Sebuah kesalahpahaman.
Sayangnya...
Walaupun Su Yunran berteriak keras, lelaki iblis itu hanya tersenyum, memandanginya dengan santai tanpa sedikitpun berniat menahan diri, juga tidak menunjukkan keinginan untuk berdebat. Satu tangan saja tak cukup untuk menimbulkan suara, Su Yunran merasa percuma melanjutkan, lagi pula memaki orang juga butuh tenaga. Ia pun tak tahu sudah berapa lama tertidur, kini rasa lapar melilit perutnya, mana ada energi tersisa untuk berdebat tanpa tujuan. Ia juga tidak merasa bahwa merendah atau memohon akan membuat lelaki pelit yang demi dua ratus tael saja hampir mengejarnya sampai ke pintu kematian itu akan memberinya makan!
Maka, ia membalikan badan dengan kuat, mencoba meninabobokan dirinya agar kembali terlelap, karena saat tidur, ia tak akan merasa lapar.
Namun, lelaki itu justru tertawa lebih keras, lalu akhirnya bicara, “Bagaimana kalau kita buat sebuah kesepakatan? Sebagai syarat, aku akan memberimu dan anak itu tempat berlindung yang benar-benar aman.”
Tempat berlindung yang aman?
Sekejap saja, Su Yunran merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.
Kenapa tiba-tiba lelaki itu bicara soal tempat berlindung yang aman? Apakah ia tahu identitas aslinya?
Tidak! Itu tidak mungkin! Ia tak mungkin tahu siapa dirinya, bahkan di Tanah Tianyao di luar sana, hanya sedikit orang yang tahu keberadaannya. Atau jangan-jangan...
“Akhir-akhir ini kabarnya ada orang yang sedang mencari seorang perempuan dengan rambut panjang sebatas pinggang berwarna cokelat tua...” Lelaki itu perlahan menjelaskan.
Su Yunran mengatupkan bibir, enggan bicara. Awalnya ia ingin pura-pura tak mendengar, namun menyadari bahwa diam justru membuatnya semakin mencurigakan, akhirnya ia bersuara, nadanya acuh, “Mencari perempuan berambut cokelat tua untuk apa? Mau dijadikan spesies langka dan dipertontonkan? Huh, apa yang anehnya? Di desaku, banyak yang rambutnya cokelat, para gadis sejak kecil sudah memelihara rambut hingga sepanjang pinggang, siapa yang tidak?”
“Oh begitu?”
Lelaki itu tersenyum, bangkit perlahan dari duduknya. “Ternyata aku keliru. Kalau begitu, karena yang dicari bukan kau, aku pergi saja.”
Su Yunran langsung tertegun.
Benarkah ia akan pergi begitu saja? Tidak masuk akal, kan? Jelas-jelas demi dua ratus tael ia mengejarnya sampai hampir mati, lalu tiba-tiba menawarkan tempat berlindung yang aman untuk dirinya dan Chenchen sebagai imbalan sebuah perjanjian. Ini bukti bahwa sejak awal ia mengejar Su Yunran sudah punya rencana, tapi sekarang, sebelum negosiasi apapun selesai, ia rela pergi begitu saja?
Terdengar suara pintu terbuka, Su Yunran yang tadi memasang telinga langsung menoleh, melihat lelaki itu benar-benar melangkah keluar. Di saat itulah, tiba-tiba ia mendapat pencerahan...
Sial! Jangan-jangan para pengejarnya ada di luar sana?
Wajah Su Yunran seketika berubah drastis. Ia melompat dan berteriak, “Hei! Ini tempat apa?”
Namun lelaki itu seolah tidak mendengar, sama sekali tidak berhenti, langsung keluar dan dengan sopan menutup pintu di belakangnya.
Kini Su Yunran semakin yakin bahwa para pengejar memang ada di luar. Tanpa pikir panjang, ia melompat turun dari ranjang, berlari tanpa alas kaki mengejar lelaki itu, berteriak, “Kalau soal perjanjian, aku setuju! Tapi kenapa aku harus percaya padamu?!”
Akhirnya lelaki itu berhenti, perlahan berbalik, tersenyum tipis namun menyebalkan. Ia melambaikan tangan, melemparkan sesuatu ke arahnya.
Su Yunran mengernyit dan menangkap benda itu. Begitu melihatnya, matanya hampir melotot.
Sebuah lencana milik Perguruan Yitian!
Konon, untuk masuk ke Perguruan Yitian saja sangat sulit, bahkan para pelayan yang menyapu lantai pun dipilih dengan ketat. Mereka yang bisa naik jabatan semuanya orang pilihan, dan yang bisa memegang lencana jumlahnya sangat sedikit. Artinya...
Paling tidak, lelaki itu adalah salah satu petinggi di Perguruan Yitian. Sedangkan tujuan Su Yunran adalah tempat itu juga, tempat di mana Kepala Suku Tianyao yang baru, Yao Tianhan, berada.
Berhati-hati lebih baik, Su Yunran membolak-balik lencana itu berkali-kali, memastikan keasliannya, lalu langsung memasang senyum ramah dan mendekat dengan gaya penjilat, “Iblis, eh, maksudku, Tuan Besar, sepertinya ada kesalahpahaman di antara kita...”
*
Awalnya Su Yunran ingin duduk santai, minum teh sambil berbincang, saling mengenal sebelum menilai karakter dan menyusun strategi. Tapi Tuan Besar itu malah langsung meminta pena, tinta, kertas, dan batu tinta kepada pelayan penginapan, lalu dengan tulisan tangan indah bak naga menari dan burung terbang, ia membuat sebuah kontrak...
Isi kontraknya singkat dan padat, namun maknanya dalam dan penuh jebakan, tetap saja Su Yunran merasa tertarik, terutama ketika melihat nama marganya—
He Lian!
Setahunya, di Negeri Ling sangat sedikit yang bermarga rangkap He Lian, apalagi di Perguruan Yitian, pria bermarga He Lian bisa dihitung dengan jari. Yang benar-benar berdarah murni hanya satu, yaitu Kepala Perguruan Yitian. Yang lain hanyalah keturunan dari anak perempuan yang menikah keluar dan diadopsi ke keluarga He Lian, karena keluarga ini sangat sedikit keturunannya. Kepala perguruan saat ini saja sudah delapan generasi hanya satu garis keturunan.
Tapi, baik He Lian murni maupun yang hanya pelengkap, semua bukan orang yang bisa dimusuhi oleh Su Yunran, yang tujuannya saja sudah setengah mati ingin masuk untuk mencari seseorang. Lagi pula...
“Tuan, sepertinya tanda tangan Anda hanya setengah...”
Walaupun Su Yunran sudah mulai menebak, ia tetap bersikap sopan, menunjukkan kontrak itu sambil berharap si Tuan Besar lupa tujuan awalnya dan menulis nama lengkap, agar ia bisa menilai apakah kontrak yang nyaris seperti kontrak budak itu layak ditandatangani.
“Benarkah?”
He Lian sang pendekar pura-pura kaget, melirik sekilas, lalu dengan santai berkata, “Oh, maaf, ternyata memang terlewat. Tapi tak apa, nanti tinggal dilengkapi. Kalau kau sudah setuju, tandatangani dulu saja, nanti aku lengkapi.”
Dasar, bagimu mungkin tidak masalah, bagiku sangat penting! Kau jelas sengaja!
Su Yunran dalam hati memaki delapan belas generasi leluhurnya, namun begitu dipikir-pikir lagi, tujuannya hanya satu: bisa masuk Perguruan Yitian, mencari Kepala Suku Tianyao berikutnya, Yao Tianhan. Dengan identitas yang jelas, lebih mudah baginya. Mau He Lian murni atau pelengkap, memegang lencana saja sudah untung besar! Kalau nanti keadaan tak menguntungkan, ia toh masih bisa kabur.
Menekan rasa tidak puas, Su Yunran memasang senyum penjilat, “Tuan He Lian, saya sudah membaca kontraknya. Syarat yang Anda ajukan memang sangat menggoda dan saya benar-benar ingin bekerja sama. Hanya saja, otak saya tidak terlalu cerdas, khawatir ada yang terlewat yang bisa merugikan Anda. Tapi tenang, walau saya bodoh, saya punya tekad kuat dan sangat menjunjung kepercayaan. Janji adalah janji, pasti saya laksanakan sebaik mungkin, jadi...”
Bibirnya yang pucat tersenyum penuh harap, dengan nada memelas, “Bisakah Anda menuliskan isi kewajiban saya dengan lebih rinci dan jelas? Saya sungguh tidak ingin melewatkan kesempatan bekerja sama dengan Anda...”
“Tenang saja, aku dikenal sabar,” jawab Tuan He Lian dengan senyum, matanya berkilat penuh godaan. “Aku takkan mudah menyalahkanmu hanya karena kesalahan kecil yang tidak disengaja. Lagi pula aku cukup teliti, akan kuingatkan sebelum kau salah.”
Dasar, orang teliti mana ada yang lupa menulis nama lengkapnya? Jelas kau sengaja!
Su Yunran dalam hati mengutuk leluhurnya sampai delapan belas turunan, tapi akhirnya menggigit bibir, mengambil pena dan menandatangani kontrak, sambil berkata, “Selanjutnya, mohon bimbingannya, Tuan He Lian.”
Si Tuan Besar melirik nama yang ia tulis, lalu mengangkat alis, “Namamu Shui?”
Su Yunran menatapnya serius, “Kalau Tuan tidak suka, saya bisa segera ganti. Zhao, Qian, Sun, Li, Zhou, Wu, Zheng, Wang, Feng, Chen, Zhu, Wei… silakan pilih suka yang mana!”
Tuan He Lian benar-benar tertegun sejenak, lalu tertawa geli, nadanya ambigu, “Tidak, aku suka, bahkan tiba-tiba sangat menyukainya.”
Nada bicara dan sorot matanya yang dalam berkilau penuh makna membuat Su Yunran mendadak salah tingkah, buru-buru menulis sisa namanya, lalu mendorong pena ke arahnya, “Tuan He Lian, giliran Anda.”
Lelaki itu tersenyum, menerima pena, lalu dengan gagah menuliskan satu karakter kuat setelah nama He Lian—Jing.