Bab 91: Kepalaku untukmu, jangan sungkan

Petikan Kecantikan dalam Peti Mati, Menikahi Istri dari Dunia Arwah, Penjaga Keseimbangan Yin dan Yang Penguasa Bintang Malam 2501kata 2026-03-04 23:45:03

Di tengah tanah pemakaman liar, hantu anak kecil menunjukkan wajah nakal padaku, sementara hantu tanpa kepala meminta agar aku memasangkan kembali kepalanya. Aku ketakutan sampai tak tahu harus berbuat apa. Terlintas perkataan guru, tapi beliau tak pernah menjelaskan apa yang harus dilakukan jika menghadapi situasi seperti ini!

Aku menggigit bibir, memaksakan keberanian dan berkata, “Baik, tapi aku perlu mengambil kulit pohon murbei sebesar telapak tangan. Jika kamu bersedia, aku akan membantu memasangkan kepalamu.” Kepala mayat yang tergeletak di dekat kakiku menggelinding sedikit sebelum akhirnya berkata, “Tak masalah, kulit pohon itu boleh kau ambil, asal kau pasangkan kepalaku kembali.”

Aku menarik napas dalam-dalam, menahan rasa jijik, lalu memegang kepala itu dengan kedua tangan dan memberanikan diri melangkah ke depan, menghampiri hantu tanpa kepala. “Ini kepalamu.” Hantu tanpa kepala menerima kepala itu dan langsung memasangkannya ke lehernya. Sepanjang proses itu, aku selalu siap menggigit lidah sendiri, cemas kalau-kalau kepala mayat itu tiba-tiba menggigit tanganku.

Untungnya, ia hanya memasang kepalanya, lalu tersenyum padaku. “Terima kasih. Kau ingin mengambil kulit pohon? Silakan ambil sendiri!” Aku tak menyangka hantu ini begitu masuk akal, aku pun segera mengeluarkan botol arak. Namun hantu tanpa kepala itu tertawa, “Tak perlu, aku tak suka minum arak, jangan buang-buang saja.”

Aku terkejut karena ia begitu mudah diajak bicara. Saat hendak mengembalikan botol arak, terlintas perkataan guru: setiap mengambil sesuatu, harus menuangkan arak, tak ada pengecualian. Menyadari hal itu, aku buru-buru berkata, “Kakak, arak penghormatan tetap harus diberikan.” Setelah berkata begitu, aku menuangkan segelas arak, lalu menyiramkannya ke tanah.

Hantu tanpa kepala tertawa kecil, kemudian menggandeng hantu anak kecil dan masuk kembali ke area makam. Dalam hati aku bersyukur, untung aku teringat perkataan guru, kalau tidak entah apa yang akan terjadi. Tubuhku sudah berkeringat karena takut, aku segera mengeluarkan pisau kecil dari tas dan memotong selembar kulit pohon murbei sebesar telapak tangan, lalu melanjutkan perjalanan.

Dari belakang terdengar suara hantu anak kecil, “Kakak, lain kali datang main lagi ya!” Aku tak berani menjawab, hanya menundukkan kepala dan berjalan terus, baru setelah jauh aku berani berhenti untuk mengambil napas. Pengalaman malam ini benar-benar mendebarkan, bukan hanya bertemu hantu tua, juga membantu hantu tanpa kepala menemukan kepalanya.

Untung semuanya berjalan lancar, kini hanya tinggal akar pohon akasia yang perlu diambil untuk menyelesaikan tugas dari guru.

Aku berdiri tegak, menaburkan uang kertas untuk arwah, melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, tak berani berlama-lama dan segera mempercepat langkah. Tak jauh berjalan, aku melihat sebuah makam tua yang berdiri sendiri di lereng bukit, dan di atas makam itu tumbuh pohon akasia.

Hatiku bersorak, tak menyangka pohon terakhir begitu mudah ditemukan. Jika bisa mengambil akar akasia, tugasku selesai dan aku bisa segera kembali turun gunung! Aku bersiap maju, tapi ternyata tak ada jalan menuju makam itu, sekelilingnya hanya dipenuhi semak belukar setinggi dada.

Makam tua itu berada di lereng bukit, tak ada makam lain di sekitarnya, hanya pohon akasia yang tinggi sehingga bisa terlihat dari kejauhan. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku terus menyusuri jalan atau mengambil akar pohon itu?

Aku menatap ke kejauhan, namun tak menemukan makam dengan pohon akasia di sekitar sini. Akhirnya aku memberanikan diri untuk maju. Toh ini bukan jalan kembali, aku hanya perlu berjalan ke depan lalu kembali ke jalur semula.

Bukankah kata Pram, dunia ini awalnya tak punya jalan, setelah banyak orang melintas, jadilah jalan? Aku pun mantap memutuskan, membuka semak belukar dan segera tiba di depan makam.

Meski senang, aku tak lupa memberikan penghormatan dengan menuangkan segelas arak terakhir ke tanah, lalu berkata, “Aku, Chen Fan, malam ini perlu mengambil akar pohon akasia setengah kaki dari makam ini, mohon izinkan.” Setelah itu, aku segera mulai menggali akar pohon.

Namun, tanpa kusadari, arak yang kutuang tidak meresap ke tanah, malah mengalir di permukaan dan menyebarkan bau anyir yang menusuk. Aku mengeluarkan sekop lipat dari tas, lalu mulai menggali.

Angin dingin yang tadinya berhembus telah berhenti, tapi suhu malah terasa semakin rendah, hawa dingin menyusup ke kerah bajuku. Aku menggigil, lalu menggali lebih dalam, tiba-tiba sekopku mengenai sesuatu yang keras.

Aku berhati-hati menggali, ternyata itu akar pohon setebal lengan, sudah tua dan sangat keras. Aku berhasil mengambil sepanjang setengah kaki dan bersiap memotongnya dengan gergaji.

Suara gergaji mengiris akar terdengar tajam di tengah sunyi tanah pemakaman, suara serak dan beratnya membuat bulu kuduk merinding. Aku cepat-cepat memotong akar, saat akar terlepas lalu jatuh, aku segera mencoba menariknya.

Tapi saat menarik, akar terasa masih terhubung ke tanah, susah sekali dicabut. Aku mengambil lentera, dan dengan cahaya redup akhirnya aku bisa melihat jelas.

Di bawah akar pohon itu, ternyata ada sebuah tangan yang memegangnya erat!

Tangan itu sudah membusuk menjadi tulang, tapi masih mencengkeram akar dengan kuat. Bagian bawah tulang tangan terpendam di tanah, rupanya itu milik sebuah mayat!

Aku langsung berkeringat dingin, baru kini terasa sesuatu yang tak beres. Sebelumnya bulan masih besar, tapi sekarang cahaya bulan tertutup awan gelap, sekeliling jadi sangat gelap.

Kulihat akar pohon yang susah payah kutebang tadi, demi keamanan aku memutuskan untuk menyerah. Tapi ternyata saat ketakutan tadi, gergaji entah jatuh ke mana, sekeliling hanya tanah yang baru saja kugali, tak ada gergaji.

Aku menggigit bibir, mencoba memisahkan tulang tangan itu dari akar dan mengambil akar tersebut. Tapi tulang tangan yang tadi begitu kuat, begitu disentuh langsung hancur berantakan, jatuh ke dalam lubang tanah.

Aku terpaku.

Melihat tulang-tulang yang berserakan di lubang, satu ruas tulang lengan masih terpendam di tanah, sementara akar pohon sudah berada di tanganku.

Apa yang harus kulakukan?

Aku hanya pernah melihat guru sekali memasang tulang, sekarang aku benar-benar tak tahu bagaimana cara menyusun kembali tulang tangan ini. Akhirnya aku hanya bisa mengumpulkan tulang-tulang itu, lalu menutup lubang dengan tanah.

Semoga pemilik tangan ini tak marah padaku!

Setelah menyimpan akar pohon akasia, aku membuka semak dan berjalan kembali. Kalau saja tidak menemukan tulang tangan, proses mengambil akar pohon sebenarnya cukup lancar, tak ada hantu yang muncul.

Sekarang tinggal kembali ke jalan kecil, lalu bisa meninggalkan tanah pemakaman ini. Aku tak boleh berbalik, hanya bisa menebak arah dan berjalan miring ke depan, berharap segera menemukan jalan kecil itu.

Namun setelah berjalan lebih dari sepuluh menit, di depanku masih saja hamparan semak belukar. Sama sekali tak ada tanda-tanda kembali ke jalan kecil!

Hatiku mulai merasa aneh, makam tadi hanya beberapa langkah dari jalan kecil, walaupun aku agak melenceng, tak mungkin selama ini belum kembali ke jalan.

Jalan itu memang tidak lurus, namun tetap mengikuti garis yang jelas. Kalau bukan karena pesan guru, aku sudah ingin berbalik dan melihat.

Sekarang aku hanya terus menunduk dan berjalan ke depan.

Setelah berjalan sepuluh menit lagi, aku tiba-tiba mengangkat kepala, dan di depanku tampak sebuah makam tua lagi.

Di samping makam itu ada pohon akasia, dan di atas makam duduk seorang wanita mengenakan gaun putih…