
Dari sudut ini—gawat!
Bukankah itu kamar Lin Muxue? Jiang Qiye pasti punya niat tersembunyi! Tidak bisa dibiarkan, pulang nanti harus minta Zhong Xue mengganti tirai kamar Lin Muxue dengan tirai tebal yang tak tembus cahaya.
Dengan naluri detektif yang dibangun selama belasan tahun, Lin Xiao memang sempat memperhatikan rumah itu tadi malam. Dari posisi ini, ia bisa langsung melihat kamar putrinya.
Jangan-jangan Jiang Qiye juga sudah menyiapkan teropong!
Lin Xiao mulai melirik ke sekeliling, mencari barang-barang mencurigakan.
“Pak Lin, makan malam sudah siap!” Belum sempat menemukan apapun, Zhong Xue keluar dari dapur memanggil.
“Iya, sebentar.”
Malam itu, setelah makan, Jiang Qiye mengantar keluarga Lin Muxue pulang. Ia menolak undangan Zhong Xue untuk masuk sebentar, karena Lin Xiao memasang wajah gelap yang cukup menyeramkan.
Entah apa yang membuat Lin Xiao marah, sejak selesai makan pria itu terus bermuka masam. Jiang Qiye pun tak habis pikir. Setelah berpamitan pada Lin Muxue, ia segera pergi.
“Cepat, Bu, ganti semua tirai kamar Muxue dengan yang tak tembus cahaya!” Begitu Jiang Qiye hilang dari pandangan, Lin Xiao langsung menutup pintu dan berseru pada Zhong Xue.
“Apa lagi sih, kamu ini?” Zhong Xue menepuk Lin Xiao kesal, lalu masuk ke dalam. Sejak pesta pindahan di rumah Jiang Qiye, suaminya itu terus bermuka masam hingga suasana jadi aneh.
Kalau saja bukan di rumah orang lain, Zhong Xue pasti sudah protes dari tadi.
Sebaliknya, Lin Muxue yang mendengar ayahnya bicara begitu malah jadi salah tingkah. Ia tahu, ayahnya pasti sadar bahwa dari jendela rumah Jiang Qiye bisa langsung melihat kamarnya.
Lin Xiao terdiam sejenak, lalu memandang putrinya dengan pasrah. Ia mendekat ke Zhong Xue, membisikkan, “Jendela rumah Jiang Qiye pas menghadap kamar Muxue! Meski sekarang mereka pacaran, tetap saja tak boleh dibiarkan, nanti kalau ia tak bertanggung jawab bagaimana?!”
“Lin Xiao, kamu ini kebanyakan kerja di kepolisian, jadi suka suuzan sama orang. Lagi pula, memangnya dari sana bisa lihat apa sih?” jawab Zhong Xue tak habis pikir. Ia justru sangat puas pada Jiang Qiye—tampan, cerdas, kalau menikah dengan Muxue, pasti anak mereka jadi ilmuwan besar.
Memikirkan itu saja sudah membuat Zhong Xue makin puas, apalagi Muxue pun menyukainya.
Lin Xiao memegang kening, melirik putrinya yang kini memerah malu. Ia tiba-tiba merasa putus asa—selesai sudah, putri kesayangannya tak akan bisa ia jaga selamanya.