Bab 71: Sandi 01
Tiba-tiba ia mendapatkan ide baru untuk membuktikan masalah itu, sepertinya menggunakan metode biner pada komputer juga bisa menjadi cara pembuktian. Jiang Qiye terlebih dahulu membayangkan sebuah “diagram perbandingan angka 01” di dalam benaknya, memanfaatkan keistimewaan sistem biner untuk melakukan demonstrasi konversi. Setelah diagram itu terbangun, ia kemudian melakukan penalaran dalam bentuk biner, sehingga proses pembuktian menjadi lebih jelas.
“Hm…”
“Sepertinya cara ini memang lebih sederhana.”
Jiang Qiye menelaah dengan cermat seluruh proses dalam pikirannya.
Metode tradisional pembuktian matematika murni yang ia kuasai sebelumnya menggunakan sistem desimal yang sangat kompleks, melibatkan begitu banyak teori dan rumus. Karena itulah, Jiang Qiye baru benar-benar memahaminya sepenuhnya barusan.
Cara pembuktian itu memang luar biasa, namun tanpa adanya diagram perbandingan yang jelas, tuntutan logika berpikir menjadi lebih tinggi dan terkadang hasil perhitungannya pun terasa membingungkan.
Demonstrasi biner sebenarnya tidak rumit, hanya saja proses pembuktian ini memiliki banyak tahapan. Ada cukup banyak langkah yang tidak terduga, bahkan setelah melihatnya pun, orang akan merasa kagum bahwa ternyata bisa dibuktikan dengan cara seperti itu.
Banyaknya langkah membuat proses pembuktian yang jelas membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Namun, langkah-langkah itu terasa sangat sederhana dan mudah diikuti.
Setelah sekali lagi menata ulang gagasan pembuktiannya dan memastikan bahwa metodenya memang bisa diterapkan, ia nyaris tak sabar ingin segera terbang pulang ke rumah dan menulis seluruh proses pembuktian itu. Bagaimanapun, perhitungan di dalam kepala dan menuliskannya di atas kertas seringkali menghasilkan hasil yang berbeda.
Saat menghitung dalam benak, seringkali seseorang menganggap beberapa masalah sebagai kesimpulan yang sudah jelas. Ibarat ketika kau merancang sebuah alur cerita—meski merasa semuanya sudah sempurna, selama tak dituangkan ke atas kertas, celah-celahnya tak akan pernah terungkap.
Sayangnya, sekarang ia masih berada di dalam pesawat. Tak punya banyak hal untuk dikerjakan, Jiang Qiye pun memusatkan pikirannya ke Kota Sains.
Ia membuka panel pribadinya.
Wali Kota: Jiang Qiye
Tingkat Pengetahuan:
Matematika: LV3
Fisika: LV1
Biokimia: LV1
Material: LV0
Informatika: LV3
Energi: LV0
Penilaian: Matematika dan Informatika sudah di tingkat mahir
Hak Akses: Level 2 (56785/100000)
Reputasi: 56785
Poin: 52285 (Toko telah dibuka)
Bakat: Cepat Belajar dan Berpikir, Naluri Penelitian
Gudang: Satu set buku teks Matematika, satu set buku teks Fisika dasar, satu set buku teks Kimia dasar, satu set buku teks Biologi dasar
Area yang Dapat Dieksplorasi: Seluruh sudut Kota Sains, Zona Hunian Biasa
Penilaian: Kau telah mengambil langkah pertama yang kokoh di jalan ilmu pengetahuanmu. Semangat, Wali Kota! Masa depanmu sejauh samudra dan bintang-bintang.
Melihat panel atribut miliknya, Jiang Qiye mengangguk puas.
Selama hampir setengah bulan terakhir, ia sama sekali tidak memperhatikan Kota Sains di dalam benaknya, melainkan sepenuhnya menemani Lin Muxue menikmati perjalanan dan alam.
Kini, melihat panelnya telah mencapai hak akses Level 2, ia merasa cukup bersemangat.
Tingkat akses Level 2 berarti ia sudah bisa masuk ke Zona Hunian Biasa, yang juga berarti ia berpeluang menemukan lebih banyak teknologi canggih yang digunakan oleh penduduk asli Kota Sains.
Melirik ke arah Kota Sains, ia dengan jelas merasakan sebagian bangunan di pinggir kota sudah bisa ia masuki. Seolah-olah bangunan-bangunan itu telah diberi penanda identifikasi teman-lawan; bangunan yang bisa dimasuki menganggapnya sebagai rekan, sedangkan area yang belum diizinkan masih tertutup baginya.
Menggeleng pelan, Jiang Qiye membuka toko.
Yang pertama kali menarik perhatian adalah gambar 3D sebuah pesawat luar angkasa. Belum sempat ia bersemangat, ia sudah melihat keterangan di bawahnya.
[Pesawat Luar Angkasa (Blueprint), Syarat Pembelian: Matematika LV5, Fisika LV5, Biokimia LV5, Material LV5, Energi LV5, Informatika LV3.]
Melihat sederet syarat tersebut, Jiang Qiye merasa tak ingin lagi menghitung berapa banyak angka nol di poin yang diminta.
Jangankan soal poin, saat ini hanya tingkat Informatika miliknya yang memenuhi standar pembelian. Ia bahkan tidak yakin seumur hidupnya bisa meng-upgrade semua bidang ilmu itu hingga memenuhi syarat.
Melewati semua barang yang mustahil ia beli atau pun belum memenuhi syarat, Jiang Qiye langsung menggulir ke bagian paling bawah etalase toko.
Obat Penambah Konsentrasi (100 poin).
Ia merasa pilu menyadari bahwa dari sekian banyak barang menggiurkan di toko, hanya barang ini yang boleh ia beli.
Bahkan buku pelajaran dasar lainnya pun belum bisa ia beli.
Buku Teks Dasar Energi (500 poin, syarat: Fisika LV2, Biokimia LV1).
Buku Teks Dasar Material (Biokimia LV2, 500 poin).
Bahkan resep material plastik paling sederhana pun menuntut Material LV2.
Melihat angka 0 dan 1 yang terpampang di atributnya, Jiang Qiye hanya bisa terdiam. Rupanya ia masih hanyalah seorang pemula.
Bandara Jiangbei di Kota Pegunungan.
Jiang Qiye menggandeng tangan kiri Lin Muxue, sementara tangan kanannya menarik koper.
Pergi dengan tangan kosong, pulang dengan penuh bawaan.
Menghindari para sopir yang tak terhitung jumlahnya yang menawarkan jasa, Jiang Qiye dan Lin Muxue mengikuti lokasi yang dikirimkan Lin Xiao. Baru tiba di parkiran, Jiang Qiye sudah melihat Lin Xiao dengan kacamata hitam menempel di mobil off-road yang sangat ia kenal.
“Ayah!”
Begitu melihat Lin Xiao, Lin Muxue segera melepaskan tangan Jiang Qiye dan berlari ke arah ayahnya.
Meski beberapa waktu terakhir ia sangat bersenang-senang, tetap saja ia sedikit merindukan Lin Xiao dan Zhong Xue. Walau sering berkomunikasi lewat telepon, rasanya tetap berbeda dengan bertemu langsung.
Melihat Lin Muxue berlari ke arahnya, raut dingin Lin Xiao yang seperti gunung es langsung luluh, senyuman hangat terpancar di wajahnya. Ia berdiri tegak, merentangkan kedua tangan, dan memeluk Lin Muxue erat-erat.
Beberapa saat kemudian,
Lin Xiao melepaskan pelukan, lalu menoleh ke arah Jiang Qiye yang berdiri di samping, ekspresinya langsung menjadi dingin.
“Selamat siang, Paman Lin. Libur hari ini, ya?”
Jiang Qiye menyapa dengan hati-hati. Kini ia benar-benar bisa merasakan aura berbahaya yang terpancar dari Lin Xiao.
“Hmm.”
“Ayo naik mobil!”
Lin Xiao menjawab datar, lalu membuka bagasi, memberi isyarat agar Jiang Qiye memasukkan koper, sementara ia sendiri langsung masuk ke kursi pengemudi.
“Ayahmu hari ini agak galak, ya!”
Saat melihat Lin Xiao sudah duduk di kursi pengemudi, Jiang Qiye membisikkan keluhan pada Lin Muxue di sebelahnya.
“Hehe, pantas saja!”
“Siapa suruh kamu bawa aku pergi lama-lama?”
Mendengar ucapan Jiang Qiye, Lin Muxue menendang kakinya pelan. Ia paham perasaan ayahnya, namun jika bisa mengulang waktu, ia pasti tetap memilih pergi bersama Jiang Qiye.
Setelah Jiang Qiye selesai menata koper, mereka duduk di kursi belakang, dan Lin Xiao segera menyalakan mobil.
“Paman Lin, akhir-akhir ini di komplek perumahan sudah tidak ada wartawan, kan?”
Melihat Lin Xiao menyalakan mesin, Jiang Qiye bertanya.
Bagaimanapun, salah satu alasan ia pergi adalah menghindari para wartawan itu. Lagi pula, bagi orang biasa, tiap hari ada begitu banyak peristiwa terjadi. Siapa pula yang akan iseng terus-menerus memperhatikan satu orang saja?