Bab 81: Garuda Bersayap Emas
Langkah kakinya semakin lama semakin cepat, hingga akhirnya ia mulai berlari sekuat tenaga. Tanpa perlu menengadah, ia sudah bisa merasakan dirinya telah terkunci oleh salah satu makhluk mutasi di atas kepalanya, perasaan bahaya yang begitu kuat membuat kulit kepalanya meremang!
Untungnya, tempat ini bukanlah lahan terbuka melainkan sebuah kota, di mana gedung-gedung tinggi berdiri rapat, menghalangi pandangan burung raksasa itu sehingga tidak bisa langsung menyerang!
Sambil berlari, Royan sempat mendongak. Tak diragukan lagi, itu adalah makhluk raksasa, ukurannya bahkan lebih besar dari burung hantu hitam yang pernah ia lihat sebelumnya. Ketika sayapnya terbentang, ia bagaikan awan emas yang mengambang di atas kota.
Burung itu terus berputar-putar, mencari momen terbaik untuk berburu. Matanya yang tajam seperti elang, menatap dingin ke arahnya.
Makhluk mutasi ini tampak sempurna, tanpa cedera sedikit pun. Mungkin ia lolos dari medan perang, atau baru saja datang dari wilayah lain. Namun dari peringatan sistem yang muncul dengan tidak sabar, jelas bahwa burung mutasi bernama Garuda Emas ini sangat kuat, dan termasuk dalam kelas biru.
Itulah sebabnya Royan kini berlari di jalanan. Garuda Emas adalah buruannya, tetapi ia pun menjadi incaran burung itu. Jika yang mengejar adalah makhluk kelas biru tua, sudah sejak tadi ia mencari perlindungan di gedung-gedung terdekat.
Meski demikian, Royan tetap merasakan tekanan yang luar biasa. Jika lawannya adalah makhluk darat kelas biru, ia tak akan merasa tertekan seperti ini. Namun, makhluk terbang adalah pengecualian. Bagi Royan, jenis mutasi terbang selalu menjadi yang paling merepotkan. Mereka memiliki keunggulan alami atas makhluk darat dan sering kali sulit diatasi.
Yang terpenting, ia sama sekali tidak punya pengalaman menghadapi makhluk terbang.
Namun, Royan tidak ingin menyerah. Ini adalah kesempatan langka. Jika ia berhasil membunuh burung ini, ia bisa naik tingkat. Itu jauh lebih efisien daripada menghabiskan waktu lama mencari makhluk mutasi yang terluka, tanpa kepastian hasil. Sekali kerja, langsung tuntas—sangat menggoda.
Lagipula, bagaimanapun juga, ini hanya makhluk mutasi kelas biru.
Ia terus-menerus mengingat adegan di dunia binatang, saat elang menerkam kelinci liar. Bayangan itu berulang kali terputar dalam benaknya, seperti adegan lambat dalam film. Secara perlahan, laju Royan mulai melambat, hingga akhirnya ia berhenti di sebuah pusat perbelanjaan yang luas dan kosong.
Berlari hanya akan menguras tenaga sia-sia. Menghadapi makhluk seperti ini, ia harus menunggu waktu yang tepat: diam hingga saatnya tiba, lalu bergerak secepat kilat.
Areal lapang tanpa penghalang adalah tempat bertarung terbaik, baik untuk Garuda Emas maupun untuk dirinya.
Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap ke langit.
Sayap emas burung itu berkilauan diterpa cahaya matahari, membentang hingga sepuluh meter lebih. Ia terus berputar dan lingkarannya semakin mengecil, kecepatannya makin tinggi. Akhirnya, ia tak bisa menahan diri lagi. Sayapnya perlahan dilipat, lalu meluncur deras dari ketinggian. Hanya dalam hitungan detik, suara ledakan tiba-tiba menggema di udara!
Kecepatannya menembus batas suara, membentuk awan putih di tengah langit. Gelombang kejut yang kuat memecahkan kaca-kaca gedung di sekitarnya.
“Dia datang!” Hati Royan terkejut, matanya menatap tajam ke arah burung raksasa yang melaju kencang, tangannya menggenggam gagang pedang erat-erat. Hormon adrenalin melonjak, detak jantungnya berdebar-debar seperti genderang perang.
Kelincahan tingkat tiga belas membuat Royan mampu menangkap gerak burung itu seolah-olah ia adalah kamera berkecepatan tinggi. Namun, kecepatannya tetap terasa mustahil untuk diikuti, hampir menyamai peluru.
Udara di belakang burung itu membentuk lorong panjang akibat kecepatan luar biasa. Sebelum menyentuh tanah, angin puyuh telah berhembus di alun-alun, debu dan kerikil beterbangan, bahkan kulit terasa perih seperti digores pisau.
Dorongan luar biasa itu hampir saja membuatnya ingin berbalik dan kabur. Tapi ia tahu, sekarang sudah terlambat. Gedung terdekat berjarak puluhan meter, dan secepat apapun dirinya, ia takkan bisa mengalahkan burung yang sedang menukik itu. Sampai di titik ini, ia justru menjadi tenang luar biasa. Pakaiannya berderai diterpa angin, matanya menyipit.
Seratus meter, lima puluh meter, dua puluh meter—cakar raksasa yang dilapisi sisik abu-abu seperti akar pohon tua, mencuat keluar dari perut burung itu. Kuku-kukunya yang tajam berkilat seperti belati, sanggup mencabik baja.
Cakar itu melesat ke arahnya, hampir mencengkeram tubuhnya, namun Royan tiba-tiba memejamkan mata. Dalam persepsinya, setiap gerak burung itu tampak jelas menyala di kegelapan, tak satupun luput. Hanya sepasang cakar raksasa yang memenuhi benaknya.
Bahkan peluru pun mampu ia hindari, apalagi burung raksasa yang kecepatannya tak sebanding peluru itu.
Tubuhnya bergerak sedikit tanpa sadar. Sekejap kemudian, suara pedang menggema nyaring. Pedang pemotong kuda melesat keluar dari sarungnya, seperti petir membelah langit, menebas tanpa suara ke arah dua cakar tebal itu. Begitu bersentuhan, cakar yang tampak begitu kokoh itu langsung terpisah dari tubuhnya.
Burung raksasa itu bahkan belum sempat bereaksi, belum sempat merasakan sakit, Royan sudah bergerak lagi.
Ia menghentakkan kaki dengan kuat. Lantai alun-alun pecah di bawahnya, lalu tubuhnya berputar, dan bahunya menghantam perut burung itu dengan keras.
Tak seperti atribut kekuatan, kecerdasan, atau kelincahan yang elastis, kekuatan fisik sangat berbeda antara orang biasa dan yang terlatih. Beberapa atlet angkat besi terkenal pun tenaganya melebihi Royan, namun kekuatan dua kali lipat lebih sudah sangat besar bagi orang kebanyakan.
Burung itu tampak besar, tapi sebagian besar ukurannya karena lebar sayap. Tanpa sayap, tubuhnya hanya setinggi tiga meter lebih. Lagi pula, burung itu masih melayang di udara, sehingga ketika Royan menabraknya, ia terlempar lima-enam meter dan jatuh telentang di tanah.
Burung raksasa itu menjerit nyaring, membuat gendang telinga Royan bergetar dan telinganya berdengung.
Tersungkur di tanah, barulah burung itu sadar bahwa sosok di hadapannya bukan mangsa biasa, melainkan monster yang lebih menakutkan dari dirinya. Rasa sakit hebat di kaki yang terpotong dan naluri akan bahaya membuatnya meronta-ronta. Sayapnya berkepak liar, menciptakan angin dahsyat di sekitarnya.
Namun, Royan takkan membiarkan kesempatan lolos begitu saja.
Tubuhnya merunduk, kaki menjejak erat ke tanah, kedua kakinya bersilangan seperti angin, tubuh bagian atas sejajar dengan tanah. Lantai di bawah kakinya pecah berserakan. Ia menantang angin kencang, rambutnya beterbangan liar, tubuhnya melesat seperti anak panah.
Jarak lima-enam meter ditempuh dalam sekali helaan napas. Begitu mendekat, sayap raksasa menerjang, menimbulkan kekuatan luar biasa. Bulu dan batu beradu, menimbulkan sinar api setinggi beberapa meter. Udara di sekitar sayap membentuk pusaran setengah transparan, hingga meja marmer di dekatnya terangkat dan melayang. Serangan seperti itu, andai mengenai tubuh, pasti akan mengoyak daging hingga tulang.
Royan meskipun telah bersiap, tetap terengah-engah. Namun, gerakannya tak melambat. Pedang pemotong kuda yang terseret di tanah, ia balik genggam, lalu menebas. Sekilas cahaya dingin melintas, separuh sayap burung itu terpenggal. Tapi Royan juga menerima dampaknya—meski berhasil menghindari serangan langsung, ia tetap terhempas oleh angin kencang dan melayang belasan meter sebelum berhenti.
Mulutnya terasa manis, lalu ia memuntahkan darah segar.
Ia menjilat bibirnya yang berlumuran darah, mengusapnya asal pada lengan bajunya, lalu menatap burung raksasa yang kini hanya memiliki satu sayap dan tanpa kaki, hanya bisa meronta sia-sia. Di wajahnya tersungging senyum dingin.
Tanpa sayap dan cakar, kekuatan seekor burung berkurang drastis. Namun Royan tetap tidak lengah. Tubuh manusia yang rapuh membuatnya sadar, bertarung melawan makhluk mutasi harus selalu berhati-hati—sedikit saja lalai, nyawa taruhannya!
Tatapannya dingin, ia melangkah perlahan mendekati burung raksasa itu, auranya sepenuhnya dilepaskan.
Merasa terancam, burung itu menjerit-jerit, satu-satunya sayap yang tersisa dikepakkan sebisa mungkin. Namun, ketidakseimbangan kekuatan membuatnya tak bisa terbang, hanya bisa berguling-guling di alun-alun, menabrak ke sana kemari.
Tak ingin membuang waktu dan menghindari kejadian tak terduga, Royan mempercepat langkah, berlari secepat kilat.
Pedang dicabut!
Tebasan menyilang!
Satu lagi sayap burung itu terpenggal.
Royan lalu berguling menghindari angin yang menerjangnya, di saat yang sama, pedang pemotong kuda menusuk perut Garuda Emas. Perut lembut itu tak bisa menahan senjata kelas biru tua, dengan mudah ditembus, lalu dengan gerakan memutar, isi perut burung itu tercabik, organ dalamnya hancur berantakan, meninggalkan luka mengerikan.
Rasa sakit luar biasa membangkitkan sifat buas burung itu. Paruhnya yang tajam menyerang Royan membabi buta. Serangan burung seperti itu, cepatnya menyerupai ular, sulit dihindari dengan mata telanjang—apalagi ini makhluk mutasi kelas biru.
Terdengar ledakan keras seperti petasan!
Royan buru-buru memiringkan tubuh, lalu suara dentuman keras kembali terdengar. Di sisinya, tanah berlubang sedalam kepala manusia, pecahan batu beterbangan mengenai punggungnya, menimbulkan rasa perih dan membuat keringat dingin mengucur.
Rentetan suara keras terus terdengar dari belakang. Untungnya, burung raksasa itu sudah tak leluasa bergerak, sehingga Royan bisa berguling menjauh dengan aman.
Menghadapi Garuda Emas yang sudah sekarat, Royan memilih untuk mundur sejenak.
Belasan menit kemudian, darah yang terus mengucur dan organ dalam yang hancur, ditambah perlawanan sengit sebelumnya, membuat kekuatan burung itu melemah drastis. Ia tergeletak lemas di tanah, cahaya di matanya redup, kelopaknya menutup perlahan.
Demi memastikan segalanya, Royan tak mau ambil risiko. Ia mengeluarkan pistol Elang Gurun, membidikkan ke kepala burung itu, dan menarik pelatuk dengan ringan.
Peluru biru tua hasil sintesis menembus kepala burung itu dengan mudah. Tubuhnya bergetar hebat, sayapnya mengepak liar beberapa kali, lalu diam tak bergerak.