Bab Dua Puluh Tujuh: Roda Bintang Elemen Petir
Lin Hao memperoleh tiga benda berharga dari Altar Terapung. Liontin Batu Bintang Penarik Energi, Gelang Ruang, dan Teknik Badai Petir. Dari ketiga benda tersebut, yang paling berharga di mata Lin Hao bukanlah Teknik Badai Petir yang tampak sangat kuat, melainkan Liontin Batu Bintang Penarik Energi.
Sebab, liontin itu dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan pengumpulan energi dalam meditasi. Hanya dengan meningkatkan level kekuatannya, ia bisa mendapatkan ruang untuk bertahan hidup di dunia yang telah hancur ini.
Setelah mengorbankan tiga ratus batu energi, Lin Hao masih menyisakan seratus lebih batu. Ia pun bimbang memikirkan cara terbaik memanfaatkannya.
Liontin Batu Bintang Penarik Energi dapat menyerap energi dari batu tersebut untuk mempercepat proses latihan Lin Hao. Namun Teknik Badai Petir juga membutuhkan batu energi sebagai sumber tenaganya.
Lin Hao melirik kadal raksasa yang masih mondar-mandir di luar penghalang, lalu memutuskan untuk menggunakan batu-batu itu terlebih dahulu guna membuat Segel Petir.
Dua hari lagi, Altar Terapung akan menghilang. Tanpa perlindungan penghalang, mereka bertiga harus menghadapi kadal raksasa itu secara langsung. Dengan kekuatan bertarung mereka saat ini, kemungkinan besar mereka akan dimusnahkan seketika.
Lin Hao pun belum tahu seberapa dahsyat kekuatan Badai Petir, namun mereka hanya punya harapan tipis jika berhasil menguasai teknik tersebut.
Lin Hao melemparkan mayat Shi Hu yang mati kehabisan darah ke luar penghalang. Kadal raksasa itu, tentu saja, tidak peduli dengan moral manusia, langsung menelannya bulat-bulat.
Pertarungan dan pelarian berturut-turut membuat mereka bertiga kelelahan. Makanan dalam ransel mereka pun banyak yang hilang saat diserang monster laba-laba tadi, hanya cukup untuk bertahan dua hari lagi.
Matahari sudah condong ke barat. Mereka bertiga duduk melingkar, makan sedikit makanan lalu beristirahat.
Tang Xia dan Lin Hao telah menguras banyak energi dan tenaga melawan monster laba-laba. Setelah makan, mereka segera bermeditasi. Sementara Liu Xiaodao yang kelelahan berat, bersandar pada pilar batu dan langsung tertidur lelap.
Soal keamanan, mungkin tidak ada tempat yang lebih aman dari Altar Terapung ini. Selain manusia, tak ada makhluk yang bisa mendekat.
Setelah dua jam lebih bermeditasi, Tang Xia membuka mata lebih dulu. Melihat Lin Hao masih dalam meditasi, ia duduk di sampingnya untuk berjaga.
Menatap wajah Lin Hao yang tampan dan tegas itu, Tang Xia teringat saat mereka saling berpelukan, wajahnya pun memerah tanpa sadar.
Sejak dunia kiamat, ia mengikuti Lin Hao dalam situasi hidup-mati. Meski Lin Hao bertindak tegas dan kadang tampak dingin tanpa belas kasihan, ia percaya di balik sikap keras itu tersembunyi hati yang baik. Hal itu terlihat dari caranya memperlakukan dirinya dan Liu Xiaodao.
Wajah Tang Xia dan Liu Xiaodao memang tidak bisa dibilang luar biasa cantik, tapi setidaknya mereka sangat menarik. Namun Lin Hao tak pernah punya niat buruk pada mereka. Padahal, di dunia kiamat ini tanpa hukum, orang bisa melakukan apa saja.
Kalau Lin Hao ingin berbuat jahat, mereka berdua pasti sudah menjadi korban, bukan seperti sekarang yang masih aman bersama.
Mungkin ada yang bilang Lin Hao tidak suka perempuan, tapi Tang Xia tahu betul itu tidak benar. Beberapa kali bersentuhan, ia jelas merasakan perubahan pada tubuh Lin Hao. Usianya memang baru delapan belas, tapi ia cukup tahu soal begituan.
Tiga jam berlalu, Lin Hao akhirnya membuka mata perlahan.
Kali ini, berkat peningkatan kekuatan mental, ia bisa bermeditasi lebih lama hampir satu jam. Itu pun tanpa bantuan Liontin Batu Bintang Penarik Energi. Jika energi lebih melimpah, ia yakin hasilnya akan jauh lebih dahsyat.
Langit mulai gelap. Namun dengan bola cahaya putih di dalam altar, sekeliling tetap terang benderang. Untungnya ada pepohonan dan bangunan yang menghalangi, kalau tidak, di tengah kegelapan malam, cahaya terang ini entah akan menarik gerombolan zombie atau tidak.
Lin Hao menatap Tang Xia yang sedang mengantuk dan Liu Xiaodao yang tidur pulas bersandar di pilar, lalu menghela napas. Ia tak tahu sampai kapan kedua gadis itu bisa bertahan di sampingnya.
Seperti kejadian hari ini, bahaya bisa muncul kapan saja dan mengancam nyawa mereka. Ia pun ragu apakah mereka bisa sampai ke pangkalan militer Gunung Danyang. Namun, meski sampai pun, mereka hanya bisa bertahan hidup di sana selama setahun. Setelah itu, ke mana mereka akan pergi?
Lin Hao juga tak tahu, karena efek kupu-kupu yang ia timbulkan, apakah Tang Xia dan Liu Xiaodao masih bisa menjadi sosok “Nyonya Hantu” dan “Liu Tujuh Belas” yang nantinya menggemparkan Zona Tempur Utara.
Lagi pula, tiga tahun ke depan, ketika perang besar antara manusia dan makhluk iblis pecah, apakah ia bisa mengubah nasibnya dan bertahan hidup? Semua itu masih misteri.
“Hidup ditentukan diri sendiri, keberuntungan dicari sendiri. Hanya dengan mengendalikan nasib sendiri, hidup tak akan penuh penyesalan.”
Lin Hao menggenggam Liontin Batu Bintang Penarik Energi, meneguhkan tekad untuk mempercepat latihannya. Ia harus memanfaatkan keunggulan karena terlahir kembali, agar bisa hidup berbeda di tengah bencana kehancuran dunia.
Waktu sangat mendesak. Ia harus membuat Segel Petir sebelum altar menghilang. Tak ada waktu untuk beristirahat, ia segera mulai berlatih sesuai metode dalam Teknik Badai Petir.
Lin Hao duduk bersila di atas batu, menaruh seratus lebih batu energi di bawah kakinya, lalu membuka kedua telapak tangan. Dengan kekuatan pikirannya, ia mencoba merasakan kehadiran partikel energi di udara.
Untung saja ia telah memperoleh Liontin Batu Bintang Penarik Energi dan memperkuat mentalnya, kalau tidak, kekuatan pikirannya tidak akan cukup untuk melakukan itu.
Awalnya, ia sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran partikel energi. Setelah setengah jam, barulah ia mulai merasakannya. Satu jam kemudian, ia benar-benar merasakan udara penuh dengan partikel energi magis.
Saat bermeditasi, Lin Hao bisa merasakan energi berkumpul dan mengalir, namun tidak benar-benar sadar akan keberadaan partikel energinya. Kini, ia baru menyadari bahwa ia seolah-olah hidup dikelilingi lautan energi, dan partikel-partikel itu seperti air di lautan.
Ia pun membayangkan, jika dapat mengumpulkan dan melepaskan energi sebesar itu, betapa dahsyat kekuatannya nanti.
Semakin ia paham cara merasakan partikel energi, ia mulai menggunakan pikiran untuk membentuknya menjadi roda bintang ungu khas elemen petir di udara.
Namun, partikel energi tidak mudah dikendalikan. Membentuknya menjadi roda bintang membutuhkan konsentrasi luar biasa. Setelah lebih dari dua jam, Lin Hao baru berhasil membuat bentuk awal roda bintang tersebut.
Melihat roda bintang ungu yang berkilauan dan indah melayang di hadapannya, hati Lin Hao bergetar, seolah menyaksikan kecantikan seorang perempuan luar biasa memesona.
Ia perlahan menggerakkan roda bintang itu. Roda pun mulai berputar. Bersamaan dengan itu, partikel energi petir di udara terus terserap, sehingga bentuk roda semakin jelas dan putarannya semakin cepat.
Meski roda bintang bisa membentuk Segel Petir dengan menyerap energi udara, prosesnya sangat lambat dan melelahkan. Karena itu, Lin Hao ingin menggunakan batu energi untuk mempercepat pembentukan segel.
Dengan kekuatan pikirannya, ia mengangkat roda bintang di atas tumpukan batu energi. Roda itu, seperti anak kecil yang mencium aroma permen, segera menyerap energi batu-batu tersebut dengan lahap.
Seiring energi terserap, perlahan-lahan terbentuk bola listrik sebesar kepalan tangan di dalam roda bintang, berwarna ungu samar. Kilatan listrik menari di permukaannya, mengeluarkan suara berderak yang menakutkan, membuat udara di sekitarnya terasa kering.
Mendengar suara itu, Tang Xia dan Liu Xiaodao pun terbangun. Melihat roda bintang ungu melayang di hadapan Lin Hao, mereka langsung terpana dengan wajah tak percaya.
“Kak Xia, menurutmu benda itu bisa dipakai buat menghidupkan listrik nggak ya?”
Liu Xiaodao bertanya polos. Tang Xia pun menjawab dengan nada serupa, “Kurasa bisa, minimal cukup untuk satu blok perumahan!”
Mendengar bisikan dua gadis itu, Lin Hao hanya bisa memutar mata. “Dua gadis bodoh ini mengira aku generator listrik berjalan atau apa…”