Bab 97: Jarum Pembunuh Tujuh Bintang, Berani Menggambarkanku Seperti Lelaki Feminin?

Petikan Kecantikan dalam Peti Mati, Menikahi Istri dari Dunia Arwah, Penjaga Keseimbangan Yin dan Yang Penguasa Bintang Malam 2414kata 2026-03-04 23:45:06

Ucapan itu membuatku terkejut. Tak kusangka semasa hidupnya orang itu ternyata seorang lintah darat. Selain itu, ia memang sengaja mencari gara-gara. Orang seperti ini memang pantas mendapat ajal yang tragis.

Mendengar penjelasan Guru, kekhawatiranku pun berkurang. Dengan pikiran itu, aku pun membuka kain putih yang menutupi jenazah.

Pakaian jenazah sudah lama dilepas, memperlihatkan luka-luka yang mengerikan. Aku mengangkat kain itu hingga ke leher dan menutupi mata jenazah dengan sehelai kain, baru kemudian membuka seluruh kain putihnya.

Melihat kulit biru pada tubuh jenazah, aku tahu ia pasti meninggal karena kehabisan darah. Luka-luka akibat sabetan pisau nyaris menutupi seluruh tubuhnya, setiap irisan begitu dalam hingga tampak tulang. Entah dosa apa yang telah ia perbuat, hingga ada orang yang sampai hati menikamnya delapan belas kali.

Luka-luka di tubuhnya masih bisa ditutupi, yang penting sekarang adalah dua luka di wajahnya. Setelah jenazah mengenakan pakaian duka, luka-luka di tubuh bisa tersamarkan, namun luka di wajah harus diatasi dengan baik.

Dua luka sayatan itu saling bersilangan. Sayatan pertama membelah dari kelopak mata kanan hingga ke pipi kiri, sedangkan sayatan kedua bahkan memotong setengah hidungnya, memperlihatkan tulang pipi yang putih menonjol.

Dengan mengenakan sarung tangan karet, aku menekan perlahan sendi dan tulang jenazah. Ternyata tulang dan ototnya sebagian besar masih utuh, sepertinya hanya perlu dijahit saja.

Guru memberi isyarat dengan matanya agar aku mengambil peralatan yang kubutuhkan dari rak. Aku berjalan ke sana dan melihat-lihat. Alat-alat di sana tampak berbeda dari sebelumnya, tapi masih ada palu, paku kayu, gergaji, gunting, dan sebagainya.

Bahkan tersedia satu set perlengkapan tata rias, termasuk silikon berwarna kulit dan lain-lain.

Aku berpikir sejenak, lalu mataku tertuju pada sebuah paket jarum dan benang. Paket ini agak istimewa, mirip kantong jarum akupunktur Tiongkok, ada tujuh buah jarum dengan panjang berbeda. Jarum terpendek menyerupai jarum bordir, sementara yang terpanjang hampir setengah meter, seperti jarum besar.

Aku langsung mengambil paket jarum aneh itu, hendak berbalik dan mulai menjahit jenazah, namun tiba-tiba melihat wajah Guru berubah drastis, menatapku dengan tidak percaya.

“Guru, ada apa? Apa aku salah memilih?” tanyaku.

Guru diam sesaat. Saat aku mengira telah menyentuh barang terlarang, ia malah memanggilku mendekat.

“Tak kusangka kau justru memilih benda itu!” Ucapannya sarat dengan nuansa takdir, seolah sangat tersentuh dengan pilihanku.

“Setelah kau menghormati leluhur, kau resmi menjadi anggota golongan perajin kematian. Maka, dalam menjahit mayat pertamamu, kau harus memilih alat pertamamu tanpa mengetahui maknanya.”

“Kau memiliki garis nasib ganda, baik terang maupun gelap. Pilihanmu tak akan membuatku heran, tapi kau justru memilih Jarum Tujuh Bintang Pengusir Malapetaka ini. Jarum ini dulu pernah dipakai Panglima Zhuge di Gunung Wuzhang saat menyalakan empat puluh sembilan lentera agar panjang umur. Namun, karena formasi itu rusak, Zhuge pun wafat, dan akhirnya jarum ini menjadi benda pembawa sial. Memilih jarum ini berarti masa depanmu akan penuh dengan cobaan!”

Mendengar itu aku sangat terkejut. Tak kusangka ada kisah sebesar itu di balik jarum tersebut. Aku buru-buru bertanya apakah aku boleh memilih ulang, namun Guru hanya tertawa.

“Alat pertamamu menandakan kemampuanmu saat ini. Setelah memilih jarum ini, kau tak bisa lagi mengambil barang lain.”

Aku ragu, karena semua benda itu tampak biasa saja. Mana mungkin aku tak bisa mengambilnya?

Guru memintaku mencoba sendiri. Aku pun kembali ke rak dan mencoba mengambil belati hitam di sana, namun ternyata belati itu seolah-olah sebuah batu besar yang sangat berat. Sekuat tenaga kupaksakan, sedikit pun tak bergeming.

Aku heran, sementara Guru berkata, “Tak apa, memilih Jarum Tujuh Bintang Pengusir Malapetaka bukan berarti kau pasti celaka. Semua tergantung pada kemampuanmu menaklukkan sisi gelap jarum itu. Mulailah menjahit!”

Aku mengangguk dan membawa jarum-jarum itu. Kuambil seutas benang berwarna daging dari kantong, memasukkan ke lubang jarum dan mulai menjahit.

Aneh juga, meski jarum-jarum itu berbeda panjang, seharusnya digunakan untuk luka-luka berbeda, tapi setiap kali aku mengambilnya, selalu terasa begitu pas. Seolah-olah ada yang membimbingku dari alam gaib, memberitahuku jarum mana yang cocok untuk luka tertentu.

Dari memasukkan benang hingga menjahit, semua berjalan lancar. Hasil jahitanku kali ini juga jauh lebih rapi dibandingkan saat pertama kali mencoba. Walaupun belum setara dengan hasil Guru yang benar-benar tak terlihat bekasnya, setidaknya kali ini jahitanku tak lagi berantakan seperti dulu.

Guru memperhatikan prosesku dengan wajah puas.

Saat tiba pada bagian tersulit, yakni wajah, aku menenangkan diri dan menggunakan jarum terkecil dengan sangat hati-hati. Ternyata hasilnya sangat bagus, di luar dugaan.

“Bagus, sekarang saatnya merias wajah jenazah,” puji Guru untuk pertama kalinya.

Aku mendekat hendak mengambil kotak rias, tapi tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya pada Guru apakah ada pantangan khusus kali ini.

Guru tersenyum, berkata tak ada, aku boleh memilih sesukaku.

Aku menggaruk kepala. Selama ini aku hanya pernah melihat hasil akhir riasan wanita, tak tahu bagaimana cara memakai alat-alat itu. Untungnya, Guru memberiku petunjuk: mulai dari alas bedak, lalu concealer, terutama di sekitar mata dan luka.

Setelah selesai merias, aku pun merapikan rambut jenazah. Semua persiapan akhirnya rampung.

Aku mengambil tiga batang dupa, menyalakannya, dan menancapkannya di tungku dupa di depan kepala jenazah. Asap tipis mengepul, dan sesosok bayangan hitam pun melayang keluar dari tubuh jenazah.

Namun, berbeda dengan jiwa yang pernah kutemui sebelumnya, kali ini sosok itu tampak sangat jelas, bahkan wajahnya menunjukkan ekspresi garang.

“Sialan, aku ini pria tangguh, kenapa kau dandani aku jadi seperti banci begini! Dasar bocah, kau cari mati, ya?”

Roh jenazah itu bicara padaku dengan galak, lalu berbalik menatap Guru.

“Dasar Song, keluargaku sudah bayar dua juta padamu untuk merapikan jenazahku, malah kau suruh murid magang buat kerjain aku? Aku mau kau sendiri yang dandani aku, kalau tidak, kubalikkan rumah duka ini!”

Mendengar ucapan roh itu, aku sadar ia tak puas dengan pekerjaanku. Guru pernah bilang, kalau jenazah tak puas harus dirapikan lagi, jadi aku bersiap bicara.

Tapi saat itulah, Guru malah terkekeh sinis, langsung menangkap roh itu dan menampar pipinya dua kali.

"Plaak! Plaak!"

“Dasar bajingan kurang ajar, kau goda pacar orang, pantas saja kau dibantai sampai mati. Sudah mati pun masih minta aku yang merias jenazahmu? Kalau kau tak puas, akan kupukul sampai rohmu lenyap tak bersisa! Kau ini arwah baru mati, berani-beraninya menyombong di depanku? Saat aku membasmi siluman perempuan ribuan tahun, kau masih bocah belum sunat yang ngompol di tanah!”

Setelah dua tamparan itu, roh itu langsung buyar, nyaris menghilang selamanya. Wajahnya pun jadi kabur, buru-buru ia berlutut dan mengaku salah.

Aksi tegas Guru membuatku benar-benar takjub.