Bab 96: Pohon Hantu
Malam turun setenang air.
Di dalam ruang bawah tanah, Royan berbaring dengan mata terpejam di dalam kantong tidurnya.
Huang Jiahui, yang gelisah dan tak juga bisa tidur, akhirnya duduk dan berbisik, “Kenapa kau diam saja? Sebenarnya ada apa?”
Royan, yang tadinya seolah benar-benar tidur, tiba-tiba membuka matanya. “Sst, jangan bicara, ada sesuatu.”
Baru saja Huang Jiahui hendak bertanya, ia pun mendengar suara aneh di ruang bawah tanah. Ia menahan napas, jantungnya berdebar keras. Ruangan itu gelap gulita dan ia masih terbalut kantong tidur, sama sekali tak dapat melihat apa yang terjadi di luar.
Begitu Royan membuka kantong tidurnya, barulah ia melihat bayangan hitam berdiri dari balik rak tempat orang-orang tidur. Gerakannya kaku, langkahnya terhuyung-huyung. Adegan aneh di kegelapan ini membuat bulu kuduk Huang Jiahui meremang.
Ia menutup mulut rapat-rapat, mata membelalak ketakutan.
Dengan tergesa-gesa, ia mengeluarkan pistol, tapi Royan cepat-cepat menahannya. “Itu Ning Xiaoran, jangan tembak.”
Huang Jiahui menghela napas lega, namun kalimat Royan berikutnya nyaris membuatnya menjerit.
“Dia dikendalikan sesuatu. Jangan ganggu dia, lihat ke mana dia pergi.” Royan berkata tenang. Karena mereka tak bisa menemukan makhluk mutan itu, ia memutuskan untuk mengikuti Ning Xiaoran sebagai umpan. Suatu saat, mereka pasti akan menemukan dalangnya.
Di kegelapan, Ning Xiaoran tampak masih bisa melihat. Gerakannya pelan, tapi setiap langkah mampu menghindari rintangan dengan tepat. Ia perlahan berjalan menuju tangga ruang bawah tanah, langkah beratnya terdengar jelas.
“Tunggu, ada satu lagi.” Saat Ning Xiaoran hendak keluar ruangan, satu bayangan lagi berdiri dan berjalan terhuyung-huyung: Huo Dong.
Seluruh ruang bawah tanah kini diselimuti aura dingin yang membuat tubuh menggigil. Saat papan penutup dibuka oleh Ning Xiaoran, bayangan-bayangan lain pun mulai bangkit satu persatu, berjalan ke luar.
Bahkan Wang Shishi, yang tadinya tertidur lelap, tak luput. Ia bangkit dengan pandangan kosong seperti orang berjalan dalam tidur, membuat Huang Jiahui ketakutan dan memegang Royan erat-erat.
Yang tidak diketahui itulah yang paling menakutkan. Banyak orang tak takut peluru, tapi takut hantu—itulah sebabnya.
Royan cepat-cepat memegang lengan Wang Shishi, teringat caranya membangunkan Ning Xiaoran, lalu membangunkan Wang Shishi dengan gelombang wibawanya. Wang Shishi pun berteriak dan sadar.
Masih setengah sadar, ia mengucek mata, melihat Royan dan Huang Jiahui duduk di kantong tidur. “Sudah pagi? Aku baru saja mimpi buruk, menakutkan sekali!”
“Belum pagi, tapi jangan tidur dulu. Sekarang berbahaya. Kalau ada yang ketiduran, segera bangunkan. Tunggu aku kembali!” Royan berkata serius.
Wang Shishi teringat apa yang dikatakan Royan saat makan malam, wajahnya pucat dan ia mengangguk kencang karena takut.
“Kau juga hati-hati!” kata Huang Jiahui cemas, tahu dirinya tak bisa membantu.
“Hanya masalah kecil, jangan khawatir,” jawab Royan ringan, lalu mengambil pedangnya dan keluar dari tenda.
Royan keluar dari vila, hati-hati mengikuti bayangan-bayangan di depan, berjalan perlahan.
Ia melihat jam tangan, sudah pukul setengah dua dini hari. Karena langit tertutup awan, di luar gelap total. Tapi hujan telah reda, tanah masih basah, udara dipenuhi semerbak harum samar.
Meski gelap, baginya itu bukan halangan. Entah karena tubuhnya yang telah diperkuat, asalkan ada cahaya sedikit saja ia bisa melihat. Apalagi ia punya kepekaan khusus, sehingga bisa bergerak bebas dalam gelap.
Orang-orang itu berjalan terhuyung lurus ke depan, melewati jalan yang siang tadi pernah dilalui Ning Xiaoran.
Beberapa serangga mutan bercahaya beterbangan bak api arwah, dari rerumputan terdengar suara berdesir. Anehnya, tak ada satupun binatang mutan yang menyerang kelompok itu. Seolah mereka membawa sesuatu yang menandai mereka, membuat makhluk-makhluk itu menjauh.
Mungkin sepuluh atau tiga puluh menit berlalu, mereka sampai di tempat Royan menemukan Ning Xiaoran siang tadi, tapi tetap tak berhenti dan terus berjalan.
Dari sudut mata, Royan melihat sosok samar tiba-tiba muncul di rerumputan jauh. Ia mengenakan gaun terusan, berambut panjang, tubuhnya seakan tembus pandang, melayang tanpa berat, kaki tak menyentuh tanah, seolah terbang.
Kulit Royan meremang, hawa dingin menjalar dari tulang ekornya ke seluruh tubuh. Tanpa sadar, wibawanya terpancar keluar.
Sosok itu tampaknya menyadari kehadiran Royan, tiba-tiba menoleh. Wajahnya bening dan menyeramkan, dengan keindahan aneh yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia menyeringai, tapi senyuman itu tampak mengerikan dan membuat hati bergetar.
Lalu, ia lenyap secepat kemunculannya.
Royan tertegun, menoleh ke segala arah, tapi tak menemukan jejaknya. Seakan benar-benar menghilang begitu saja.
“Apa ini? Sebenarnya apa makhluk itu?” Wajah Royan menegang. Ia selalu menganggap dirinya ateis, namun pemandangan ini sungguh di luar nalar.
“Roh gentayangan? Manusia berevolusi? Atau justru inilah biang keladi hilangnya semua penyintas di kompleks ini?”
Royan belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Ia sempat ragu, namun melihat orang-orang di depan yang tak terpengaruh dan terus berjalan, ia pun menggigit bibir dan tetap mengikuti mereka.
Kabut tipis mulai naik dari rerumputan, membuat suasana makin mencekam.
Semakin jauh mereka melangkah, sosok-sosok hantu itu makin banyak, seperti dunia arwah. Selain manusia, ada pula arwah binatang mutan yang melayang-layang di sekitar, tapi tak ada satupun yang berani mendekat. Seolah ada sesuatu pada diri Royan yang membuat mereka takut.
Beberapa arwah tampak nyata, hampir seperti manusia hidup; sebagian lain redup, nyaris lenyap ditiup angin.
Aroma harum di udara terasa familier bagi Royan, seakan pernah ia kenal.
Dengan tangan menggenggam gagang pedang, ia melangkah waspada, merasa ada sesuatu yang tak asing di sekitar. Saat menoleh, ia sadar betapa dekatnya ia dengan vila yang tadinya hendak ia tempati.
Hatinya pun tergerak, ia menatap pohon besar yang menutupi vila itu.
Pohon besar itu berdiri kokoh dalam gelap, menghembuskan aroma jauh lebih kuat dari siang hari. Baru kali ini Royan menyadari, pohon itu jauh lebih besar dari pohon lain di kompleks, dua atau tiga kali lipat ukurannya. Bahkan di zaman kiamat seperti sekarang, pertumbuhan secepat itu sungguh tak wajar.
Ia juga melihat tak ada makhluk mutan di sekitar, suasananya terlalu sunyi, jangankan suara serangga, bahkan gemerisik pun lenyap.
Tiba-tiba ia teringat pengalaman masa SMA, saat tinggal di desa neneknya. Desa itu terpencil dan tertinggal, bahkan di abad 21 masih seperti masa lalu.
Ia ingat, di sana orang tidak pernah menanam pohon akasia. Kalau ada akasia, pasti langsung ditebang. Katanya, roh orang mati akan menempel di pohon itu, membuat mereka tak bisa bereinkarnasi, sehingga mereka menyebutnya pohon arwah. Royan dulu menertawakan mitos itu, mengira hanya cerita takhayul.
Tapi kini, setelah melihat sendiri arwah-arwah itu, ia mulai percaya.
Sekarang semua makhluk berevolusi, baik naga raksasa mutan yang pernah ia temui, maupun gorila sebesar raksasa, semua telah menunjukkan gejala makhluk mitos.
Jadi, andai pohon akasia mutan benar-benar bisa jadi tempat bersemayam arwah, itu pun bukan hal yang mustahil.
Kabut makin pekat, menari-nari seperti makhluk hidup.
Melihat orang-orang kian dekat ke pohon akasia, arwah di sekitarnya pun makin padat. Royan merasa tak bisa lagi menunda, ia mempercepat langkah, mengejar mereka, lalu mengetuk tengkuk satu per satu. Begitu mereka tumbang, suara melengking tajam segera menusuk kepalanya, membuatnya limbung sejenak, namun ia segera pulih.
Lalu, seolah mendapat isyarat, ribuan arwah bagaikan ombak menyerbu ke arahnya.
Royan tersenyum sinis, wibawanya meledak. Seekor arwah binatang mutan nyaris tembus pandang mencoba mendekat, namun dihantam wibawanya, tubuhnya hancur lebur jadi cahaya bintang dan lenyap.
Sebelumnya, Royan masih ragu, tapi kini ia yakin melihat efek wibawa itu. Benda-benda ini hanya efektif pada orang biasa, baginya bahkan tak sekuat binatang mutan tingkat rendah.
Di bawah hempasan wibawa, bahkan arwah yang paling nyata pun tak mampu bertahan lama. Tubuh-tubuh samar mereka bergetar seperti ditiup angin, lalu perlahan meredup dan meletus bagaikan balon pecah, menjadi bintang-bintang cahaya.
Royan terus melangkah, wibawanya kian kuat. Setiap langkah, belasan bahkan puluhan arwah meletus di udara.
Beberapa arwah yang hampir berwujud manusia, melawan hempasan wibawa dan melayang ke depannya. Muka mereka yang bengkok dan menyeramkan berpendar dalam gelap, udara di sekitar mereka berputar membentuk ilusi akibat dendam yang tiada habisnya.
Namun, sebelum sempat mendekat, mereka dihantam cahaya pedang yang menyambar secepat kilat.
Tubuh para arwah itu seketika berhenti, wajah mereka sempat menampakkan kelegaan sebelum hancur, meledak jadi ribuan bintik cahaya.
Royan terhuyung, kepalanya berputar. Baru beberapa kali menebas, satu per sepuluh kekuatan mentalnya sudah terkuras. Padahal, biasanya menghadapi binatang mutan kelas biru pun, tak pernah sampai begini.
Sebenarnya, dalam novel, film, maupun ajaran Tao, hanya arwah penuh dendam yang bisa jadi roh jahat. Dendam itu sendiri adalah kehendak batin. Menebas arwah dengan tebasan kehendak berarti benturan antara dua kehendak, hanya ada hidup atau mati, sehingga menguras tenaga luar biasa.
Meski Royan hanya punya tiga belas poin kekuatan kehendak, para tentara yang bertarung hidup mati pun belum tentu lebih kuat. Tapi kehendaknya begitu terkonsentrasi, seperti baja yang ditempa, sehingga walau lawan lebih kuat, satu tebasan saja sudah cukup memusnahkan.
Untungnya, arwah semacam itu sangat sedikit. Royan hanya membunuh beberapa, lalu mereka pun lenyap, meski tenaganya banyak terkuras.
Setelah beberapa menit bertarung, arwah-arwah itu mulai menipis.
Saat Royan mulai lega, tiba-tiba tanah berguncang seolah terjadi gempa besar, gemuruh menggelegar, dan bangunan reyot di dekatnya ambruk diterjang getaran.
Royan pun limbung, nyaris terjatuh.
“Celaka!” Ia berubah pucat dan melompat ke depan secara refleks.
Pada saat yang sama, tanah meledak, air dan lumpur terciprat ke mana-mana, dan sebuah akar pohon hitam raksasa keluar menebas ke arahnya.
Ternyata, pohon akasia itu bukan sekadar tempat bersemayam arwah, tapi juga memiliki serangan mematikan yang lebih tersembunyi daripada cacing korosif. Kalau bukan karena refleks Royan yang cepat, barangkali ia sudah tewas saat itu juga.
Setelah lolos dari serangan, ia langsung berlari menuju pohon akasia tanpa menoleh ke belakang, tubuhnya lincah membelah semak.
Di belakangnya, suara ledakan tak henti-henti, akar-akar hitam bagai cambuk raksasa bermunculan, menghantam Royan bertubi-tubi.
Tubuh Royan melesat lincah seperti kucing, kadang melompat, kadang berlari. Dengan kepekaan khusus, ia seolah selalu tahu ke mana harus menghindar bahkan sebelum serangan datang. Ledakan kekuatan dalam tubuhnya membuatnya seakan tak pernah lelah, tiga belas poin kekuatan fisik cukup menopang pertempuran panjang.
Tanah penuh tulang-belulang, semakin dekat ke pohon akasia, semakin banyak tulang berserakan, hampir menutupi seluruh permukaan. Hampir semua penghuni kompleks ini mungkin telah tewas oleh pohon itu.
Royan pada dasarnya dingin, jarang berempati pada nasib orang asing. Namun ia teringat efek kemarahan, lalu dengan sengaja menyalakan amarah dalam hati, hingga semangat membara seperti api.
Pedang di tangannya langsung diselimuti cahaya terang, lalu menyebar ke seluruh tubuh, membuat tubuhnya seolah turut terbakar.
Meski tanpa disadari, sepertinya bawah sadarnya mengendalikan kekuatan itu untuk pertahanan, bukan serangan. Rumput di sekitarnya bahkan tak bisa menyentuh kulitnya, terpental oleh kekuatan tak kasat mata yang elastis.
Tanah terus bergetar. Pohon akasia raksasa itu kini bergoyang, berdiri tegak seperti manusia pohon dalam dongeng barat. Di batang utamanya, kulit yang kasar membentuk wajah samar-samar.