Bab 59: Peti Mati Gantung di Lembah, Tempat Pemeliharaan Mayat

Petikan Kecantikan dalam Peti Mati, Menikahi Istri dari Dunia Arwah, Penjaga Keseimbangan Yin dan Yang Penguasa Bintang Malam 2467kata 2026-03-04 23:44:46

Aku mengikuti lorong yang tadi kulewati dan tiba di halaman kedua. Jalan yang sebelumnya sudah tak bisa dilewati lagi, jika dipaksakan aku hanya akan kembali ke ruangan itu dari belakang.

Tata letak rumah berbentuk empat persegi panjang ini sangat kuno; di sekeliling bangunan terdapat empat lorong, dan di setiap mulut lorong tergantung lentera putih dengan tulisan "duka cita", menciptakan suasana yang begitu mencekam.

Terlebih lagi, tembok bata biru dan genteng abu-abu itu membuat suasana terasa semakin menekan. Setelah kupastikan tak ada siapa-siapa di halaman, aku langsung berlari menuju lorong lainnya.

Lorong ini jauh lebih sempit, hanya cukup dilalui satu orang. Kalau sampai terjebak di sini, tamatlah aku. Untungnya, lantai di sini juga dipenuhi lumut hijau, tampak sudah lama tak ada yang lewat. Beberapa lantai yang berlubang masih menyisakan genangan air, dan dari sela-sela batu bata tercium bau apek yang busuk.

Aku menengadah, melihat langit yang semakin gelap, dan akhirnya hanya bisa menunduk dan berlari ke depan.

Suara langkah kakiku bergema di lorong yang sempit dan lengang, seolah-olah ada sesuatu yang mengikuti dari belakang.

Langkah demi langkah!

Aku tak berani menoleh, hanya ingin segera keluar dari pekarangan ini.

Namun setelah hampir setengah jam berlari, lorong ini seolah tak berujung.

Tak jauh di depan, lorong itu mulai dipenuhi kabut putih yang menumpuk di bawah kaki, seperti asap yang tak kunjung menghilang.

Jantungku berdegup kencang, aku tiba-tiba menghentikan langkah.

Jangan-jangan aku terperangkap dalam ilusi gaib?

Namun hal yang lebih membuat bulu kudukku merinding adalah, suara langkah di belakang semakin dekat, dan tak pernah berhenti!

Langkah demi langkah!

Aku menelan ludah, perlahan-lahan menoleh ke belakang.

Namun di belakangku, tak ada siapa-siapa.

Dan suara langkah itu pun seketika lenyap. Aku bisa merasakan hawa dingin yang pekat melingkupi tubuhku, membuat seluruh tubuhku merinding.

Aku tak berani lagi menoleh, terpaksa melanjutkan langkah meski dengan perasaan takut.

Kabut putih itu masih terus naik dan kini sudah setinggi betis.

Aku hanya bisa berharap ini bukanlah jebakan gaib. Lagi pula, aku pun tak tahu apakah aku masih dianggap "murni" atau tidak, dan air seniku mungkin sudah tak mempan lagi.

Semakin aku melangkah, suara langkah di belakang pun kembali terdengar, dan semakin cepat.

Langkah demi langkah!

Langkahku pun semakin cepat, hingga akhirnya aku berlari sekencang-kencangnya.

Namun kabut putih itu malah semakin tebal, perlahan-lahan naik melewati pinggang, hingga akhirnya menutupi dadaku.

Kabut semakin pekat, bergulung-gulung seperti ombak yang misterius. Di tengah kabut itu, tubuhku terasa semakin berat.

Hawa dingin itu kini begitu dekat, suara langkah kaki semakin menyatu dengan langkahku sendiri, seperti ada seseorang yang berjalan menempel di belakangku.

Aku menggertakkan gigi dan terus berjalan maju, sementara kabut yang menutupi dadaku membuatku sulit bernapas. Di depan, segalanya telah berubah menjadi lautan putih, bahkan dinding bata yang dekat pun tak bisa kulihat jelas.

Mendadak, mataku terbelalak. Kini aku telah sepenuhnya tenggelam dalam kabut, sekeliling hanya ada kabut putih pekat seperti susu, sampai-sampai tanganku sendiri pun tak tampak jika kuangkat ke depan mata.

Rasa sesak yang luar biasa pun datang, aku seperti orang yang tenggelam, berjuang sekuat tenaga untuk bernapas.

Di telingaku tiba-tiba terdengar suara tawa tipis nan seram, parau dan melengking, seperti kuku menggores kaca.

Aku semakin sulit bernapas, kekurangan oksigen membuat kepalaku terasa berat. Meski aku berusaha menghirup udara, tetap saja paru-paruku seperti tak mendapat apa-apa.

Saat aku hampir pingsan karena kehabisan napas, tiba-tiba terasa panas yang menyengat di dadaku.

Mataku membelalak, dan terdengar suara seorang perempuan misterius di telingaku.

"Chen Fan, cepat bangun! Cepat bangun!"

"Gigit ujung lidahmu, lalu semburkan ke depan!"

Mendengar suara itu, kesadaranku perlahan kembali. Aku segera menggigit ujung lidahku, dan tanpa ragu menyemburkannya ke depan.

"Phu!"

Darah dari ujung lidahku langsung menyebar menjadi kabut merah, seketika mewarnai kabut putih di depanku.

Sesaat kemudian,

Kabut itu seperti tertiup angin kencang, cepat sekali menghilang, bahkan suara tawa menyeramkan di telingaku pun lenyap.

Rasa sakit membuatku kembali sadar, baru kusadari kedua tanganku mencengkeram leherku sendiri dengan erat. Pantas saja aku merasa tak bisa bernapas!

Aku buru-buru melepaskan cengkeraman dan menatap ke depan, barulah kusadari aku telah keluar dari lorong itu, dan kini berada di sebuah lembah di belakang rumah tua itu.

Namun, pemandangan di depan membuatku mundur setengah langkah, rasa dingin menjalar dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun.

Petik mati.

Besar kecil, semuanya peti mati!

Seluruh lembah itu telah dilubangi menjadi gua-gua, sebagian dipaku dengan kayu ke tebing, dan di atas gua atau kayu itu, semuanya berisi peti mati!

Bahkan di atas peti-peti itu tertulis beragam simbol dengan tinta merah, sebagiannya ditempeli kertas kuning.

Di tempat lain penuh dengan pepohonan rimbun, hanya di sini yang benar-benar gersang, tak satu pun rumput liar tumbuh. Pohon-pohon di sini pun telah kering dan membusuk, seperti cakar-cakar tulang yang menjulur dari tanah.

Di saat yang sama, kulit kepalaku terasa seperti ditarik-tarik, bahkan suara langkah kaki dan hembusan angin dingin di lorong tadi pun tak mampu menandingi rasa takutku kali ini!

Di tempatku, orang selalu meyakini tanah sebagai tempat peristirahatan terakhir, dan tak pernah ada tradisi menggantung peti mati.

Lalu, mengapa peti-peti mati ini digantung di sini?

Aku terpaku menyaksikan pemandangan itu, seluruh lembah dipenuhi peti mati, bahkan dalam mimpi pun aku tak pernah membayangkan suasana yang begitu mengerikan.

Di saat itu juga.

Dari salah satu peti mati tiba-tiba terdengar suara menggeretakkan gigi yang membuatku ngilu.

Krek, krek...

Tubuhku bergetar ketakutan, bahkan aku lupa cara melarikan diri.

Salah satu peti mati yang paling dekat denganku bergetar hebat, tutupnya yang ditempeli kertas kuning terbuka sedikit, dan kabut putih langsung menyembur keluar.

Saat itu aku langsung sadar, pasti yang disegel di dalam peti-peti itu adalah arwah jahat!

Hal itu mengingatkanku pada catatan yang pernah kubaca di buku milik kakek.

"Peti Segel Arwah, Tempat Memelihara Mayat!"

Ini adalah ilmu hitam yang sangat sesat, mengurung arwah mereka yang mati sia-sia dalam peti mati dan menggantungnya di udara, agar tak tersentuh energi tanah yang bisa membuatnya membusuk.

Dengan begitu, mereka menciptakan arwah-arwah jahat, lalu menggunakan hawa jahat mereka untuk mengubah lingkungan sekitar menjadi tempat memelihara mayat yang sempurna!

Dan kini, aku tengah dikepung arwah-arwah jahat dari dalam peti-peti itu.

Setelah kabut putih menyembur keluar, seolah menimbulkan reaksi berantai, beberapa peti mati lain ikut bergetar hebat, tutupnya perlahan terbuka.

Tak cukup sampai di situ, sebuah tangan arwah hitam kering menjulur keluar dari peti, kuku panjangnya langsung meremukkan papan peti mati.

"Cepat, lari..."

Aku terkejut dan langsung tersadar.

Kabut yang tadi sempat menghilang karena darah lidahku kini kembali berkumpul, dalam sekejap sudah setinggi mata kaki.

Jika sampai tertelan lagi oleh kabut itu, aku yakin kali ini aku tak akan bisa lolos.

Aku pun langsung berbalik dan berlari secepat mungkin, tak peduli lagi apakah Hu Yangming di rumah tua itu akan mengetahuinya.

Arwah-arwah jahat dari peti-peti itu sudah membuatku ciut nyali, aku berlari sekencang-kencangnya menyusuri lorong tadi, sementara kabut putih mengikuti dari belakang, terus bergulung dan naik lebih cepat dari sebelumnya!

Sementara itu, aku bisa mendengar dengan jelas suara tawa seram dan bunyi gigi yang beradu dari belakang....