Bab 89: Menerobos Bukit Pemakaman, Membantai Tuan Hantu

Petikan Kecantikan dalam Peti Mati, Menikahi Istri dari Dunia Arwah, Penjaga Keseimbangan Yin dan Yang Penguasa Bintang Malam 2511kata 2026-03-04 23:45:02

Sejak kecil aku tumbuh besar di desa pegunungan, jadi aku sangat mengenal berbagai macam tumbuhan. Pohon elm akan mengeluarkan untaian buah kecil yang disebut uang elm setiap bulan April hingga Mei—bagian tengahnya tebal, tepinya tipis, dan bentuknya mirip dengan uang logam kuno. Saat masih muda dan segar, rasanya paling lezat, bisa dimakan langsung atau dibuat menjadi kue uang elm, benar-benar hidangan langka yang hanya muncul setahun sekali.

Namun, pohon elm ini tumbuh tepat di atas sebuah makam, jadi seberani apa pun orang, pasti tak ada yang mau memetiknya. Aku menenangkan diri, mengangkat lentera dan melangkah mendekat. Guru memintaku tiga helai daun elm. Jika ingin memetiknya, aku harus berdiri di atas makam itu. Tapi di mana pun, hal ini jelas pantang dilakukan. Sejak kecil aku sudah sering mendengar orang berkata, “Lebih baik menyeberangi teluk berbahaya daripada menaiki bukit makam”—dan bukit makam di sini maksudnya adalah gundukan makam.

Aku menggertakkan gigi. Guru tak pernah bilang aku dilarang menginjak makam, berarti seharusnya tidak apa-apa! Tapi aku merasa sebaiknya tetap menghormati lebih dulu. Toh hendak mengambil daun elm, ada baiknya menuangkan segelas arak sebagai penghormatan sesuai ajaran guru. Maka aku mengambil botol arak dari tas, menuangkan segelas penuh, lalu berkata dengan khidmat kepada makam tua di hadapanku.

“Aku, Chen Fan, hari ini harus mengambil tiga helai daun elm dari pohon di atas makam ini. Mohon izinkan aku.”

Nada bicaraku sangat serius. Selesai berkata, aku menuangkan arak di depan makam tua itu. Aroma arak yang kental segera menguar. Namun, wanginya hanya bertahan sekejap. Angin dingin berhembus, membawa pergi aroma itu seolah tak pernah ada. Pada saat yang sama, ranting pohon elm itu bergoyang pelan, seakan mengizinkanku memetik daunnya.

Aku girang, menahan diri agar tak langsung mengucap terima kasih, melainkan langsung naik ke atas makam, memetik tiga helai daun elm, dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu, aku menaburkan segepok uang kertas sembarangan, tak berkata sepatah pun lagi, langsung menuju kuburan liar di belakang.

Tak kusangka aku bisa mendapatkan daun elm secepat ini, sepertinya tiga benda lainnya pun takkan terlalu sulit. Angin dingin terus menemani langkahku. Setiap beberapa langkah, aku menaburkan uang kertas. Uang-uang itu melayang-layang diterpa angin, ada yang lama sekali tak juga jatuh ke tanah.

Entah hanya perasaanku saja, sejak menuangkan arak di depan makam tadi, aku merasa suara langkah-langkah mengikuti dari belakangku makin banyak. Aku semakin waspada, bahkan tak berani bernapas berat.

“Uhuk, uhuk…”

Tiba-tiba terdengar suara batuk dari belakang. Seketika tubuhku basah oleh keringat dingin. Saat itu bulan sudah tinggi di langit, kira-kira jam sebelas malam. Inilah waktu yang dikatakan paling berat hawa kematiannya—yang di belakang jelas bukan manusia!

Aku menggertakkan gigi, mengingat pesan guru: apa pun yang terjadi, jangan pernah menoleh ke belakang.

“Uhuk, uhuk…”

Langkah di belakangku terdengar makin berat, batuk itu pun makin mendekat.

Aku menaburkan uang kertas lagi. Awan kelabu di langit agak tersingkap, membiarkan cahaya bulan menerpa dari belakang. Di tanah, di samping bayanganku, tiba-tiba muncul satu bayangan lagi! Bayangan itu sangat dekat, hampir menempel pada punggungku, bahkan terasa hawa dingin berhembus di telinga.

“Anak muda…”

Suara yang mendadak terdengar membuatku terlonjak kaget, otot betisku sampai kejang. Aku menggertakkan gigi, apa pun yang terjadi harus pura-pura tidak tahu, lanjut berjalan ke depan. Suara itu sangat tua, seperti suara lelaki renta yang sudah di ambang ajal, serak dan getir, terdengar sungguh menakutkan di tengah kuburan liar dini hari begini.

“Anak muda, tunggu sebentar…”

“Aku tak bisa mengejarmu, bisakah kau berhenti sejenak membantuku?”

Suara renta itu kadang dekat kadang jauh, saat dekat seperti berbisik di telingaku, sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Aku tak menjawab, hanya mempercepat langkah. Dalam keadaan begini, melihat pohon yang kubutuhkan pun aku tak berani mendekat. Siapa tahu arwah-arwah liar itu akan berbuat apa saat aku mengambil sesuatu?

“Hei, anak muda, kenapa diam saja? Atau jangan-jangan kau bisu?”

Suara dari belakang kembali terdengar. Aku menenangkan diri, menatap ke depan. Tak jauh dari sana ada sebuah makam tua, dari tanahnya tumbuh sebatang pohon, ranting-ranting panjangnya menari tertiup angin, bayangannya meliuk-liuk. Yang paling mencolok, di bawah pohon itu sesosok bayangan manusia melintas sekilas.

Sekujur tubuhku merinding. Kini aku memang menemukan pohon willow itu, tapi di belakang ada kakek hantu, di depan juga ada bayangan hantu—apa yang harus kulakukan? Menyerah pada pohon ini dan menunggu yang berikutnya, atau nekat mengambilnya saja?

Saat aku masih bimbang, tiba-tiba terdengar suara dingin di telingaku.

“Anak muda, kau lupa menaburkan uang kertas…”

Suara itu seolah menempel di telingaku! Aku sontak bergidik, bulu kuduk berdiri, lalu melihat sesosok bayangan berjalan keluar dari belakang. Ia seorang kakek tua kurus kering, bongkok, kepalanya gundul, wajahnya penuh keriput nan menyeramkan. Dalam cahaya bulan, rautnya terlihat makin mengerikan. Ia berdiri di depanku, menyeringai dengan mulut ternganga lebar, menunjukkan deretan gigi kuning yang sebagian besar telah tanggal.

“Anak muda, kenapa kau tak menyapaku?”

Kakek hantu itu membungkuk, membuat wajahnya kian menakutkan.

Aku menggertakkan gigi, lalu berkata, “Kakek, maaf mengganggu, ini sedikit uang kertas untukmu.”

Sambil berbicara, aku mengeluarkan segepok uang kertas. Melihat uang itu, mata kakek hantu langsung berbinar, ia pun menyambar uang kertas itu dengan rakus. Namun ia tak pergi, malah menatapku dengan tatapan serakah.

“Anak muda, arak yang kau bawa wangi sekali! Bolehkah aku mencicipi barang seteguk saja? Satu gelas saja!”

Ia menatap tas ranselku, air liurnya menetes-netes ke tanah, matanya penuh nafsu serakah, hidungnya terus mengendus-endus.

Aku mengernyit. Guru pernah bilang, arak ini hanya boleh dituangkan di makam tempat mengambil barang, tidak untuk diberikan kepada hantu di jalan. Maka aku langsung berkata, “Kakek, arak ini masih kubutuhkan. Bagaimana kalau aku tambah lagi uang kertas, dan kakek berbaik hati memberiku jalan?”

Mendengar itu, wajahnya mendadak menunjukkan amarah. Wajahnya yang sudah menyeramkan berubah semakin buas, air liurnya perlahan berubah menjadi darah segar, terus menetes ke bawah.

“Dasar anak kurang ajar, aku cuma mau segelas arak. Kalau tak kau beri, malam ini kau takkan bisa lewat!”

Ia mengancam dengan dingin. Mendengar itu, kemarahanku pun memuncak. Kakek hantu ini sudah mengikutiku cukup lama, aku masih rela memberinya lebih banyak uang kertas, tapi ia malah nekat menginginkan arakku?

Sepertinya percuma bicara baik-baik dengan hantu seperti ini. Aku pun menggigit ujung lidah, lalu menyemburkan darah bercampur lendir kental ke wajahnya.

“Plak!”

Darah bercampur lendir itu mengenai wajah kakek hantu. Ia menatapku dengan tatapan tak percaya.

“Kau, berani menyemburkan ludah ke mukaku?”

Namun, tiba-tiba asap hitam mengepul dari wajahnya, dan ia mengerang kesakitan.

Aku sekalian saja, tanpa pikir panjang, segera mengeluarkan lencana dan menghajarnya dengan sekuat tenaga, sambil memaki,

“Dasar tua tak tahu malu, sudah kuberi uang kertas masih kurang, mau minta arak pula?”

“Kau pikir kau layak?”