10. Sup Ikan Crucian dengan Tahu
Hari mulai gelap, pedati yang ditumpangi Song Li dan Nyonya Chang kembali ke Kedai Chunfeng. Pria kekar yang mengemudikan pedati ikut membantu Nyonya Chang menurunkan muatan.
Mereka bergegas mengejar waktu makan malam. Malam itu, menunya adalah tahu goreng, sup ikan dan udang, sup daging bumbu dengan sawi, serta sepotong kue gula. Saat kue gula itu dibelah, di dalamnya tampak lelehan gula berwarna mawar kering yang kental, lengket, dan manis.
Karena teknologi pembuatan gula belum maju, harga gula di sini sangat mahal dan jarang ditemui di rumah rakyat biasa. Pagi tadi, Song Li membeli sebungkus kecil gula malt seharga 5 wen. Ia memecahnya menjadi beberapa bagian kecil untuk dibagikan kepada kerabat agar bisa mencicipi rasa manisnya. Gula merah yang dipanaskan hingga meleleh menjadi cairan kental itu mengeluarkan aroma manis yang memikat jiwa.
Sejak dipromosikan menjadi asisten juru masak, mangkuk Song Li sering berisi potongan daging berlemak, ikan, dan udang. Ia tak lagi mendambakan asupan lemak seperti dulu. Dibandingkan potongan daging babi, kue gula di hadapannya jauh lebih menggoda hingga membuat air liurnya hampir menetes. Ia membayangkan betapa nikmatnya cairan gula panas yang manis itu meledak di dalam mulutnya. Saat ia mengambil jatah makanannya, ia menoleh ke sekeliling, namun tidak melihat Zhou Wanchun.
Hu Li datang terlambat dan menghampiri Song Li untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi. Mendengar Zhou Wanchun terluka, Song Li bertanya dengan cemas, "Apa yang terjadi?"
Di perjalanan, Hu Li menjelaskan, "Kedai sedang sibuk hari ini. Ibu angkatmu membantu menyapu di depan dan tanpa sengaja menabrak pelanggan, lalu didorong jatuh dari tangga."
Melihat wajah Song Li berubah, ia menambahkan, "Tapi jangan khawatir, Ibu Hua telah meminta para penjaga untuk mengusir pelanggan itu dari Kedai Chunfeng dan mengirim dokter untuk mengobatinya."
Sesampainya di tempat tinggal mereka, Song Li berpapasan dengan dokter yang baru saja diantar keluar oleh pelayan Ibu Hua. Setelah menanyakan kondisi Zhou Wanchun, ia lega mengetahui lukanya hanya goresan ringan yang akan sembuh dalam beberapa hari setelah diolesi salep.
Di dalam kamar, Zhou Wanchun sedang berbaring. Celananya digulung, memperlihatkan lutut yang dibalut perban. Hu Li menunggu di luar karena tidak enak masuk ke dalam. Tak lama kemudian, Song Li kembali ke ruang makan bersama Hu Li, mengambil jatah makanan untuknya dan sang ibu angkat, lalu kembali ke halaman belakang.
Sebelum masuk, ia mendengar suara Ibu Hua sedang berpesan agar Zhou Wanchun beristirahat dengan baik dan tidak perlu terburu-buru bekerja. Ibu Hua juga berjanji akan mengirimkan makanan. Saat keluar, Ibu Hua berpapasan dengan Song Li. Melihat kotak makanan di tangan Song Li, ia mengangguk puas, "Rawatlah ibu angkatmu dengan baik, kau adalah orang yang beruntung."
Ucapan itu membuat Song Li bingung. Saat makan, Song Li seperti biasa membagi dua makanannya. Zhou Wanchun menyantap nasi dengan wajah datar, bahkan saat terluka pun tidak ada emosi sedikit pun. Ibu angkatnya itu seperti patung kayu, tidak senang maupun sedih terhadap apa pun di sekitarnya. Song Li menatap bekas luka di pipi Zhou Wanchun sambil berpikir. Ya, ibu angkatnya itu memiliki bekas luka di wajahnya.
Masa lalu Zhou Wanchun bagaikan teka-teki. Pelayan yang dihukum cambuk di Kedai Chunfeng tetap harus bekerja, namun Zhou Wanchun diizinkan beristirahat. Ibu Hua bahkan mengeluarkan uang sendiri untuk memanggil dokter. Segala tanda menunjukkan perlakuan istimewa Ibu Hua terhadapnya, seolah-olah mereka adalah kawan lama, atau mungkin ada rasa takut yang tersembunyi. Kali ini, perasaan itu jauh lebih kuat: Ibu Hua tampaknya takut pada Zhou Wanchun!
Sebelumnya, Song Li telah mencoba mencari tahu dari para pelayan tua di halaman belakang, namun mereka sangat tertutup. Song Li menduga mereka yang tidak bisa menjaga mulut mungkin sudah dijual bertahun-tahun lalu.
Ketakutan Ibu Hua terhadap Zhou Wanchun bukanlah hal buruk. Karena tidak bisa mendapatkan informasi di halaman belakang, saat kedai tidak terlalu sibuk, Song Li mengetuk pintu kamar Ibu Hua. Ia langsung ke inti pembicaraan, menanyakan apakah janji tebusan delapan keping perak untuk dirinya dan lima keping perak untuk Zhou Wanchun masih berlaku.
Ibu Hua merenung sejenak, "Tentu saja masih berlaku." Mengira Song Li takut karena masalah tebusan oleh Tuan Fu, Ibu Hua sengaja menenangkan, "Aku dan ibu angkatmu adalah kawan lama. Jika kau bisa membawanya pergi dari Kedai Chunfeng untuk hidup lebih baik, tentu aku ikut senang."
Song Li pun merasa senang. Ia sempat mengira wanita yang dibuang ke rumah bordil tidak bisa ditebus, namun ternyata Zhou Wanchun bisa. Song Li mengajukan penawaran bahwa setelah ia menebus dirinya, ia akan tetap memasok kue-kue untuk Kedai Chunfeng secara eksklusif. Ibu Hua sangat gembira. Kue bolu madu buatan Song Li saja sudah menghasilkan dua hingga tiga keping perak setiap hari. Tawaran kerja sama ini bagaikan rezeki nomplok bagi Ibu Hua.
Setelah Song Li pergi, Ibu Hua mengelus dadanya yang berdebar. Jika terjadi sesuatu pada Zhou Wanchun, bagaimana mungkin sosok kenalan di ibu kota itu akan melepaskannya? Dulu, saat Song Li hampir mati karena sakit dan tidak diberi makan oleh pedagang manusia, Ibu Hua membelinya hanya dengan 100 keping tembaga. Ia bertaruh, dan ternyata taruhannya membuahkan hasil. Song Li tidak hanya bertahan hidup, tapi juga menghasilkan banyak uang.
Malam harinya, Song Li bermimpi buruk. Keesokan paginya, dengan mata panda, ia pergi ke pasar timur untuk menjual bubur ikan seperti biasa. Setelah mendapatkan lima puluh keping tembaga, ia membeli ikan mas dan tahu segar. Saat keluar dari pasar, ia berpapasan dengan sekelompok petugas patroli berpedang. Pemimpinnya, Lu Cheng, tampak gagah dengan rambut hitam yang diikat tinggi.
Melihat Lu Cheng, Song Li teringat aura pembunuh dan bau darah yang menguar darinya kemarin. Ia ketakutan dan berbalik arah. Namun, sesosok bayangan menghalangi jalannya. Lu Cheng menatapnya, "Kau menghindariku?"
Song Li tergagap, "Tidak, saya hanya ingat harus memasak untuk ibu angkat saya." Ia pun segera berlari pergi.
Kembali ke halaman belakang, Song Li mulai memasak sup ikan tahu yang kaya nutrisi untuk Zhou Wanchun. Ikan digoreng hingga keemasan, lalu dimasak dengan air mendidih hingga kuahnya memutih. Saat kuah mendidih, tahu dipotong dan dimasukkan ke dalamnya. Aroma segar ikan dan tahu memenuhi halaman belakang.
Saat sup itu disajikan, Zhou Wanchun menatapnya sekilas lalu mulai menyantapnya. Ikan yang digoreng dengan minyak panas itu terasa gurih, dagingnya lembut dan manis, tanpa sedikit pun bau amis. Song Li memiliki bakat memasak yang luar biasa, mengubah bahan sederhana menjadi hidangan yang sangat menggugah selera.